Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal usul nama dan Panggil aku Ely
"Ely... Sa... Thesa... Bulhkin... APA?!" seru ketiganya kompak dengan wajah blank.
Sang Elf langsung menghentakkan kakinya kesal. Air matanya mendadak surut, digantikan oleh kepulan asap kemarahan di kepalanya.
"Kalian tidak punya sopan! Nama panjangku adalah bukti darah bangsawan murni yang suci!" bentaknya dengan wajah memerah.
Ia melipat tangan di dada seraya membuang muka egois.
"Bagi makhluk rendahan seperti kalian, wajib memanggil nama lengkap ku tanpa kurang satu huruf pun: Elysia Valeriana Thessalia von Blumenkron Frederica de la Rochefoucault della Vega!"
"Hah? Mana mungkin aku mau repot-repot menghafal nama sepanjang itu," cibir Leo malas. "Yang penting dari nama itu apa yang ada di dalamnya?"
"Sudah kubilang, nama panjangku adalah bukti darah bangsawan murni yang suci!" sahut sang Elf bersikeras, masih menolak untuk mengalah.
Tepat saat perdebatan nama itu memanas, masakan Cheeta akhirnya matang. Dengan cekatan, Cheeta menghampiri lingkaran api unggun dan mulai membagikan ransum makan malam kepada semua orang.
"Sekarang kita makan dulu. Malam ini masih panjang kalau cuma untuk menentukan namanya," potong Cheeta menengahi sambil membagikan wadah makanan.
"Hah?! Kalian mau mengubah namaku?! Biar ku perjelas, ya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" protes sang Elf ketus, meski tangannya tetap refleks menerima makanan dari Cheeta.
Setelah wadah makanan berpindah tangan, sang Elf hanya diam memandangi makanan tersebut dengan tatapan ragu.
Menariknya, Elf ini memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh kakaknya di masa lalu. Alih-alih merasa curiga, sang adik diam-diam justru sangat menyukai aromanya dan merasa sangat tergoda.
"Kenapa? Kamu pikir makanannya beracun? Lihat mereka tuh," ucap Cheeta ketus sambil menunjuk ke arah Leo dan Rheno yang sudah makan dengan sangat lahap tanpa beban di seberang api unggun.
Cheeta kemudian mendekatkan wajahnya dengan tatapan tajam. "Jika aku memang harus membunuhmu, aku jauh lebih memilih untuk menggunakan belati kembarku." Seketika itu juga, aura barbar dari seorang pemburu jalanan keluar dari tubuh Cheeta.
Mendengar ucapan dingin itu, Leo dan Rheno sontak merinding ngeri mengingat ke galakan Cheeta. Mereka berdua kompak menoleh ke arah sang Elf, memberikan kode mata yang sangat intens seolah-olah berteriak: 'Cepat makan sekarang juga kalau kamu masih mau hidup!'
Diancam secara tidak langsung oleh atmosfer mencekam itu, sang Elf langsung panik. "Terima kasih..." cicitnya takut-takut, lalu langsung melahap satu sendok penuh sup hijau keunguan itu ke dalam mulutnya.
Namun, kejadian di luar dugaan kembali terjadi. Di masa lalu, hidangan misterius buatan Cheeta ini pernah menjadi siksaan hidup dan mati bagi Altur sang Kakak namun berbeda dengan adiknya.
Sang Elf justru meneteskan air mata karena rasa haru yang luar biasa setelah mencicipi makanan selezat itu. Gengsi bangsawannya runtuh seketika saat lidah Elf-nya mendadak cocok dengan ramuan Cheeta.
Tanpa memperdulikan penampilannya lagi, sang Elf langsung masuk ke mode rakus dan melahap makanannya dengan sangat cepat, sementara Cheeta tersenyum puas penuh kemenangan melihat hasil karyanya dihargai.
Ternyata, di belahan dunia manapun, urusan selera makanan memang tidak bisa dipaksakan secara logis. Bahkan, ada kalanya seorang pecinta kopi hitam tanpa gula pun akan merasa tersiksa setengah mati walau hanya dipaksa meminum kopi dengan sedikit gula saja.
