Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dering bel tanda berakhirnya jam kuliah terakhir berbunyi nyaring, disambut gembira para mahasiswa. Namun, rasa lega Luna menguap seketika begitu ponsel di dalam tasnya bergetar pelan.

​Satu pesan singkat dari Moreno masuk di layarnya:

-​Gue udah di parkiran. Jangan bikin gue nunggu.-

​Luna menghela napas berat. Dengan langkah malas dan enggan, ia merapikan buku-bukunya lalu berjalan menyusuri koridor samping yang langsung menembus ke area parkiran khusus—tempat mobil sport milik Moreno terparkir.

​Namun, baru beberapa meter dari mobil mewah itu...

​VROOM!

​Sebuah sepeda motor mendadak memotong jalurnya dan berhenti tepat di hadapan Luna, mencegat langkahnya. Luna tersentak kaget, dan melangkah mundur.

​Pengendara motor itu melepas helm full-face-nya, memperlihatkan wajah tampan Adrian yang tersenyum manis ke arahnya.

​"Hai, Na," sapa Adrian hangat. "Mau pulang, kan? Bareng gue aja, yuk?"

​Luna mengerjap panik. Matanya sempat melirik sekilas ke arah mobil Moreno yang terparkir tak jauh di depannya—pria itu jelas-jelas sudah ada di dalam.

​Mencari alasan secepat mungkin demi menghindari tawaran Adrian, Luna menengadah menatap langit yang memang sedang mendung pekat dan berangin kencang.

​"E-eh... gak usah, kak," tolak Luna halus, berusaha tetap tenang.

"Lagian udah mendung gini, gue mending naik taksi online aja biar gak kehujanan di jalan."

​Seakan mendukung kebohongan Luna, titik-titik air hujan tiba-tiba mulai menetes turun dari langit, perlahan berubah menjadi deras dalam hitungan detik.

​Adrian menghela napas pasrah melihat hujan yang mulai mengguyur area parkiran.

"Yaudah deh, bener kata lo. Lo tunggu di lobi aja ya sampai taksinya datang."

​Sebelum mengenakan kembali helmnya, Adrian tersenyum lembut. Tangannya terulur dan mengelus puncak kepala Luna dengan gemas.

"Hati-hati ya, Na," bisiknya manis.

​Luna mematung di tempatnya selama sepersekian detik, terpana oleh perlakuan hangat Adrian yang begitu menenangkan.

​Namun ​Luna lupa satu hal: Moreno ada di dalam mobil tepat di depannya.

​Di balik kaca film gelap mobil sport yang terparkir beberapa meter dari mereka, Moreno menyaksikan setiap detik interaksi manis itu.

​Kedua tangan pria itu mencengkeram erat lingkar setir hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang mata abu-abunya menyala, dipenuhi aura membunuh yang siap meledak kapan saja melihat kepala Luna diusap oleh pria lain di depan matanya sendiri.

Hujan deras yang turun tiba-tiba langsung mengguyur area parkiran kampus tanpa ampun. Luna melipat kedua tangannya di atas kepala, berlari secepat mungkin menembus rintik air menuju mobil sport Moreno.

​Namun, begitu jemarinya menyambar gagang pintu mobil dan mencoba menariknya...

​KLIK. Pintu itu masih terkunci rapat.

​"Ih, kok dikunci sih?!" seru Luna panik.

​Ia memukul-mukul kaca jendela mobil yang gelap. "Moreno! Buka kuncinya! Hujan deras nih!" teriaknya dari luar.

​Namun, di dalam kabin yang hangat, Moreno hanya duduk tenang. Wajahnya dingin dan matanya menatap lurus ke depan, sengaja membiarkan Luna berdiri kedinginan di luar sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.

​Hampir tiga menit berlalu hingga seluruh pakaian dan rambut Luna basah kuyup memeluk tubuhnya, barulah terdengar suara un-lock dari dalam.

​Dengan perasaan dongkol setengah mati, Luna bergegas masuk dan membanting pintu mobil.

Tubuhnya gemetar kedinginan, tetesan air menetes dari ujung rambutnya merembes ke jok kulit mobil.

​"Lo ketiduran ya?!" semprot Luna sengit seraya mengusap wajahnya yang basah.

"Gue panggil-panggil dari tadi malah diem aja!"

​Moreno menoleh perlahan. Sorot matanya tajam dan menusuk. "Gue gak tidur," jawabnya datar tanpa beban. "Gue sengaja."

​Mata Luna melotot lebar. "Sengaja?! Lo gila ya?! Kenapa lo sengaja biarin gue kehujanan kayak gini?!"

​"Itu hukuman buat lo," desis Moreno, mencondongkan tubuhnya ke arah Luna.

"Hukuman karena lo kecentilan."

​"Centil?!" Luna tidak terima. Dadanya naik-turun menahan emosi.

"Centil dari mananya sih?! Gue gak paham maksud lo apa!"

​Moreno tertawa mengejek, tawa yang terdengar dingin.

"Lo masih nanya? Lo asyik menebar pesona sama Adrian di depan mata gue. Dan lo cuma diam, nurut aja pas kepala lo diusap-usap sama dia... kayak cewek gampangan."

​Moreno memicingkan matanya, tatapannya dipenuhi kecemburuan yang terselubung.

"Lo suka sama Adrian?"

​Kalimat tajam Moreno yang menyudutkan itu sukses menyulut kemarahan Luna yang sudah dipendamnya sejak pagi. Luna yang melelahkan diri, kedinginan, dan terus-menerus diintimidasi akhirnya lepas kendali.

