Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia tuan rumahnya

Takumi berdiri diujung pintu kamarnya sambil memegang gelas yang ia isi di dapur. “Besok aku harus berangkat ke tempat kerja pukul sepuluh. Jadi kau harus sudah bangun pukul enam..”

Rin sontak mengangkat kepala. “Tunggu, Tapi jam segitu—”

Takumi sudah lebih dulu menggeser pintu kamarnya.

Pintu itu tertutup rapat sebelum Rin sempat menyelesaikan protesnya.

Rin berdiri terpaku di ruang tengah, menatap pintu kamar Takumi dengan wajah tidak percaya. Namun tidak lama kemudian, wajahnya kembali murung. Ia teringat perkataan Obaachan.

"Dia sekarang tuan rumahnya.."

Rin menghela napas panjang Ia berjalan pelan menuju kamar

"Kenapa aku harus bangun sepagi itu hanya untuk buang sampah?"

***

Pagi itu, cahaya matahari sudah cukup tinggi ketika suara ketukan keras mendadak terdengar dari luar kamar di lantai dua.

TOK! TOK! TOK!

Tidak ada jawaban. Takumi mengetuk lagi, kali ini dengan tempo yang jauh lebih rapat dan kencang.

BRAK! BRAK! BRAK!

“Tachibana-san! Bangun!”

Masih tetap tidak ada sahutan dari balik pintu.

Takumi menarik napas panjang. Ujung-ujung jarinya dikepal, menahan kesabaran yang mulai menipis hingga ke batas akhir.

“Hei Tachibana-san!”

Dari dalam kamar, akhirnya terdengar gumaman samar yang terhalang bantal.

“Hmm..apa sih..”

Takumi memejamkan mata sejenak, mengelus dadanya seolah sedang menahan erupsi gunung berapi yang hampir meledak.

“Sudah hampir pukul setengah delapan!” tegasnya.

Pintu kayu itu akhirnya bergeser sedikit. Rin muncul dari balik celah pintu dengan mata yang masih setengah terpejam. Rambut panjangnya mencetus berantakan, sebagian besar terjuntai menutupi area wajah. Ia bahkan belum sepenuhnya sadar bahwa ada seseorang yang sedang berdiri tegak di depan kamarnya.

“Sekarang jam berapa...?” igau Rin lambat.

“Setengah delapan.”

Rin menguap lebar-lebar tanpa ditutup. “hm..Masih pagi...”

Mata Takumi langsung menyipit tajam. “Pagi?”

Mata Rin yang lantas berkedip pelan baru menyadari ada sesuatu yang sangat absurd dari penampilan pria di hadapannya.

Takumi mengenakan masker medis yang menutupi hidung hingga ke bawah dagu. Kedua tangannya terbungkus rapi oleh sarung tangan karet berwarna kuning gading. Sebuah apron dapur menutupi kemejanya, sementara sepasang kacamata pelindung transparan bertengger di atas hidungnya.

Rin memandanginya dari atas sampai bawah selama beberapa detik. Tatapannya bergulir perlahan ke arah dalam kamarnya sendiri, lalu kembali menatap pria itu.

“Apa...Kamarku separah itu?” gumam Rin bingung.

Takumi tidak menjawab. Namun, Rin justru makin menaruh rasa curiga.

Dengan perlengkapan ekstra ketat seperti itu, Takumi lebih mirip seorang petugas penanggulangan B3 yang hendak memasuki area krisis limbah berbahaya daripada seorang pria yang cuma mau menyuruh teman rumahnya membersihkan kamar.

“Kenapa kau pakai perlengkapan seperti itu?” tanya Rin dengan raut bingung.

“Karena aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di dalam sana,” jawab Takumi dari balik masker.

Rin langsung merengut kesal. “Memangnya kamarku kelihatan seperti tempat pembuangan limbah?”

Takumi menatapnya datar dari balik kacamata pelindung. “Lebih buruk.”

Rin terdiam kaku. Ia ingin sekali membalas dan mengomel panjang lebar, tetapi kesadarannya belum terkumpul seratus persen untuk diajak berdebat.

“Cepat bersihkan dirimu dulu. Setelah itu kita mulai,” perintah Takumi dingin lalu berbalik meninggalkannya.

Rin menutup pintu kembali dengan wajah bersungut-sungut. “Baru juga bangun sudah dimarah-marahi...”

***

Beberapa menit kemudian, Rin melangkah keluar dari kamar setelah mencuci muka. Rambut panjangnya ia cepol seadanya dengan kain ikat agar tidak menghalangi pemandangan.

