perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah pertama
Di perjalanan menuju pulang, tiba-tiba ponsel ku berdering. Aku menghentikan motorku lalu menepi di pinggir jalan untuk menjawab telepon.
Aku merogoh ponselku di dalam tas. Ku lihat kelayar ponsel tertera nama Mbak Rima memanggil. Segera ku jawab telepon tersebut.
" Assalamualaikum. Ada apa Mbak Rima? Apa Aira rewel?" Tanyaku sedikit khawatir.
" Walaikumsallam. Enggak kok, Mbak. Mereka baik-baik saja. Aman pokok nya . Mbak Jasmine tidak perlu khawatir." Jawab Mbak Rima.
" Syukurlah kalau begitu. Terus ada apa Mbak Rima telepon?"
" Ini Mbak, aku punya rekomendasi pengacara yang bagus buat Mbak Jasmine untuk mengurus perceraian dengan Mas Rama. Itu pun kalau keputusan Mbak sudah bulat untuk berpisah." Ucap Mbak Rima.
" Boleh, Mbak. Aku malah berterimakasih sekali. Lagi pula keputusanku sudah bulat sekarang Mbak, aku ingin berpisah dari Mas Rama. Sudah cukup aku di bohongi selama ini. Aku tidak mau menjadi wanita yang bodoh terus menerus."
" Jika keputusan Mbak Jasmine sudah bulat. Mbak bisa datang langsung ke kantor Pak Gunawan. Aku kirim alamat nya sekarang. Setelah ini aku langsung menghubungi Pak Gunawan, memberitahu beliau kalau Mbak akan datang."
" Tapi Mbak jika aku datang kesana sekarang, aku malah semakin merepotkan Mbak Rima. Karena terlalu lama menitipkan Aldi dan Aira." Ujar ku yang merasa tidak enak.
" Masalah Aldi dan Aira, Mbak Jasmine tidak perlu merasa khawatir atau pun merasa tidak enak. Aku senang bisa menjaga mereka berdua. Mbak harus menyelesaikan masalah Mbak satu persatu."
" Terimakasih banyak ya, Mbak. Aku benar-benar beruntung memiliki tetangga sekaligus teman sepertimu. Kalau gitu, sekarang aku langsung ke kantor Pak Gunawan. Assalamualaikum."
" Iya Mbak, sama-sama. Hati-hati dijalan. Walaikumsallam.
Setelah sambungan terputus, aku segera melihat alamat kantor Pak Gunawan yang dikirim Mbak Rima. Aku langsung tahu kantor itu, ternyata tidak jauh dari sekolah Aldi. kemudian aku langsung melajukan motor ku menuju alamat tersebut.
Setelah sampai di depan kantor Pak Gunawan, aku memarkirkan motor di halaman. Aku menarik napas panjang sebelum masuk kedalam. Hari ini aku akan mengambil langkah yang mungkin akan mengubah seluruh hidupku. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Namun, satu hal yang sudah kupastikan dalam hati, aku tidak boleh terus diam dan membiarkan diriku serta anak-anak menjadi korban.
Aku merapikan jilbabku terlebih dahulu, kemudian berjalan menuju pintu masuk kantor. Seorang pegawai perempuan yang duduk di meja resepsionis langsung menyambut kedatanganku dengan ramah.
" Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai itu dengan ramah.
" selamat siang juga, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Gunawan. Saya sudah membuat janji dengan beliau melalui Mbak Rima." Jawab ku.
" Oh,, Bu Jasmine, ya? Kalau begitu, Mari Bu. saya antar ke ruangan Pak Gunawan. Beliau sudah menunggu di dalam." Ucap pegawai itu dengan tersenyum.
" Terimakasih."
Pegawai resepsionis itu kemudian berdiri dan mengantarkanku melewati lorong kantor. Aku berjalan mengikutinya dari belakang.
Beberapa saat kemudian, kami berhenti di depan sebuah pintu. Lalu, pegawai itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya perlahan.
" Permisi, Pak. Bu Jasmine barus saja tiba."
