Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN DAN DERMAGA PERPISAHAN

Hari yang paling ditakuti dan dihindari Ziva Adriana akhirnya benar-benar tiba.

Langit Jakarta seolah ikut berduka; awan mendung menggantung rendah dan membelit kota dengan atmosfer kelabu di atas gedung pertemuan mewah tempat janji suci akan diucapkan.

Di dalam sebuah kamar hotel yang tak jauh dari lokasi acara, Ziva duduk bersimpuh di atas lantai berbatu dingin, masih mengenakan piyama tipis.

Di layar ponselnya yang redup, sebuah foto undangan digital yang dikirimkan oleh mamanya terbentang nyata tanpa celah kebohongan:

_"Pernikahan Letnan Jenderal Gibran Mahendra & dr. Anindita Prasetya, Sp.OT."_

Ziva tidak bisa menahannya lagi.

Seluruh tembok pertahanan, kepura-puraan tegar, dan akting sok kuat yang ia bangun selama berminggu-minggu runtuh berkeping-keping seketika.

"Ziv... udah, Ziv.

Jangan kayak gini, please..." bisik Keyla sambil ikut berlutut dan memeluk erat bahu sahabatnya yang bergetar hebat.

Keyla sudah mencoba segala cara mulai dari membawakan cokelat manis kesukaan Ziva, menyetel musik ceria, hingga mematikan semua akses notifikasi berita infotainment tapi tangis Ziva justru meledak semakin pecah dan histeris.

Ziva menangis tersedu-sedu, suaranya parau dan tercekik hingga hampir habis.

Dadanya terasa sangat sesak, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu telah diuapkan habis oleh takdir.

Ia menangis bukan hanya karena kehilangan pria yang teramat dicintainya, melainkan karena ia akhirnya harus menerima kenyataan pahit: perjuangan "gila" dan nekatnya selama ini berakhir pada sebuah kekalahan telak dan memalukan di depan altar pernikahan.

"Dia beneran nikah, Key...

Dia beneran milih jalan yang diperintahin ibunya...

Dia nggak milih aku, Key!" rintih Ziva di sela isak tangisnya yang memilukan.

Keyla merasa hatinya ikut diiris-iris.

Sepanjang bertahun-tahun bersahabat, ia belum pernah melihat Ziva sehancur dan serapuh ini.

Ziva yang berani, Ziva sang cegil pantang menyerah yang penuh akal nakal, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang kehilangan arah dan kehilangan segalanya.

"Mungkin ini cara Tuhan bilang kalau lo berhak dapet pria yang lebih muda, yang nggak kaku, dan yang bisa hargain perasaan tulus lo, Ziv..." bujuk Keyla dengan mata berkaca-kaca.

"Nggak ada yang kayak dia, Key...

Nggak akan pernah ada..." bisik Ziva meratapi nasibnya.

Di gedung utama yang didekorasi megah dengan taburan bunga lili putih, Gibran berdiri tegap mengenakan setelan Pakaian Dinas Upacara (PDU) akad nikah berwarna putih bersih.

Pria itu tampak amat gagah dan memesona, namun raut wajahnya tetap datar kaku, tanpa ada setitik pun pancaran kebahagiaan yang biasanya melingkupi seorang mempelai pria.

Sepanjang prosesi, manik mata hitamnya yang tajam terus menyisir setiap sudut ruangan, seolah tanpa sadar sedang mencari satu sosok berisik yang ia tahu tidak mungkin ada di sana.

"Gibran, fokus.

Bapak Penghulu sudah siap," bisik Ibu Ratna dari samping dengan senyuman penuh kemenangan.

Gibran menarik napas panjang yang terasa sangat berat menekan dadanya.

Saat kalimat "Saya terima nikahnya..." selesai ia ucapkan dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, gemuruh kata "SAH!" bergema memenuhi seluruh ruangan.

Anindita tersenyum haru mengusap air matanya, namun Gibran hanya bisa menatap hampa jemarinya yang kini dilingkari sebuah cincin emas.

Detik itu juga, ia telah resmi menjadi suami orang lain.

Ia telah mengunci pintu hatinya sendiri untuk Ziva... selamanya.

Malam harinya, saat pesta resepsi megah di gedung utama masih berlangsung meriah dengan alunan musik klasik, Ziva berdiri kaku di depan cermin kamar hotelnya.

