"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"
Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.
"Menunggumu? Hmmph!
"Kau tidak pantas!"
Kalimat itu menghantam arena seperti petir.
"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.
"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"
"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?
"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"
"Dasar sampah!"
Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tiga Hari, Dua Tingkat
"Chen'er, sejak kapan kau mengenal Xiaoxiao?"
Xiao Qingqing menatap Feng Wuchen dengan senyum yang terlalu penuh arti.
"Kenapa tidak pernah cerita pada Ibu?"
Feng Wuchen justru terlihat bingung.
Ia menoleh kepada Ling Xiaoxiao.
"Memangnya kita pernah bertemu?"
Aula utama langsung hening.
Ling Xiaoxiao tersenyum manis.
"Belum pernah."
Xiao Qingqing berkedip.
"Belum pernah?"
Feng Zhengxiong ikut menatap gadis itu dengan heran.
"Kalau begitu, bagaimana kau bisa datang jauh-jauh dari Benua Utama hanya untuk mencari Chen'er?"
Ling Xiaoxiao tetap tersenyum.
"Aku hanya ingin berteman dengan Kakak Feng."
Feng Wuchen menahan keinginan untuk menghela napas.
Datang dari Benua Utama.
Menempuh jarak yang sangat jauh.
Hanya untuk berteman?
Alasan seperti itu bahkan anak kecil pun mungkin tidak percaya.
Namun Feng Wuchen tidak menemukan sedikit pun niat jahat dari mata Ling Xiaoxiao.
Justru sebaliknya.
Tatapan gadis itu terlalu tulus.
"Dia menyembunyikan kekuatannya."
Feng Wuchen memperhatikannya diam-diam.
Usianya bahkan terlihat sedikit lebih muda darinya, tetapi kultivasinya sudah mencapai Tingkat Enam Alam Pemurnian Qi.
Bakat seperti itu tidak mungkin lahir dari keluarga biasa.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Feng Wuchen.
Ling Xiaoxiao sedikit terkejut.
"Dan apa tujuanmu datang ke Keluarga Feng?"
Senyum di wajah gadis itu perlahan menghilang.
"Kakak Feng, aku tidak berniat mencelakaimu."
"Aku hanya belum bisa menjelaskan semuanya sekarang."
Ia menatap Feng Wuchen dengan penuh harap.
"Bisakah kau memberiku sedikit waktu?"
Feng Wuchen diam cukup lama.
Ia tidak melihat kebohongan.
Akhirnya ia mengangguk.
"Baik."
Wajah Ling Xiaoxiao langsung cerah.
"Terima kasih, Kakak Feng!"
Xiao Qingqing yang sejak tadi mendengarkan malah semakin senang.
"Bagus. Kalau begitu Xiaoxiao tinggal di sini dulu."
"Ibu—"
"Sudah."
Xiao Qingqing langsung memotong.
"Chen'er, siapkan kamar untuk Xiaoxiao."
Feng Wuchen hanya bisa menurut.
Saat berbalik, Ling Xiaoxiao langsung menyusul di sampingnya.
Bahkan tanpa ragu, gadis itu menggandeng lengannya.
Feng Wuchen menatap tangan tersebut.
Ling Xiaoxiao justru tersenyum seolah itu hal paling wajar di dunia.
Di belakang mereka, Xiao Qingqing hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Setelah keduanya pergi, Feng Zhengxiong berbisik,
"Istriku, bukankah kau terlalu cepat mempercayainya?"
Xiao Qingqing melirik suaminya.
"Gadis itu berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun, tetapi sudah berada di Tingkat Enam Alam Pemurnian Qi."
"Kalau kekuatan di belakangnya berniat mencelakai Keluarga Feng, apakah kita masih sempat duduk santai di sini?"
Feng Zhengxiong terdiam.
Feng Qianyang ikut mengangguk.
"Masuk akal."
"Dan gadis itu jelas sangat memperhatikan Wuchen."
Xiao Qingqing tersenyum puas.
"Pokoknya aku suka Xiaoxiao."
"Jauh lebih baik daripada Mo Ling'er."
Feng Zhengxiong hanya bisa tersenyum pahit.
Dua hari berikutnya, Feng Wuchen hampir tidak keluar kamar.
Ia makan seperlunya.
Sisanya digunakan untuk berkultivasi.
Seni Dewa Naga Tertinggi terus berputar tanpa henti, sementara Cairan Spiritual Tujuh Warna dikonsumsi botol demi botol.
Kecepatan kultivasinya meningkat dengan mengerikan.
Pada hari ketiga—
Boom!
Aura di dalam kamar tiba-tiba melonjak.
Feng Wuchen membuka mata.
"Tingkat Enam."
Sudut bibirnya terangkat.
Tiga hari.
Dua tingkat.
Jika kabar ini tersebar, mungkin tidak ada seorang pun yang akan mempercayainya.
Feng Wuchen mengepalkan tangan.
Kekuatan di tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding tiga hari lalu.
"Dengan kecepatan ini..."
Ia menatap keluar jendela.
"Satu bulan cukup untuk mencapai Tingkat Sembilan."
