Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab1. Tubuh siapa ini?!
Di Sebuah lorong gedung yang sepi.
Dua pria bersenjata berlari panik.
"Ini benar-benar gawat! Kita harus lari! Itu Kakek Joffrey!! Kita harus pergi! CEPAT! Lari dari sini sebelum dia mendekat!!”
“Tidak ada waktu untuk lari! Kita lawan saja! Kita tembak dia!!”
“IDIOT! Jangan, Bodoh! Kita tidak akan selamat! Kita harus lari sejauh mungkin!”
“Cukup! Serahkan padaku! Aku akan menghabisinya... lagipula dia hanya kakek tua!”
Pria itu berbalik.
Senjatanya diangkat.
Senapan otomatis besar ditodongkan ke arah sosok tua yang perlahan berjalan dengan punggung membungkuk.
"Makan ini pak tua!!"
DOR! DOR! DOR! DOR!
Peluru-peluru tajam melesat, memecah udara, Namun...
TRANG! TRANG! TRANG!
Kilatan logam memercik di udara.
Semua peluru terpental, dibelah di udara oleh kilatan katana yang tak terlihat mata.
"Ti-tidak mungkin! Semua peluru nya di tebas?!" Pria itu terbelalak.
“Anak-anak muda zaman sekarang sangat bodoh… kalian Terlalu bergantung pada senjata otomatis. Padahal, di generasiku dulu, semua diselesaikan dengan tangan kosong atau tebasan pedang, ini membuat ku bosan” gumam kakek Joffrey.
“Bajingan BODOH! Kenapa malah kau tembak! Lari! CEPAT LARI!! Lari sekarang! Kita tidak akan bisa mengalahkan nya!”
Keduanya memutar arah. Melarikan diri secepat mungkin.
Namun...
WUUSSHH!!
Angin berdesing.
Dalam sekejap, kakek Joffrey sudah berdiri di depan mereka.
'Sial… Sudah terlambat! Habislah kami! Dia bergerak sangat cepat!' salah satu dari mereka terbelalak putus asa.
“Pembunuh muda memang selalu ceroboh. Kalian terlalu cepat merasa kuat, padahal kekuatan kalian belum seberapa...” suara Joffrey terdengar dingin.
SRAAAK! SRAAK! SRAAAK!
Gerakan katana itu terlalu cepat untuk diikuti mata.
Tangan, kaki, dan kepala mereka melayang di udara.
BYUR!
Darah menyembur, menyapu dinding menyisakan keheningan yang mengerikan.
------
Aku Joffrey Thronevale... Assasin yang dilatih sejak usia 6 tahun.
Dan Pembunuhan pertamaku terjadi saat aku baru berusia tujuh tahun.
Sejak itu, hidupku hanya berisi satu hal... membunuh.
Aku tak tahu lagi berapa banyak nyawa yang telah kuambil. Yang jelas… sangat banyak.
-------
Joffrey berjalan pelan keluar dari gedung... Ia menekan alat komunikasi. “Misi selesai. Target sudah dibersihkan."
“Terima kasih, Kakek Joffrey! Anda telah membantu kami.. Aku berjanji akan memberikan imbalan yang sangat banyak untuk anda! Termasuk jaminan pensiun anda dan kemewahan untuk cucu anda! Kami akan merawat keluarga anda!”
Namun sebelum sempat membalas,
“SEMUA NYA! JANGAN BENGONG! TEMBAK DIA! JANGAN BIARKAN DIA MELARIKAN DIRI! Dia telah membunuh majikan kita!”
Puluhan pria langsung membidik Joffrey.
DOR! DOR! DOR! DOR!
WUSSHH! TRANG! TRANG!
Kakek Joffrey bergerak cepat. Tubuhnya yang tua bergerak lincah, menghindari dan menahan setiap tembakan dengan presisi mematikan menggunakan katana.
"Teknik Pedang satu tangan..." Gumam Joffrey. "...Langkah Angin!"
Dalam satu gerakan...
WUUUSSSH!
Tubuh nya menghilang dan tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka.
“Teknologi maju, tapi otak justru makin mundur. Semua serba otomatis. Di mana seni bertarung yang sejati? Kalian sama seperti orang yang tidak bisa apa-apa” gumam Joffrey.
SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!
Kilatan katana nya bergerak cepat.
BYUR!
Tangan, kaki, bahkan kepala terbang ke udara. Darah menyembur liar.
“A-AAARGH!! JANGAN! AKU MOH—”
SRAK!
Satu tebasan di leher. Tubuh pria itu rubuh. Mati.
Kakek Joffrey menarik napas panjang. “ini benar-benar merepotkan... Aku sudah terlalu tua untuk mengerjakan misi ini”
--------
Aku sudah hidup selama delapan dekade.
Namun, dekade ini adalah yang paling membosankan.
Dunia pembunuh tak lagi seperti dulu.
Tidak ada lagi racun licik, perangkap rumit, pertarungan pedang berdarah-darah.
Sekarang, Semua hanya tarik pelatuk dan sembunyi.
Aku rindu masa lalu... tapi semua musuh ku sudah mati.
-------
Kakek Joffrey berjalan menyusuri jalan.
Namun Tiba-tiba…
DEG!
Langkahnya terhenti sambil memegang dada.
‘Sungguh mengecewakan. Aku ingin mati di tangan pembunuh yang layak, Tapi sudah sampai tua seperti ini, tidak ada pembunuh yang mampu mengalahkan ku. Dan pada akhirnya aku malah mati serangan jantung...’
Alat komunikasi berbunyi. "Kakek Joffrey, apa kau dengar aku? Coba sebutkan lokasi mu! Kami akan menjemput mu!"
Namun tubuh nya sudah di ambang batas, untuk bicara pun tidak bisa.
