Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Kabar yang Salah

Mellisa melangkah masuk ke dalam kafe dengan hati yang tak henti-hentinya berdebar. Aroma kopi yang menguar dari balik meja bar, suara percakapan para pengunjung, serta alunan musik lembut yang memenuhi ruangan seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari satu hal: pertemuan yang sejak tadi berusaha ia persiapkan, tetapi tetap saja membuatnya gugup.

Matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan, mencari sosok yang sudah puluhan tahun tidak pernah lagi duduk di hadapannya sebagai seseorang yang istimewa.

Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada seorang laki-laki yang duduk di dekat kaca besar di sudut kafe. Handoko.

Untuk beberapa detik, Mellisa hanya berdiri mematung.

Laki-laki itu memang telah berubah. Rambutnya tak lagi sehitam dulu, beberapa helai putih tampak jelas di antara rambutnya. Wajahnya pun tak lagi menyimpan kesan muda seperti ketika mereka masih duduk berdampingan di bangku kuliah. Namun, ada sesuatu yang tetap sama. Tatapan matanya. Cara duduknya. Bahkan senyum kecil yang muncul ketika menyadari kehadiran Mellisa.

Seketika kenangan puluhan tahun lalu menyeruak begitu saja.

Mellisa menarik napas panjang, lalu memaksa kedua kakinya melangkah mendekati meja itu. Setiap langkah terasa berat, seolah masa lalu yang selama ini ia simpan rapat-rapat ikut menyeretnya kembali.

"Hai, Mel. Akhirnya datang juga." Handoko segera berdiri. Ia mengulurkan tangannya kepada Mellisa.

Mellisa menatap telapak tangan itu sesaat sebelum akhirnya menyambutnya. Sentuhan singkat tersebut seketika membuat dadanya terasa sesak. Ada perasaan asing yang bercampur menjadi satu—gugup, canggung, haru, sekaligus takut pada sesuatu yang bahkan belum terjadi.

"Mas..." sapanya pelan.

"Duduk, "

Seperti puluhan tahun lalu, Handoko menarik kursi untuknya. Gerakannya sederhana, bahkan mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Namun bagi Mellisa, perlakuan kecil itu terasa begitu akrab.

Dulu, Handoko selalu melakukan hal yang sama.

Menarikkan kursi untuknya. Membukakan pintu. Memastikan Mellisa berjalan di sisi yang aman ketika mereka berada di jalan. Hal-hal kecil yang dulu begitu biasa, tetapi kini justru terasa seperti potongan kenangan yang tiba-tiba dihidupkan kembali.

Mellisa duduk perlahan.

Handoko kembali mengambil tempat di hadapannya.

Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Mereka hanya saling diam, seolah sama-sama sedang mencari kata yang tepat untuk membuka percakapan setelah dua puluh lima tahun terpisah.

Seorang waitress datang menghampiri dan memecah keheningan.

"Selamat siang. Mau pesan apa?"

Mereka menyebutkan pesanan masing-masing. Setelah mencatat semuanya, waitress itu mengangguk sopan lalu meninggalkan meja mereka.

Keheningan kembali hadir. Kali ini Handoko yang lebih dulu menatap Mellisa. Tatapannya tak beralih sedikit pun.

Ia memperhatikan wajah perempuan yang pernah begitu dekat dengannya itu, seolah sedang mencoba menemukan sosok Mellisa yang dahulu. Dan semakin lama ia memandang, semakin kuat perasaan yang selama ini ia kira telah terkubur.

"Kamu nggak banyak berubah, Mel," ucapnya akhirnya. "Masih sama seperti waktu kuliah dulu."

Mellisa tersenyum tipis. Ia tak tahu harus menjawab apa selain sebuah kalimat sederhana.

"Terima kasih."

Handoko masih memandanginya. Sementara Mellisa justru mengalihkan pandangan. Ia tahu, jika terlalu lama menatap mata laki-laki itu, pertahanan yang dibangunnya selama bertahun-tahun mungkin akan runtuh.

Ia kembali menatap Handoko ketika akhirnya memutuskan untuk langsung menanyakan maksud pertemuan itu.

"Maaf, Mas. Aku nggak punya waktu lama. Ada apa ya, Mas, memintaku datang ke sini?" Mellisa berhenti sejenak. "Apakah ada hubungannya dengan pernikahan Kania dan Raka?"

"Nggak."

Jawaban Handoko terdengar singkat. Kepalanya menggeleng pelan.

Mellisa mengernyit. "Lalu?"

Handoko terdiam. Tatapannya berubah. Tak ada lagi senyum seperti beberapa menit lalu. Wajahnya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih serius.

