Indonesia
NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PHK

**

Perjalanan pulang terasa lebih mencekam dibanding saat mereka pergi kemarin. Untuk pertema kalinya, Reyhan tidak berani mengajak Ayana berbicara, wanita itu terlihat sangat muram. Sepanjang di bus, dia hanya terus menggenggam tangan wanita itu, berusaha memberitahu jika Ayana tidak sendiri, bahwa dia selalu ada di sini  bersamanya.

"Rey," panggil Ayana dengan suara lemah, bahkan pandangannya  masih terlihat kosong ke arah jendela bus.

"Iya, kenapa Ay?"

"Hidupku drama banget, yah? Udah ditinggal mati duluan, eh ternyata aku bukan anak kandung mereka." Terdengar tawa Ayana yang miris. "Kedepannya, apa lagi yah kejutannya?"

Benar, jika menjadi Ayana, Reyhan mungkin akan sefrustrasi itu, menertawakan kehidupannya yang penuh drama ini. Dia saja, tadi sangat syok saat ikut duduk di ruang tamu untuk mendengarkan kenyataan bahwa Ayana bukan anak kandung orangtuanya yang sudah meninggal.

Dia mungkin tidak akan setenang Ayana saat mendengar informasi itu. Wanita itu dengan tenangnya tidak menunjukkan ekspresi apapun dan malah meminta izin untuk pulang saat itu juga. Tapi apakah memang setenang itu? Apa itu terasa sangat memuakkan, sampai dia tidak bisa berekspresi apapun lagi?

Tapi sekarang, kemuramannya menunjukan bahwa dia sangat hancur walaupun sedikitpun belum menangis.

"Ay, kamu pasti tahu kan istilah darah lebih kental dari air, tapi tak selamanya keluarga harus berhubungan darah. Kamu tahu kan keluarga Anang Ashanty, anaknya Anang sedekat itu dengan ibu tirinya lebih dari kedekatan mereka dengan ibu kandungnya, padahal mereka tidak ada hubungan darah."

Reyhan tidak tahu perumpamaan itu berhasil atau tidak, tapi melihat wajah Ayana yang melihat ke arahnya seolah mengatakan 'serius, kamu pakai perempuan keluarga itu?'

Reyhan tertawa canggung. "Ya udah, aku kasih contoh kebalikannya. Waktu itu kamu kasih aku lihat berita tentang ibu yang bunuh anaknya, ayah yang perk*sa anaknya padahal itu anak kandung. Tidak selamanya hubungan sedarah itu benar-benar keluarga dan sebaliknya tidak selamanya hubungan tidak sedarah itu juga bukan keluarga."

Ayana kembali menatapnya dengan pandangan seolah kembali berkata 'perumpamaan kamu terlalu jauh'.

Reyhan sekarang bingung, rasanya, setiap dia berbicara dia salah terus. "Ok, gini aja, dulu orangtua kamu siksa kamu?"

Ayana terdiam, kemudian menggeleng.

"Mereka jahat?" tanya Reyhan lagi, kembali Ayana menggeleng.

"Mereka sayangin kamu, enggak?"

Kali ini, Ayana mengangguk dengan senyum tipis sesaat.

"Kamu bahagia sama mereka?"

Pertanyaan Reyhan kali ini membuat Ayana kembali terdiam, kemudian matanya terlihatlah berkaca-kaca. Kemudian dengan pelan, Ayana mengangguk dibarengi isakan kecilnya.

Reyhan lalu merengkuh Ayana ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya. Sekarang, akhirnya tangis Ayana pecah, dia bisa meluapkan emosinya. Reyhan lebih suka melihat Ayana menangis seperti ini, daripada tadi terlihat kosong tapi terlihat hancur secara bersamaan.

"Ak--ku gak tahu Rey, perasaan aku sekarang gimana. Aku ... ini terlalu mendadak, aku gak bisa cerna ini semua." Ayana mendongak dalam pelukan untuk melihat Reyhan. "Sekarang, kenyataan apapun udah gak berguna karena mereka udah gak ada. Aku bahkan gak mau tahu orangtua kandungku siapa, itu udah gak penting lagi."

Reyhan hanya terus merengkuh Ayana, sambil sesekali melihat ke sekitar untuk meminta maaf kepada penumpang lain atas situasi ini.