​"Kalau iya kenapa?!" teriak Luna tepat di depan wajah Moreno, menatap pria itu tanpa rasa takut lagi.

​"Iya! Gue memang suka sama Adrian!" tegas Luna dengan napas memburu.

"Adrian itu pria yang baik! Dia lembut, perhatian, dan selalu peduli sama gue! Enggak kayak lo... pria arogan, kasar, dan cuma bisa berbuat seenaknya sendiri!"

​Emosi yang sudah membubung tinggi membuat rasa takut Luna menguap begitu saja. Dengan sisa keberaniannya, ia mendongak dan menatap tepat ke dalam manik abu-abu milik Moreno.

​"Lagian memangnya kenapa kalau gue menyukai Adrian?!" tantang Luna dengan nada menyindir.

"Apa lo cemburu, hah?!"

​Pertanyaan itu menjadi tetes terakhir yang meruntuhkan kesabaran Moreno.

​Napas Moreno mendadak memburu, dipacu oleh amarah besar yang meletup-letup di dadanya. Tanpa peringatan, tangan kokoh Moreno terulur dan mencengkeram rahang serta pipi Luna dengan kuat.

​"Sshh... lepasin, Reno!" Luna meringis kesakitan, jemarinya mencoba mencengkeram pergelangan tangan Moreno yang terasa bagai jepitan besi.

​"Cemburu?" desis Moreno tepat di depan bibir Luna, suaranya berat, terdengar kejam.

"Jangan kepedean lo!!. Gue sama sekali gak cemburu."

​Moreno makin menekan cengkeramannya, menatap Luna dengan sorot mata yang membekukan darah.

​"Gue cuma gak sudi barang yang udah jadi milik gue bebas disentuh sama orang lain. Paham lo?!"

​Mata Luna seketika bergetar hebat. Rasa sakit di wajahnya tak sebanding dengan rasa hina dan sesak yang menghantam dadanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bertahan agar tidak tumpah di hadapan pria iblis ini.

​Moreno tidak menghentikan intimidasinya. Ia mendekatkan wajahnya lagi, menekankan setiap katanya.

​"Nanti... kalau gue udah bosan dan buang lo kayak sampah, lo bebas mau ngapain sama Adrian atau pria mana pun," ancam Moreno dingin.

"Tapi selama lo masih menjadi properti gue... jangan pernah sekali pun berpikir buat jadi pembangkang!"

​SHAK!

​Moreno melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat wajah Luna terlempar ke samping.

​Luna memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah. Ia memalingkan wajah ke arah jendela yang dibasahi air hujan, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan tangis yang nyaris pecah.

​Sementara itu, Moreno menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah hujan deras dengan kecepatan tinggi menuju penthouse, meninggalkan ketegangan yang kian membara di antara mereka berdua.

Luna memeluk erat tubuhnya yang gemetaran hebat akibat pakaian basah yang menempel dingin di kulitnya. Wajahnya terus menghadap ke arah jendela luar yang diguyur hujan deras, memilih diam membisu sambil menahan nyesek di dadanya.

​Moreno, yang sedang fokus mengemudikan mobilnya, sempat melirik sekilas ke arah kursi penumpang.

Melihat kondisi Luna yang tampak menyedihkan, satu tangannya dengan cepat melepas kemeja luar yang ia kenakan—menyisakan kaus oblong putih yang membungkus tubuh atletisnya.

​Tanpa banyak bicara, kemeja hitam itu dilemparkan begitu saja ke pangkuan Luna.

​Luna tersentak kaget. Ia melirik Moreno dengan tatapan bingung.

​Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Luna, Moreno berucap datar.

"Pakai... Gue enggak mau lo mati kedinginan di dalam mobil gue."

​Dengan bibir yang gemetaran menahan dingin, Luna menelan ludahnya pelan.

"O-oke... makasih," bisiknya lirih.

​Luna perlahan mengenakan kemeja oversized milik Moreno di atas pakaian basahnya. Kain tebal itu langsung menutupi tubuh mungilnya, menyalurkan kehangatan yang perlahan mengusir rasa dingin.

Tak hanya itu, aroma khas dari tubuh Moreno yang menempel di serat kain kemeja tersebut entah mengapa perlahan memberikan rasa tenang di tengah ketegangannya.

​Tak berapa lama kemudian, mobil sport itu akhirnya melaju masuk ke area parkir apartemen mewah milik Moreno.

​Mesin mobil mati. Saat Luna memegang gagang pintu dan hendak melangkah turun, suara bariton Moreno kembali menghentikan gerakannya.

​"Lo jangan lupa," desis Moreno dingin dari kursi kemudi.

"Gue bukan tipe yang penyabar. Persiapkan diri lo baik-baik buat memuaskan gue nanti."

​DEG!

​Mendengar kalimat itu, hati Luna seketika terasa getir. Dadanya berdenyut nyeri menahan kenyataan pahit bahwa cepat atau lambat, hal yang paling ia takuti itu pasti akan terjadi juga. Ia tak lagi punya celah untuk melarikan diri.

​Dengan tatapan kosong dan nada suara yang benar-benar datar, Luna menyahut singkat,

"Gue paham."

​Tanpa menunggu tanggapan Moreno lagi, Luna bergegas keluar dari mobil dan melangkah cepat menuju lift pribadi, meninggalkan Moreno yang masih menatapnya dari dalam mobil.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!