Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kafe Biru dan Kenangan Lama

Handoko masih duduk di ruang kerjanya. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya belum juga diletakkan. Layar ponsel itu masih menampilkan riwayat panggilan kepada Mellisa—berulang kali dia mencoba menghubungi wanita itu, tetapi tak satu pun teleponnya mendapat jawaban.

Perlahan, Handoko memejamkan mata. Entah mengapa, sejak bertemu Mellisa tadi, pikirannya seolah sulit diajak kembali ke masa kini. Kenangan-kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan jauh di sudut ingatannya, kini bermunculan satu per satu. Wajah Mellisa semasa kuliah, senyumnya, suara tawanya, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu begitu akrab dengannya kembali hadir begitu jelas.

Handoko menarik napas panjang. Dia sadar, seharusnya semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Namun pertemuan mereka hari ini membuat sesuatu yang selama ini dia kira telah benar-benar terkubur, perlahan kembali terasa.

Matanya terbuka. Pandangannya jatuh pada layar ponsel. Setelah beberapa kali mencoba menelepon dan tak kunjung mendapat jawaban, Handoko akhirnya memilih mengirim pesan. Mungkin Mellisa sedang sibuk. Setidaknya, dengan pesan, dia bisa menyampaikan maksudnya tanpa harus terus mengganggu.

Jarinya bergerak perlahan di atas layar. ["Assalamualaikum, Mel. Ini Mas Handoko. Kalau besok ada waktu luang, kita ketemu di Kafe Biru, Jln. Kenanga 25, jam makan siang."]

Handoko membaca kembali pesan itu beberapa kali. Ada keraguan yang sempat membuat jarinya berhenti di atas tombol kirim. Namun akhirnya, dia menekan tombol tersebut.

Pesan terkirim.

Handoko masih menatap layar ponselnya, menunggu kalau-kalau balasan dari Mellisa muncul. Namun beberapa detik berlalu tanpa ada pemberitahuan apa pun.

Dia mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Belum sempat Handoko bersandar, terdengar suara Pratiwi memanggil dari luar ruang kerja.

"Papi..."

Handoko langsung menoleh ke arah pintu. "Iya, Mami?" jawabnya.

"Mami cari dari tadi. Papi masih di sini?"

"Iya. Sebentar, Papi ke sana."

Handoko mengambil ponselnya dari atas meja, kemudian memasukkannya ke saku celana. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari ruang kerja.

Wajahnya kembali memasang ekspresi seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang sedang mengusik pikirannya.

Namun jauh di dalam hati, Handoko tahu, pesan yang baru saja dia kirimkan kepada Mellisa bukan sekadar ajakan untuk bertemu.

Ada masa lalu yang ingin dia tanyakan. Ada jawaban yang ingin dia dengar. Dan mungkin, ada perasaan lama yang selama ini dia kira sudah benar-benar mati, tetapi ternyata hanya tertidur.

***

Setelah makan malam dan berbincang sebentar dengan Kania, Mellisa akhirnya masuk ke kamarnya. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas membuatnya ingin segera beristirahat.

Dia membersihkan wajah, berganti pakaian, lalu menggosok gigi. Setelah semuanya selesai, Mellisa duduk di tepi tempat tidur sambil meraih ponselnya yang sejak tadi diletakkan di atas meja.

Begitu layar ponsel menyala, beberapa notifikasi terlihat memenuhi layar. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenalnya.

Mellisa mengernyitkan kening. Sejak siang tadi memang ada beberapa kali telepon dari nomor asing yang terus masuk. Karena sedang banyak tamu dan pikirannya pun cukup sibuk, dia memilih mengabaikannya.

"Siapa, sih?" gumamnya pelan.

Rasa penasaran membuat Mellisa membuka aplikasi obrolan. Dan di sana, dia menemukan satu pesan baru dari nomor yang sama.

Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. Mellisa membuka pesan tersebut.

["Assalamualaikum, Mel. Ini Mas Handoko. Kalau besok ada waktu luang, kita ketemu di Kafe Biru, Jln. Kenanga 25, jam makan siang."]

Mellisa terdiam. Matanya kembali membaca pesan itu dari awal, seolah ingin memastikan bahwa dia tidak salah melihat.

Handoko.

Nomor yang sejak siang tadi berkali-kali meneleponnya ternyata adalah Handoko—lelaki yang pernah begitu dekat dengannya, lelaki yang pernah mengisi sebagian besar hari-harinya semasa muda, sebelum akhirnya mereka memilih jalan masing-masing.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat kenangan yang selama bertahun-tahun dia simpan kembali bergerak perlahan di dalam pikirannya.

Mellisa menarik napas panjang. Dia meletakkan ponsel di pangkuannya, tetapi beberapa detik kemudian kembali mengambilnya. Pesan itu masih terpampang di layar.

Dia bingung. Haruskah dia membalas dan mengiyakan ajakan Handoko? Atau sebaiknya dia menolak?

Mellisa tahu, pertemuan mereka tadi bukan pertemuan biasa. Apalagi sekarang Handoko secara khusus mengajaknya bertemu. Pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Namun justru itulah yang membuat hatinya semakin ragu. Apa yang akan mereka bicarakan nanti? Tentang masa lalu? Tentang pertemuan mereka hari ini? Atau mungkin tentang sesuatu yang selama ini belum pernah benar-benar mereka selesaikan?