Yang Tiansen sekarang berada di puncak Tingkat Delapan Alam Tempa Tubuh.
Dengan dukungan penuh Keluarga Yang, besar kemungkinan ia akan menembus Alam Pemurnian Qi sebelum pertarungan mereka.
Namun Feng Wuchen sama sekali tidak khawatir.
Ia malah tersenyum dingin.
"Alam Pemurnian Qi sekalipun, belum tentu cukup."
Saat hendak melanjutkan kultivasi, ia menemukan botol Cairan Spiritual Tujuh Warna terakhir sudah kosong.
"Sudah habis?"
Feng Wuchen menggeleng.
Kecepatan konsumsinya memang terlalu mengerikan.
Ia akhirnya bangkit dan keluar kamar.
"Kakak Feng!"
Suara ceria langsung terdengar.
Feng Wuchen bahkan belum sempat berjalan beberapa langkah ketika Ling Xiaoxiao sudah berlari menghampiri.
Seperti biasa, gadis itu langsung menggandeng lengannya.
"Kakak Feng mau pergi ke mana?"
"Mengambil Cairan Spiritual."
"Aku ikut."
Feng Wuchen menatapnya sebentar.
Hari ini ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi bisa merasakan tingkat kultivasi Ling Xiaoxiao.
Bahkan sedikit pun.
"Dia benar-benar menyembunyikan auranya."
Feng Wuchen semakin yakin.
Asal-usul gadis ini pasti jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
"Ayo."
Ling Xiaoxiao tersenyum lebar.
Itu saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Di halaman depan, mereka berpapasan dengan Feng Zhengxiong.
"Chen'er, mau ke mana?"
"Mengambil Cairan Spiritual."
Feng Zhengxiong mengangkat alis.
"Yang sepuluh botol sudah habis?"
"Sudah."
"Secepat itu?"
Feng Wuchen mengangguk santai.
"Ya. Kultivasiku juga sudah naik ke Tingkat Enam."
"Oh."
Feng Zhengxiong mengangguk.
"Bagus kalau—"
Ia mendadak berhenti.
Feng Wuchen dan Ling Xiaoxiao sudah berjalan keluar gerbang.
Feng Zhengxiong perlahan menoleh.
"Apa yang baru saja dia bilang?"
Tidak ada yang menjawab.
"Tingkat Enam?"
Matanya membesar.
"Baru tiga hari!"
Ia berdiri membeku beberapa saat.
Kemudian wajahnya berubah total.
"TIGA HARI NAIK DUA TINGKAT?!"
Kehadiran Feng Wuchen di jalan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Namun kehadiran Ling Xiaoxiao di sampingnya membuat hampir seluruh kepala menoleh.
"Gadis siapa itu?"
"Cantik sekali..."
"Dia bersama Feng Wuchen?"
"Baru saja putus dari Mo Ling'er, sekarang sudah mendapat gadis yang lebih cantik?"
Bisikan terdengar di sepanjang jalan.
Beberapa pria muda bahkan menatap Feng Wuchen dengan penuh rasa iri.
Ling Xiaoxiao mulai merasa tidak nyaman.
"Kakak Feng, mereka semua melihat kita."
"Biarkan."
Feng Wuchen berjalan santai.
Ia sudah terlalu sering menjadi bahan pembicaraan.
Namun beberapa langkah kemudian, dirinya tiba-tiba berhenti.
Ada tatapan penuh permusuhan dari seberang jalan.
Seorang pemuda berdiri di sana dengan wajah muram.
"Yang Xuan."
Feng Wuchen langsung mengenalinya.
Kakak Yang Bufan.
Yang Xuan berjalan mendekat.
"Feng Wuchen."
Tatapannya jatuh pada kaki Feng Wuchen.
"Kau mematahkan lengan adikku."
"Hari ini, aku akan mematahkan kedua kakimu."
Orang-orang di sekitar segera mundur.
Yang Xuan berada di Tingkat Tujuh Alam Tempa Tubuh.
Sebelumnya, perbedaan seperti itu mungkin cukup untuk membuat Feng Wuchen berada dalam bahaya.
Namun sekarang—
Feng Wuchen tersenyum.
"Kau?"
Nada suaranya sangat tenang.
"Aku khawatir kau tidak punya kemampuan itu."
Wajah Yang Xuan langsung memerah.
"Jangan kira setelah mengalahkan Yang Bufan kau bisa bertindak sesuka hati!"
Aura Tingkat Tujuh Alam Tempa Tubuh meledak dari tubuhnya.
"Mampus kau!"
Yang Xuan menerjang.
Orang-orang di jalan langsung berhamburan.
Ling Xiaoxiao berdiri di belakang Feng Wuchen tanpa sedikit pun rasa khawatir.
Feng Wuchen juga tidak mundur.
Ia hanya mengepalkan tangan.
Tingkat Enam melawan Tingkat Tujuh.
Jika ini terjadi tiga hari lalu, mungkin ia masih harus berhati-hati.
Sekarang?
Feng Wuchen menatap Yang Xuan yang semakin dekat.
Sudut bibirnya terangkat dingin.
"Kalau begitu..."
"Kemarilah."
...----------------...
Bersambung....