Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANAH ULUWATU DAN SENJA YANG TERBAKAR

Pendar cahaya matahari siang Pulau Bali menembus dinding kaca kabin jet pribadi dengan silau yang menyengat saat roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai.

Ketukan halus dari gesekan ban dengan aspal menandai akhir dari penerbangan di atas angkasa, namun sengatan dari bisikan parau Raymond di kabin tadi masih tertinggal pekat di dalam aliran darahku.

Pria 35 tahun itu telah kembali ke mode biasanya: dingin, berjarak, dan memancarkan wibawa dominan yang tak terjangkau.

Ia merapikan jam tangan mewahnya, mengenakan kembali jas kasual warna gelapnya, dan melangkah turun dari tangga pesawat tanpa memperlihatkan sedikit pun jejak gejolak emosi dari percakapan intens yang baru saja terjadi di udara.

Di area parkir khusus penerbangan privat, dua unit SUV hitam berukuran besar dengan kaca gelap sudah bersiap menyambut.

Pak Herman yang mendampingi di belakang langsung membukakan pintu untuk kami berdua.

"Kita langsung menuju lokasi proyek di Uluwatu, Pak Herman?" tanyaku saat mobil mulai bergerak meninggalkan kawasan bandara, membelah jalanan Bali yang riuh oleh embusan angin laut dan deretan pohon kelapa.

"Betul, Nona Clarissa," jawab Pak Herman dari kursi depan.

"Tuan Raymond dijadwalkan bertemu dengan konsorsium investor asal Singapura dan pemilik lahan lokal pukul dua siang ini di tebing Uluwatu.

Setelah itu, baru Nona dan Tuan bisa menuju resort peristiratan di kawasan Seminyak."

Aku melirik ke samping.

Raymond sedang fokus menatap layar iPad-nya, membaca draf dokumen kerja sama bernilai triliunan rupiah tanpa sekalipun terdistraksi.

Sikap profesionalismenya yang luar biasa ini justru terasa makin membahayakan; ia sanggup memisahkan obsesi pribadinya dengan urusan bisnis dalam satu jentikan jari.

"Apakah ada dokumen khusus yang perlu kupelajari sebelum bertemu para investor itu, Raymond?" tanyaku dengan nada formal, sengaja menyesuaikan diri.

Raymond menoleh perlahan, menatapku di balik kacamata hitam berbingkai tipis yang melengkapi penampilannya.

"Cukup berdiri di sampingku dan perhatikan bagaimana mereka bertransaksi.

Jangan katakan apa pun kecuali jika aku memintamu berbicara."

"Seolah aku ini sekadar pendamping tak bersuara?" tukasku dengan senyuman tipis yang menyindir.

"Bukan pendamping tak bersuara, Clarissa," sahut Raymond rendah, suaranya terngiang khusus hanya untuk pendengaranku di dalam interior mobil yang dingin.

"Tapi sebuah kartu AS yang sengaja kusimpan sampai momen yang tepat."

Perjalanan menanjak menuju kawasan tebing selatan Uluwatu menyajikan pemandangan alam yang spektakuler sekaligus mencekam.

Mobil kami akhirnya berhenti di sebuah lahan lapang yang bertengger persis di atas tebing kapur terjal.

Di bawah sana, sejauh mata memandang, Samudra Hindia membentang luas dengan ombak biru pekat yang menghantam tebing karang hingga menciptakan buih-buih putih raksasa.

Angin laut yang berembus kencang langsung menyambar begitu aku melangkah keluar dari SUV.

Blouse sutra melayang yang kukenakan beriak bebas diterpa angin, membuatku harus memegang kacamata hitamku agar tidak terbang.

Di sudut lahan yang strategis itu, sebuah tenda kanopi eksklusif telah didirikan lengkap dengan meja rapat kayu panjang, pendingin portabel, dan beberapa staf ber-jas yang sigap menyajikan minuman dingin.

Tiga pria paruh baya bersetelan kemeja linen putih bernuansa santai namun bernilai mahal—para investor Singapura dan tuan tanah lokal—sudah menunggu dengan raut wajah penuh antisipasi.

"Ah, Mr. Perkasa!

Selamat datang di Uluwatu!" sapa salah satu investor beretnis Tionghoa-Singapura bernama Mr. Chen, melangkah maju dan berjabat tangan erat dengan Raymond.