Mellisa mengusap wajahnya pelan. Ada bagian dari dirinya yang ingin tahu apa maksud Handoko. Tetapi ada pula bagian lain yang mengingatkannya bahwa mereka kini sudah memiliki kehidupan masing-masing.

Dia menatap kembali nama yang tertera di layar ponselnya.

Handoko. Nama yang dulu begitu mudah membuatnya tersenyum, tetapi kini justru mampu membuat dadanya terasa sesak.

Jari Mellisa sudah berada di atas kolom balasan. Dia sempat mengetik beberapa kata, kemudian menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapusnya kembali.

Pada akhirnya, layar ponsel itu kembali kosong.

Mellisa menghela napas panjang.

Dia benar-benar tidak tahu harus memilih apa—membuka kembali pintu masa lalu, atau membiarkannya tetap tertutup rapat.

"Kalau aku tidak mengindahkannya, pasti Mas Handoko akan terus-terusan meneleponnya.

Setelah berpikir berulang kali malam itu, akhirnya Mellisa memutuskan untuk menjawab pesan Handoko.

**Iya.**

Bukan karena dia tidak ragu. Justru sebaliknya, ada begitu banyak keraguan yang memenuhi pikirannya. Namun Mellisa berpikir, jika hari itu dia menolak ajakan Handoko, mungkin permintaan untuk bertemu akan kembali datang di lain waktu. Dan semakin dia menghindarinya, semakin besar pula kemungkinan masa lalu itu terus mengusik pikirannya.

Mungkin lebih baik mereka bertemu sekali.

Membicarakan apa yang memang perlu dibicarakan.

Setelah itu, semuanya bisa kembali pada tempatnya. Begitulah yang berusaha diyakinkan Mellisa kepada dirinya sendiri.

Namun ketika siang itu tiba, keyakinan tersebut perlahan goyah. Saat jam istirahat makan siang, Mellisa keluar dari tempat kerjanya dan masuk ke dalam mobil. Tangannya sempat terdiam di atas kemudi beberapa saat. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya menyalakan mesin. Tujuannya hanya satu, Kafe Biru, Jalan Kenanga.

Sepanjang perjalanan, perasaan Mellisa terasa tidak menentu. Tangannya memang tetap mengendalikan kemudi, matanya memperhatikan jalan di depan, tetapi pikirannya terus melayang ke mana-mana.

Sesekali dia menarik napas panjang. "Ya Allah..." gumamnya lirih.

Dia tidak tahu bagaimana pertemuan itu akan berlangsung. Dia juga tidak tahu apa yang akan dikatakan Handoko nanti. Yang paling membuatnya gugup justru karena dia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika kembali duduk berhadapan dengan lelaki yang pernah begitu dekat dengannya.

Kenangan-kenangan lama beberapa kali muncul tanpa diundang. Mellisa menggeleng kecil, berusaha mengusir semuanya.

"Sudahlah, Mel. Kamu hanya mau bertemu dan berbicara," bisiknya kepada diri sendiri.

Namun semakin dekat dengan Jalan Kenanga, detak jantungnya justru semakin terasa. Ketika akhirnya papan nama jalan itu terlihat, Mellisa spontan memperlambat laju mobilnya. Dadanya berdebar.

Dia kembali menarik napas dalam-dalam.

"Ya Allah, lancarkanlah semuanya!"

Beberapa menit kemudian, Kafe Biru terlihat di depan matanya. Mellisa memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk. Setelah mesin mobil dimatikan, dia tidak langsung turun. Dia hanya duduk diam di balik kemudi, menatap bangunan kafe tersebut melalui kaca depan.

Tempat itu sebenarnya biasa saja. Namun entah mengapa, hari ini tempat itu terasa begitu berbeda. Mellisa menggenggam ponselnya erat-erat. Kemudian dia memejamkan mata. "Ya Allah..." ucapnya pelan.

Dia menarik napas panjang, lalu berdoa dalam hati.

"Ya Allah, lancarkan pertemuan ini. Jangan biarkan aku melakukan sesuatu yang salah. Berikan aku ketenangan. Semoga semuanya berjalan dengan baik dan setelah ini tidak ada lagi sesuatu yang perlu aku khawatirkan!"

Beberapa saat dia tetap terdiam. Dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi tidak juga beraturan. Akhirnya, Mellisa membuka mata. "Insyaallah semuanya baik-baik saja."

Dia meraih tasnya, membuka pintu mobil, lalu turun.

Langkahnya menuju pintu Kafe Biru terasa sedikit berat. Setiap langkah seolah membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Sebelum membuka pintu, Mellisa kembali berdoa dalam hati. "Bismillah... semoga semuanya berjalan dengan lancar!"

Kemudian dia melangkah masuk. Dan di tempat itulah, setelah bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan masing-masing, Mellisa akan kembali duduk berhadapan dengan Handoko—lelaki yang pernah menjadi bagian penting dari masa mudanya, tetapi kini hanya tersisa sebagai kenangan yang selama ini berusaha dia simpan jauh di dalam hati.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!