'Sial... Aku bahkan belum menulis pesan untuk anak dan cucu ku... Tapi waktu ku sudah habis' pikir nya.
BRUG!
Tubuh Joffrey jatuh, dan ia berhenti bernapas.
Pembunuh legendaris akhirnya mati oleh serangan jantung.
Di dalam kehampaan, Joffrey masih sadar.
'Apa ini yang di namakan kematian? Tapi kenapa seolah aku masih hidup?' pikir nya.
Tiba-tiba....
BRAAAK!
Matanya terbuka.
Napasnya tersentak. Tubuhnya dingin.
Namun sebelum sempat memahami apa yang terjadi…
"Rasakan ini bajingan!"
SRAAAAK!
Sebuah pisau tajam meluncur dan menancap tepat di bahu kirinya.
“AAAGGRRGHH!!”
Teriakan Joffrey menggema.
Tubuhnya terhuyung ke belakang, menabrak dinding keras.
Darah hangat mengalir deras. Napasnya memburu. Matanya terbelalak.
‘Apa ini?! Di mana aku?!’ pikirnya heran.
Saat pandangannya fokus, dia melihat seorang pria muda dengan senyum buas di wajahnya.
“HAHAHAHA! Aku sangat beruntung karena Lawanku nomor 2000! Kau hanya bocah yang sangat lemah! Ini akan menjadi kemenangan mudah untuk ku! Kan ku kirim kau ke neraka!”
Tanpa memberi waktu berpikir, pria itu kembali menerjang dengan pisau terhunus.
WUUSSH! WUUSSH! WUUSSH!
Namun kali ini, Joffrey menghindar dengan mulus.
Tubuh mudanya lincah dan gerak refleksnya tetap setajam dulu.
“Anak bodoh” gumamnya pelan. “jika kau ingin membunuh, lakukan seperti ini.”
WUUSSH!
Joffrey melesat masuk ke dalam jangkauan lawan.
‘Sial! Kenapa dia tiba-tiba menjadi begitu cepat?!’ pikir pria itu terkejut.
BUAK!
Satu pukulan telak menghantam dagu.
DUAK!
Pukulan kedua menghantam ulu hati, membuat napas lawan terhenti.
'Sial! Pandangan ku mulai kabur!'
TAK!
Dengan tenang, Joffrey mengunci tangan bersenjata musuh dan…
BRAAAK!!
Mematahkannya tanpa ragu. Suara tulang patah memecah udara.
"AAAGGGRRHHHHHH!!!!"
Dalam satu gerakan cepat, dia merebut pisau itu dari tangan lawan yang kini berteriak kesakitan…
Dan kemudian…
SRAAAK! SRAAAK!
Dua tusukan bersih ke leher membuat pria itu tumbang, darah menyembur liar dari luka yang menganga.
Tubuhnya menggeliat sebentar, lalu diam.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan berdarah itu.
“Nomor 2000, kau lolos. Segera keluar dan kembali ke kamar tidurmu.”
Suara dingin terdengar dari balik pintu.
Joffrey berdiri, masih terengah. Ia menatap tangannya, tubuhnya.
Bukan tubuh tuanya. Ini tubuh remaja.
Ia melihat refleksi samar di genangan darah.
“Sial… Tubuh siapa ini?” gumamnya. “Bukankah aku seharusnya mati karena serangan jantung?”
Dengan tubuh penuh luka dan kepala penuh tanya, ia melangkah keluar dari arena.
Begitu pintu terbuka, matanya membelalak lebih lebar.
Di koridor besar yang panjang itu. puluhan ruangan lain sedang terbuka, dan di dalamnya...
SRAAK! SRAAK! SRAAK!
“ARGHH!! TOLONG JANGAN!!”
“AKU TIDAK MAU MATI—”
SRAAAK!
Suara tebasan daging. Jeritan. Tangisan.
Setiap ruangan adalah ladang pembantaian.
Di mana-mana, anak-anak muda seumuran tubuh barunya saling membunuh.
Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan.
‘Tempat macam apa ini? Kenapa semua anak ini saling membunuh?’
“Nomor 2000! Apa yang kau tunggu?! Segera ke kamarmu!”
Suara pengawas bergema lagi, kali ini lebih tegas.
Joffrey hanya mengangguk pelan.
Meski belum mengerti situasi, ia mengikuti alur, berjalan bersama arus tubuh-tubuh muda yang selamat dari pertarungan.
Ia memasuki sebuah ruangan... Ruangan itu sempit, dingin, dan dindingnya terbuat dari batu kasar.
Tidak ada jendela, tidak ada ranjang. Hanya lantai kotor dan gelap.
‘Ini pasti di bawah tanah, mungkin dalam sebuah gunung atau bunker, mengapa ada banyak anak-anak di sini? Dan mengapa mereka saling bunuh?’ pikirnya sambil menatap langit-langit rendah.
Ia duduk. Tangannya mulai gemetar karena luka yang parah di bahu kirinya.
“Aku harus segera menghentikan pendarahan ini.”
Ia mengupas bagian bawah bajunya, merobek kainnya, lalu membalut luka dengan cermat, seperti seorang veteran yang sudah ratusan kali melakukan itu.
Setelah itu, ia bersandar ke dinding.
“Aku tidak tahu di mana ini dan tubuh siapa yang kini ku gunakan.”
“Tapi satu hal pasti… aku kembali hidup. Dan tempat ini aku merasakan hal aneh, tempat ini lebih mengerikan dari tempat pelatih ku dulu.”
Dia menatap tangannya lagi... Tangan yang muda, namun lemah.
"Sial... aku harus mencari petunjuk. Kenapa aku bisa ada di dalam tubuh anak ini?"