Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Perisai Tak Tergoyahkan

Sinar lampu jalanan memantul basah di atas aspal setelah gerimis tipis membasahi kawasan pusat kota. Di dalam kabin sedan hitam yang hangat, Dimas menyetir dengan santai, sementara Bayu Anggara duduk di kursi penumpang depan seraya meninjau ringkasan berkas di layar ponselnya.

"Hari ini produktif banget ya, Bay," kata Dimas membuka obrolan seraya melirik sahabatnya. "Diskusi riset algoritma bareng Melisa di lab berjalan lancar, si Nadeo kena mental sampai kabur, dan sekarang kita bisa pulang tenang ke rumah di Bukit Hijau."

Bayu membetulkan letak kacamata titanium barunya, mengulas senyum tipis yang tenang. "Semua berjalan sesuai porsinya, Dim. Yang terpenting draf tugas Melisa sudah selesai dengan efisien."

Tiba-tiba, pendar merah menyala terang pada layar jam tangan titanium Bayu. Suara Jarvis yang terstruktur mengalun mendesak melalui earphone mikro di telinga kirinya.

"Peringatan bahaya tingkat tinggi, Bayu," lapor Jarvis mendetail. "Terjadi aksi anarkis massa oleh kelompok geng motor bersenjata tajam di area pertokoan Sudirman. Mereka mengintimidasi warga lokal dan membawa dua unit peledak rakitan bertekanan tinggi."

Dimas seketika melambatkan laju mobilnya, membelalakkan mata. "Bay! Geng motor bawa peledak rakitan di tengah kota?!"

"Jarvis, bagaimana posisi warga dan petugas kepolisian di lokasi saat ini?" tanya Bayu dengan nada suara yang seketika berubah dingin, teratur, dan penuh kendali.

"Satu unit mobil patroli kepolisian terkepung di depan kedai kopi," lapor Jarvis presisi. "Pemimpin kelompok tersebut baru saja menyulut sumbu peledak rakitan pertama dan bersiap melemparnya ke arah kerumunan warga yang terperangkap di dalam bangunan."

"Dim, belok dan menepi di balik gang sepi toko elektronik itu sekarang," instruksi Bayu tegas. "Aku harus turun menyelesaikannya."

"Siap, Bay! Hati-hati, peledak rakitan itu bisa bikin hancur area sekitar!" seru Dimas seraya memutar kemudi menuju lorong sepi di samping jalan utama.

Bayu menekan kenop biometrik jam tangannya dua kali. Dalam hitungan satu koma dua detik, lapisan sel nano perak memancar menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk Zirah Baja matte hitam kelabu bergaris pendar biru yang gagah.

Wusss!

Ksatria Baja melesat cepat menembus kegelapan malam, mendarat dengan dentuman halus tepat di tengah persimpangan jalan Sudirman. Di hadapannya, puluhan anggota geng motor mengaungkan mesin motor mereka, mengepung kedai kopi dengan senjata rantai dan pipa besi.

"Bakar tempat ini! Lempar bomnya, Bos!" teriak salah satu anggota geng motor berjaket kulit penuh tambalan.

Pemimpin geng motor yang bertato di leher menyeringai kejam, mengacungkan pipa besi tebal berisi bahan peledak yang sumbunya mulai memercikkan api merah. "Ini hadiah buat polisi dan warga yang sok berani!"

"Hentikan aksi kalian!" gema suara berat Ksatria Baja memotong deru mesin motor, menghentikan gerakan tangan sang pemimpin geng secara mendadak.

Seluruh anggota geng motor terperanjat, memutar arah pandang ke sosok berzirah baja yang berdiri tegap dan tenang di tengah jalan.

"Siapa lu?! Sok pahlawan banget pakai baju besi gitu?!" gertak pemimpin geng motor dengan mata mendelik liar. "Lu mau ikut hancur bareng orang-orang di dalam?!"

"Serahkan peledak itu dan buang senjata kalian," kata Ksatria Baja tegas namun santai. "Kalian tidak akan bisa melewati saya."

"Banyak bacot lu!" teriak pemimpin geng motor murka. Tanpa ragu, ia melempar pipa peledak yang sumbunya tinggal satu sentimeter tepat ke arah dada Ksatria Baja.

Klak!

Ksatria Baja tidak melangkah mundur sama sekali. Jemari zirahnya justru bergerak secepat kilat menyambar pipa peledak itu di udara, lalu menyekap peledak bertekanan tinggi tersebut rapat-rapat di dalam genggaman telapak tangannya.

"Peringatan waktu peledakan: nol koma dua detik," bisik Jarvis jernih.

"Aktifkan mode isolasi kinetik murni, Jarvis," perintah Ksatria Baja santai.

BOOOOOOOM!

