Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Tak Terduga

Suasana di ruang praktik dokter terasa berat oleh ketegangan ketika dokter kandungan itu, dengan raut serius dan kekesalan yang jelas terlihat, memperingatkan,

"Anda harus lebih berhati-hati! Anda nyaris kehilangan bayi ini, Nyonya Rasmussen."

Kata-kata itu bergema di benak Roxanna. Tanpa sadar tangannya menyentuh perut, gerakan yang nyaris naluriah, seolah ingin terhubung dengan kehidupan yang berdenyut di dalam sana.

Kenyataan bahwa ia hamil terasa seperti mimpi. Ia masih belum bisa percaya bahwa sesuatu yang begitu berharga sedang tumbuh di dalam tubuhnya, apalagi mengingat cara bayi ini datang.

Namun bayi itu tak bersalah.

Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan, dan meski masih terguncang, Roxanna merasakan gelombang kebahagiaan. Ia berterima kasih dengan senyum gugup, lalu keluar dari ruang praktik.

Langkahnya menggema di sepanjang koridor rumah sakit, setiap ketukan di lantai memantulkan gairah dan kegugupan yang berkecamuk di dalam dirinya. Membayangkan bagaimana ia akan memberi tahu Alessandro tentang kehamilan ini membuat hatinya bergetar. Ia bertanya-tanya bagaimana reaksi Alessandro nanti.

Akankah ia berteriak bahagia?

Akankah ciumannya hangat dan penuh cinta?

Fantasi-fantasi itu menari-nari di kepalanya sepanjang ia berjalan.

Namun begitu merasakan dinginnya cincin di jarinya, jantung yang berdegup kencang itu mulai berdenyut resah. Kilau logam itu mengingatkannya pada kenyataan rumit yang ia jalani.

Alessandro bukanlah tipe pria yang bermimpi menjadi ayah. Pernikahan mereka diatur oleh keluarganya, dan hal itu membebani pikirannya. Roxanna tahu, kehidupan baru ini bisa mengubah segalanya di antara mereka.

Tapi apakah perubahan itu ke arah yang lebih baik?

Kontras antara kebahagiaan dan kekhawatirannya menciptakan pusaran emosi di dalam dirinya.

Sembari keluar dari rumah sakit, Roxanna memikirkan segala yang terjadi dalam pernikahannya, dan segala harapan yang ia simpan tentang suaminya yang acuh tak acuh. Ia menengadah menatap langit cerah di luar sana, menarik napas dalam-dalam, lalu memutuskan bahwa ia harus mengambil satu langkah maju.

Tapi langkah seperti apa?

Alessandro selalu bersikap dingin dalam segala aspek hubungan mereka, terutama dalam keintiman. Setiap momen yang mereka bagi diselimuti kekasaran dan ketidakhormatan. Ia biasa berkata pada Roxanna bahwa tak perlu ada belenggu tambahan, bahwa keintiman di antara mereka semestinya mengalir sesuai keinginannya, tanpa tekanan yang tak perlu.

Sementara itu, gagasan tentang seorang bayi sama sekali jauh dari rencananya, sebuah kejutan, sebuah pembalikan yang membuat pikiran Roxanna gelisah.

Lalu ia teringat malam ketika Alessandro pulang dalam keadaan mabuk dari perjalanan dinasnya selama tiga bulan.

Di pertengahan bulan kedua perjalanannya, ia sempat datang.

Ia datang dengan tergesa, dan mereka tak memakai pengaman. Keesokan harinya ia pergi lagi, tanpa berpamitan.

Sembari mendekati mobil, Roxanna tak kuasa melepaskan diri dari kecemasan yang menggerogotinya. Sebuah keraguan terus menemaninya. Apakah Alessandro akan bahagia mendengar kabar ini, dan akhirnya mencintaiku?

