Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.Akad dan cincin
Pagi itu, kediaman megah milik Arka Danuartha dibalut oleh suasana yang tenang namun khidmat. Tidak ada dekorasi bunga-bunga glamor yang memenuhi lorong, tidak ada alunan musik orchestra, dan tidak ada jejeran karangan bunga dari para pejabat maupun rekan bisnis papan atas. Hanya ada sebuah meja kayu jati berukir yang diselimuti kain putih bersih di tengah ruang keluarga utama, lengkap dengan beberapa kursi berbalut kain senada.
Aira berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya. Ia mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus dengan garis leher yang sopan, dipadukan dengan kain batik sarimbit berkarakter elegan.
Wajahnya dipoles riasan tipis yang sangat natural oleh perias kepercayaan keluarga yang didatangkan Bi Inah—tanpa bulu mata tebal atau warna bibir mencolok. Kecantikan alaminya di usia sembilan belas tahun justru terpancar begitu bersinar.
Gadis itu menatap bayangannya sendiri di cermin. Jantungnya berdegup kencang, bertalu-talu bak genderang perang. Hari ini, secara hukum negara dan agama, statusnya akan berubah total. Ia bukan lagi sekadar Aira Renandita—gadis SMA yang kehilangan masa depan akibat pengkhianatan sang ayah—melainkan istri sah dari Arka Danuartha.
"Nyonya Aira?" Ketukan pelan di pintu membubarkan lamunannya.
Bi Inah melangkah masuk dengan wajah berseri-seri. "Aduh, cantiknya... Masya Allah. Pak Penghulu dan para saksi sudah hadir di bawah, Nyonya. Mas Arka juga sudah siap."
Aira membalikkan badan, meremas jemarinya yang dingin. "Mas Arka... sudah ada di bawah, Bi?"
"Sudah dari tadi, Nyonya. Beliau kelihatan gagah sekali,"
Bi Inah tersenyum hangat, lalu mendekati Aira untuk merapikan sedikit lipatan selendang putih yang menutupi bahu gadis itu.
"Jangan gugup ya, Nyonya. Mas Arka itu pria yang memegang teguh kata-katanya. Meskipun pernikahan ini berawal dari perjanjian, Bibi bisa merasakan kalau rumah ini akan berubah jadi lebih hangat karena keberadaan Nyonya."
Aira hanya mampu mengangguk pelan, mencoba mengalirkan udara segar ke dalam paru-parunya yang terasa sesak oleh rasa cemas.
Saat Aira menuruni anak tangga melingkar menuju ruang keluarga, suasana di bawah seketika hening.
Di ujung tangga, Arka berdiri menunggu. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan jas beskap putih dengan kancing perak serta peci hitam yang menutupi rambut rapinya. Aura kepemimpinannya yang kuat terasa kian dominan, namun saat matanya menengadah dan menangkap sosok Aira yang berjalan pelan menuruni tangga, ada jeda singkat pada sapuan pandangannya. Iris mata hitam pekat Arka menajam, meneliti sosok gadis muda yang kini menjelma menjadi calon istrinya.
Di samping Arka, berdiri Elano yang mengenakan baju koko putih mungil lengkap dengan peci kecil yang miring di kepalanya. Begitu melihat Aira, mata bulat bocah itu langsung berbinar-binar.
"Wah! Tante cantik kaya putri kerajaan!" seru Elano heboh, mengalahkan keheningan ruangan.
Penghulu dan dua orang saksi dari pihak Arka—salah satunya adalah Raymond—sontak terkekeh pelan mendengar celetukan polos itu. Ketegangan yang tadinya membeku di udara seketika mencair.
Aira tak sanggup menahan senyum tipisnya, rasa gugupnya berkurang drastis berkat kehadiran Elano.
"Elano, duduk yang tertib di sebelah Bi Inah dulu ya," bisik Arka pelan seraya mengusap lembut kepala putranya.
