Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — JANTUNG BUMI
Gunung Tulang Naga berdiri menjulang di lapisan terdalam Alam Fana. Gunung itu bukanlah sekadar tumpukan batu mati, melainkan makhluk hidup raksasa; setiap kali detak Jantung Bumi berdenyut, seluruh tanah di kawasan tersebut bergetar hebat.
Lu Chen dan anggota tim kecilnya berdiri di depan mulut gua yang menganga lebar. Udara di tempat itu terasa sangat panas dan menyesakkan.
[Panel: Info Gunung] TARGET: ARTEFAK KETIGA - JANTUNG BUMI EFEK: MENGAKTIFKAN TIGA ARTEFAK MENJADI OBAT PENYEMBUHAN SEMPURNA BOSS: NAGA TULANG - TAHAP IBLIS TINGGI PERINGATAN: JIKA GAGAL, GUNUNG AKAN MELEDAK DAN MUSNAH
"Kita tidak bisa memaksa masuk dengan kekerasan," ucap Luna memperingatkan. "Naga ini telah menjaga keseimbangan gunung selama sepuluh ribu tahun."
Lu Chen mengangguk tenang. "Kalau begitu, kita akan mencoba bernegosiasi terlebih dahulu."
Xue Ling mendesah berat. "Dan jika negosiasi itu gagal total?" "Maka kita terpaksa bertarung," jawab Lu Chen tegas.
Di Dalam Perut Gunung
Suasana di dalam perut gunung sangat panas, dipenuhi oleh kerangka tulang naga berukuran raksasa yang berserakan di atas lahar pijar. Di tengah-tengah ruangan tersebut, sebuah bola cahaya merah raksasa—Jantung Bumi—berdenyut konstan, memancarkan gelombang kehidupan yang membuat dada siapa pun terasa sesak.
ROOOAR!
Naga Tulang raksasa setinggi seratus meter bangkit dari kegelapan. Makhluk itu tidak memiliki daging; tubuhnya murni terdiri atas kerangka tulang purba yang diselimuti oleh kobaran api berwarna biru abadi.
[Panel: Scan] NAMA: GU LONG RAS: NAGA TULANG TERTUA STATUS: PENJAGA KEHIDUPAN ALAM FANA
"MANUSIA-MANUSIA KECIL," suara menggelegar itu bergema memenuhi gua. "APA TUJUAN KALIAN MENGINJAKKAN KAKI DI TANAH INI?"
Lu Chen melangkah maju seorang diri, membiarkan anggota timnya bersiaga di belakang. "Aku datang untuk mengambil esensi Jantung Bumi. Aku butuh itu untuk menyembuhkan ibuku."
Gu Long tertawa mengejek, membuat serpihan tulangnya berjatuhan. "Semua orang datang ke sini dengan alasan yang sama! Tapi jika aku memberikan inti itu kepadamu, maka Alam Fana akan kehilangan keseimbangan dan hancur lebur!"
Lu Chen terdiam sejenak. "Apakah ada cara lain?"
"ADA," jawab Gu Long dingin. "Gantikan posisiku sebagai penjaga gunung ini selama sepuluh ribu tahun ke depan."
Seluruh anggota tim terperanjat mendengar syarat mutlak tersebut.
Wolf berteriak panik, "Bos, jangan lakukan itu!" Lin Yue menimpali, "Pasti ada jalan keluar lain!" Lu Chen tetap terdiam, menatap lurus ke arah sang naga.
Tanpa aba-aba, Gu Long mengibaskan ekornya yang besar. DUAR! Hantaman angin yang kuat membuat seluruh tim terpental ke belakang.
"Kecuali kau mengambil pilihanku, kalian semua akan mati di tempat ini!" raung Gu Long murka.
Pertempuran sengit langsung pecah.
Ronde Pertama (Tim vs Naga): 99 Tebasan Salju milik Xue Ling, Hujan Panah Perak milik Luna, serta Tinju Tiga Alam: 70% dari Lu Chen dihujankan secara bersamaan. Namun serangan-serangan itu sama sekali tidak mampu menggores lapisan tulang naga yang terlampau keras.
BOOM! Gu Long menginjak tanah, seketika menewaskan lima orang prajurit Kawan Emas.
Lu Chen merasakan darah iblis di dalam tubuhnya mendidih naik hingga mendekati angka delapan puluh persen. Amarah dan insting destruktif mulai menguasai kesadarannya.
Tiba-tiba, segel di dadanya memanas, dan suara lembut Shen Yue terdengar berbisik di dalam batinnya: “...nak... jangan biarkan dirimu dikuasai kebencian... jangan menjadi monster demi Ibu...”
Lu Chen tersentak sadar. Ia menarik napas dalam-dalam, meredam gejolak darahnya hingga kembali turun ke level enam puluh lima persen.
Ronde Kedua (Negosiasi Terakhir):
Lu Chen melangkah maju tanpa membawa senjata apa pun, berdiri tepat di hadapan bola cahaya merah tersebut.
"Pak Tua," kata Lu Chen sungguh-sungguh. "Jika kau mati atau menyerahkan jantungmu secara utuh hari ini, siapa yang akan melindungi gunung ini?"
"Aku sudah tua," jawab Gu Long lemah. "Sepuluh ribu tahun sudah lebih dari cukup untuk masa baktiku."
"Kalau begitu... aku tidak meminta seluruh Jantung Bumi itu," ujar Lu Chen mantap. "Aku hanya meminta setetes darah dari inti jantungmu. Tiga artefak penyelamat ditambah setetes darah Jantung Bumi sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan ibuku, dan gunung ini akan tetap bisa bertahan hidup."
