Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi di kediaman keluarga Kenzo yang biasanya tenang mendadak mencekam. Tiga unit SUV hitam mengilap meluncur mulus menembus gerbang utama kediaman keluarga, berhenti tepat di depan tangga pualam teras depan. Kevin turun lebih dulu dari mobil terdepan, membukakan pintu penumpang belakang dengan sikap sempurna.
Dari dalam mobil, melangkah keluar Kenzo dalam balutan setelan jas kustom tiga lapis berwarna abu-abu gelap. Wajahnya tegas, dingin, dan memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Di sampingnya, Kenzo menggenggam jemari Clara dengan erat, seseorang yang kini tampak anggun dalam balutan gaun simpel berwarna krem, meski tatapannya masih menyimpan sedikit ketegangan saat menatap rumah masa kecilnya.
"Jangan pernah melepaskan tanganku, Clara," bisik Kenzo rendah, mendaratkan ciuman singkat di pelipis gadis itu sebelum melangkah maju.
Clara mengangguk pelan. Genggaman tangan Kenzo yang tegap dan hangat memberikan kepastian mutlak bahwa hari ini, teror masa lalunya akan berakhir.
Di dalam ruang keluarga yang luas, Fred sedang duduk di sofa kulitnya seraya menikmati kopi pagi dan membaca dokumen keuangan. Wajah pria paruh baya itu masih menyisakan kejengkelan atas kehancuran mendadak keluarga Voz dua hari lalu.
Suara derap langkah sepatu kulit yang mantap bergema di lorong marmer, memutus keheningan rumah. Fred mendongak. Matanya membelalak lebar, dan cangkir porselen di tangannya hampir terlepas saat melihat Kenzo melangkah masuk bersama Clara. Di belakang mereka, Kevin dan empat pengawal berjas hitam berdiri memblokir seluruh pintu keluar.
"Kenzo?"
pekik Fred, berdiri dari duduknya dengan napas tertahan.
"Kapan kau kembali dari London?! Dan kenapa kau bersama Clara?"
Kenzo tidak langsung menjawab. Ia menuntun Clara untuk duduk di salah satu sofa tunggal terbaik, memastikan gadis itu merasa nyaman, sebelum berdiri menjulang di hadapan ayah tirinya.
"Aku kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kukerjakan sejak lama, Ayah,"
ujar Kenzo dengan suara berat yang mengalun tenang, namun sangat membekukan.
Fred berusaha mempertahankan wibawanya, menepuk dadanya sendiri dengan nada keras. "Sikap apa ini, Kenzo? Berani-beraninya kau membawa pengawal masuk ke rumahku dan merusak rencana perjodohan Clara dengan keluarga Voz! Kau tahu berapa besar kerugian konsorsium kita karena tindakan impulsifmu di London?"
Seringai yang sangat dingin lolos dari bibir Kenzo. Pria muda itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Fred bagai seorang raja menatap terdakwa di pengadilan.
"Kerugian konsorsium?"
ulang Kenzo santai.
"Atau kerugian rekening pribadimu, Ayah?"
Kenzo memberi isyarat mata pada Kevin. Kevin segera melangkah maju dan meletakkan sebuah map kulit hitam tebal di atas meja kaca, tepat di hadapan Fred.
"Buka map itu, Ayah,"
perintah Kenzo dingin.
Dengan tangan yang mulai gemetar, Fred meraih map tersebut dan membukanya. Dalam hitungan detik, seluruh warna di kulit wajah pria tua itu memudar habis. Lembar demi lembar dokumen di dalamnya berisi bukti aliran dana gelap, penggelapan aset anak perusahaan selama sepuluh tahun terakhir, hingga salinan kepemilikan saham rahasia yang telah dipindahtangankan secara ilegal.
"I-ini... dari mana kau mendapatkan semua ini?!"
Fred histeris, mendongak menatap Kenzo dengan mata membelalak panik.
"Selama ini Ayah berpikir bahwa Ayah yang mengendalikan holding dari Mexico, sementara aku sibuk di Eropa,"
bisik Kenzo seraya melangkah makin dekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Fred.
"Ayah memanfaatkan posisi Clara untuk menjebakku, mencoba menjodohkannya dengan pria-pria kroco hanya untuk mengamankan sisa utang bisnismu."
Kenzo mengetukkan jemarinya di atas meja kaca. "Tapi Ayah lupa satu hal... seluruh sistem finansial holding ini dibangun oleh tanganku. Kemarin malam di London, aku telah mengeksekusi opsi pinalti. Tujuh puluh lima persen saham utama holding kini resmi berpindah atas namaku secara mutlak."
Fred terduduk lelah di sofanya, tubuhnya bergetar hebat.
"Kau... kau merampas seluruh hakku... Aku ini ayahmu!"
"Dan Ayah telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup Ayah, menyentuh dan memanfaatkan Clara sebagai pion politikmu."
Clara menyaksikan seluruh adegan itu dari sofanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat pria tua yang selama ini menakut-nakuti hidupnya dan ibunya tampak begitu kerdil, hancur, dan tak berdaya di hadapan Kenzo. Rasa takut yang selama bertahun-tahun mengurung jiwa Clara perlahan menguap, digantikan oleh kepasrahan dan rasa kagum pada perlindungan pria di hadapannya.
Ibu Clara, berlari turun dari lantai dua dengan wajah cemas. Namun saat melihat situasi di ruang tengah, langkahnya terhenti.
"Kenzo... ada apa ini?"
tanyanya bergetar.
Kenzo menoleh, tatapannya sedikit melunak saat menatap ibu tirinya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Mulai hari ini, rumah ini dan seluruh fasilitasnya tetap menjadi milikmu. Namun untuk pria di sebelahmu... waktunya di rumah ini sudah habis."
Kenzo menatap Kevin.
"Bawa Tuan Fred keluar dari kediaman sekarang juga. Seluruh rekening pribadinya telah dibekukan, dan tim pengacara kita sudah menunggu di kantor polisi atas tuduhan penggelapan dana aset."
"Tidak! Kenzo, jangan! Clara, tolong katakan sesuatu pada saudaramu!"
jeritnya histeris saat dua pengawal tegap merengkuh ketiaknya dan menyeretnya secara kasar menuju pintu luar.
"Clara bukan saudaraku, Ayah,"
potong Kenzo dingin sebelum pria tua itu sempat diseret lebih jauh.
"Dia adalah calon istriku. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanmu dari murkaku."
Jeritan dan maki-makian Fred perlahan memudar seiring pintu depan yang ditutup rapat oleh pengawal. Keheningan yang menenangkan kembali menguasai rumah besar itu.
Kenzo berbalik, melangkah mendekati Clara yang masih duduk mematung. Pria itu berlutut di hadapan Clara, meraih kedua tangan gadis itu dan mengelusnya dengan kehangatan yang amat kontras dibanding kekejamannya beberapa detik lalu.
"Semuanya sudah selesai, Dear,"
bisik Kenzo lembut, menatap mata Clara dengan pendar kepemilikan yang tulus.
"Pria yang menyiksamu tak akan pernah bisa menyentuh hidupmu lagi."
Clara menatap Kenzo, air mata lega menetes membasahi pipinya. Ia memajukan tubuhnya, memeluk leher tegap Kenzo erat-erat di hadapan ibunya yang menatap mereka dengan haru.
"Terima kasih, Kenzo..."
bisik Clara parau di ceruk leher pria itu.
Kenzo tersenyum miring, merengkuh pinggang Clara dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Sekarang, kita pulang ke tempat yang seharusnya... ke penthouse."
Kenzo menggenggam jemari Clara semakin erat, membawa gadis itu melangkah meninggalkan rumah penuh kenangan pahit tersebut tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di dalam SUV hitam yang mulai melaju menembus jalanan, Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzo, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
Seluruh ketakutan dan bayang-bayang kejam masa lalunya kini telah musnah sepenuhnya, berganti menjadi sebuah kepastian, bahwa di dalam dekapan sang predator, ia telah menemukan perlindungan dan kedamaian.