Bocah itu menurut, berjalan menepi sambil memamerkan jempolnya pada Aira. Aira melangkah mendekat dan mengambil tempat duduk di sisi kanan meja akad, sementara Arka duduk di sisi kiri, berhadapan langsung dengan Penghulu dari Kantor Urusan Agama.
Proses pemeriksaan berkas berlangsung cepat dan tenang. Karena ayah kandung Aira dinilai tidak memenuhi syarat dan atas persetujuan dokumen legal yang telah ditandatangani sebelumnya terkait wali hakim, prosesi akad berlangsung dengan khidmat tanpa kehadiran keluarga beracun Aira.
Penghulu mengulurkan tangannya, menjabat erat telapak tangan kanan Arka.
Aira menahan napas. Jemarinya yang bertengger di atas pangkuan makin meremas kain kebaya putihnya.
"Saudara Arka Danuartha bin Danuartha," ucap Penghulu dengan suara lantang dan berwibawa. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aira Renandita binti Hendra, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan logam mulia sebesar seratus gram, dibayar tunai."
Tanpa ada jeda sedikit pun, tanpa keraguan maupun getaran di suaranya, Arka mengucapkan ijab kabul dengan satu hembusan napas yang tegas dan mantap:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aira Renandita binti Hendra dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillahirabbil 'alamin..."
Lantunan doa berkumandang di ruangan itu. Air mata hangat menetes pelan melintasi pipi Aira. Bukan air mata kesedihan, melainkan perpaduan antara rasa lega, kepasrahan, dan keharuan yang membuncah. Di atas kertas agama dan negara, ia kini telah resmi menjadi seorang istri.
Takdir baru telah menautkan hidupnya yang rapuh dengan pria matang di hadapannya.
"Silakan kepada pengantin wanita untuk mencium tangan suaminya, dan pengantin pria memasangkan cincin pernikahan,"
pimpin Penghulu setelah penandatanganan buku nikah selesai.
Arka memutar tubuhnya menghadap Aira. Pria itu merogoh kotak beludru hitam di meja dan mengeluarkan sebuah cincin platinum simpel berhiaskan satu berlian kecil di tengahnya.
Aira mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Saat jemari Arka yang hangat dan kokoh menyentuh kulit tangannya yang dingin, ada getaran aneh bak sengatan listrik halus yang merayap di sepanjang lengan Aira.
Arka menyematkan cincin itu dengan lembut hingga pas melingkar di jari manis Aira. Selanjutnya, Aira ganti mengambil cincin pasangan yang lebih besar dan menyematkannya di jari manis Arka.
Perlahan, Aira meraih tangan kanan Arka, membungkukkan kepalanya, dan menempelkan dahi serta bibirnya di punggung tangan pria berusia 39 tahun itu. Aroma harum kayu cendana dan citrus yang menjadi ciri khas Arka menyeruak kuat.
Di saat yang sama, Arka meletakkan telapak tangan kirinya di atas kepala Aira yang terbalut selendang putih. Pria itu memanjatkan doa dalam hati, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan singkat di dahi Aira.
Cup.
Sentuhan bibir Arka di dahinya terasa begitu lembut, kontras dengan sifat dingin yang biasanya pria itu tunjukkan. Aira mendongak, dan untuk beberapa detik, mata mereka saling mengunci dalam jarak yang sangat dekat. Tidak ada kata-kata romantisme murahan yang diucapkan, namun tatapan Arka yang dalam seolah menegaskan satu hal: kamu aman bersamaku.
"Horeee! Papa sama Tante cantik udah sah!" seru Elano tiba-tiba sambil bertepuk tangan heboh dari kursi belakang.
"Berarti Tante cantik sekarang udah jadi Mama Elano kan?!"
Seluruh orang di ruangan itu tertawa geli melihat kelakuan Elano. Arka berdeham pelan, melepaskan sentuhannya di dahi Aira meski tangannya masih menggenggam erat jemari Aira yang terpasang cincin pernikahan mereka.
