Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Utang Budi
Sejak kedatangan Surya, rumah sederhana keluarga Diyah tak lagi benar-benar tenang. Lamaran resmi itu belum datang. Belum ada jawaban apa pun. Namun, pembicaraan mengenai keluarga Juragan Marta seolah memenuhi setiap sudut rumah.
Malam setelah selesai makan, tiba-tiba Jaya meminta izin untuk masuk ke dalam kamar Diyah.
"Bapak ingin bicara sebentar," kata Jaya sebelum benar-benar masuk. Diyah hanya mengangguk, kemudian duduk di sisi ranjangnya, sementara Jaya tetap berdiri.
"Ada apa, Pak?"
Ayahnya tampak menarik napas panjang sebelum bicara.
"Kamu sudah pikirkan soal lamaran itu?" tanya Jaya.
Diyah menunduk. Sumpah demi apa pun dia belum menemukan jawaban meski terus memikirkannya setiap malam.
"Belum, Pak," jawab Diyah singkat.
"Bapak harap kamu mempertimbangkannya baik-baik." Jaya menatap putri keduanya itu dengan lekat. Dia ingin Diyah mendapatkan kebahagiaannya, dan dia yakin di tangan Biyakta—Diyah akan mendapatkan itu semua.
Diyah menggenggam ujung bajunya, juga menggigit bibir bawahnya sesaat.
"Pak, aku bahkan belum pernah bertemu dengan Mas Biyakta. Kita tidak tahu orang seperti apa dia."
"Nanti juga kenal setelah menikah!" tukas Jaya.
Jawaban yang membuat Diyah semakin bimbang. "Tapi menikah bukan perkara mudah."
Ayahnya menghela napas panjang.
"Kamu tahu kenapa Bapak begitu menghormati Juragan Marta?" Suara Jaya sedikit lebih tegas. Diyah mengangguk pelan.
Sedikit banyak dia memang tahu. Saat pemilihan Ketua RT beberapa tahun lalu, Juragan Marta menjadi salah satu orang yang memberikan dukungan penuh kepada ayahnya. Bukan hanya dukungan moral, tetapi juga membantu kebutuhan kegiatan warga hingga ayahnya dipercaya memimpin lingkungan mereka.
Namun, bukan itu saja.
Ayahnya kembali berbicara dengan suara yang lebih pelan. Seolah tak ingin ada yang mendengar dan tersinggung dengan pembicaraan mereka.
"Waktu kakakmu—Damar, ditangkap karena kasus narkoba ...."
Diyah langsung terdiam. Kejadian itu masih menjadi luka bagi keluarga mereka. Bahkan ibu kandungnya sampai marah habis-habisan kepada sang ayah, karena dicap tak becus mengurus anak.
Damar memang bukan pengedar. Dia hanya salah bergaul hingga ikut memakai barang haram tersebut. Namun, walau pun begitu proses hukum tetap berjalan.
Dan saat keluarga mereka kebingungan mencari biaya pendampingan hukum serta proses rehabilitasi. Lagi-lagi Juragan Martalah yang datang membantu. Tanpa banyak bertanya, beliau meminjamkan sejumlah uang.
"Bahkan sampai sekarang Bapak masih punya sangkutan dengannya," ujar Jaya lirih. "Kalau bukan karena beliau, mungkin Damar masih menjalani hukuman yang lebih berat."
Diyah menundukkan kepala, tak bisa menyanggah semua fakta tersebut.
Dia tahu bahwa ayahnya sedang merasa memiliki utang budi yang sangat besar.
"Bapak tidak memaksamu," lanjutnya. "Tapi Bapak hanya berharap kita tidak mengecewakan orang yang sudah banyak menolong keluarga ini."
Kalimat itu terdengar seperti vonis.
Bukan perintah, namun jauh lebih sulit ditolak.
Diyah hanya mampu mengangguk pelan meski hati belum menerima sepenuhnya.
Selesai dengan pembicaraan itu, Diyah duduk sendirian di belakang rumah. Angin malam menerpa wajah dan menerbangkan rambutnya yang panjang bergelombang.
