Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sel tahanan sementara itu terasa dingin dan berbau tidak sedap.

Reyhan duduk menyandar di dinding yang mengelupas, matanya terpejam namun pikirannya terus bekerja.

Pesan dari sistem terus terngiang di kepalanya.

"Orang yang tidak seharusnya ada di sana."

Siapa kru pencahayaan bertopi hitam itu?

Kenapa ia tidak pernah melihatnya sebelum syuting dimulai?

Klak!

Suara pintu besi yang dibuka paksa membuat Reyhan membuka matanya.

Seorang petugas kepolisian berdiri di ambang pintu, wajahnya datar tanpa ekspresi.

"Keluar. Ada yang ingin bicara denganmu."

Reyhan berdiri perlahan, tubuhnya masih terasa pegal setelah menghabiskan malam di lantai yang keras.

Ia mengikuti petugas itu menuju ruang interogasi yang sama seperti semalam.

Di dalam, Alena sudah menunggunya dengan setumpuk berkas di atas meja.

"Duduk," perintah Alena singkat.

Reyhan menarik kursi dan duduk, menatap detektif wanita itu dengan tenang.

"Kami sudah memeriksa alibi Anda, Saudara Reyhan," Alena memulai, suaranya tidak sekeras kemarin.

"Gilang dan sutradara Bima membenarkan bahwa Anda ada di lokasi syuting."

"Rekaman kamera asli juga menunjukkan hal yang sama, walaupun ada beberapa bagian yang sepertinya sengaja dipotong."

Reyhan menghela napas lega. "Jadi, saya bebas?"

Alena menggeleng pelan. "Belum."

"Alibi Anda mungkin kuat, tapi bukti-bukti lain masih memberatkan."

"Kami menemukan sesuatu yang sangat menarik saat menyelidiki kecelakaan aktor asli yang seharusnya Anda gantikan."

Reyhan mencondongkan tubuhnya, tertarik dengan informasi ini. "Apa itu?"

"Mobil yang menabraknya ternyata curian," jawab Alena, matanya menatap tajam ke arah Reyhan.

"Pelakunya melarikan diri dan meninggalkan mobil itu begitu saja di pinggir jalan."

"Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada saksi mata sama sekali padahal kejadiannya di jalanan yang cukup ramai."

"Itu berarti..." Reyhan bergumam, otaknya mulai menghubungkan benang merah.

"Berarti ada kemungkinan kecelakaan itu disengaja," potong Alena.

"Untuk memastikan Anda mengambil peran itu dan menjebak Anda."

Reyhan terdiam. Kecurigaannya semakin kuat. Seseorang memang sedang bermain-main dengannya.

"Detektif," Reyhan berdeham, mencoba mengatur suaranya agar terdengar meyakinkan.

"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

Alena melipat tangannya di dada. "Katakan."

"Di lokasi syuting malam itu, ada seorang kru pencahayaan yang memakai topi hitam," Reyhan menceritakan detail yang ia ingat.

"Wajahnya selalu tertutup bayangan dan dia tidak banyak bicara."

"Saya merasa ada yang aneh dengan dia."

Alena mengerutkan kening. "Kru pencahayaan bertopi hitam?"

Ia membolak-balik berkas di mejanya, mencari daftar nama kru produksi yang diberikan oleh Gilang.

"Tidak ada satupun kru pencahayaan yang terdaftar dengan deskripsi seperti itu," gumam Alena, matanya menyusuri daftar nama.

"Itulah masalahnya," ucap Reyhan cepat.

"Dia mungkin menyusup ke lokasi syuting."

"Dan dia mungkin orang yang merekam video itu dan memotong bagian-bagian penting dari rekaman asli."

Alena terdiam, mempertimbangkan kemungkinan itu.

Jika Reyhan benar, maka kasus ini jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan.

"Saya akan meminta Bripka Anton untuk menyelidiki kru misterius ini," ucap Alena akhirnya.

"Tapi sebelum itu, ada hal lain yang perlu Anda jelaskan."

Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video baru.

"Video ini baru saja diunggah ke internet beberapa jam yang lalu."

Reyhan menatap layar ponsel itu dengan tegang.

Video itu menunjukkan adegan dari syuting semalam.