"Bukan Tante cantik lagi, Elano. Panggil Mama Aira," tegur Arka dengan nada suara datar, namun tidak bisa menyembunyikan kilat kehangatan di matanya saat melirik Aira.
Aira tersenyum lebar, merona merah melingkupi kedua pipinya. "Sini, Mas Elano..."
Elano berlari kencang dan langsung menubrukkan tubuh kecilnya ke tengah-tengah antara Arka dan Aira. Pelukan mungil itu menyatukan mereka bertiga, memecah kepedihan masa lalu Aira dan mencairkan kebekuan di hati Arka.
Malam harinya, setelah acara syukuran sederhana dan makan malam bersama usai, suasana kediaman Danuartha kembali hening. Elano sudah tertidur lelap di kamarnya setelah seharian terlalu bersemangat main dan merayakan status barunya memiliki seorang "Mama".
Aira berdiri di balkon kamarnya, masih mengenakan gaun tidur kasual berwarna merah muda pucat yang tertutup outer tipis. Ia menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Cincin platinum di jari manisnya memantulkan cahaya bulan secara anggun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki teratur mendekat. Pintu penghubung balkon tidak tertutup rapat, dan sosok Arka melangkah keluar. Pria itu sudah melepas jas akadnya, kini hanya mengenakan kaos hitam santai dan celana piyama panjang.
"Belum tidur?" tanya Arka dingin namun pelan, berdiri di samping Aira sambil menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon.
Aira menoleh sedikit. "Belum, Mas. Masih... merasa seperti bermimpi."
Arka diam sejenak, menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajah mereka.
"Pihak rumah sakit baru saja mengirim laporan. Kondisi ibumu makin stabil setelah ditangani tim spesialis. Minggu depan, kalau grafiknya terus membaik, dia sudah bisa memulai terapi wicara dan pemulihan gerak."
Mata Aira berbinar seketika. "Benarkah, Mas? Ya Allah... terima kasih banyak, Mas Arka. Terima kasih..."
"Sudah saya bilang, kamu tidak perlu terus-terusan berterima kasih," balas Arka datar. Ia mengalihkan pandangannya menatap wajah Aira dari samping.
"Saya cuma menjalankan kewajiban saya dari kesepakatan kita. Kamu sudah resmi menjadi istri saya, dan menjadi tanggung jawab saya untuk memastikan kebutuhanmu dan ibumu terpenuhi."
Aira menunduk, mengusap cincin di jarinya. "Tetap saja... bagi Mas Arka mungkin ini hanya bisnis dan kewajiban. Tapi bagi saya, Mas Arka sudah menyelamatkan hidup saya dari kehancuran."
Arka memperhatikan kesungguhan di raut wajah gadis sembilan belas tahun itu. Rasa bersalah dan penderitaan yang selama ini dipikul Aira sendirian seolah perlahan terangkat dari bahunya. Ada dorongan asing di dalam diri Arka untuk melindungi gadis ini dari segala bentuk rasa sakit di dunia.
"Tidur sekarang. Mulai besok, tugasmu sebagai 'Mama' dari anak nakal itu akan resmi dimulai secara penuh," ujar Arka, mencoba mencairkan suasana yang mendadak emosional.
Aira terkekeh pelan, tawa renyahnya menyapa angin malam. "Elano tidak nakal, Mas. Dia cuma butuh kasih sayang."
"Terserah kamu saja," Arka berbalik hendak melangkah masuk ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah, ia menghentikan kakinya dan menoleh kembali ke arah Aira.
"Aira?"
"Iya, Mas?"
"Selamat bergabung di keluarga ini," ucap Arka singkat, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan Aira yang berdiri terpaku dengan senyuman paling hangat yang merekah indah di bibirnya.
_Bersambung