Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 34
Dua hari sebelum penyergapan di ruang kerja Bisma...
Malam itu, usai Arsen keluar dari kamar VVIP 601 dan mendapati kenyataan bahwa Tsania mendengar seluruh penyesalannya, langkah kakinya tidak lantas membawanya pulang ke penthouse mewah miliknya. Arsen berdiri mematung di lorong rumah sakit yang sepi, menatap pendar lampu neon yang dingin.
Aura dendam yang menyelimuti dadanya mendadak menguap, berganti menjadi kewaspadaan yang tajam. Arsen menyandarkan punggungnya ke dinding, merogoh ponsel terenkripsi dari saku jasnya.
Papaku bukan orang bodoh, batin Arsen. Bisma Pratama tidak akan pernah membiarkan pertunangan ini gagal. Jika aku bergerak dengan cara biasa, Tsania yang akan jadi korbannya.
Tanpa membuang waktu, Arsen mengetik satu pesan singkat kepada Danu: Kumpulkan tim. Temui aku di studio arsitektur Raihan dalam tiga puluh menit. Jangan gunakan mobil kantor.
Pukul satu dini hari, studio arsitektur milik Raihan yang terletak di kawasan Jakarta Selatan tampak gelap gulita dari luar. Namun di ruang rapat lantai dua, pendar dari layar monitor membiaskan cahaya redup.
Raihan menyilangkan dada di balik mejanya, menatap Arsen yang duduk di hadapannya dengan wajah kaku dan lingkaran hitam di bawah mata. Di sebelah Arsen, Danu baru saja meletakkan map tebal berisi berkas-berkas audit.
"Kamu gila, Arsen," cetus Raihan tanpa basa-basi, suaranya rendah namun penuh intrik.
"Kamu mau menyuruhku ikut dalam aksi nekatmu melawan Bisma Pratama? Tsania hampir mati karena trauma akibat ulah keluargamu!"
"Justru karena itu aku di sini, Raihan," potong Arsen cepat, suaranya tenang namun sarat akan kepasrahan dan ketegasan.
"Papaku memata-matai setiap gerak-gerikku. Dia tahu aku menyewa pengawal independen, dan dia tahu aku menyusup ke kamar Tsania. Kalau aku menggunakan rencana awal membuka dokumen di pertunangan, Papaku akan mengeksekusi langkah antisipasi. Dia akan menculik Tsania atau melenyapkan bukti itu sebelum aku sempat naik ke podium."
Danu mengerutkan dahi, memajukan tubuhnya. "Maksud Pak Arsen, kita harus membuat decoy umpan?"
"Tepat," tegas Arsen, matanya menyala dalam kegelapan ruangan.
"Danu, besok pagi kamu harus berpura-pura membawa dokumen audit asli dan flashdisk ke lokasi penyimpanan rahasia. Buat seolah-olah kamu sangat ceroboh hingga mata-mata Papaku bisa mencium keberadaan dokumen itu."
"Pak Bisma pasti akan menyuruh anak buahnya merebut dokumen itu dan menyembunyikan saya," sahut Danu, mulai menangkap arah alur berpikir atasannya.
"Biarkan mereka merebutnya," ujar Arsen seraya tersenyum tipis, sebuah senyum culas yang ia warisi dari ayahnya sendiri.
"Dokumen yang kamu bawa adalah dokumen palsu yang sudah dirancang agar terlihat sangat otentik. Biarkan Papaku merasa dia sudah menang dan mengontrol penuh permainan ini."
Raihan menatap Arsen dengan alis bertaut. "Lalu bagaimana dengan keselamatan Tsania? Kalau Bisma merasa sudah menang, dia tetap bisa menggunakan Tsania sebagai jaminan untuk memaksamu menikah dengan Aurelia."
Arsen menoleh tepat ke arah Raihan, menatap pria yang selama ini menjadi pelindung Tsania itu dengan sorot mata penuh permohonan tulus.
"Di sinilah aku membutuhkan bantuanmu, Raihan," tutur Arsen lirih.
"Papaku pasti akan mengincar Tsania di rumah sakit menjelang hari Sabtu. Aku ingin kamu membiarkan orang-orang Papaku membawanya."
"Apa?!" Raihan bangkit dari kursinya, memukul meja kayu hingga bersuara keras.
"Kamu mau membiarkan Tsania diculik oleh iblis itu?! Kamu sudah tidak waras, Arsen!"
"Dengarkan aku dulu, Raihan!" gertak Arsen, menahan bahu Raihan agar kembali tenang.
"Kalau Tsania disembunyikan di lokasi asing, kita akan kehilangan jejaknya. Tapi kalau Papaku bermaksud mengancamku, dia pasti akan membawa Tsania langsung ke ruang kerja pribadinya di kediaman Pratama, tempat yang menurutnya paling aman dan tidak tersentuh hukum."
Arsen merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah jam tangan hitam buatan Swiss bertali kulit yang elegan. Ia membukanya, memperlihatkan bagian dalam tali jam yang telah dimodifikasi dengan papan sirkuit mikro canggih.