Setelah mereka menghabiskan makan malam, perut yang kenyang membuat atmosfer di sekitar api unggun menjadi begitu santai. Leo yang biasanya ugal-ugalan tiba-tiba terbawa suasana hangatnya malam. Matanya menatap kosong ke arah lidah api yang menari, sebelum akhirnya ia mulai membuka suara.
"Nama, ya..." gumam Leo pelan. "Dulu kami tidak punya nama sama sekali. Dan dari kami bertiga, akulah yang paling terakhir memiliki nama."
Elf, Cheeta, dan Rheno mendadak diam. Alih-alih mengabaikannya, ketiganya justru setia memasang telinga, hanyut ke dalam awal mula kisah masa lalu yang tak pernah Leo umbar.
"Aku sendiri tidak tahu asal-usulku dari mana. Ingatan tertuaku hanya sampai di sebuah gubuk terbengkalai. Orang-orang yang bersamaku menyuruhku menunggu di sana, tapi mereka... tidak pernah datang kembali." Leo memainkan bara api dengan ranting pohon di tangannya, lalu melanjutkan cerita dengan nada santai, seolah kepedihan itu sudah lama ia telan habis.
"Sampai akhirnya aku bertemu dengan Rheno. Dia juga sebatang kara sama sepertiku. Sejak hari itu, kehidupan mencuri untuk bertahan hidup pun dimulai.
Awalnya semua aman-aman saja. Panggilan 'Woy' dan 'Hey' sudah lebih dari cukup untuk kami berdua. Terutama Rheno, sejak kecil anak ini memang sudah malas bicara," lanjut Leo sambil terkekeh kecil.
Rheno yang disindir hanya terus menatap api unggun tanpa berniat membantah, sementara Elf mulai mendengarkan dengan tatapan yang melunak.
"Masalah baru muncul ketika aku dan Rheno tidak sengaja bertemu seorang gadis kecil yang sedang menangis tersedu-sedu di pinggir jalan kotor.
Karena iba melihat betapa lemahnya dia, dan merasa kami semua senasib, akhirnya aku mengajaknya bergabung. Cheeta yang dulu... belum barbar dan seseram sekarang," ucap Leo tersenyum tulus.
"Ketika Cheeta mulai tumbuh kuat dan ikut dalam operasi senyap, aku selalu kerepotan saat memberikan kode atau perintah dalam kegelapan. Komunikasi kami berantakan dan sering salah sasaran.
Niat hati berteriak 'Woy' untuk menyuruh Rheno maju, malah Cheeta yang melesat duluan," kenang Leo sambil tertawa kecil.
"Akhirnya, aku memutuskan untuk memberi mereka nama. Aku menamainya Cheeta karena pergerakannya sangat cepat, bahkan lebih cepat dariku. Kecepatannya selalu mengingatkanku pada hewan cheetah.
Sedangkan Rheno, dia itu tipe yang diam, tapi sekalinya mengamuk, tenaganya sangat kuat seperti badak."
Mendengar penjelasan itu, Elf melirik ke arah Cheeta dan Rheno, mulai memahami dari mana asal-usul nama unik mereka.
"Berbulan-bulan lamanya kami menggunakan nama itu. Aku sangat senang karena mereka menyukai nama pemberianku.
Sampai suatu hari, aku baru tersadar... akulah satu-satunya orang di kelompok ini yang tidak punya nama," ucap Leo, suaranya sedikit merendah.
"Aku tidak sadar kalau diam-diam mereka berdua menyadari kesedihanku waktu itu. Entah bagaimana caranya, mereka berdua mulai nekat mencuri buku-buku aneh dari rumah bangsawan.
Sampai suatu hari, mereka mendatangi gubuk kami, menyodorkan sebuah buku usang bergambar binatang dengan judul 'Madagaskar' atau apalah itu, aku agak lupa mengejanya. Mereka berdua menunjuk gambar seekor singa di sampulnya lalu berkata: 'Leo. Namamu Leo. Apakah kamu suka?'"
Leo tersenyum lebar. "Tentu saja aku sangat suka! Aku memberikan mereka nama hanya berdasarkan fungsi dan karakteristik fisik. Tapi mereka jauh lebih pintar. Mereka belajar membaca demi memberiku sebuah hadiah yang paling berharga: sebuah nama panggilan."