"Terima kasih sudah menunggu, Chen," balas Raymond dengan bahasa Inggris yang sangat fasih dan bernada percaya diri tinggi.

Mata Mr. Chen dan dua rekan lainnya mendadak beralih padaku yang berdiri tepat di samping Raymond.

Pandangan mereka memancarkan rasa terkejut yang terselubung kagum melihat keberadaanku—seorang gadis muda berparas jelita dengan aura percaya diri yang anggun, melangkah di tengah medan bisnis kelas berat ini.

"Dan... siapa wanita muda yang sangat memesona ini, Mr. Perkasa?

Apakah ini nyonya Siska yang sering dibicarakan di media?" tanya investor lainnya dengan nada sopan namun sarat rasa penasaran.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menebar umpan yang sangat menarik di udara.

Aku hampir saja menyunggingkan senyuman dingin untuk melihat bagaimana Raymond membalas kesalahan fatal tersebut.

*JAWABAN YANG MENGGEMPAR*

Raymond tidak panik sedikit pun.

Ia menepuk pelan bagian belakang pinggangku—sebuah sentuhan posesif yang sangat natural di hadapan para mitra bisnisnya—lalu menjawab dengan suara jernih tanpa ragu.

"Ini Clarissa.

Putri dari keluarga kami sekaligus perwakilan divisi investasi privat Perkasa Group untuk proyek Uluwatu ini," ujar Raymond tegas.

"Ibu Siska sedang berhalangan hadir karena mengurus urusan domestik di Jakarta."

Penjelasan Raymond yang memoles posisiku sebagai perwakilan investasi resmi langsung mengubah tatapan para investor tersebut.

Rasa penasaran mereka berganti menjadi penghormatan profesional.

"Luar biasa.

Sangat muda dan memegang peranan penting di Perkasa Group," puji Mr. Chen sambil membungkuk kecil padaku.

"Senang bertemu dengan Anda, Miss Clarissa."

"Senang bertemu dengan Anda juga, Mr. Chen," jawabku halus dalam bahasa Inggris yang fasih, menyambut uluran tangannya dengan genggaman mantap.

Diskusi bisnis pun dimulai di bawah kanopi.

Raymond memimpin jalannya presentasi dengan ketajaman analisis yang memukau.

Pria itu menguasai setiap detail teknis, mulai dari perhitungan batas erosi tebing, zonasi hukum Bali, hingga proyeksi nilai investasi resort bintang enam yang akan dibangun di sana.

Aku duduk di sisinya, mencatat poin-poin penting pada iPad-ku sambil sesekali memberikan masukan mengenai preferensi tata letak bangunan yang langsung disetujui oleh Mr. Chen.

Kehadiranku bukan sekadar pajangan; aku membuktikan bahwa aku memiliki kapasitas untuk berdiri sejajar di dunia Raymond—hal yang sama sekali tidak pernah bisa dilakukan oleh Ibu yang hanya paham cara menghabiskan uang belanja.

Sore hari menjelang, diskusi panjang itu akhirnya membuahkan kesepakatan awal.

Para investor menyetujui draf nota kesepahaman dan berjanji akan menandatangani kontrak resmi lusa mendatang di Seminyak.

Setelah rombongan investor dan para staf meninggalkan lokasi proyek menggunakan mobil mereka masing-masing, lahan tebing Uluwatu mendadak tenggelam dalam keheningan yang tenang.

Langit Bali yang membiru perlahan berubah warna menjadi jingga pekat, merah tembaga, dan keunguan saat matahari mulai bergerak turun mendekati garis cakrawala lautan.

Pak Herman dan beberapa pengawal pribadi sengaja berdiri jauh di dekat area parkir mobil, memberikan ruang privat yang sepenuhnya tak terganggu untuk sang pemilik Perkasa Group.

Aku melangkah mendekati tepi tebing kapur yang dipagari besi pengaman, membiarkan embusan angin laut sore memainkan helai-helai rambut hitamku.

Pemandangan matahari terbenam dari atas tebing Uluwatu ini begitu megah, indah, sekaligus menyisakan rasa kesepian yang dalam.

Langkah kaki berat Raymond terdengar mendekat dari belakang.

Pria itu melepas jas kasualnya, menyisakan kemeja rajut abu-abu yang melekat padat di tubuhnya.

