Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Nyata
Bab 13
# Ancaman Nyata! #
"Mmm... mukaku kasar banget ya? Kayaknya gara-gara lupa pakai pelembap tadi. Bibirku juga kering begini," gerutu Ino sambil mematut diri di depan kaca. "Yup! Mari kita unboxing barang belanjaan! Kelamaan menunggu Sora naik."
Ino mendadak bangkit bersemangat. Ia bergegas menuju sofa yang dipenuhi deretan paper bag berisi barang belanjaannya. Tak hanya pakaian, Ino juga memborong baju tidur, dress, alat kosmetik, hingga berbagai produk skincare.
Di tangannya kini terpampang sepotong dress panjang berwarna orange yang sangat segar dan cantik. Ino tersenyum bahagia, terharu menatap detail dan kelembutan bahan dress tersebut. Selama ini Ino selalu menahan diri. Mommy nya tidak akan pernah mengizinkannya memakai dress, bahkan meski hanya di dalam kamar sekalipun.
"Waaaah! Keren banget! Nyaman dan dingin..." celetuknya girang. "Pasti aku bisa tidur nyenyak terus kalau pakai baju ini! Lalala... hmmm... hmmm..."
Ino menari-nari kecil, berputar-putar layaknya seorang putri kerajaan yang tengah berdansa. Ia membiarkan ujung rok dress nya mengembang terkena belaian angin malam dari balkon. Sambil bersenandung riang, ia mulai menata kosmetik dan skincare di atas meja rias Sora.
Masih dalam posisi berdiri, Ino membungkukkan badan, memakai bando milik Sora, lalu mengaplikasikan pelembap wajah serta lip balm. Ia menepuk-nepuk lembut kedua pipinya, lalu beralih memilih deretan parfum yang ia borong siang tadi.
Setelah menemukan satu aroma manis yang menurutnya paling cocok dengan dress orange jeruk mandarin tersebut, Ino menyemprotkannya ke udara tepat di atas kepalanya. Ia kembali menari-nari kecil di bawah hujan parfum itu, merentangkan tangan agar aromanya menempel ke seluruh tubuh.
CEKLEK!
"Sora! Kau sudah selesai?" seru Ino tanpa menoleh, matanya masih terpejam menikmati keharuman. "Apa tamunya sudah pulang? Cepat ke sini, lihat dress cantikku!"
Ino masih asyik meresapi aroma parfum manis yang menyeruak di kamar, sama sekali tak menyadari bahaya yang mengintai tepat di belakangnya.
TAKKK!
Botol parfum mahal di genggaman Ino seketika terlepas dan tercampakkan begitu saja di lantai.
"M-Mommy...?" bisik Ino terbata-bata. "Aku...! Ino bisa jelaskan, Mom..."
Wajah Ino pucat pasi. Sosok yang selama ini paling ia hindari kini berdiri tegak di hadapannya, melipat kedua tangan di dada bersama Sora.
Sora yang berdiri di samping Nyonya Evelyn ikut berkeringat dingin. Wajahnya tak kalah pucat. Menyaksikan adegan absurd di depan matanya, seorang pria berotot mengenakan dress secerah jeruk mandarin sedang menari-nari memakai bando, membuat tenggorokan Sora tercekat. Ditambah lagi kejadian itu disaksikan langsung oleh sang ibu!
Sora meratapi nasibnya. Memasukkan seorang lelaki ke dalam kamar saja sudah menjadi skandal, apalagi membiarkan lelaki itu berekspresi bebas di luar batas nalar seperti ini! Sora sudah membayangkan skenario terburuk, dituntut keluarga kaya raya, dan mungkin saja dijebloskan ke penjara.
"Ino... ayo ganti pakaian dan ikut Mommy pulang," ajak Ny. Evelyn dengan suara yang teramat lembut dan tenang. "Kalau mau bermain, di rumah sendiri saja ya. Tidak boleh merepotkan orang lain. Nanti kamu malah membawa masalah untuk Nak Sora, kan kasihan."
Hah...? Sora melongo. Ia tak menyangka respon Nyonya Evelyn bisa selembut itu. Bahasa dan nada bicaranya mengisyaratkan bahwa beliau sudah sangat terbiasa menghadapi kelakuan "jiwa wanita" yang merasuki putra lelakinya.
Namun, alis Sora bertaut saat Ino dengan tegas menggeleng, menolak ajakan Ibunya. Ino berdalih hanya ingin bermain sebentar lagi dengan Sora dan meluapkan Keinginan femininnya yang selama ini terendam akibat larangan ketat orang tuanya.
Dari jawaban Ino, Sora menarik kesimpulan instan, baik Ino maupun keluarganya sadar betul dengan keanehan ini sejak lama. Tapi kenapa mereka tidak berusaha menyembuhkan Ino dari jeratan hantu wanita itu? Apakah karena hantunya terlalu kuat? Kalau alasan biaya, jelas itu mustahil bagi keluarga Pierce. Kepala Sora mendadak berdenyut nyeri mencoba membedah teka-teki mistis ini.