"Rey, aku mau ke makam orangtua aku. Kamu pulang duluan."

Reyhan melepaskan pelukannya, merengkuh wajah Ayana sembari menghapus air matanya. "Aku temenin."

Ayana menggeleng. "Gak usah, aku sendiri aja."

Reyhan balik menggeleng. "Kalau sendiri, gak boleh pergi. Boleh pergi kalau sama aku, ok!"

"Kenapa mau ikut?"

"Aku juga mau memperkenalkan diri ke orangtua kamu kalau aku ini suami kamu. Jahat banget, gak mau kenalin aku ke mertua." Reyhan cemberut, berpura-pura kesal.

"Kenalan sekarang percuma Rey, mereka udah meninggal."

"Gak papa, mereka di surga pasti lihat kan?"

Lama, akhirnya Ayana mengangguk. "Ok, ayo pergi bareng."

"Assalamualaikum, Om ... Tante ... ehem ... sa--"

"Mama sama papa, kan udah jadi menantu mereka, aku juga manggilnya begitu."

Reyhan tersenyum, entah kenapa dia merasa senang saat disebut kata menantu. "Ok. Ma ... pa, halo perkenalkan saya Reyhan suami dari anak cantik kalian, Ayana. Mungkin awal pernikahan kita penuh dengan drama dan mendadak, tapi kalian tidak usah khawatir, setelah ini saya akan menjaga Ayana seumur hidup saya. Memastikan dia terus bahagia dan tidak bersedih, sebisa saya dan semampu saya. Jadi, tenang di sana karena saya sangat mencintai Ayana."

"Hah?" Ayana melihat ke arah Reyhan, terkejut Walaupun terbilang ini pengakuan kedua secara tidak langsung oleh cowok itu. Dia tersenyum kecil, dibalas senyuman juga oleh Reyhan kemudian Ayana terlihat malu.

"Lihatin Ayana dari atas sana, lihat bagaimana hidup Ayana akan bahagia kedepannya bersama saya." Reyhan merengkuh Ayana dari samping, karena saat ini mereka tengah berjongkok di depan makam kedua orangtua Ayana.

"Rey ... ak--"

Cup

Reyhan mencium kening Ayana. "Kita obrolin nanti, yah? Sekarang aku tunggu kamu di pos sana, kasih waktu kamu buat berbicara dengan kedua orangtua kamu. Sebelum itu, kita berdoa dulu untuk mereka."

Ayana mengangguk, kemudian mereka mulai bersama-sama berdoa. Setelah selesai, Reyhan pergi untuk memberikan Ayana ruang agar bisa leluasa berbicara dengan orangtuanya.

"Menurut kalian gimana, dia ok, kan? Mantu kalian ok, kan?"

Ayana tersenyum kecil, air matanya perlahan menetes. "Aku kangen kalian. Maaf yah, baru ke sini lagi setelah sekian lama. Seperti yang kalian denger barusan, aku udah nikah. Walaupun pernikahan kita penuh drama awalnya, tapi sekarang aku udah mulai bisa menerima pernikahan ini. Dia baik, bertanggungjawab tapi agak nyebelin dan juga miskin."

Ayana mencabuti rumpi liar di makan kedua orangtuanya. "Tapi gak papa, dia orangnya rajin bukan pemalas dan mau bekerja apa aja walau agak ekstrim karena dia sempat ikutan balap liar yang berakhir kecelakaan, memang random sekali cowok itu. Selama ini, dia jagain aku dengan baik kok, kalian gak usah khawatir. Aku juga mulai berpikir, gak papa deh seumur hidup menghabiskan waktu sama dia, kayaknya sih bakal bahagia."

Ayana terdiam, menghela napas berat. "Jadi, aku ... ini bukan anak kalian, yah? Terus, aku ... anak siapa?"

Ayana menggeleng, mengusap kasar air matanya. "Itu udah gak penting lagi, kata Reyhan, keluarga itu tidak harus selalu berhubungan darah, jadi kalian tetapi orangtua aku dan aku tetap anak kalian, selalu, selamanya."

"Aku sayang kalian, makasih udah rawat dan memberikan kasih sayang begitu banyak waktu itu untuk aku, Ma, Pa ...."