"Haruskah aku menikah karena rasa berutang?" bisiknya. Dia tidak ingin mengecewakan ayahnya.
Akan tetapi dia juga takut menjalani pernikahan dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Benarkah lukanya akan sembuh? Atau justru akan lebih dalam?
****
Pagi di Kantor Urusan Agama kecamatan mulai dipenuhi masyarakat yang mengurus berbagai keperluan administrasi pernikahan.
Di salah satu ruangan, Biyakta Kusuma duduk rapi di balik meja kerjanya. Selain membantu mengelola usaha keluarga, dia juga mengabdikan diri sebagai pegawai administrasi di KUA.
Seperti biasa, berkas demi berkas Biyakta periksa dengan teliti. Hingga sebuah map berwarna hijau menarik perhatiannya.
Dia membuka halaman pertama.
Nama Calon Mempelai Pria : Cakra Prasetyo.
Biyakta membaca dokumen itu dengan tenang. Di mana calon mempelai wanita berasal dari Jakarta.
Alamatnya sama dengan tempat Cakra pernah merantau.
"Jadi ini yang sedang ramai dibicarakan warga," gumamnya pelan.
Beberapa hari terakhir saat Biyakta di gudang penyimpanan padi, dia memang sempat mendengar desas-desus dari karyawannya tentang seorang pemuda desa yang memutuskan kekasih lamanya setelah pulang dari Jakarta demi menikahi anak pemilik rumah kos tempatnya tinggal.
Namun, karena Biyakta tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, dia menganggapnya sebagai angin lalu.
"Nah, inilah alasan kenapa aku tidak suka pacar-pacaran. Kalau hatinya belum mantap, kan jadi nyakitin anak orang, semoga kalian memang berjodoh ya," ucapnya lirih sebelum kembali bekerja.
Tak ingin membuang waktu Biyakta memastikan seluruh dokumen lengkap. Dan setelah selesai, berkas itu dia letakkan di tumpukan sebelah kanan.
Biyakta sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita yang ditinggalkan Cakra adalah gadis yang nantinya akan dia lamar dan menjadi istrinya.
****
Surya keluar dari ruangan Juragan Marta, setelah sang atasan pamit untuk beristirahat. Baru saja hendak menutup pintu, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya dan membuatnya berjengit karena kaget.
"Kenapa, Bu?" tanya Surya pada Laksmi yang nongol tanpa aba-aba.
Laksmi langsung menyuruh Surya untuk mengecilkan suaranya, supaya tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
Wanita paruh baya itu mengulurkan sebuah foto. Surya menerima sambil mengernyit, menunggu sebuah penjelasan.
"Masukan dia dalam daftar calon istri Biyakta!" titah Laksmi, dia menganggap wanita yang ada di dalam foto itu sangat pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Karena sudah terjamin bibit, bebet dan bobotnya.
"Maaf, Bu, tidak bisa Juragan sudah punya pilihan," jawab Surya yang membuat wajah Laksmi terperangah.
"Apa? Tapi dia tidak bilang apa-apa padaku!" ujar Laksmi, suaranya naik satu oktaf. Biasanya dia suka dilibatkan Juragan Marta untuk mengambil keputusan.
Surya menghela napas, sejak meninggalnya Nyonya Kusuma, Laksmi memang sering sok berkuasa, padahal dia hanyalah adik angkat ibu Biyakta.
"Silahkan tanya saja pada Juragan, Bu, soalnya saya tidak tahu-menahu," kata Surya seraya pamit pergi, tetapi Laksmi segera menahan pria itu dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Siapa wanita itu?" tanyanya dengan lugas. Awalnya Surya tak ingin menjawab, tapi Laksmi semakin menekannya.
"Namanya Diyah, anak mantan RT 06," jawab Surya dengan jujur, setelah itu cekalan tangan Laksmi langsung mengendur, berganti untuk mengingat siapa wanita yang Surya maksud.
"Diyah? Dari namanya saja sudah kampungan, apa benar dia bisa setara dengan Biyakta dan keluarga Kusuma?" gumam Laksmi, dia sedikit kesal karena gadis yang diajukan ditolak mentah-mentah.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh