Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dan perban pertama
Sabtu pagi itu, Sport Padel dipenuhi rombongan besar dari kantor Baska, empat lapangan penuh dengan karyawan yang bersemangat menghabiskan waktu bonding tim mereka setelah berhasil menyelesaikan proyek besar bulan lalu. Zia berdiri di meja resepsionis, sibuk membagikan kunci loker dan mengarahkan setiap kelompok ke lapangan masing-masing sesuai jadwal yang sudah disusun Coach Yudha.
"Selamat datang, Bapak-Ibu. Untuk yang booking atas nama PT Cakra Mandiri, silakan ke lapangan satu dan dua ya," ujar Zia dengan senyum ramah, menyapa satu per satu anggota rombongan yang mulai berdatangan.
Baska, yang berjalan paling belakang dengan wajah malas dan raket yang dia genggam seperti barang asing, sempat melirik sekilas ke arah meja resepsionis tersebut, namun tidak terlalu memperhatikan siapa yang berdiri di sana. Pikirannya masih sibuk mengeluh dalam hati soal betapa panasnya cuaca pagi itu dan betapa dia lebih memilih tidur di rumah dibanding berpanas-panasan begini.
"Bas, jangan lemes gitu dong mukanya. Ini kan buat seru-seruan doang," ujar Dika sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut, mengarahkan mereka menuju lapangan dua yang sudah disiapkan.
"Gue di sini kan cuma bayar utang, Dik. Jangan harap gue bakal niat main serius," jawab Baska dengan nada malas, meregangkan badannya sedikit sebelum akhirnya memasuki lapangan.
Pertandingan dimulai dengan santai, beberapa rekan kantor lain sudah mulai berlarian mengejar bola sambil tertawa-tawa, sementara Baska hanya berdiri di posisinya sambil sesekali memukul bola dengan asal, tidak terlalu peduli dengan skor atau teknik yang benar. Namun situasi berubah ketika Dika, yang bersemangat ingin menunjukkan kemampuan smash-nya yang baru dia pelajari dari video tutorial, melakukan pukulan keras ke arah bola yang melambung tinggi di dekat Baska.
"Bas, awas!" teriak salah satu rekan kerja lainnya, namun teriakan tersebut terlambat beberapa detik.
Bola hasil smash Dika melesat kencang dan mengenai bagian kepala Baska yang sedang lengah, membuat pemuda tersebut terhuyung sejenak sebelum akhirnya merasakan sensasi perih yang menjalar di pelipisnya. Dia menyentuh bagian yang terkena tersebut, dan mendapati tangannya berlumuran darah segar.
"Anjir, Bas! Lo nggak apa-apa?!" seru Dika panik, langsung berlari menghampiri sahabatnya yang mulai terlihat pucat tersebut, raket yang tadi dia banggakan kini terjatuh begitu saja ke lantai lapangan.
Keributan kecil tersebut segera menarik perhatian orang-orang di sekitar lapangan, termasuk Zia yang kebetulan sedang berkeliling mengecek kondisi lapangan lain. Mendengar teriakan tersebut, dia segera bergegas menuju lapangan dua dengan kotak P3K yang selalu dia bawa untuk keperluan darurat semacam ini.
"Permisi, saya admin di sini. Coba saya lihat lukanya," ujar Zia dengan suara tenang namun sigap, langsung berlutut di samping Baska yang duduk kesakitan di pinggir lapangan, tangannya masih menekan luka di pelipisnya tersebut.
Baska, yang menahan perih sambil setengah linglung, mendongak sedikit untuk melihat siapa yang barusan berbicara, dan untuk sesaat, rasa sakit di kepalanya seolah teralihkan oleh sosok perempuan berseragam Sport Padel yang tengah membuka kotak P3K dengan gerakan cekatan tersebut.
"Sebentar ya, Mas, saya bersihin dulu darahnya," ujar Zia sambil mengambil kapas dan cairan antiseptik, membersihkan luka Baska dengan hati-hati, sesekali meniup pelan area yang dia bersihkan untuk mengurangi rasa perih yang mungkin dirasakan pasiennya tersebut.
"Aduh," rintih Baska pelan, meski dalam hati dia sendiri bingung apakah rintihan tersebut murni karena sakit, atau karena dia terlalu fokus memperhatikan wajah Zia yang begitu dekat dengan wajahnya saat itu.
"Tahan sebentar ya, Mas, hampir selesai kok," ujar Zia dengan nada menenangkan, menempelkan perban kecil ke bagian luka tersebut setelah memastikan darah sudah berhenti mengalir. "Untung nggak dalem lukanya, tapi tetep harus diperiksa lagi kalau masih pusing atau mual."
Baska mengangguk pelan, matanya tidak bisa lepas dari sosok Zia yang masih sibuk merapikan perban tersebut. "Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama, Mas. Namanya siapa?" tanya Zia sambil tersenyum ramah, sebuah pertanyaan sederhana yang entah kenapa membuat jantung Baska berdebar lebih kencang dari biasanya.
"Baska," jawabnya singkat, masih sedikit gugup menghadapi situasi yang begitu tidak terduga tersebut.
"Saya Zia. Kalau nanti masih pusing, langsung bilang ke saya aja di meja depan ya, Mas Baska," ujar Zia sebelum akhirnya berdiri dan kembali ke tugasnya, meninggalkan Baska yang masih duduk termenung, menyentuh perban di pelipisnya dengan perasaan yang jauh berbeda dari rasa malas yang tadi menyelimuti dirinya sepanjang perjalanan menuju lapangan tersebut.
Dika, yang menyaksikan seluruh kejadian tersebut sambil masih merasa bersalah, menyadari sesuatu yang aneh dari ekspresi wajah sahabatnya itu. "Bas, lo kenapa senyum-senyum sendiri? Padahal kepala lo abis kena smash."
Baska tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sambil menatap punggung Zia yang berjalan menjauh, tanpa sadar bahwa hari yang dia jalani dengan penuh keterpaksaan tersebut baru saja berubah menjadi awal dari sesuatu yang akan mengubah seluruh rutinitas hidupnya selama ini.