"Aku sudah menghubungi unit kejaksaan agung dan penyidik kepolisian yang memegang kasus pencucian uang tingkat tinggi," jelas Arsen, mengetuk permukaan jam tangan itu.
"Jam tangan ini dilengkapi micro transmitter, mikrofon audio frekuensi tinggi, dan GPS pelacak real time. Begitu aku melangkah masuk ke rumah Papaku pada Sabtu pagi, sinyal ini akan langsung mengaktifkan perekaman otomatis ke server kepolisian."
Raihan tertegun. Ia memandangi jam tangan tersebut, lalu menatap wajah Arsen yang memancarkan keteguhan luar biasa.
"Kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri, Arsen," gumam Raihan pelan.
"Kalau Bisma tahu jam tangan itu alat perekam, dia bisa menem-bakmu di tempat sebelum polisi tiba."
"Aku tidak peduli pada nyawaku, Raihan," sahut Arsen tanpa keraguan sedikit pun.
"Yang terpenting adalah Papaku mengakui secara langsung di depan rekaman bahwa dialah yang memerintahkan penganiayaan pada Ayah Tsania, serta mengancam nyawa Tsania saat itu juga. Pengakuan langsung itu adalah bukti hukum mutlak yang tidak akan bisa dibantah oleh pengacara mahal manapun di negeri ini."
Danu menelan ludah, terperangah oleh skala risiko yang dirancang atasannya. "Lalu tugas Pak Raihan?"
"Raihan akan bersiap di luar gerbang kediaman Pratama bersama tim polisi bersenjata lengkap," pinta Arsen, menatap Raihan penuh kepasrahan.
"Saat kamu mendengar dari saluran siaran langsung bahwa Papaku mulai mengancam dan mengeluarkan sen-ja-tanya, dobrak pintu itu dan selamatkan Tsania."
Keheningan tebal menyelimuti ruang rapat studio itu selama beberapa menit. Raihan menatap Arsen lama, mencari sisa-sisa keangkuhan CEO yang dulu sangat ia benci. Namun yang ia temukan kini hanyalah seorang pria yang rela menghancurkan dirinya sendiri, mempertaruhkan nyawa dan nama besarnya, demi membebaskan wanita yang dicintainya dari belenggu masa lalu.
Raihan menghembuskan napas panjang, lalu mengulurkan tangannya menyeberangi meja.
"Jangan sampai kamu ma-ti sebelum sempat meminta maaf secara resmi pada Tsania di depan publik, Arsen," ujar Raihan tegas, menerima rencana gila tersebut.
Arsen membalas genggaman tangan Raihan dengan erat. "Aku tidak akan ma-ti, Raihan. Aku punya janji yang harus kutepati di kafe itu."
Kembali ke masa kini, di lorong utama kediaman Pratama...
Penyidik kepolisian menuntun Bisma Pratama yang sudah terikat borgol melewati pintu depan. Di luar, puluhan armada media yang telah mendapatkan sinyal siaran langsung dari pemancar kepolisian sudah berkumpul di balik pagar tinggi, memancarkan kilatan lampu kilat kamera tanpa henti.
Danu yang baru saja dibebaskan oleh tim polisi dari gudang kantor melangkah mendekati Arsen dan Tsania yang sedang berjalan berdampingan di lorong.
"Semua sesuai dengan taktik malam itu, Pak Arsen," panggil Danu dengan senyum lega yang amat sangat.
"Konferensi pers di Grand Ballroom tetap dijadwalkan jam sembilan malam nanti. Seluruh barang bukti penganiayaan tiga tahun lalu dan aliran dana haram keluarga Aurelia sudah berada di tangan kejaksaan."
Arsen mengangguk pelan, merangkul bahu Tsania yang masih bergetar tipis. "Terima kasih, Danu. Kamu sudah bekerja sangat keras."
Tsania mendongak, menatap profil wajah Arsen yang kini tampak rileks meski dihiasi luka memar. Rasa takjub membuani dadanya saat menyadari betapa rumit dan berbahaya skenario yang telah disusun Arsen secara diam-diam demi melindunginya.
"Kamu... merencanakan semua ini dari malam saat kamu berada di kamarku?" bisik Tsania penuh keharuan.
Arsen menghentikan langkahnya di halaman depan yang sejuk oleh angin siang. Ia berbalik menghadapi Tsania, menggenggam kedua tangan wanita itu dan menatapnya dengan binar cinta yang teramat murni.
"Aku tidak akan pernah membiarkan iblis itu menyakitimu lagi, Nia," tutur Arsen lembut, menyapu helai rambut halus di pipi Tsania.
"Mas sengaja mengambil risiko ini, agar kamu tidak perlu lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan."
Tsania menyunggingkan senyuman paling indah, menatap pria yang kini telah melepaskan seluruh keangkuhan demi dirinya.
"Terima kasih, Mas Arsen... Terima kasih sudah kembali menjadi priaku," bisik Tsania tulus, menyandarkan kepalanya di dada tegap Arsen, menyambut awal kehidupan baru mereka yang bersih dari dendam dan kebohongan.
👍👍👍👍
selamat mendekam d penjara pak Bisma