Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Rasa Hormat untuk Kevin.
Nona Amel berkata dengan tegas, “Menurut konstitusi Negara Nusantara, siapa pun yang berani menyerang anggota Biro Super Nasional dapat dieksekusi di tempat. Selain itu, sebagai anggota biro, kami juga memiliki wewenang untuk melenyapkan pelaku kejahatan berat terlebih dahulu dan melaporkannya setelah itu.”
“Bagus sekali!”
Mendengar penjelasan tersebut, mata Kevin menyipit. Ia menggosok kedua tangannya dengan penuh antusias, lalu menatap Walikota dan Kepala Kepolisian dengan tajam. Senyum tipis yang menyeramkan perlahan muncul di wajahnya.
Mendengar percakapan Kevin dan Nona Amel, kedua pria itu langsung panik.
Wewenang macam apa ini?!
Kepala Kepolisian gemetar. Ia menatap Kevin dengan mata terbelalak.
“Jadi... Anda anggota Biro Super Nasional?”
Sebagai kepala Kepolisian kota Jaya, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui keberadaan organisasi tersebut?
Biro Super Nasional merupakan organisasi paling rahasia sekaligus paling ditakuti di Negara Nusantara. Konon, setiap anggotanya memiliki kemampuan khusus yang luar biasa dan kekuatan yang jauh melampaui orang biasa.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kevin ternyata merupakan salah satu anggota biro tersebut!
“Benar.”
Kevin tersenyum santai. Ia membuka buku identitas milik biro, kemudian menunjukkannya kepada Kepala Kepolisian.
“Pak Kepala Kepolisian, Anda seharusnya bisa membaca, bukan? Kalau begitu, bacalah baik-baik.”
Dengan tubuh gemetar, Kepala Kepolisian memaksakan diri melihat isi buku tersebut.
Begitu membaca keterangannya, pikirannya langsung kosong.
Jantungnya serasa tercekat, sementara keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Kevin benar-benar anggota Biro Super Nasional.
Bukan anggota biasa...
Dia seorang jenderal peringkat A!
“Apa yang sudah kulakukan...?”
Kepala Kepolisian hampir kehilangan kesadarannya.
Ia telah mengacungkan senjata kepada Kevin, memaki-makinya, bahkan menembaknya!
Semakin mengingat perbuatannya, semakin lemas tubuhnya. Kedua lututnya akhirnya tidak mampu menahan beban tubuh, dan ia jatuh terduduk di tanah.
Awalnya, ia hanya ingin menjilat dan memanfaatkan Walikota.
Namun siapa sangka, tindakan itu justru menyeretnya ke dalam bencana besar!
Penyesalan memenuhi hati kepala kepolisian.
Sebelumnya ia merasakan adanya firasat buruk. Namun entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk kembali menentang pria ini.
Dalam kepanikan, kepala Kepolisian segera merangkak dan memeluk kaki Kevin.
“Tuan Kevin! Tuan Kevin! Saya benar-benar tidak tahu bahwa Anda anggota Biro Super Nasional! Kalau saya tahu sejak awal, saya tidak akan pernah berani menyerang Anda! Tolong... tolong ampuni saya!”
Jika sejak awal mengetahui identitas Kevin, ia tidak akan pernah berani menyentuhnya.
Di hadapan Biro Super Nasional, bahkan seorang walikota bukanlah sosok yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan dirinya.
Masalahnya, Kevin terlalu pandai menyembunyikan identitasnya.
Kepala Kepolisian mengira Kevin hanyalah seseorang yang bisa ditekan dengan memanfaatkan Walikota. Siapa sangka, selama ini Kevin hanya menyembunyikan kekuatan sebenarnya dan menunggu saat yang tepat.
Namun Kevin sama sekali tidak tergerak oleh permohonannya.
“Pak Kepala Kepolisian, apakah Anda masih ingat apa yang saya katakan sebelumnya?”
Kevin menatapnya dengan dingin.