Ia berdiri sangat dekat di sampingku, menyandarkan kedua tangannya yang berotot di atas pagar besi pengaman, menatap lurus ke arah garis samudera yang terbakar warna emas.

"Bagaimana menurutmu lahan ini, Clarissa?" tanya Raymond pelan, suara bass-nya menyatu harmonis dengan gemuruh ombak di bawah sana.

Aku melepas kacamata hitamku, menikmati pendar cahaya senja yang menerpa wajahku.

"Lahan ini sangat indah... tapi juga sangat berbahaya.

Satu langkah salah di tepi tebing ini, siapa pun bisa jatuh ke dalam lautan ganas di bawah sana tanpa ada kesempatan untuk selamat."

Aku memutar tubuhku sedikit, menatap profil wajah Raymond dari samping.

Garis rahangnya yang tegas keemasan diterpa pendar matahari terbenam, membuatnya tampak bagaikan patung mahakarya yang terukir sempurna.

"Sama seperti permainan yang sedang kita jalankan sekarang, bukan?" lanjutku lirih.

Raymond memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam manik mataku.

Di bawah sorotan cahaya senja Bali, iris mata hazel-nya berkilau pekat, memancarkan kedalaman emosi yang tak lagi bisa disembunyikan di balik topeng bisnisnya.

"Kamu merasa sedang berdiri di tepi tebing, Clarissa?" tanya Raymond rendah.

"Bukan aku yang berada di tepi tebing, Raymond," balasku berani, melangkah satu senti lebih dekat hingga ujung sepatuku bersentuhan dengan sepatunya.

"Tapi kamu.

Kamu yang membawa anak tiri dari istri sahmu terbang jauh ke Bali, membelikannya perhiasan puluhan miliar, dan mengenalkannya pada mitra bisnismu sebagai perwakilan resmi.

Jika Ibu atau media sampai mencium hal ini, kekaisaran Perkasa Group milikmu bisa terguncang."

Mendengar ancamanku, bukannya gentar, Raymond justru melepaskan satu tangannya dari pagar besi.

Jemari tangannya yang besar dan hangat perlahan naik, menyelipkan seuntai rambutku yang tertiup angin ke belakang telingaku.

Ibu jarinya membelai lembut garis pipiku, mengirimkan sensasi panas yang langsung membakar dadaku.

"Biarkan saja terguncang," bisik Raymond dengan suara parau yang sangat dalam, tatapannya terkunci rapat pada bibirku.

"Dunia bisnis dan kekayaan ini bisa kubangun kembali dalam hitungan tahun, Clarissa.

Tapi melihatmu berdiri di sisiku... memegang kendali atas pikiran dan hasratku... itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kubeli dengan uang."

Jantungku berdegup kencang bagai dihantam ombak Uluwatu.

Pengakuan jujur dari seorang Raymond Perkasa di atas tebing senja ini adalah puncaknya.

Pria paling dominan dan dingin di Jakarta ini telah sepenuhnya menyerahkan pertahanan dirinya padaku.

"Kamu gila, Raymond..." bisikku lirih, napasku menyatu dengan hembusan napas hangatnya.

"Aku gila sejak malam pertama kamu menumpahkan minum di kemejaku di ruang makan itu," sahut Raymond melayang, tangannya di pipiku bergeser menahan bagian belakang leherku secara posesif.

Pria itu menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak yang tersisa di antara kami saat matahari benar-benar tenggelam di balik garis lautan.

Bibirnya yang hangat dan tegas mendarat menekan bibirku dalam sebuah ciuman yang sarat akan dominasi, hasrat terlarang, dan obsesi yang meledak tanpa ampun.

Aku menahan napasku sesaat saat rasa manis alkohol halus dan tembakau mahal dari mulutnya menguasai indra pengecapku.

Tanganku yang gemetar terangkat secara refleks, meremas kain kemeja rajut di dada bidangnya untuk menopang tubuhku yang mendadak lemas.

Di atas tebing Uluwatu yang terisolasi dari dunia, di bawah langit Bali yang perlahan menggelap menjadi malam, janji pembalasan dendamku telah berubah menjadi sebuah lingkaran perapian terlarang yang membakar kami berdua tanpa ada jalan untuk kembali.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!