Tapi kali ini, video itu diedit sedemikian rupa sehingga terlihat seperti Reyhan benar-benar menyiksa korban.

Terdapat tambahan efek suara teriakan yang menyayat hati, dan adegan pisau yang digesekkan ke leher diedit agar terlihat lebih brutal.

Di akhir video, muncul sebuah pesan yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah:

"PERTUNJUKAN BARU SAJA DIMULAI. POLISI TERLALU BODOH UNTUK MENANGKAP PEMBUNUH SEBENARNYA."

Reyhan merasa bulu kuduknya berdiri.

"Ini... ini gila," bisiknya ngeri.

"Pembunuh ini benar-benar menantang polisi," ucap Alena, wajahnya mengeras.

"Dan dia menggunakan Anda sebagai bidak dalam permainannya."

Alena mematikan ponselnya dan menatap Reyhan dengan tajam.

"Saya akan melepaskan Anda hari ini."

Reyhan terbelalak. "Benarkah?"

"Ya. Tapi bukan karena saya yakin Anda tidak bersalah," jelas Alena dingin.

"Saya melepaskan Anda karena Anda mungkin satu-satunya petunjuk yang bisa membawa kami ke pembunuh asli."

"Tapi ingat ini," Alena mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya sangat pelan namun mengancam.

"Saya akan mengawasi setiap langkah Anda. Jika Anda mencoba kabur atau melakukan hal mencurigakan, saya sendiri yang akan memenjarakan Anda."

Reyhan mengangguk cepat. "Saya mengerti, Detektif. Saya tidak akan lari ke mana-mana."

Satu jam kemudian, Reyhan berjalan keluar dari kantor polisi.

Udara siang Jakarta terasa panas dan menyesakkan, namun Reyhan merasa sedikit lega karena akhirnya bisa menghirup udara bebas.

Ponselnya bergetar di saku celana.

Itu dari Gilang.

"Rey, syukurlah kau sudah keluar! Aku melihat berita di TV, gila sekali!"

Suara Gilang terdengar sangat khawatir.

"Iya, Lang. Ini benar-benar gila," jawab Reyhan, memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Kau di mana sekarang?"

"Aku di rumah. Datanglah kemari, kita harus bicara," ucap Gilang cepat.

"Oke, aku ke sana sekarang."

Reyhan menyetop sebuah taksi dan menuju ke rumah Gilang.

Sepanjang perjalanan, ia memikirkan tentang kru misterius bertopi hitam itu.

Siapa dia sebenarnya? Dan apa tujuannya?

[Ding!]

Sistem kembali bersuara, membuat Reyhan sedikit terlonjak.

[Misi Tambahan: Cari tahu identitas kru bertopi hitam.]

[Hadiah: Peningkatan Skill Observasi (Tingkat Dasar).]

[Kegagalan: Tidak ada.]

Reyhan menghela napas. Sistem ini benar-benar tidak kenal lelah.

Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

Reyhan turun dan mengetuk pintu rumah Gilang.

Ceklek.

Pintu terbuka dan Gilang langsung menarik Reyhan masuk ke dalam.

"Kau gila, Rey! Kenapa kau bisa terlibat dalam kasus pembunuhan?"

Gilang setengah berteriak, wajahnya pucat pasi.

"Aku sudah bilang, aku dijebak, Lang!" Reyhan berusaha menenangkan temannya itu.

"Seseorang sengaja meniru adegan syuting kita dan membunuh pengusaha itu."

Gilang mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Ini buruk, Rey. Sangat buruk."

"Sutradara Bima memecat kita berdua."

"Dia tidak mau proyeknya terseret dalam kasus pembunuhan."

Reyhan terdiam. Kariernya yang sudah hancur kini semakin hancur.

"Dan yang lebih parah lagi," Gilang melanjutkan, suaranya sedikit gemetar.

"Aku memeriksa daftar nama kru yang kuberikan pada polisi."

"Ada satu nama yang tidak kukenal."

Mata Reyhan langsung berbinar. "Siapa namanya?"

"Dia didaftarkan sebagai asisten pencahayaan lepas."

"Namanya... Budi."

"Budi?" Reyhan mengerutkan kening. Itu nama yang sangat umum.