" Oke. Silahkan masuk, Bu Jasmine." Ucap Pak Gunawan ramah kepadaku.
kemudian aku melangkah ke dalam ruangan. seorang pria berusia sekitar 40 tahunan berdiri dari kursinya. Wajahnya terlihat tegas dan penuh percaya diri. Ia langsung mengulurkan tangan kepadaku.
" Selamat siang, Bu Jasmine."
" selamat siang juga , Pak Gunawan.
Kami pun berjabat tangan.
" Silahkan duduk, Bu jasmine." Ujar Pak Gunawan mempersilahkanku duduk.
" Terimakasih, Pak." Jawabku.
" Bu Rima sudah bercerita kepada saya sedikit tentang anda. Dia dulu juga menjadi klien saya ketika mengurus perceraiannya dengan mantan suaminya dulu."
" Iya, Pak. Oleh sebab itu, Mbak Rima merekomendasikan Bapak untuk menangani masalah saya." Ucapku.
" Kalau begitu, kita mulai dari mana dulu, Bu Jasmine?" Tanya Pak Gunawan.
" Saya rasa Mbak Rima pasti sudah sedikit banyak menceritakan masalah saya kepada Pak Gunawan. Tapi yang jelas, yang saya ingin lakukan terlebih dahulu adalah menyelamatkan aset keluarga saya. Karena saya tidak rela kalau aset keluarga saya dipergunakan untuk hal yang tidak jelas. Tadi juga saya sudah mendatangi kantor suami saya untuk mengajukan permohonan pembekuan gaji suami saya. Namun ternyata tidak bisa, karena harus melewati beberapa prosedur yang sulit dan ketat." Jawab ku menjelaskan.
" Iya memang benar, Bu. Cukup sulit jika ingin melakukan pembekuan gaji apabila bukan yang bersangkutan langsung yang memintanya. Jadi, saran saya dari pada Bu Jasmine menghabiskan waktu untuk sesuatu yang belum tentu bisa di lakukan, lebih baik kita menggunakan alternatif lain saja. "
" Saya tadi sudah putus asa, Pak. Tapi, saya harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan aset yang seharusnya menjadi hak anak- anak saya." Ucapku.
" Betul, Bu. Sebelum mengajukan perceraian, lebih baik Ibu mengamankan aset keluarga terlebih dahulu. Karena nantinya, kalau sudah masuk ke proses perceraian, persoalan harta bersama bisa menjadi rumit apabila sejak awal tidak ada bukti dan pengamanan yang jelas."
Aku terdiam mendengarkan penjelasan Pak Gunawan. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui penghianatan Mas Rama, aku merasa sangat di bantu oleh seseorang yang membuat masalah ini menjadi lebih jernih.
" Jadi, apa yang harus saya lakukan, Pak?" Tanyaku kepada Pak Gunawan.
" Pertama saya harus mendata terlebih dahulu semua aset yang berkaitan dengan keluarga Ibu. Setelah itu, kita lihat status kepemilikannya, sumber pembayarannya, serta dokumen-dokumen yang tersedia. Jangan terburu-buru memindahkan kepemilikan tanpa memeriksa dasar hukumnya terlebih dahulu." Jawab Pak Gunawan.
" Baik, Pak. Saya minta bantuan Pak Gunawan untuk mengurus semuanya. Nanti saya akan segera mengirimkan berkas apa saja yang Bapak butuhkan. Tapi untuk rumah yang saya tempati sekarang belum ada setifikatnya, Pak. Karena rumah tersebut masih dalam masa cicilan."
" Tidak masalah, Bu. Kita bisa mulai dengan memeriksa dokumen kredit dan perjanjian kepemilikannya terlebih dahulu. Dari sana baru kita bisa mentukan langkah yang paling aman." Ucap Pak Gunawan.
Mendengar itu, aku pun menghela napas lega. Satu persatu masalah akan bisa aku selesaikan. Aku akan memperjuangkannya demi Aldi dan Aira.
...****************...
Terimaksih sudah membaca..
Jangan lupa follow ,yaa 😘