*

"Rey, baru datang siang amat!"

"Lagi pada ngapain, nih? Lagi mau bagi bansos pada ngumpul di sini?" Reyhan ikut mendudukkan dirinya di kursi karyawan bersama karyawan lainnya. "Gue gak kesiangan, ini tepat waktu banget."

Bimo mendesis, salah satu atasannya. "Tepat waktu sekali ini Reyhan, hampir mepet."

"Iya, padahal baru cuti tapi datang terlambat," sahut karyawan lain meledek.

"Sidik amat lo moncong!"

"Otak kuda lo!"

"Ee tokek!"

"Hush ...." Bimo melerai karyawannya yang mulai pada bercanda, memang bercandaan mereka seperti itu. "Rey, lo tahu gak kenapa kita belum buka toko dan malah kumpul di sini?"

Reyhan menggeleng. "Oh iya baru sadar, kenapa gak pada buka toko?"

"Kita kemungkinan mau dipecat semua," jawab teman kerjanya yang lain.

"Jangan bercanda, gak lucu!" Reyhan tertawa.

"Serius, tanya aja Mas Bimo," sahut yang lainnnya.

"Mas?" Reyhan meminta penjelasan.  Ini bohong, kan? Prank, kan?

Terlihat berat, Bimo mengangguk lemah. "Iya, waktu sabtu kemarin kita diberi tahu kalau salah satu usaha bos besar pemilik toko kita bangkrut, katanya dia memilih mengorbankan toko ini dengan menjual kepada orang lain untuk menyelamatkan usaha dia yang lain."

"Lah, tokonya kan dibeli, jadi kita masih bisa bekerja dengan bos baru dong."

Bimo kembali menggeleng. "Masalahnya, bos baru gak mau pake karyawan lama pekerja bos lama kita karena takut ada yang berkhianat. Dia mau pake karyawan asli dia katanya."

"Akh ... sialan! Berita gila apalagi ini. Terus, nasib kita gimana?" Reyhan frustrasi, jelas.

Semua orang menggeleng, menghela napas berat seolah mereka juga bingung karena sebentar lagi kemungkinan mereka semua akan menjadi gelandangan.

Reyhan harap ini hanya mimpi atau berita palsu, semua itu tidak benar.

Kenyatannya, tadi mereka semua dipanggil dan benar semua kena PHK masal, hanya tersisa supervisor yang tetap diperkerjakan. Mereka hanya diberi pesangon tiga kali gaji dan mulai besok mereka sudah berhenti bekerja, mulai besok mereka semua akan menjadi pengangguran.

Terdengar kejam, bukan? Ini memang dunia kerja, yang punya uang berkuasa dan yang tidak punya uang tersiksa. Seperti kehidupan yang sebenarnya.

"Brengsek!"

Untuk pertama kalinya dia memukul motor kesayangannya saking kesalnya dengan kehidupan ini. Baru kemarin dia berjanji akan membahagiakan Ayana di depan makam kedua orangtuanya, sekarang dia sudah menjadi pengangguran. Mau dikasih makan apa anak orang, Rey!

Sekarang, hidupnya kedepannya bagaimana, yah? Dia harus bekerja apa? Dimana?

"Sialan! Bisa gila gue kalau gini!"

"Bilang ke Ayana gak, yah? Apa gak usah?"

##

1
Aidil Kenzie Zie
e. . ternyata belum di unboxing 🤫🤫
uriarmy16: Ada waktunya🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
penasaran apa mereka udah belah duren 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Ara nggak jadi ikut y tor katanya mau kuliah di Jakarta dan tinggal dirumah Bima🤔🤔🤔
uriarmy16: ikut kok, nanti Ada kok diceritain🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
jangan tamat dulu thor
Siti Musyarofah
lanjut anak Rey thor
uriarmy16: gak kepikiran 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
bagus ceritanya
Siti Musyarofah
kurang hot Thor
uriarmy16: maaf gak bisa, geli sendiri nulisnya wkwk
total 1 replies
Siti Musyarofah
ngakak 🤣
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
astagfirullah ada y emak model begitu
Siti Musyarofah
kok mirip aku y Thor, yg modal nekad buat nikah
uriarmy16: always happy yah😗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!