"Ya, tapi itu pasti nama palsu," kata Gilang yakin.

"Aku ingat ada seorang pria bertopi hitam yang selalu sibuk dengan lampu."

"Dia tidak banyak bicara dan wajahnya sulit diingat."

Reyhan mengepalkan tangannya.

"Itu dia. Itu pasti orangnya."

"Lang, kau punya rekaman asli syuting kita?"

Gilang mengangguk ragu. "Aku punya salinannya di laptopku."

"Tapi polisi sudah mengambil yang asli."

"Bagus," ucap Reyhan cepat. "Buka laptopmu, kita harus memeriksa rekaman itu lagi."

Gilang menurut dan menyalakan laptopnya.

Ia membuka file video yang berdurasi lebih dari dua jam itu.

"Ini rekamannya," kata Gilang, menunjuk layar laptop.

Reyhan memperhatikan video itu dengan saksama.

Ia memutar ulang bagian saat ia sedang berdialog dengan lawan mainnya.

"Berhenti di situ!" seru Reyhan tiba-tiba.

Gilang menekan tombol pause.

"Lihat ke sudut kiri atas," Reyhan menunjuk layar.

Di sana, di antara bayangan lampu sorot, terlihat sekilas sosok pria bertopi hitam.

Pria itu sedang memegang sesuatu di tangannya yang terlihat seperti ponsel atau kamera kecil.

"Dia merekamnya," desis Reyhan. "Pria itu yang merekam video yang tersebar di internet."

"Sial, jadi benar ada penyusup di lokasi syuting," gumam Gilang ngeri.

"Kita harus mencari tahu siapa pria ini, Lang," kata Reyhan tegas.

"Tapi bagaimana caranya? Kita bahkan tidak tahu wajahnya," tanya Gilang bingung.

Reyhan terdiam sejenak. Ia teringat sesuatu yang aneh saat syuting.

"Kau ingat saat aku memegang pisau karet itu?"

Gilang mengangguk. "Ya, aktingmu gila sekali waktu itu."

"Saat aku memutar pisau itu, aku tidak sengaja menjatuhkannya."

"Dan pria bertopi hitam itu yang memungutnya dan memberikannya padaku."

Mata Gilang terbelalak. "Maksudmu..."

"Pisau karet itu pasti ada sidik jarinya," potong Reyhan.

"Kalau polisi bisa menemukan pisau itu, mereka bisa mencari tahu siapa pria ini."

Gilang langsung mengambil ponselnya.

"Aku akan menghubungi sutradara Bima."

"Mungkin dia tahu di mana properti syuting itu disimpan."

Gilang menelepon Bima dan berbicara sebentar.

Wajahnya berubah kecewa saat ia menutup telepon.

"Gagal, Rey."

"Pak Bima bilang semua properti syuting sudah disita oleh polisi."

"Termasuk pisau karet itu."

Reyhan menghela napas berat.

Ini berarti ia harus berurusan dengan Alena lagi.

Ia harus meyakinkan detektif itu untuk memeriksa sidik jari di pisau karet.

"Aku harus kembali ke kantor polisi," kata Reyhan.

"Kau gila? Kau baru saja keluar dari sana!" seru Gilang panik.

"Tidak ada cara lain, Lang."

"Hanya itu satu-satunya bukti yang bisa membebaskanku."

Reyhan menepuk bahu temannya itu dan bergegas keluar dari rumah.

Saat ia sedang menunggu taksi di pinggir jalan, ponselnya kembali bergetar.

Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Reyhan membuka pesan itu dan darahnya langsung berdesir dingin.

"Kerja bagus, Aktor."

"Pertunjukan pertama berjalan sangat lancar."

"Bersiaplah untuk peran selanjutnya."

Pesan itu disertai dengan sebuah foto.

Foto itu menunjukkan sebuah pisau karet yang tergeletak di atas meja.

Pisau karet yang sama persis dengan yang digunakan Reyhan saat syuting.

Dan di gagang pisau itu, terdapat sebuah topeng hitam kecil.

Reyhan memucat.

Pembunuh itu memiliki pisau karetnya.

Dan itu berarti, bukti satu-satunya yang bisa menyelamatkannya kini berada di tangan sang pembunuh.

Permainan ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!