SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Bangun-Bangun Jatuh Miskin
"Elara! Bangun! Kalau Kepala Pelayan Marie melihatmu masih rebahan, gaji kita bulan ini bakal dipotong separuh!"
"Berisik. Gue lagi cuti. Jangan potong gaji gue, atau HRD gue ratakan dengan tanah sekarang juga."
"HRD? Apa itu HRD? Elara, sadarlah! Ini sudah jam enam pagi! Kita harus menyikat lantai aula sayap barat!"
"Sikat gigi gue dulu sana. Gue CEO muda, baru tembus profit miliaran, biarkan gue tidur di kasur King Size gue yang empuk ini."
"Kasur King Size dari mana?! Ini ranjang susun berkarat, Elara! Cepat bangun!"
Terdengar bunyi gedebuk keras disusul erangan panjang. Aura mengusap dahinya yang baru saja menghantam besi ranjang.
Ia membuka matanya dengan paksa, berniat memaki asisten pribadinya. Namun, matanya justru menangkap pemandangan dinding batu bata kasar, satu lampu bohlam redup yang berkedip menyedihkan, dan lima ranjang susun reyot di ruangan yang baunya seperti campuran kapur barus dan keringat.
Di depannya, seorang gadis berseragam pelayan hitam-putih kuno menatapnya dengan wajah pucat pasi.
"Lo siapa?" Aura memicingkan mata, nyawanya belum terkumpul penuh. "Dan di mana TV LED delapan puluh inci gue? Di mana AC sentral gue? Ini konsep escape room gembel macam apa?!"
"Ya Tuhan, Elara! Kau terbentur tiang saat mengepel kemarin sore, apa kau amnesia sungguhan? Aku Anna! Teman sekamarmu di Istana Astoria!"
"Istana Astoria?" Aura membeku. Otaknya yang biasa memproses grafik saham dalam hitungan detik tiba-tiba loading. "Tunggu. Istana Astoria? Tempat si Pangeran Caden yang gila harta dan suka memenggal orang itu? Tempat Pangeran Arthur si protagonis menye-menye itu?"
"Sssst! Jaga mulutmu!" Anna membekap mulut Aura panik. "Kalau ada pengawal yang dengar kau menyebut nama Yang Mulia Pangeran Caden tanpa gelar, lidahmu bisa dipotong jadi dua!"
Aura menarik tangan Anna dari wajahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat sekarang. Semalam, setelah merayakan akuisisi perusahaannya, ia tertidur sambil membaca novel Cinta Sang Mahkota. Dan tokoh figuran bodoh yang mati di bab 10 karena menumpahkan kopi panas ke selangkangan Pangeran Caden bernama Elara.
"Gila. Transmigrasi? Gue masuk ke dalam novel picisan murahan?!" Aura bergumam ngeri, menatap kedua tangannya yang kini kasar dan penuh kapalan. "Tangan gue! Manikur lima juta gue hilang! Ini tangan kuli panggul!"
"Elara, cepatlah pakai seragammu sebelum Nyonya Marie—"
BRAK!
Pintu kayu reyot itu ditendang terbuka. Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan riasan menor dan seragam kepala pelayan berdiri berkacak pinggang di ambang pintu.
"Pemalas! Sampah! Matahari sudah terbit dan kalian berdua masih bergosip di kamar?!" teriak Nyonya Marie, suaranya melengking membuat telinga Aura berdenging. "Elara! Karena kau kemarin pura-pura pingsan, jatah makan siangmu hari ini dipotong! Dan potong gajimu lima puluh persen bulan ini!"
Aura perlahan bangkit dari ranjang, matanya menatap tajam Nyonya Marie. Insting predator bisnisnya bangkit seketika.
"Potong gaji?" ulang Aura pelan, nadanya sangat dingin.
"Benar! Kau tidak terima?!" tantang Marie.
"Berdasarkan pasal berapa di kontrak kerja istana Anda berhak memotong gaji karyawan secara sepihak tanpa SP1 atau SP2?" balas Aura dengan suara lantang dan artikulasi sempurna. "Pemotongan jatah makan siang melanggar hak asasi pekerja! Anda mau saya laporkan ke serikat pekerja kekaisaran?!"
Nyonya Marie ternganga. Anna di sebelahnya sudah gemetar sampai lututnya beradu.
"A-apa yang kau bicarakan, bocah gila?! Serikat apa?! Aku kepala pelayan di sini! Aturanku adalah mutlak!"
