"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur berdua
Rabu malam, kantor udah sepi total. Lampu-lampu di sebagian besar ruangan udah dimatikan, cuma menyisakan cahaya redup dari area open space tempat Rain masih duduk, dikelilingi kertas dan tiga cangkir kopi yang udah dingin.
Server internal tiba-tiba error tepat saat dia mau submit laporan akhir proyek laporan yang deadline-nya besok pagi jam sembilan, langsung ke meja direksi.
"Ya Tuhan, jangan sekarang," gumam Rain, panik menekan tombol refresh berkali-kali, seolah itu bisa memperbaiki apa pun.
Dia langsung menghubungi tim IT, tapi yang menjawab cuma pesan otomatis: layanan tersedia besok pagi jam delapan. Terlambat. Terlalu terlambat buat deadline yang dia punya.
Dalam keputusasaan, dia mengetik pesan ke satu-satunya orang yang mungkin masih di kantor selarut in bukan karena dia yakin, tapi karena udah kehabisan opsi.
**Rain:** Server finance masih bisa diakses? Aku butuh data approval terakhir buat laporan besok, tapi sistemku lagi down.
Balasan datang lebih cepat dari yang dia kira.
**Kenzo:** Masih di kantor?
**Rain:** Iya. Server down pas banget mau submit.
**Kenzo:** Ke lantai Finance. Aku kirim data manual dari sistemku.
Rain buru-buru naik ke lantai delapan, mendapati Kenzo masih duduk di mejanya, jas udah dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku jelas dia sendiri masih lembur untuk urusannya sendiri.
"Sini," kata Kenzo, menggeser laptopnya sedikit biar Rain bisa lihat layar. "Data approval terakhir udah aku export manual. Tapi format-nya beda dari yang biasa kamu pakai, jadi harus disesuaikan dulu."
"Nggak apa-apa, aku bisa sesuain sendiri," jawab Rain, buru-buru duduk di kursi kosong sebelahnya, menyalin data satu per satu.
Mereka bekerja dalam diam beberapa menit, cuma diselingi suara ketikan keyboard dan sesekali Kenzo memberi arahan singkat soal kolom mana yang perlu dipindah. Rain diam-diam memperhatikan cara Kenzo bekerja teliti, cepat, tanpa banyak bicara tapi jelas tahu persis apa yang dia lakukan.
"Kamu selalu lembur kayak gini?" tanya Rain, mencoba mencairkan suasana.
"Kalau perlu," jawab Kenzo singkat, mata masih fokus ke layar.
"Kamu nggak capek?"
Kenzo berhenti sebentar, menoleh ke arah Rain. "Semua orang capek. Bedanya cuma mau berhenti atau lanjut."
Rain terdiam, mencerna kalimat itu. Entah kenapa, kalimat sesederhana itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.
---
Sekitar jam sepuluh malam, laporan akhirnya selesai. Rain menyandarkan punggungnya ke kursi, lega bercampur lelah.
"Makasih banget," katanya, benar-benar tulus kali ini. "Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus gimana."
"Nggak usah dibesar-besarkan," Kenzo menjawab, mulai beres-beres mejanya sendiri. "Cuma bantu export data."
"Tetap aja, makasih." Rain memandangi Kenzo sejenak, lalu memberanikan diri bertanya sesuatu yang udah mengganggu pikirannya sejak Senin. "Kamu... kenapa, sih, sering banget diam-diam bantu aku? Padahal di rapat kamu galak banget."
Kenzo berhenti sejenak, tangannya masih memegang tumpukan kertas. "Karena di rapat, kamu perlu didorong. Di luar rapat, kamu cuma perlu dibantu. Dua hal itu beda."
"Kok bisa mikir sejauh itu?"
"Karena aku memperhatikan," jawab Kenzo, singkat, seolah itu jawaban yang paling sederhana di dunia.
Rain merasa dadanya berdegup sedikit lebih cepat. Dia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan kertas-kertasnya sendiri, meski dalam hati mulai bingung kenapa satu kalimat sesederhana itu bisa bikin dia salah tingkah.
---
Mereka berdua turun bareng menuju lobi, malam itu hujan lagi, meski nggak sederas Sabtu lalu.
"Aku pesan taksi online aja," kata Rain, mengeluarkan ponselnya.
"Nggak usah, aku anter," kata Kenzo, udah lebih dulu jalan ke arah parkiran.
"Kamu nggak capek nawarin anter terus?" tanya Rain setengah bercanda, meski hatinya diam-diam senang.
"Aku nggak nawarin. Aku emang mau anter," jawab Kenzo, datar seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda seolah dia sengaja bikin kalimat itu terdengar lebih jelas dari biasanya.
Rain nggak menjawab apa-apa, cuma mengikuti langkah Kenzo menuju mobil, sementara di dalam hatinya, ada satu pertanyaan kecil yang mulai muncul dan susah dia abaikan.
*Kalau ini cuma soal kerjaan... kenapa rasanya beda?*
---
Keesokan paginya, sesampainya di kantor, Rain nggak sengaja berpapasan dengan Pandu di depan lift.
"Semalam lembur sampai jam berapa?" tanya Pandu, nada suaranya terdengar biasa, tapi matanya sedikit menghindar dari tatapan Rain.
"Sampai jam sepuluhan. Kenzo bantu aku pas server down," jawab Rain apa adanya, nggak menyadari raut wajah Pandu yang berubah sekilas.
"Oh," jawab Pandu singkat. "Untung ada yang bantu, ya."
Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi entah kenapa, kali ini Rain merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Pandu mengucapkannya.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...