Hal pertama yang coba dilakukannya adalah membuka jendela kamar agar udara segar bisa masuk. Namun, bingkai jendela kayu itu tidak bergeming sedikit pun.

Rin menariknya menggunakan dua tangan dengan tenaga ekstra. “Kenapa tidak bisa dibuka, sih?”

Ia mencoba sekali lagi, menggetarkan kusennya. Tetap macet.

“Ah... nyangkut.”

Takumi yang sudah berdiri mematung di ambang pintu memperhatikan aksinya selama beberapa saat. “Minggir.”

Rin menoleh. “Hah?”

Takumi melangkah mendekat, menggeser posisi Rin, lalu memegang bagian sudut jendela yang tersumbat. Hanya dengan satu sentuhan dan sedikit sentakan bertenaga—

Krek!

Jendela kayu itu akhirnya terdorong lebar.

Rin menatap bingkai jendela itu, lalu mengalihkan pandangan ke Takumi dengan raut datar. “Oh...”

Takumi menoleh padanya. “Jangan cuma berdiri. Mulai dari mana pun yang bisa kau kerjakan.”

Pria itu mengacungkan centong kayu yang tadi malam sempat dipakainya sebagai senjata pertahanan diri. “Gorden itu dilepas dan dicuci.”

Rin mengikuti arah acungan centong. “Yang itu?”

“Ya. Setelah itu, semua sampah dimasukkan ke dalam plastik sesuai jenisnya. Jangan dicampur.”

Centong itu berpindah menunjuk ke arah tempat tidur. “Lepaskan sarung bantal dan sprei.”

Rin memasang wajah cemberut. “Katanya kau mau membantuku, tapi kenapa malah cuma menyuruhku melakukan ini dan itu?”

Takumi menatapnya tanpa sedikit pun raut merasa bersalah. “Siapa bilang aku mau turun tangan membuang kekacauan yang kau buat sendiri?”

Rin bungkam.

“Aku hanya membantu mengarahkan dari mana kau harus memulai, Tachibana-san.”

Takumi kemudian berbalik dan meninggalkannya sendirian.

Rin mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mulai bergerak. Ia menarik gorden lusuh, melepas sarung bantal, menggulung sprei, lalu mulai memilah berbagai macam sampah yang memenuhi area lantai: botol minuman plastik, bungkus makanan ringan, kaleng kosong, kertas bekas, hingga beberapa barang yang Rin sendiri sudah lupa kapan terakhir kali disentuhnya.

Semakin lama ia bergerak, semakin bertumpuk sampah yang terkumpul.

Setelah beberapa kali bolak-balik menunasi tangga, akhirnya Rin berhasil mengangkut seluruh kantong plastik sampah ke luar rumah dan membuangnya ke tempat pembuangan sementara di ujung gang.

Ia menepuk-nepuk kedua tangannya, mencoba mengusir debu. “Fiuh... selesai juga.”

Namun ketika hendak berbalik melangkah kembali ke rumah, gerakan Rin terhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap tumpukan plastik sampah yang baru saja ia buang.

Rin terpaku menatapnya selama beberapa detik. Sebanyak itu...?

Gadis itu mendadak terdiam. Baru kali ini ia tersadar sudah berapa banyaknya waktu yang sudah ia buang sia-sia hanya untuk mengurung diri dan membusuk di dalam kamar.

Rin segera menggelengkan kepala kuat-kuat. “Sudahlah.”

Ia kembali berjalan memasuki rumah. Namun begitu menapakkan kaki di koridor lantai dua, langkahnya langsung dihadang oleh sosok Takumi Kurosawa.

Di samping pria itu sudah berjejer rapi peralatan tempur: sebuah vacuum cleaner, ember berisi air bersih, kain pel, sabun pembersih lantai, dan sapu.

Takumi menunjuk deretan perlengkapan itu. “Selesaikan dengan cepat. Kau sudah membuang terlalu banyak waktuku, Tachibana-san.”

Ia menyodorkan gagang vacuum cleaner ke arah Rin.

Rin menerimanya dengan kedua tangan, lalu memandangi mesin pengisap debu itu dengan bingung. “Ini... cara pakainya bagaimana?”

Takumi memijat pelipisnya di balik kacamata. “Kau tidak pernah menggunakannya?”

Rin menggeleng polos.

Takumi menghela napas gusar, mengambil kembali vacuum cleaner tersebut, mencolokkan kabelnya ke stopkontak dinding, lalu menekan tombol daya.

Wrrrrrrrrr...

Suara derum mesin memenuhi ruangan. Rin sontak melompat mundur beberapa senti. “Eh?!”

Takumi menatapnya heran. “Itu hanya vacuum cleaner.”

“Bunyinya keras sekali!”

