Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

— AKHIR PEKAN YANG BERBEDA

Setelah kejadian kertas kecil itu, Nadira mengira suasana akan kembali tegang.

Ternyata tidak.

Arga justru mengajak Nadira keluar.

“Kita mau ke mana?” tanya Nadira saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“Jalan-jalan.” jawab Arga sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.

“Ke mana?” tanya Nadira penasaran.

“Rahasia.” jawab Arga sesaat menoleh ke atas Nadira.

Nadira menghela napas.

“Aku paling tidak suka kalau kamu bilang rahasia.”

Arga tersenyum.

“Kenapa?”

“Biasanya setelah itu ada masalah.”

“Kali ini tidak.” jawab Arga meyakinkan sang istri agar tidak khawatir.

Arga mengemudi santai.

“Aku cuma ingin mengajakmu makan.”

“Serius?”

“Iya.”

“Tidak ada acara keluarga?” tanya Nadira lagi.

“Tidak.”

“Tidak ada ibu?”

“Tidak.”

“Tidak ada Rani?”

Arga tertawa.

“Tidak.”

Nadira akhirnya tersenyum.

“Kalau begitu aku ikut.”

Mereka berhenti di sebuah restoran kecil yang cukup tenang.

Nadira melihat menu.

“Kamu pesan apa?”

“Sama saja denganmu.”

“Kenapa?”

“Biar nggak salah.”

Nadira mengernyit.

“Kamu sekarang aneh.”

“Aku sedang berusaha menyenangkan istriku.”

“Tumben.”

“Lagi-lagi tumben.”

Nadira tertawa.

Mereka akhirnya memesan makanan.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, mereka bisa duduk berdua tanpa membicarakan keluarga Arga.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ponsel Arga berdering.

Ia melihat layar.

Rani.

Arga mematikan panggilan.

Nadira memperhatikannya.

“Kenapa tidak diangkat?”

“Nanti saja.”

“Siapa tahu penting.”

“Kalau penting, dia akan menelepon lagi.”

Benar saja.

Beberapa detik kemudian ponsel Arga kembali berdering.

Arga akhirnya mengangkat.

“Halo?”

Suara Rani terdengar dari seberang.

“Kak, aku mau tanya sesuatu.” tanya Rani.

“Apa?”

“Kalung yang kemarin…”

“Ada apa dengan kalung itu?”

“Jangan dipakai dulu.”

Arga mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Rani terdiam.

“Kak… nanti aku jelaskan.”

Telepon terputus.

Arga menatap ponselnya dengan bingung.

Nadira langsung bertanya,

“Ada apa?”

“Entahlah.”

Arga memasukkan ponsel ke saku.

“Rani bilang jangan pakai kalung itu.”

Nadira terdiam.

“Kenapa?”

“Aku juga tidak tahu.”

Mereka saling berpandangan.

Nadira kemudian tertawa kecil.

“Jadi kita makan saja?”

Arga mengangguk.

“Iya.”

“Jangan pikirkan dulu.”

“Setuju.”

Beberapa menit kemudian makanan datang.

Nadira mengambil satu potong ayam dan meletakkannya di piring Arga.

“Makan.”

Arga menatapnya.

“Kenapa?”

“Kamu dari tadi cuma mikirin masalah.”

“Aku kan sedang makan.”

“Belum.”

Arga tersenyum.

“Baik,istri ku tercinta.” ucap Arga sedikit menggombal.

Nadira langsung tertawa.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kenapa?”

“Terasa berlebihan.”

“Kamu tetap cantik.”

Nadira langsung terdiam.

Pipinya memerah.

Arga menyadarinya.

“Apa?”

“Tidak ada.”

“Kok merah?”

“Panas.”

Arga melihat AC restoran.

“Panas?”

“Iya.”

Arga tersenyum geli.

“Baiklah.”

Sore harinya, mereka kembali ke rumah.

Begitu masuk, Arga menemukan sebuah amplop kecil di depan pintu.

Tidak ada nama.

Tidak ada alamat.

Ia mengambilnya.

“Nadira.”

“Apa?”

“Ini untukmu.” ujar Arga saat memberikan amplop tersebut pada Nadira.

Nadira membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada selembar foto.

Foto Rani.

Di belakang foto tertulis:

Tanyakan padanya tentang malam gelang itu hilang.

Nadira menatap foto tersebut.

Arga ikut melihat.

Kali ini ekspresi mereka sama-sama berubah.

Namun sebelum Nadira sempat berkata apa-apa, terdengar suara Rani dari ruang tengah.

“Kak?”

Rani muncul di ambang pintu.

Matanya langsung tertuju pada foto di tangan Nadira.

Wajahnya seketika pucat.

“Aku bisa jelaskan.”

Nadira menghela napas.

“Kalau begitu…”

Ia menyerahkan foto itu kepada Rani.

“Sekarang jelaskan.”

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!