Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWA DI SORE ITU
Kedai kopi itu hampir kosong ketika Laras masuk, sepatunya masih basah oleh gerimis yang baru saja reda. Ia mengedarkan pandangan sebentar, lalu tertawa kecil begitu menemukan orang yang dicarinya duduk di pojok, wajahnya tertekuk menghadap layar laptop.
"Serius amat sih mukanya," katanya, menarik kursi di seberang meja. "Ada rapat penting apa sampai kerut di dahi segitu banyak?"
Raka mendongak, sedikit kaget. "Kamu ngagetin."
"Aku udah manggil dari pintu. Kamu aja yang budek."
"Bukan budek. Fokus."
"Fokus atau ngelamun?" Laras menyandarkan dagu di kedua tangannya, menatap Raka dengan tatapan menyelidik yang dibuat-buat. "Coba tebak, deh. Ini pasti soal laporan yang kamu ceritain kemarin."
Raka menutup laptopnya pelan-pelan, seakan itu bisa menutup juga rasa lelah di wajahnya. "Bukan cuma laporan."
"Terus?"
Ia tidak langsung menjawab. Pelayan datang membawa dua gelas air putih, dan Raka memesan kopi yang sama seperti biasa tanpa perlu melihat menu. Laras menunggu, tidak mendesak, hanya memainkan sedotan di gelasnya sambil sesekali melirik.
"Ibu nanya lagi soal calon," kata Raka akhirnya, suaranya datar seperti sedang membicarakan cuaca. "Katanya ada anak kolega beliau. Baru pulang dari luar negeri."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang belum kepikiran."
"Itu jawaban paling aman sedunia," Laras tertawa, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak ikut tertawa. "Kalau ibumu nanya lagi gimana?"
"Ya aku jawab lagi belum kepikiran. Sampai bosan nanyanya, mungkin."
"Atau sampai dia nemuin jawaban yang dia mau."
Raka menatapnya lama. "Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Nggak apa-apa." Laras mengalihkan pandangan ke luar jendela, ke gerimis yang mulai turun lagi. "Cuma mikir aja."
Ada jeda yang agak lama sebelum akhirnya kopi Raka datang. Ia mengaduknya perlahan, matanya masih memperhatikan Laras yang tampak sengaja tidak menatap balik.
"Kamu kenapa?" tanyanya pelan.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Laras."
"Aku bilang nggak kenapa-kenapa," ia menoleh, tersenyum—senyum yang buru-buru dipasang, seperti menutup pintu yang sempat terbuka sedikit. "Kamu aja yang kebanyakan mikir."
Raka tidak percaya sepenuhnya, tapi ia tidak mengejar. Ada hal-hal yang sudah ia pelajari selama setahun terakhir tentang Laras: bahwa gadis ini akan bicara kalau memang sudah siap, dan memaksanya hanya akan membuatnya menutup diri lebih rapat.
"Aku ambil cuti dua hari minggu depan," kata Raka, mengganti topik. "Mau ke luar kota, ada urusan sama Ayah. Kamu ada acara?"
"Nggak ada. Kenapa?"
"Nggak, cuma nanya."
"Bohong. Kamu pasti mau ngajak sesuatu."
Raka tersenyum, kali ini lebih tulus. "Aku emang mau ngajak sesuatu. Tapi belum tentu sekarang waktunya."
"Kamu ini," Laras memutar bola mata, tapi bibirnya melengkung menahan senyum. "Ngomong aja langsung, susah amat."
"Nanti aja. Kalau sekarang, nanti kamu kepikiran macam-macam."
"Aku udah kepikiran macam-macam dari tadi, tau."
Mereka berdua tertawa bersamaan, suara yang berbaur dengan bunyi hujan yang mengetuk kaca jendela. Untuk sesaat, semua yang mengganjal di kepala Raka—ibunya, calon yang ditawarkan, tanggung jawab yang menunggu di rumah—terasa jauh sekali, seolah tidak ada hubungannya dengan sore ini.
"Eh," Laras tiba-tiba bersuara, "kamu inget nggak, dulu kita ketemu pertama kali di sini juga?"
"Inget. Kamu nyerocos soal kopi yang katanya kemahalan buat rasa segitu."
"Ya soalnya emang kemahalan!"
"Terus sekarang kamu masih ke sini terus."
"Karena ada kamu di sini," katanya, lalu buru-buru menambahkan, "maksudnya, karena udah kebiasaan aja. Bukan yang lain."
"Oh gitu," Raka menahan tawa. "Bukan yang lain."
"Diem deh."
Raka tidak menjawab, hanya menyeruput kopinya sambil tersenyum sendiri, membiarkan Laras merengut pura-pura kesal di depannya. Di luar, hujan semakin deras, memaksa beberapa orang yang lewat berlarian mencari tempat berteduh. Tapi di dalam kedai yang hangat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat—seperti sengaja memberi mereka ruang sedikit lebih lama sebelum semuanya harus kembali ke rutinitas masing-masing.
Yang tidak diketahui keduanya sore itu adalah bahwa ruang yang lebih lama itu tidak akan bertahan selamanya. Bahwa di rumah besar tempat Raka pulang setiap malam, seseorang sudah mulai mendengar nama Laras disebut lebih dari sekali oleh anaknya sendiri—dan sudah mulai bertanya-tanya, siapa gadis itu, dan apakah ia pantas berada di dekat putra semata wayangnya.