“Memang begitu cara kerjanya.” Takumi menyerahkan kembali gagangnya.

Rin mulai menggerakkannya alat itu secara acak tanpa pola.

Takumi yang berdiri memantau di belakangnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala frustrasi. “Hei...”

Rin menoleh. “Apa?”

“Arahkan searah dan teratur dari satu sisi. Jangan mengacak ke mana-mana. Debunya masih tertinggal banyak di belakangmu.”

Rin mengangguk dan mencoba mengikuti arahan ketat itu.

Baru beberapa detik mencoba, Takumi yang berada di belakangnya tiba-tiba tersedak debu. “Hachii!”

Ia buru-buru menutup hidungnya. Debu mikro yang terbang di udara membuat matanya perih dan menyipit. Ditambah lagi dengan pemandangan kamar yang masih berantakan, benteng pertahanannya runtuh.

Akhirnya Takumi menyerah. “Aku sudah tidak tahan”

Rin menoleh merasa bersalah. “Oh... maaf, maaf.”

Takumi tidak menjawab dan langsung melangkah cepat pergi ke lantai bawah.

Rin kembali memegang gagang vacuum cleaner dan mulai menyedot debu secara perlahan sesuai petunjuk Takumi. Pelan-pelan, tangannya mulai terbiasa mengendalikan alat itu.

Setelah lantai lumayan bersih dari debu kasar, Rin beralih menyambar kain pel dan ember. Namun begitu tatapannya jatuh pada noda-noda berkerak di lantai kayu, wajahnya langsung merengut.

“Apa ini...?”

Ada bekas tumpahan minuman manis yang sudah mengering lengket. Di sudut lain, ada noda cokelat pekat yang mengeras. Rin menggosoknya sekali memakai kain pel. Tidak berpengaruh.

Ia menekan kain pel dan menggosoknya lebih bertenaga. Masih ada sisa melengket.

“Kenapa susah sekali...?”

Rin akhirnya berlutut, menggosok lantai menggunakan porsi tenaga maksimalnya.

Hingga Waktu berlalu tanpa disadari Rin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Takumi kembali menaiki tangga.

“Tachibana-san!”

Rin yang sedang berjongkok mengelap lantai langsung mendongak.

Takumi berhenti di tepi pintu. Ia mengedarkan pandangan memindai ruangan. Kamar itu memang sudah jauh lebih layak ketimbang tadi pagi, walau belum bisa dikategorikan sempurna bersih menurut standar steril miliknya.

Takumi mengembuskan napas. “Kau masih belum selesai juga?”

Rin baru saja hendak menyahut, tetapi kata-katanya tertahan di tenggorokan saat matanya menangkap penampilan Takumi.

Pria itu sudah menanggalkan seluruh peralatan pembersihnya. Rambut hitamnya telah ditata rapi khas pekerja profesional. Ia mengenakan kemeja biru lengan panjang yang dimasukkan dengan presisi ke dalam celana bahan hitam, lengkap dengan sabuk kulit dan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Untuk beberapa detik, Rin terpaku memandang sosok pria yang tampak sangat matang dan berbeda itu.

Takumi menaikkan sebelah alisnya. “Hei... kau melamun?”

Rin tersentak kaget. “Eh? Tidak!”

“Pastikan sisa kotoran dari kamarmu tidak berceceran ke luar koridor. Aku harus berangkat ke lokasi proyek sekarang.”

Rin mengangguk kaku. “Iya.”

Tanpa menambah patah kata lagi, Takumi berbalik dan menuruni tangga. Beberapa detik kemudian, dentum pintu depan yang tertutup terdengar hingga lantai atas.

Klik.

Rin mengembuskan napas panjang yang tertahan. Ia langsung merebahkan tubuhnya yang remak ke atas lantai kayu.

“Aghhh... capek sekali...”

Ia telentang, lalu memukul-mukul udara kosong dengan tangan dan kakinya yang pegal. “Kenapa aku harus melakukan semua kerja rodi ini sendirian...?”

Ia menendang-nendangkan kakinya meluapkan kekesalan.

Dan kemudian—

BRAAKK!

Rin seketika membeku.

Ember plastik yang berada tepat di dekat kakinya tersenggol dan terguling bebas. Air kotor hitam bekas pel tumpah ruah, menggenangi lantai kayu yang baru saja ia gosok mati-matian.

Rin menatap genangan air kotor itu dengan iris mata membelalak lebar.

Beberapa detik kemudian, seluruh wajahnya memerah padam ditelan amarah dan frustrasi yang membumbung tinggi.

“Ahhhhhkkk! MENYEBALKAAANN!!!!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!