Bayangan Alessandro tersenyum saat tahu ia akan menjadi ayah terlukis di kepalanya, tapi dengan cepat berganti menjadi bayang-bayang kecemasan. Bagaimana kalau ia tak menginginkan bayi ini?

Ketidakpastian itu menyiksanya saat ia masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang. Seharusnya ini menjadi saat untuk merayakan, tapi kepalanya justru dipenuhi pertanyaan tentang masa depan mereka.

"Nyonya?" Sopir pribadinya memecah lamunannya, suaranya penuh khawatir, memecah keheningan tegang di dalam mobil. "Apakah Anda baik-baik saja? Apa Anda ingin menelepon Bos?"

Ia melihat kerutan di wajah Roxanna, menandakan betapa ia peka terhadap kondisi emosional majikannya. Sopir itu bisa dipercaya, nyaris seperti bagian dari keluarga, selalu siap membantu. Tapi Roxanna ragu. Ia ingin membagi kabar itu, namun tetap merasa Alessandro-lah yang harus tahu lebih dulu.

"Aku baik-baik saja, terima kasih." Ia menjawab sambil berusaha tersenyum, meski pikirannya masih kalut.

Roxanna menghargai kepedulian sang sopir, tapi keinginan untuk memberi tahu suaminya justru semakin kuat. Bagaimanapun, Alessandro-lah ayah dari bayi ini, dan kabar semacam ini harus dibagi di antara mereka berdua sebelum siapa pun juga.

Ketika mobil mulai bergerak, Roxanna menatap ke luar jendela dan melihat pepohonan berlalu dengan cepat. Setiap pohon seakan melambangkan sebuah pikiran yang berbeda, mimpi-mimpi yang pernah mereka rajut bersama, harapan akan masa depan yang tak menentu, dan kini kehidupan baru yang bisa mengubah segalanya. Hatinya berdenyut oleh haru dan gugup sekaligus. Ia harus menemukan keberanian untuk memberi tahu Alessandro dan menghadapi yang tak terduga bersama-sama.

"Anda yakin tak ingin meneleponnya, Nyonya?" sang sopir kembali menawarkan.

"Tidak, tak perlu. Ia sedang di pesawat, aku akan bicara dengannya begitu ia tiba." Roxanna menjawab, berusaha tetap tenang.

Jendela mobil turun perlahan, dan udara segar masuk, membawa serta gelombang nostalgia. Sembari mengamati kota yang berlalu, pikirannya mulai mengembara ke masa yang lebih sederhana, ketika mereka masih sekadar mahasiswa.

Ia teringat pertama kali melihat Alessandro. Pemuda itu duduk di sebuah meja perpustakaan, tenggelam dalam buku-bukunya, rambutnya acak-acakan, dan senyum tanpa beban menghiasi wajahnya. Kala itu, Roxanna menganggap dirinya kutu buku yang menyebalkan, selalu membenamkan hidung di antara halaman-halaman buku dan nyaris tak punya teman.

Alessandro adalah segala yang bukan dirinya, pemuda tampan, populer, sekaligus jenius yang mencuri perhatian ke mana pun ia melangkah. Awalnya ada persaingan di antara mereka; Roxanna menganggapnya sombong, dan Alessandro memandangnya sebagai beban. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Entah dari mana, Alessandro ingin menjadi temannya. Roxanna tak peduli menanyakan alasan perubahan itu, bagaimanapun, ia menyukai pemuda itu.

Roxanna mendesah mengenang saat ia nyaris menyatakan perasaannya pada Alessandro. Sore itu cerah, dan ia gugup, melatih kata-kata di dalam kepala.

Namun kemudian, seorang gadis lain muncul, cantik dan penuh percaya diri, merebut perhatian Alessandro dalam sekejap mata. Hatinya hancur melihat betapa cepat Alessandro tertarik pada gadis baru itu, sementara ia sendiri merasa tak kasatmata.

Berusaha mengusir kenangan menyakitkan itu, Roxanna menatap cincin kawinnya yang berkilau di jarinya.