"Aku cuma ingin tahu..." suaranya terdengar lebih berat, "...apa alasanmu meninggalkanku begitu saja?"

Kalimat itu membuat Mellisa membeku. Dadanya seketika terasa penuh. Belum sempat ia menjawab, waitress datang membawa pesanan mereka dan meletakkan dua cangkir minuman di atas meja.

Mellisa menundukkan wajahnya. Tangannya perlahan menggenggam ujung tas di pangkuannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka kembali sebuah kisah yang selama dua puluh lima tahun terakhir sengaja ia kubur jauh-jauh.

Setelah waittres itu pergi, Mellisa menatap wajah Handoko sekilas. Raut mukanya berubah. Wajah yang semula tenang kini tampak jutek. Ia jelas tidak nyaman dengan pertanyaan Handoko yang seolah-olah menempatkan dirinya sebagai orang yang bersalah.

"Maaf, Mas..." ucapnya, menahan kesal. "Apa nggak salah Mas melontarkan pertanyaan seperti itu kepadaku?"

Handoko mengernyit.

"Bukannya Mas yang pertama kali melamar kekasih hati Mas sampai tega meninggalkanku sendirian?"

"Apa?"

Suara Handoko berubah berat. Tatapannya langsung tertuju kepada Mellisa. Mellisa mengembuskan napas panjang.

"Waktu itu aku mencari Mas bukan tanpa alasan."

Handoko terdiam.

"Aku mau menyampaikan pesan dari orangtuaku. Saat itu aku ada yang melamar, aku bilang kepada orang tuaku kalau aku sudah memiliki Mas Handoko. Oleh karenanya, mereka menyuruh Mas datang ke Bandung. Mereka ingin berkenalan dengan Mas. Kalau Mas memang serius denganku, mereka bilang Mas bisa datang bersama keluarga untuk melamarku. Biar orangtuaku memiliki alasan menolak lamaran Mas Riza, ayahnya Kania."

Handoko tampak terkejut mendengarnya.

"Aku sudah beberapa kali menelepon ponsel Mas waktu itu," lanjut Mellisa. "Tapi nggak pernah diangkat."

Mellisa menatapnya dengan tatapan yang masih menyimpan luka. "Karena berkali-kali aku menelepon tapi tetapi tidak diangkat, akhirnya aku menelepon ke rumah Mas."

Handoko semakin serius mendengarkan. "Yang mengangkat telepon ART Mas. Aku tanya, Mas ada di mana?"

Mellisa berhenti sejenak. "Dia bilang Mas sedang ke Solo bersama keluarga."

Handoko mengernyit. "Dan ketika aku tanya untuk apa ke Solo? dia bilang..." Mellisa menarik napas. "Mas pergi untuk melamar kekasih Mas."

Wajah Handoko seketika berubah. "Dia bilang begitu?"

"Iya."

Jawaban Mellisa tegas. "Dia bilang Mas yang melamar kekasih hati Mas ke Solo. Anak seorang Sultan."

Handoko terdiam. Mellisa tersenyum pahit.

"Jadi menurut Mas, setelah mendengar kabar seperti itu, aku harus bagaimana?"

Handoko tidak menjawab.

"Aku datang mencari Mas karena ingin menyampaikan bahwa orangtuaku sudah membuka pintu untuk hubungan kita. Tapi yang kudapat justru kabar bahwa Mas sedang pergi melamar perempuan lain."

Suara Mellisa mulai bergetar. "Jadi aku memilih mundur."

Handoko mengusap wajahnya perlahan. Ia tampak terpukul. "Mel..." suaranya berat. "Yang melamar waktu itu bukan aku."

Mellisa terdiam. "Yang melamar adalah Mas Haryanto."

Mata Mellisa perlahan membesar.

"Memang aku dan seluruh keluarga pergi ke Solo," lanjut Handoko. "Tapi kami pergi menghadiri acara lamaran Mas Haryanto. Bukan aku yang melamar."

Mellisa hanya mampu menatapnya.

"ART-ku salah menyampaikan informasi kepadamu," kata Handoko lirih. "Dan karena ponselku waktu itu tidak bisa kamu hubungi, karena ketinggalan di mobil. Kamu akhirnya mendapatkan informasi yang salah dari rumah."

Mellisa terdiam. Sebuah kesalahan kecil dari seseorang yang bahkan mungkin tidak pernah menyadari akibat ucapannya ternyata telah mengubah hidup dua orang.

Dan kini, setelah dua puluh lima tahun, kebenaran itu akhirnya terbuka.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!