“Saya sudah memberi Anda kesempatan terakhir. Letakkan senjata, dan masalah ini akan selesai. Bahkan saya bisa memberikan penghargaan kepada Anda.”
Kevin berhenti sejenak.
“Tetapi pilihan apa yang Anda ambil?”
Tubuh kepala Kepolisian langsung membeku.
Benar.
Kevin memang sudah memperingatkannya.
Hanya saja, saat itu ia menganggap peringatan tersebut sebagai gertakan belaka.
“Kesempatan sudah saya berikan, tetapi Anda tidak menghargainya.”
Tatapan Kevin semakin dingin.
“Anda sendiri yang memilih jalan ini. Sekarang, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan Anda.”
Kevin kemudian menoleh kepada Mentri pertahanan.
“Pak Mentri, Kepala Kepolisian telah mengancam dan berusaha membunuh anggota Biro Super Nasional. Anda seharusnya tahu hukuman yang pantas untuknya.”
Pak Mentri tertegun.
Sampai saat ini ia masih sulit mempercayai kenyataan bahwa Kevin ternyata anggota Biro Super Nasional.
Semua perubahan ini terjadi terlalu cepat.
Namun setelah menyadarinya, hati Mentri pertahanan justru dipenuhi kegembiraan.
Ia telah memilih pihak yang tepat!
Dengan dukungan Kevin—seorang ahli luar biasa dari Biro Super Nasional—masa depannya jelas akan berubah drastis.
Mentri pertahanan segera berdiri tegak dan berkata dengan penuh hormat, “Tuan Kevin, tenang saja. Kepolisian pusat tidak akan membiarkan siapa pun yang berani menyerang organisasi rahasia negara lolos begitu saja. Kami pasti akan memberikan keadilan kepada Anda.”
“Benar.”
Kevin mengangguk puas.
Jantung Mentri pertahanan berdebar kencang.
Ia tentu memahami maksud di balik perkataan Kevin.
Ini bukan sekadar pujian.
Kevin sedang menyatakan dukungannya!
Mentri pertahanan membungkuk dengan penuh hormat.
Sebagai seorang Mentri pertahanan yang telah lama bekerja, ia memahami betul betapa besar bobot perkataan Kevin.
Jika orang lain mengatakan hal seperti itu, mungkin ia hanya akan menganggapnya sebagai basa-basi.
Namun Kevin berbeda.
Ia adalah anggota Biro Super Nasional.
Satu kalimat darinya sudah cukup untuk memengaruhi banyak hal.
Hatinya dipenuhi kegembiraan.
Kemunculan Kevin telah mengubah segalanya.
Mentri pertahanan semakin yakin bahwa berpihak kepada Kevin merupakan keputusan paling tepat.
Di sisi lain, Kepala Kepolisian sudah benar-benar putus asa.
Wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong, dan tubuhnya kehilangan seluruh semangat.
Penyesalan memenuhi hatinya.
Kali ini, ia benar-benar kalah.
Melihat pimpinan mereka sudah menyerah, seluruh pasukan kepolisian berlutut serentak di hadapan Kevin.
“Tuan Kevin, kami hanya bawahan biasa! Kami tidak mengetahui masalah sebenarnya dan hanya menjalankan perintah! Tolong ampuni kami!”
Kevin memandang mereka dengan tenang.
“Saya tahu kalian hanya menjalankan perintah. Saya juga tidak tertarik mempermasalahkan kalian.”
Para polisi itu langsung memahami maksudnya.
Mereka segera menundukkan kepala.
“Mulai sekarang, kami akan mengikuti perintah Tuan Kevin!”
Semua orang langsung menyatakan kesetiaan kepada Kevin.
Mereka tidak bodoh.
Dalam situasi seperti ini, siapa yang berani mengusik Kevin?
Tidak ada seorang pun yang ingin bernasib sama seperti Walikota dan Kepala Kepolisian.
bibirmu berjenggot?