"Masa lalu takkan kembali," ia mengulang dalam hati bagai mantra. Hidup telah banyak berubah sejak masa-masa itu. Kini ia adalah istri Alessandro, seseorang yang akhirnya bisa menaklukkan hatinya. Alessandro telah berjanji bahwa ia sudah selesai dengan gadis masa lalu itu, dan bahwa Roxanna-lah satu-satunya baginya.

Tapi kini, dengan seorang bayi yang akan datang, segala ketidakpastian kembali menghantuinya. Roxanna tahu ia harus kuat. Mereka telah membangun hidup bersama, dan babak baru ini akan menuntut lebih banyak lagi dari mereka sebagai pasangan. Ia ingin percaya bahwa Alessandro akan bahagia mendengar kabar kehamilan ini, dan bahwa bersama-sama mereka bisa menghadapi tantangan apa pun yang menghadang.

Ia harus fokus pada masa kini dan masa depan yang akan mereka ciptakan bersama, masa depan tempat cinta mereka bisa tumbuh semakin subur dengan kehadiran sosok baru ini.

Atau masa depan tempat ia bisa membebaskan diri dari pernikahan ini dan menyimpan masa lalunya yang tak diketahui Alessandro.

Roxanna menyeka air mata yang berkeras menetes dari sudut matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pintu rumahnya. Begitu masuk, ia langsung diselimuti aroma yang akrab, aroma yang membuatnya merasa damai. Wangi dan sentuhan hangat dari dekorasi yang ia pilih sendiri menyambutnya bagai pelukan. Rumah ini tak semewah vila keluarga Alessandro, tapi inilah rumah yang ia bangun dengan cinta dan pengabdian.

Sembari mengamati dinding-dinding yang dihiasi foto-foto momen bahagia, Roxanna berkata pada dirinya sendiri bahwa ia terlalu banyak berpikir.

Perempuan dari masa lalu Alessandro itu sudah lama tak menjadi bagian dari hidup mereka, dan pernikahannya dengan Alessandro terasa indah bagai dongeng selama tiga tahun terakhir, setidaknya bagi dirinya.

Sekilas menatap jam dinding menariknya kembali ke kenyataan. Alessandro seharusnya sudah mendarat. Ia sedang bepergian untuk urusan bisnis selama lebih dari tiga bulan, waktu yang panjang, tapi perlu demi bisnis keluarga.

Alessandro adalah presiden direktur "Vogue Vibe", majalah mode terkemuka di kota ini, dan Roxanna menjabat sebagai wakil presiden direktur. Bersama-sama, mereka adalah duo tak terkalahkan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Roxanna-lah kunci sukses perusahaan itu.

Rindu mencengkeram hatinya; ia benar-benar merindukan suaminya. Dengan penuh tekad, ia meraih ponselnya dan langsung memutar nomor Alessandro.

Harapan tumbuh di dalam dirinya sembari ia menunggu panggilan tersambung. Ia ingin mendengar suara Alessandro sekarang, ingin tahu kapan ia akan pulang. Roxanna sudah mulai merencanakan hidangan istimewa untuk menyambutnya, mungkin masakan kesukaannya.

Tapi ada juga sesuatu yang penting yang harus ia sampaikan: ia sedang hamil.

Kabar ini adalah salah satu yang paling berarti dalam hidup mereka, dan ia ingin membagi momen istimewa ini sebelum hal lain apa pun. Sembari membayangkan betapa pertemuan kembali ini akan penuh cinta dan haru, jantungnya seketika melonjak saat mendengar suara seorang perempuan di ujung sambungan.

"Halo? Siapa ini?"

Dunia seakan membeku sesaat. Roxanna merasakan dingin merayap di perutnya, dan senyumnya lenyap seketika.

Sedang apa suara itu di dalam panggilan ini?

Pusaran pikiran menyerbu benaknya sembari ia berusaha mencerna situasi tak terduga tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!