Gu Long tertegun, menatap pemuda itu lekat-lekat selama beberapa detik. "Kau... memiliki jiwa yang sangat mirip dengannya."
"Siapa yang kau maksud?"
"Dewa Pencipta Pertama," jawab Gu Long pelan. "Ia adalah sosok yang selalu memilih untuk berkorban demi menyelamatkan makhluk lain, alih-alih mementingkan dirinya sendiri."
KRAK!
Gu Long meretakkan salah satu tulang rusuknya sendiri. Dari dalam retakan tersebut, setetes darah murni berwarna merah keemasan memancarkan pendaran cahaya suci yang menyilaukan.
"Tangkap ini," ujar sang naga.
Lu Chen merentangkan tangannya, menangkap tetesan suci itu menggunakan botol giok kecil. Jantung Bumi - Tetes Terakhir.
[Panel: Artefak] JANTUNG BUMI EFEK: AKTIFATOR UTAMA PENYEMBUHAN 100% SYARAT: PENGGUNA HARUS MEMILIKI KETULUSAN HATI
Namun tepat di saat itu, kubah langit di atas gunung tiba-tiba robek terbuka.
BOOM!
Seratus Penegak Hukum Langit bersama Raja Iblis Mo Tian dan Dewa Eksekusi turun melesat secara bersamaan mengepung lokasi tersebut.
"Sudah terlambat!" seru Dewa Eksekusi histeris. "Musnahkan mereka semua sekarang juga!"
Perang besar pemungkas dari Arc 3 resmi pecah.
Wolf, Luna, dan Xue Ling langsung maju menahan barisan depan musuh. Sementara Lu Chen duduk bersila, menyatukan Jantung Bumi ke dalam inti segel di dadanya.
CAHAYA TIGA WARNA BERCAMPUR EMAS MEMANCAR DAHSYAT KE ANGKASA.
SEGEL PENYELAMAT: EVOLUSI 100% KETIGA ARTEFAK UTAMA TELAH LENGKAP
[Panel: Status Final] OBAT SEMPURNA TELAH TERBENTUK EFEK: MENYEMBUHKAN SIAPAPUN DARI KUTUKAN RACUN LANGIT
Lu Chen mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, membiarkan pendaran obat sempurna itu membubung naik. "Ibu!"
SHUUU!
Berkas cahaya suci tersebut menembus lapisan langit, melesat langsung menembus dinding pertahanan Penjara Langit Lapisan Kesembilan.
Di dalam sel Penjara Langit yang gelap, Shen Yue yang sedang sekarat tiba-tiba diselimuti oleh kehangatan yang luar biasa. Rantai besi penyiksanya hancur berkeping-keping, luka-lukanya menutup seketika, dan racun di dalam tubuhnya lenyap tak bersisa.
Shen Yue menangis haru. "Anakku..."
Kembali di puncak gunung.
Mo Tian melesat maju hendak merampas segel tersebut. SRET!
Lu Chen menghalaunya menggunakan Tinju Tiga Alam: 80%. DUAR! Raja Iblis itu terpental jauh ke belakang.
Dewa Eksekusi melepas tembakan petir maut. Lu Chen menangkisnya menggunakan perisai segel. KRAK! Pantulan energi itu balik menghantam sang dewa eksekusi.
"Ini adalah peringatan terakhirku kepada kalian semua!" seru Lu Chen dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru alam. "Jangan pernah berani menyentuh keluargaku lagi!"
Ia membuka portal dimensi darurat. "Tim, cepat masuk!"
Gu Long menggunakan sisa kekuatannya untuk meruntuhkan dinding batu, menahan kejaran musuh dari belakang.
Sebelum melangkah masuk ke dalam portal, Lu Chen menatap tajam ke arah Mo Tian dan Dewa Eksekusi. "Aku akan segera datang ke Istana Langit... untuk membawa ibuku pulang."
SHUUU! Portal tertutup rapat.
Gunung Tulang Naga meledak hebat di belakang mereka, mengubur seluruh pasukan musuh dalam lautan api.
Satu Hari Kemudian - Tempat Rahasia
Di dalam sebuah gua persembunyian yang tenang, Lu Chen duduk bersila. Segel suci di dadanya kini telah berubah wujud menjadi sebuah liontin giok yang indah.
Tiba-tiba, liontin tersebut menyala terang, memproyeksikan wujud Shen Yue yang kini telah kembali sehat sepenuhnya, meskipun masih tampak sedikit letih.
"Anakku..." sapa Shen Yue lembut.
"Ibu!" Lu Chen langsung menerjang hendak memeluk proyeksi tersebut, namun tangannya menembus kosong.
Keduanya menangis haru.
"Aku... separuh bebas," kata Shen Yue tersenyum. "Racun itu sudah hilang sepenuhnya, namun jiwaku saat ini masih terjebak di dalam batas teritori mereka."
Lu Chen menggenggam erat proyeksi tangan ibunya. "Tidak apa-apa, Bu. Berikan aku waktu satu bulan lagi. Aku akan datang langsung ke Istana Langit dan membebaskan Ibu untuk selamanya."
Shen Yue menatap putranya dengan tatapan penuh kebanggaan yang mendalam. "Ibu sangat bangga padamu. Kau telah tumbuh menjadi seorang pria sejati."
Proyeksi itu perlahan memudar dan menghilang.
Seluruh anggota tim terdiam khidmat di tempat masing-masing.
Xue Ling bersuara, "Arc ketiga telah resmi berakhir." Luna mengangguk. "Dan Arc keempat kini menanti kita." Wolf menyeringai. "Perang yang sebenarnya baru akan dimulai."
Lu Chen perlahan bangkit berdiri, menatap lurus ke arah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang di luar gua.
"Arc Keempat: Penyerbuan Istana Langit."