Matanya sembap memerah, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona.

Di atas tempat tidur, dua koper besar berkapasitas tinggi sudah tertutup rapat dan terikat rapi.

"Lo beneran mau berangkat malam ini juga, Ziv?" tanya Keyla dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.

"Gue udah nggak bisa napas di kota yang sama dengan dia, Key.

Setiap sudut Jakarta cuma bikin gue ingat sama martabak yang gue kirim, markas yang gue susupin, dan penolakan-penolakan dingin dia," Ziva mencoba mengukir senyum tipis, meski bibirnya bergetar hebat.

"Surat penerimaan kuliah magister Hukum Internasional di London itu sudah ada di tangan gue sejak bulan lalu.

Gue pikir gue nggak bakal butuh ini... gue pikir gue bakal stay di sini sama dia.

Tapi gue salah besar."

Ziva merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya.

Ini adalah pesan terakhir yang akan ia kirimkan kepada nomor kontak yang selama bertahun-tahun ini selalu ia teror dengan kalimat godaan dan pesan cinta.

'To: Letnan Jenderal Gibran Mahendra_

"Selamat atas pernikahannya ya, Om.

Sekarang Om sudah punya rumah yang beneran hangat, bukan cuma markas atau barak militer.

Maafin Ziva yang selama ini selalu jadi gangguan konyol di hidup Om yang sempurna._

Ziva pergi hari ini buat belajar jadi wanita dewasa, kayak yang selalu Om minta.

Jangan pernah cari Ziva lagi, dan tolong... berbahagialah, biarpun itu nggak sama Ziva."

'Selamat tinggal, Jenderalku.'

Begitu tombol send ditekan, Ziva langsung mematikan daya ponselnya, mencabut kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua bagian tanpa ragu.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta terasa sangat dingin dan asing saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi.

Ziva menyeret dua koper besarnya menuju pintu gerbang keberangkatan internasional.

Keyla merengkuh dan memeluk tubuh sahabatnya itu untuk yang terakhir kali.

"Janji ya sama gue...

lo bakal balik lagi sebagai Ziva yang baru, Ziva yang bahagia," tangis Keyla pecah tak tertahankan.

"Gue bakal balik, Key.

Tapi mungkin bukan sebagai Ziva 'cegil' yang Om Gibran kenal lagi," jawab Ziva datar, matanya menatap lurus ke depan.

Beberapa saat kemudian, ketika mesin pesawat Boeing 777 membahana dan perlahan lepas landas membelah malam, Ziva menatap pendar lampu-lampu kota Jakarta dari balik jendela kecil di sampingnya.

Di suatu tempat di bawah sana, Gibran mungkin sedang memulai malam pertamanya sebagai seorang suami dari wanita lain.

Sementara di sini, di ketinggian puluhan ribu kaki, Ziva sedang mengubur separuh jiwanya yang telah hancur.

Di saat yang bersamaan, di sela-sela riuhnya pesta resepsi mewah, Gibran menyelinap keluar menuju lorong balkon gedung yang sepi untuk mengambil udara segar.

Ponsel dinas di sakunya bergetar sekali menampilkan satu pesan masuk dari nomor yang teramat ia hapal di luar kepala.

Saat jemarinya selesai membaca setiap bait pesan pamit dari Ziva, dunia di sekitar sang Jenderal seolah runtuh seketika.

Dengan napas memburu dan dada bergemuruh panik, Gibran mencoba menekan tombol panggil kembali.

Namun, suara mesin operator yang dingin berulang kali memberitahunya bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif dan meluar jangkauan.

Gibran meremas ponsel di genggamannya hingga rahangnya mengeras, matanya menengadah menatap langit malam Jakarta tepat saat sebuah jejak lampu pesawat terbang melintas tinggi menembus awan kelam.

"Kamu benar-benar pergi, Ziva..." bisik Gibran dengan suara yang pecah dan hancur, menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

"Kamu menang.

Sekarang giliran saya yang akan merasakan kedinginan ini seumur hidup."

Ziva Adriana telah pergi.

Bukan lagi sebagai gadis "cegil" yang nekat mengejar cinta tanpa harga diri, melainkan sebagai seorang wanita dewasa yang terluka mendalam dan memilih untuk menyembuhkan dirinya sendiri di belahan dunia yang jauh.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!