"Mutlak dari mana? Dari cincin perak imitasi yang Anda pakai di jari telunjuk itu?" tunjuk Aura tepat ke tangan Marie. "Itu perak campuran. Nilainya tidak lebih dari lima koin tembaga. Tolong ya, gaya Anda tidak mencerminkan otoritas sama sekali. Potong gaji saya satu peser saja, saya akan pastikan laporan penggelapan dana sabun cuci yang Anda lakukan sampai ke meja pengawas istana."
Wajah Marie berubah dari merah padam menjadi sepucat kertas. Bagaimana pelayan bodoh ini tahu soal dana sabun cuci?!
"K-kau... kau gila! Awas saja kau, Elara!" Marie berbalik dan lari terbirit-birit dari kamar itu, lupa menutup pintu.
Anna menjatuhkan dirinya ke lantai, lemas. "Elara... kau mau mati ya? Nyonya Marie pasti akan balas dendam!"
"Biarkan saja. Dia bukan masalah utamanya sekarang." Aura berbalik, menatap Anna dengan wajah sangat serius. "Anna. Jawab dengan jujur. Berapa saldo tabunganku sekarang? Di mana buku tabunganku? Kita harus hitung aset."
"Aset? Tabungan?" Anna menatapnya bingung. "Elara, kau tidak punya tabungan."
"Maksudnya? Semiskin-miskinnya orang, pasti ada satu atau dua koin perak terselip di bawah bantal, kan?"
"Tidak ada. Kau malah berutang lima ribu koin perak pada lintah darat si Tuan Babi di Pasar Bawah karena ibumu sakit bulan lalu. Bunganya naik sepuluh persen setiap minggu. Minggu depan mereka janji akan menjualmu ke rumah bordil kalau tidak lunas."
Hening.
Bukan sekadar hening, tapi suasana di kamar itu mendadak menjadi sedingin lemari es. Wajah Aura menjadi sangat datar. Matanya kosong.
"Lima... ribu... koin perak?" bisik Aura. "Utang? Bunga berbunga? Dan gue... mau dijual?"
"I-iya..."
"TIDAK BISA DIBIARKAN!!!" teriak Aura, suaranya sampai membuat lampu bohlam di atas mereka berkedip mati sesaat. "Mati ditangan protagonis kek, antagonis kek, itu urusan gampang! TAPI HIDUP KERE DAN BANYAK UTANG?! ITU PENISTAAN TERHADAP JIWA BISNIS GUE!"
Aura mulai membongkar seluruh isi ruangan layaknya orang kesurupan. Bantal dilempar, kasur dibalik, laci nakas ditarik sampai lepas dari relnya.
"Di mana! Di mana barang berharga gue?! Masa iya di seluruh episode hidup figuran ini nggak ada satu pun barang warisan atau harta karun?!"
"Elara, hentikan! Tidak ada apa-apa di sana!"
"Pasti ada! Plot armor! Di setiap novel transmigrasi selalu ada plot armor!"
Tangan Aura merogoh celah sempit di belakang nakas yang telah hancur. Jarinya menyentuh sesuatu yang bulat, dingin, dan padat. Ia menariknya keluar dengan kasar.
"Hah! Apa gue bilang!"
Aura mengangkat sebuah koin besar, jauh lebih tebal dari koin biasa. Warnanya keemasan pekat, tidak pudar meski berdebu. Di tengahnya terdapat ukiran naga bermata dua yang melingkari sebuah pedang.
Anna memutar bola matanya. "Oh, itu. Itu kan koin rongsokan yang kau pungut di dekat tempat sampah taman sayap utara minggu lalu. Kau bilang mau dipakai untuk kerokan punggung."
"Kerokan matamu!" Aura menggosok koin itu dengan ujung lengan bajunya, lalu menggigitnya sedikit untuk mengetes kekerasan logamnya. Matanya langsung berbinar-binar seperti lampu disko. "Emas murni. Dua puluh empat karat penuh. Beratnya sekitar lima puluh gram. Dan ukiran ini... ini ukiran manual, bukan cetakan pabrik."
"Itu rongsokan, Elara."
"Ini, wahai Anna yang polos, adalah tiket VIP kita keluar dari kemiskinan jahanam ini." Aura mengecup koin itu dengan penuh gairah. "Baju seragamku di mana? Aku harus pergi sekarang juga."
"Pergi ke mana? Kita harus membersihkan aula!"
"Persetan dengan aula! Gue mau ke Departemen Keuangan Istana! Gue mau ketemu cowok paling kaya di novel ini!"