Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Malam harinya...
Putri Ibu Sari yang sejak tadi mengawasi rumah Ibu Retno tersenyum puas.
"Nah, sekarang waktunya."
Ia segera mengajak beberapa warga mendatangi rumah Ibu Retno.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar keras. Ibu Retno segera membukakan pintu.
"Pak RT? Ada apa malam-malam begini, Pak?"
Beberapa warga langsung menyahut.
"Kami dengar ada laki-laki menginap di rumah ini. Apakah itu benar, Bu? Kami cuma ingin memastikan."
Belum sempat Ibu Retno menjawab, Rafael keluar dari dalam rumah.
Sontak, warga mulai berbisik-bisik.
"Itu dia orangnya."
"Benar ada laki-laki."
"Masih malam begini pula."
Putri Ibu Sari tersenyum penuh kemenangan.
Pak RT mengangkat tangan, meminta warga tidak membuat keributan.
"Tenang dulu."
Kemudian beliau menatap Rafael.
"Maaf, Nak. Saya hanya ingin memastikan."
Rafael mengangguk hormat.
"Saya mengerti, Pak."
"Saya memang datang ke sini sebagai calon suami Zilia."
Pak RT hanya mengangguk kecil, tanpa menjelaskan apa pun kepada warga.
Ia membiarkan Rafael sendiri yang memberikan penjelasan.
"Saya tidak memiliki niat buruk. Kedatangan saya hanya berkunjung."
Namun, salah seorang sesepuh kampung berdehem.
"Kami percaya. Tapi tetap saja mencoreng nama baik tempat kami. Jadi, kamu keluar dari rumah ini atau nikah malam ini juga."
Beberapa warga mengangguk setuju.
"Betul itu. Kalau tidak mau menikah, keluar dari tempat kami. Karena kami punya aturan."
"Daripada nanti muncul fitnah ke mana-mana, lebih baik pernikahannya dipercepat saja. Lagi pula statusnya calon suami isteri."
"Betul itu. Harus menikah saat ini juga kalau tidak mau pergi."
"Nikah! Nikah! Nikah."
Sorak sorak dari warga.
"Tidak! Dia yang akan pergi dari rumah ini."
Rafael melotot saat Zilia menyahut.
"Aku tidak akan pergi. Kita sepakat untuk menikah. Aku bersedia menikah denganmu sekarang juga."
Ibu Retno saling berpandangan dengan Rafael.
Rafael kemudian berkata dengan tenang.
"Saya tidak keberatan. Karena sejak awal memang niat saya datang untuk menikahi Zilia."
Pak RT akhirnya angkat bicara.
"Kalau begitu, malam ini juga. Supaya semuanya menjadi jelas dan tidak menimbulkan fitnah."
Di balik kerumunan, putri Ibu Sari merasa puas karena rencananya berhasil menghasut warga.
Ia bermaksud mempermalukan Zilia di depan warga. Perbuatannya malah menjadi alasan kuat agar pernikahan Zilia dan Rafael dipercepat.
Di antara kerumunan warga terus mendesak, putri Ibu Sari justru tersenyum puas.
Berbeda dengan yang lain, ia sama sekali tidak merasa kecewa.
Baginya, rencana malam itu berhasil dan mendapatkan imbalan dari putrinya Ibu Sari.
"Biar saja mereka menikah. Justru bagus."
Temannya menatap heran.
"Kok kamu malah senang?"
Putri Ibu Sari tersenyum miring.
"Karena akhirnya Zilia memilih hidup seperti itu."
"Maksud kamu?"
"Kamu lihat sendiri kan cowoknya? Kelihatannya bukan dari keluarga berada."
Ia terkekeh kecil.
"Zilia dulu sok tidak peduli soal harta. Katanya cinta lebih penting. Nah, sekarang rasakan sendiri. Menikah dengan laki-laki yang tidak bisa memberikan kehidupan mewah."
Temannya ikut tertawa.
"Padahal dia bisa saja dapat laki-laki kaya."
"Iya."
"Apalagi mantannya dulu orang berada."
Putri Ibu Sari mengangkat bahu.
"Sudahlah."
"Biarkan saja."
"Yang penting sekarang dia sudah memilih jalannya sendiri. Aku malah penasaran berapa lama dia bisa bertahan."
Tanpa mereka sadari...
Semua penilaian itu hanya berdasarkan penampilan Rafael. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa pria yang mereka anggap sederhana itu adalah putra bungsu keluarga Darmawan.
Pria yang namanya bahkan menjadi incaran banyak perempuan dari keluarga terpandang.
Sementara itu, di dalam rumah...
Zilia masih terdiam memikirkan kejadian malam ini. Ia menatap Rafael yang duduk santai di ruang tamu.
Akhirnya Rafael dan Zilia dinikahkan disaat itu juga.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