Leo menghembuskan napas lega, menutup kisahnya dengan pandangan hangat ke arah api unggun. "Nama kami tidak panjang, juga tidak agung. Tapi nama ini murni, karena begitulah berharganya aku di mata mereka, dan begitu pula mereka di mataku."
Seketika Leo tersadar bahwa dirinya baru saja terhanyut oleh suasana malam. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
Namun, ketika menengok ke arah kanan dan kiri, Leo terkejut. Cheeta dan Rheno rupanya sudah memejamkan mata dan tertidur pulas. Kini, hanya tersisa sang Elf di seberang api unggun yang masih terjaga, menatapnya lekat-lekat dengan sepasang mata yang tampak berkaca-kaca.
"Apa?!" cetus Leo ketus, merasa risih ditatap seperti itu.
"T-tidak! Bukan apa-apa, kok!" jawab sang Elf cepat-cepat. Ia sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang kamu lihat dari aku?"
Sesaat setelah kalimat itu lolos dari bibirnya, sang Elf seketika tersadar bahwa ucapannya terdengar seolah-olah ia sedang berharap diberikan sebuah nama panggilan oleh Leo. Pipi sang putri Elf langsung memanas.
"M-maksudku, bukan seperti Cheeta dan Rheno, ya! Tapi bukan... k-kamu jangan salah paham! Aku tidak sudi meminta nama darimu! Intinya... intinya bukan begitu!" ucap sang Elf terbata-bata. Ia berusaha keras mengoreksi perkataannya, namun kalimatnya justru berakhir berantakan karena terlanjur panik.
"Bodoh," celetuk Leo santai melihat kepanikan di depannya.
"Hah?! Apa kata—"
Sebelum sang Elf sempat menyelesaikan amarahnya, Leo langsung memotong dengan nada lempeng.
"Kamu kan sudah diberikan nama, dan aku hanya bisa setuju. Bagian depan dari nama panjangmu itu adalah Elysia, atau Ely, yang artinya adalah surga.
Iya, aku setuju dengan arti itu. Bagiku, kamu mewakili semuanya; megah dan indah seperti berasal dari surga." Leo berucap ceplas-ceplos, kelewatan jujur tanpa memikirkan dampaknya.
BOOM! Seketika itu juga, wajah sang Elf langsung memerah padam sampai ke ujung-ujung telinganya yang lancip. Pertahanan gengsinya luluh lantak dalam satu kedipan mata akibat pujian maut yang terlampau polos dari sang pencopet.
"K-kalau begitu... kamu boleh memanggilku Ely," jawabnya dengan suara yang mendadak melembut. Di dalam benaknya, ia teringat bahwa seluruh anggota keluarga kerajaannya memang memanggilnya dengan nama itu. Dan berkat ucapan Leo barusan, Ely akhirnya menyadari bahwa dibalik nama panjang simbol status bangsawan, ada identitas yang indah.
Namun, hanya bertahan beberapa detik dalam mode anggun, Ely kembali panik sendiri saat menyadari apa yang baru saja ia katakan.
"I-iya! Bukan berarti aku suka dipanggil Ely olehmu, ya! Jangan salah paham! Dan j-juga... nama ini bukan spesial buat kamu saja! Cheeta dan Rheno juga boleh memanggilku begitu! Intinya... intinya bukan karena kamu! Titik!" ralat Ely dengan suara meninggi, sambil memalingkan wajahnya yang matang sempurna ke arah kegelapan hutan.
"Selamat malam, Ely," ucap Leo tanpa basa-basi. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke tanah dan ber bantal lengan, menganggap semua urusan perdebatan malam ini sudah selesai tanpa perlu ambil pusing.
Melihat Leo langsung tidur, Ely menggigit bibirnya pelan. Ia pun langsung meringkuk, memeluk lututnya di dekat kehangatan api unggun tanpa mengeluarkan kata lagi. Suasana kembali hening selama beberapa detik.
"Selamat malam..." Suara Ely terdengar agak merendah dan berbisik di antara desau angin malam, namun nadanya terdengar sangat jelas di telinga, "...Leo."
Bersambung