"Pokoknya Ino masih mau main sama Sora! Mommy pulang aja!" Pria bongsor itu merajuk seperti anak kecil. "Toh dua hari lagi Paman dan Tante Mubis juga sudah pulang. Setelah itu Ino janji bakal pulang!"
Nyonya Evelyn tidak menyerah. Ia mencoba membujuk Ino sekali lagi, memohon agar Ino kasihan pada tubuh Axcel yang terus-terusan ia kuasai.
"Aaa... ssshhh! Stop, Ino!" jerit Sora histeris melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Nyonya Evelyn pun ikut tersentak kaget ketika Ino nekat melangkahkan kaki kirinya yang telanjang, memijak langsung pecahan gelas minum yang sempat ia jatuhkan tadi! Telapak kakinya seketika tergerus serpihan kaca tajam, membuat rembesan darah segar mengalir deras membasahi lantai kamar.
"Kalau Mommy nggak tega lihat darah Axcel berceceran, lebih baik Mommy pulang!" ancam Ino dingin. Kakinya semakin ditekan ke pecahan kaca tanpa menunjukkan rasa sakit sedikit pun. "Ino baru akan pulang setelah orang tua Sora kembali. Sudah waktunya Mommy dengarkan Ino, jangan terus-terusan menganggap Ino yang sengaja buat masalah!"
Melihat kenekatan itu, pertahanan Nyonya Evelyn runtuh. Air mata menetes di pelupuk matanya. "Baiklah... baiklah! Tolong jangan sakiti tubuh mu lagi. Mommy pulang... Mommy akan diam menunggu Ino pulang ke rumah ya?"
Nyonya Evelyn berbalik dengan langkah gontai, diikuti Sora, Mark, dan Rio. Sesampainya di ruang tamu, Nyonya Evelyn kembali terduduk lemas di sofa panjang. Ia mengisyaratkan Sora untuk duduk di sampingnya. Sora berlari kecil dan segera duduk mendekat. Melihat helaan napas sedih dari wanita anggun di sampingnya, dada Sora ikut terasa sesak.
"Nama Tante, Evelyn. Kamu bisa panggil Tante Ev, atau Mommy seperti Ino juga tidak apa-apa," ujar Evelyn mengusap ujung matanya. "Baru kali ini Ino punya kawan dan mau berteman. Ini juga pertama kalinya Ino berani membantah Tante. Mungkin Tante yang terlalu mengekangnya, atau dia memang merasa lebih nyaman bersamamu. Maaf ya kalau Ino membuatmu repot. Apa perlu Tante tempatkan bodyguard untuk jaga-jaga di sini? Tante tidak bisa tenang kalau Ino sedang tidak di rumah."
"Ah, tidak perlu Tante," tolak Sora halus. Ia mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Tante... sebenarnya sejak kapan Ino kesurupan hantu wanita? Kelihatannya Tante sudah biasa sekali. Apakah hantu yang merasukinya memang sekuat itu sampai susah diusir?"
HAHAHAHA...!
Nyonya Evelyn mendadak tertawa lepas, mengusap sisa air matanya. Ia menatap Sora dengan binar keheranan. "Kesurupan... Hantu wanita?"
"Hah? Jadi... Ino itu memang aslinya berjiwa feminin ya, Tante?!" pekik Sora syok setengah mati. "Aku kaget sekali! Pertama kali bertemu, Ino itu sangat manly lho, Tan! Tidak ada jejak gemulai seperti sekarang. Aku pikir dia berubah jadi manja begini karena kerasukan hantu di ruang UKK kampus yang terkenal angker!"
Sora memegang dahinya yang mendadak pening. Jika masyarakat tahu kalau penerus Pierce Group memiliki keanehan jiwa seperti ini, pasti akan banyak musuh bisnis yang berusaha menjatuhkannya.
Dengan penuh ketulusan, Sora menggenggam tangan Nyonya Evelyn. "Tante tenang saja! Aku bakal lindungi Ino sebaik mungkin. Aku tidak akan biarkan siapa pun tahu kelemahan penerus Pierce Group!"
Raut wajah Nyonya Evelyn seketika menegang. Ia melirik Mark yang berdiri di belakangnya, lalu kembali menatap Sora dengan senyuman hangat. Beliau hanya sedikit terkejut karena Sora sudah mengetahui identitas Ino sebagai penerus Pierce Group.
Melihat pancaran ketulusan di mata Sora, Nyonya Evelyn sebenarnya sangat ingin membeberkan kondisi medis Axcel dan Ino yang sesungguhnya. Namun, Mark menggelengkan kepala secara halus, memberi sinyal agar rahasia raksasa mengenai Dissociative Identity Disorder (DID) atau kepribadian ganda sang Tuan Muda tidak dibocorkan pada orang asing. Bagaimanapun juga, mereka harus tetap waspada.
"Sora... tolong suruh Ino pulang setelah orang tuamu kembali ya?" pesan Nyonya Evelyn lembut. "Dan minta tolong... jangan biarkan Ino melukai tubuhnya lagi. Nanti setelah Ino pulang, Tante kirimkan hadiah spesial untukmu. Oh ya, tolong jangan ceritakan hal ini pada Orang tuamu."
