Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Rahasia Skincare Ubi Beton Part 2
Cepetan lo ambil napa ini ubi, kampret! Tangan keriput nenek ini beneran udah pegel dan berat banget tahu menahannya dari tadi! tambahnya mengumpat kesal di dalam hati.
Karena rasa penasaran yang mendalam akhirnya sukses mengalahkan logika berpikir sehatnya, tangan Linzy secara perlahan bergerak menarik kantong kain hitam tersebut.
Namun nahas, begitu kacamata hitam besarnya melihat dengan jelas wujud objek di dalamnya, ia langsung membanting keras kantong itu ke atas permukaan meja makan marmer.
"Nenek tua gila beneran lagi mau bercanda ya sama saya?! Ini mah murni cuma sebutir ubi jalar biasa yang dijual di pasar tradisional! Kalau saya emang mau, saya bahkan punya cukup banyak uang untuk membeli seluruh pasar ubi beserta abang-abang penjualnya sekaligus pake uang saku bulanan saya! Jangan berani-berani main-main ya kamu di rumah saya!"
Reno tetap menatap tajam ke arah sepasang mata Linzy, level akting kelas piala oscar-nya dirasakan makin lama makin menjadi-jadi.
"Dengar baik-baik petunjuk dari Nenek, Cu! Ubi keramat ini wajib direbus sampai matang terlebih dahulu, dan kamu setelahnya cuma boleh memakan separuh bagian saja. Khasiat energi kecantikannya hanya bakal bertahan sampai tibanya waktu tengah malam, tepat pada jam 12 malam. Dan ingat satu pantangan sakral dari Nenek, jangan pernah biarkan ada lelaki mana pun yang ikut memakan ubi ini!"
Haha, mamam tuh pantangan! Lagian kalau lo nekat maruk memakan seluruh isi ubi mentah keras ini sendirian, yang ada lo bakal menggelar konser kentut massal yang baunya busuk semalaman di dalam kamar, Cu!’ tawa Reno jahat bersorak di dalam lubang hatinya.
"Terserah kamu sajalah, Nek! Simpan saja dongeng fiksi konyolmu itu buat anak kecil," sahut Linzy dengan nada suara ketus, tetapi anehnya sepasang jemari tangannya tetap menggenggam sangat erat kantong kain berisi ubi mentah tersebut.
"Kalau begitu tugas Nenek udah beres. Tapi sebelum pergi, boleh nggak Nenek minta sebotol air dingin lagi buat bekal di jalan pulang, Cu? Tenggorokan Nenek mendadak berasa haus lagi nih..."
"Ckk! Dasar nenek tua tidak tahu diri! Udah numpang makan gratis sampai ludes, hobinya malah ngerepotin orang pula!" gerutu Linzy kesal.
Ia langsung bangkit berdiri dari kursi dengan gerakan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan keras ke atas lantai granit mewah, melangkah berjalan menuju ke arah sebuah kulkas raksasa di sudut dapur.
Namun nahas, sebelum jemari tangan Linzy sempat menyentuh permukaan botol air mineral...
CTAK!
Arah pandangan mata Reno mendadak langsung berubah menjadi gelap gulita kembali.
BRUKK!
"ADUH MAMPUUUS!"
Reno seketika tersentak bangun dari posisi tidurnya di atas kursi. Suasana ruangan lantai dua kafe milik Aji yang dipenuhi oleh semerbak aroma wangi seduhan kopi kembali menyapa indra penglihatannya.
Ia dengan terburu-buru langsung meraba-raba sekujur permukaan kulit wajahnya—Alhamdulillah, tekstur kulitnya sudah kembali kencang, kenyal, dan tampan lagi.
Tidak ada lagi rasa penderitaan penyakit encok stadium akhir yang bersarang di tulang punggung bungkuknya.
"Selamat wahai anak muda bernama Reno Alvarez, kamu dinyatakan telah berhasil menyelesaikan misi darurat kelima dengan sangat baik. Sebagai upahnya, kamu berhak mendapatkan hadiah tambahan uang tunai sebesar 5 juta rupiah yang saat ini sudah langsung otomatis masuk ke dalam kotak kayu penyimpanan golok warisan kakekmu."
Suara gaib nan berat milik si kakek golok sakti kembali bergema memantul di dalam kepalanya, lalu menghilang.
"Woi, Reno! Akhirnya lo bangun juga dari pingsan tidur lo! Lo tadi tidurnya ngorok kencang banget jahanam, sampai-sampai para pelanggan di meja sebelah sempat mengira kalau kafe ini lagi dilanda gempa bumi lokal!" seru Adit bersemangat sambil tertawa terbahak-bahak.