Ledakan dahsyat meletus di dalam genggaman tangan Ksatria Baja. Kilatan api oranye menyembur terang disertai gelombang kejut yang menghempaskan abu dan kerikil aspal ke udara. Kaca-kaca kedai kopi bergetar keras memantulkan suara dentuman yang memekakan telinga.

Beberapa anggota geng motor terlempar dari atas motor mereka karena tekanan udara, sementara warga di dalam kedai berteriak histeris ketakutan. Pemimpin geng motor tertawa bergelak gila di atas motornya.

"Mampus lu! Zirah gaya-gayaan begitu mana bisa tahan lawan bom rakitan gue!" gelak sang pemimpin puas.

Namun, asap pekat sisa ledakan perlahan terbelah oleh pendar biru yang jernih. Ksatria Baja tetap berdiri tegak di posisi asalnya tanpa bergeser satu milimeter pun.

Seluruh permukaan zirah di lengan dan dadanya tetap utuh, mulus, dan tidak meninggalkan noda hangus atau goresan sekecil apa pun.

"Analisis pertahanan fisik selesai," lapor Jarvis di telinga Ksatria Baja. "Daya ledak sebesar empat ratus lima puluh kilojoule diserap total oleh perisai dispersi energi kinetik. Kerusakan struktural zirah: nol persen."

Ksatria Baja membuka genggaman tangannya pelan, menjatuhkan sisa serbuk abu peledak yang hangus ke atas tanah.

"Ledakan yang cukup nyaring," sahut Ksatria Baja santai namun berwibawa. "Tapi bahan peledak amatir seperti ini bahkan tidak sanggup menaikkan suhu permukaan zirah saya satu derajat pun."

Pemimpin geng motor gemetar hebat, mukanya pucat pasi seputih kertas. "I-Ini nggak mungkin... Lu monster! Lu bukan manusia!"

"Serang dia! Tabrak pakai motor!" teriak anggota geng motor lainnya panik, mencoba memacu kendaraan mereka secara liar.

Ksatria Baja mengangkat tangan kanannya, memancarkan gelombang kejutan sonik berfrekuensi rendah secara melingkar.

Wuuuuush!

Pulsa frekuensi menghantam seluruh sepeda motor tersebut. Dalam sekejap, sistem pengapian mesin mereka mati total. Puluhan anggota geng motor hilang kendali dan jatuh terpelanting ke aspal, meringis kesakitan tanpa sanggup berdiri lagi.

Ksatria Baja melangkah mendekati pemimpin geng motor yang terduduk lemas di tanah. Dengan gerakan presisi, Ksatria Baja menyambar pipa bom rakitan kedua dari dalam saku jaket pria itu, lalu meremas pipa besi tebal tersebut hingga hancur berkeping-keping bagai kertas remuk.

"Ancaman telah selesai," ujar Ksatria Baja menatap dua petugas polisi yang keluar dari balik mobil patroli. "Petugas, amankan para pelaku ini. Peledak cadangan mereka sudah saya serahkan dalam bentuk serpihan aman."

Polisi senior yang memegang pistol dinasnya melangkah mendekat dengan rasa takjub yang mendalam. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Ksatria Baja! Ketahanan zirahmu benar-benar di luar akal sehat kami."

"Tetap jaga keselamatan warga, Pak Polisi," jawab Ksatria Baja ramah.

Wusss!

Dalam kilatan sinyal biru, Ksatria Baja melesat vertikal menembus kegelapan malam sebelum kamera warga sempat mengambil gambar.

Beberapa saat kemudian, Bayu kembali berwujud mahasiswa biasa dengan kemeja abu-abu rapi dan kacamata titaniumnya, duduk santai di dalam sedan Dimas.

Dimas membelalakkan matanya, memegangi bahu Bayu dengan heboh seraya menjalankan mobil kembali. "Bay! Lu gila! Gue lihat dari jauh ledakan bomnya gede banget! Lu bener-bener cengkeram ledakannya pakai tangan kosong tanpa ada luka sedikit pun?!"

Bayu menyandarkan punggungnya ke jok mobil, merapikan kemejanya seraya tersenyum tenang. "Semua berkat perhitungan Jarvis, Dim. Struktur dispersi kinetik zirah ini memang dirancang untuk menahan daya ledak militer skala tinggi."

"Konfirmasi," sela Jarvis dari jam tangan Bayu. "Matriks sel nano terbukti memiliki ketahanan absolut terhadap peledak kimiawi konvensional."

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya bangga. "Geng motor lumpuh total, polisi kagum lagi, dan ketahanan zirah lu terbukti tidak bisa dihancurkan. Lu luar biasa, Bay!"

Bayu memandangi gemerlap lampu kota di balik jendela. Di balik ketenangan penampilannya, ia tahu bahwa kekuatan zirah ini akan selalu menjadi benteng perisai terkuat bagi keselamatan orang-orang yang membutuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!