Setelah mengantar Nyonya Evelyn ke pintu depan, Sora panik mengingat luka di kaki Ino. Ia menyambar kotak P3K lalu berlari menuju lantai atas.
"Ino! Apa ini tidak sakit?!" cerca Sora saat mendapati Ino sedang bersandar di sofa dengan kaki terluka yang digantungkan di udara, dengan santai ia menumpuk kaki nya yang terluka diatas kaki yang lain, lalu menikmati pemandangan tetesan darah segar yang telah menggenang lumayan banyak di lantai.
"Kenapa lukanya didiamkan begitu saja?! Darahnya mengalir terus!" Tampaknya Bi Muna tidak berani mengobati luka tersebut karena diusir oleh Ino. Bahkan saat Sora meraih pergelangan kakinya, Ino berusaha menarik kakinya menjauh.
"Inooo!" seru Sora merajuk. "Kata Mommy mu, kalau aku tidak bisa merawatmu dengan baik, aku tidak boleh berteman lagi dengan mu! Aku kan masih mau main bareng. Kamu sudah bosan ya di sini?!"
Mendengar ancaman "tidak boleh berteman lagi", Ino membuka matanya. Dengan bibir cemberut, ia akhirnya menyodorkan kakinya yang terluka, membiarkan Sora membersihkan serpihan beling yang masih menempel lalu mengoleskan antiseptik dengan perasaan ngeri, dan membalutnya dengan perban tebal sebisa mungkin. Ia beruntung karena tidak ada pecahan yang tertancap dalam.
Namun, begitu selesai dibalut, Ino mendadak bangkit dan berjalan santai menuju balkon, sama sekali tidak meringis kesakitan!
"Eh! Eh! Kenapa berjalan seperti itu?!" teriak Sora panik melihat Ino menapakkan kakinya tanpa rasa sakit. "Harusnya lukamu itu dijahit, tahu?!"
Ino memutar bola matanya malas. Ia duduk di kursi balkon, menatap lurus ke arah deretan pohon pinus di halaman belakang. "Duh... jangan melihatku seperti itu! Yang merasakan sakitnya kan si Axcel, bukan aku!"
"Hah...?! Gimana... gimana?!" Sora makin kebingungan. Pikirannya serasa semrawut. Kalau bukan karena kesurupan hantu wanita, lalu kenapa Ino bilang rasa sakitnya hanya ditanggung oleh Axcel?!
"Tidak ada tapi-tapian, kita ke rumah sakit sekarang!" tegas Sora menarik lengan Ino. Ia takut luka penuh darah itu terinfeksi fatal. Tapi pria kolokan itu menolak keras. Meski tenaga Sora tak sebanding dengan raga lelaki Ino, Sora nekat menyeretnya. Bi Muna yang baru masuk langsung ikut panik melihat aksi tarik-menarik itu.
BRUKKK!
Tubuh Ino mendadak terkulai lemas dan ambruk ke pangkuan Sora.
"Ino?! Ino!" jerit Sora histeris sembari menepuk-nepuk pipi kawan barunya. "Wah, bagaimana ini, Bik?! Ino pingsan! Cepat panggil ambulans, Bik!"
---
Ruangan serba putih dengan aroma antiseptik yang menyengat menyambut kesadarannya. Kelopak mata itu mengerjap pelan. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa begitu menyilaukan. Pandangannya yang masih kabur dan samar-samar.
Ia menoleh ke kanan, memperhatikan sosok wanita paruh baya (Bi Muna) yang tengah berdiri cemas di samping bangsal dengan alis bertaut.
"Ssshhh... awww!" Ia meringis kesakitan mendalam, mencengkeram paha kirinya yang terasa ngilu hingga ke ubun-ubun . Nyeri berdenyut hebat langsung menusuk hingga ke kesadarannya. Ia menatap sekeliling dengan pandangan asing dan tajam, lalu menatap Bi Muna penuh selidik.
"Kenapa kakiku perih banget...?" bisiknya dengan suara bariton yang dalam, dingin, dan benar-benar berbeda. "Dan... kamu siapa? Kenapa aku ada di sini?!"
****
Gawat! Ino pingsan dan kesadaran AXCEL YANG ASLI AKHIRNYA BANGKIT KEMBALI di rumah sakit! 😱 Mana rasa sakit luka di kaki yang tadinya diabaikan Ino, sekarang malah ditanggung penuh oleh Axcel lagi!, sungguh terasa kurang adil bukan?
Kiravers! Kira-kira gimana reaksi Axcel saat bangun-bangun kakinya terluka parah, memakai dress orange secerah jeruk mandari, dan mendapati dirinya didampingi orang asing, alias Bi Muna?! Apakah Axcel bakal mengamuk atau langsung memilih pingsan lagi?!
Yuk, tulis tebakan kamu di kolom komentar! 💬👇
Jangan lupa:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Axcel & Sora!
SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 14 yang rilis BESOK SORA JAM 17.00 WIB! 🕗✨
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update bab-bab seru berikutnya!
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading kiravers! 🚀🔥