Reno sekuat tenaga mencoba mengatur ritme embusan napasnya yang masih tampak memburu cepat, sementara detak organ jantung di dalam dadanya masih berdebar kencang akibat efek transmigrasi ghaib. Ia menolehkan pandangan kepalanya menatap satu per satu ke arah wajah teman-temannya yang saat itu masih asyik mengobrol santai, lalu di dalam otaknya mendadak teringat akan satu hal penting.
‘Eh, bentar deh... itu ubi mentah karatan yang gue kasih ke cewek ninja tadi... kira-kira beneran sakti ajaib bisa bikin cantik nggak ya? Atau si Linzy malah bakal ngamuk-ngamuk nyariin bodi asli gue karena perutnya kembung dan bau kentut?’
Reno terduduk kaku mematung di atas kursi sofa empuk kafe, namun di dalam hatinya, jiwanya rasanya benar-benar baru saja habis digilas oleh buldoser mesin waktu. Ia mendadak teringat dengan sosok Linzy Alexius.
Gadis remaja berwatak sombong dan selalu mengenakan masker medis yang barusan ditemuinya di masa lalu itu, ternyata berdasarkan catatan sejarah dunia nyata sudah resmi menjadi bagian dari lembaran sejarah kelam delapan tahun yang lalu—tewas mengenaskan dalam sebuah tragedi kecelakaan berdarah yang sukses menyeret nama ayah Adit dan ayah Rakha masuk ke dalam lubang kehancuran korporat.
"Ren, lo beneran nggak apa-apa kan? Sumpah, raut muka lo sekarang kelihatan pucat banget, udah kayak penampakan kain cucian baju yang habis direndam cairan pemutih pakaian," tanya Adit dengan nada bicara yang kali ini terdengar benar-benar serius tanpa ada candaan.
Segala sifat keusilan harian di wajah CEO-nya seketika menguap lenyap, digantikan oleh ekspresi kecemasan yang tulus dari seorang sahabat baik.
Reno menatap lekat-lekat satu per satu wajah sahabat di hadapannya. Di sana ada sosok Adit yang tingkat kekayaannya tajir melintir, ada Rahsya si calon dokter tampan, dan ada Rakha yang pembawaan wataknya selalu berwibawa tegas.
Ia sebenarnya sempat dilanda rasa ragu yang mendalam, namun rahasia ghaib tentang kutukan antardimensi ini dirasakan sudah menyumbat dadanya dengan sangat parah, jauh lebih parah daripada sumbatan ranjau nasi rames ghaib tadi.
"Gue—"
Reno menjeda kalimat ucapannya selama beberapa detik, lalu menarik napasnya dalam-dalam sekuat tenaga.
"Kalau seandainya malam ini gue mau kasih tahu sebuah cerita jujur apa adanya ke kalian, kalian bertiga kira-kira bakal percaya sama omongan gue, atau malah mau langsung nekat memboking satu kamar rawat VIP di Rumah Sakit Jiwa buat nampung gue?"
Rahsya perlahan meletakkan pulpen dan buku agenda kedokterannya di atas meja, lalu ia mencondongkan tubuhnya ke depan menatap Reno. "Cerita aja sekarang, Ren. Jangan pernah dibiasain dipendem sendirian di dalam hati, ntar yang ada lo malah kena penyakit bisulan di dalam otak. Gue sebagai calon dokter tahu betul kalau kondisi psikologis lo saat ini lagi ada masalah berat yang mengganggu pikiran."
Kebetulan saat itu Aji sang juragan pemilik kafe sedang tampak super sibuk di balik meja bar racikan kopi, sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Reno pun akhirnya mulai menumpahkan seluruh rahasia supranaturalnya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Ia mulai bercerita detail tentang momen mudik ke Sukabumi, menerima benda pusaka warisan berupa golok karatan penuh daki legendaris dari kakeknya, hingga aksi konyolnya mengobok-ngobok isi tong sampah hijau komplek subuh-subuh buta demi mencari keberadaan benda keramat itu.
Ia juga menceritakan detail tentang teror ghaib si kakek botak berjanggut putih panjang selevel tali jemuran baju yang punya hobi memindahkan jiwanya masuk ke dimensi lain setiap kali mulut licinnya "sompral" mengeluarkan kata terlarang.
Mendengar seluruh rentetan cerita gila tersebut, Adit, Rakha, dan Rahsya seketika langsung terdiam seribu bahasa mematung di tempat.
Mulut mereka bertiga kompak terbuka lebar menganga sempurna, ukuran celahnya dinilai sudah cukup luas untuk bisa dimasuki oleh kawanan lalat kafe yang kebetulan sedang lewat.
"Jadi... maksud lo waktu momen lo tiba-tiba muncul menampakkan diri di dalam perusahaan gue dengan kondisi pakaian baju compang-camping dekil dan bau matahari menyengat itu... lo beneran baru aja balik dari padang savana Afrika setelah mengoperasi singa?!"