"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membaik
"Tante Sahara juga?" tanya Hamka yang sudah terlepas dari rambut Sahara
"Hihihi... Sahara pelindung Dimas" jawab Sahara cekikikan karena telah selesai mengobati Hamka.
"Ayo pulang Sahara, tugas kita sudah selesai di sini" ajak Hala
"Tapi Sahara mau di jemput Gandra"
"Aku di sini istriku" ucap Gandra yang sudah berdiri di samping Sahara
Astaghfirullah..." gumam Liam dan Hamka karena sosok Gandra adalah genderuwo dengan tinggi empat meter dan bulu bulunya hitam legam memenuhi seluruh tubuhnya
"Gandra jangan buat mereka takut" ucap Sahara kemudian Gandra merubah dirinya jadi seorang lelaki tampan
"Ayo pulang, kerajaan sepi kalau tidak ada kamu" ajak Gandra merangkul pinggang Sahara
"Tapi yang di dalam belum bangun" ucap Sahara
"Dia hanya tertidur, energinya habis terkuras karena mencoba melawan sosok pocong hitam yang merasuki tubuhnya" ucap Gandra
"Kamu sejak tadi di sini?" tanya Hala
"Aku datang saat Sahara memanggilku, sejak tadi aku di dalam rumah ini" jawab Gandra
"Dan kamu membiarkan anak ini melawan Dahlia sendirian?" tanya Hala serius
"Ayahnya dulu sempat ingin membawa Sahara pergi dariku, jadi aku sengaja tidak menolongnya, lagipula dia tidak akan mati semudah itu, dia punya energi yang kuat juga" jawab Gandra cuek
"Gandra nakal, tidak boleh seperti itu lagi, nanti Sahara hukum Gandra tidur di pohon" ucap Sahara
"Rumah kita kan memang di pohon sayang, maksudnya pintu masuknya"
"Hihihi.. Oh iya ya Sahara lupa"
"Kami pamit" ucap Hala dan Gandra menunduk sopan dan di balas semuanya dengan menunduk sopan juga.
"Terima kasih" ungkap Kalana, Hamka, Liam dan Karna yang ikut keluar untuk memberi tahu kalau Karman sudah siuman.
"Dadah semuanya" ucap Sahara lalu menghilang dari sana bersama yang lain.
"Iiiii... An!" Panggil suara yang begitu di kenali Liam memanggilnya di kegelapan malam.
"Iiii... An!" Panggilnya lagi mulai terlihat siluet Kenanga berjalan bersama Lintang dan Laily.
"Kalian kenapa ke sini?" Tanya Liam segera menghampiri ketiganya bahkan memeluk Kenanga yang langsung melompat ke gendongan Liam
"Kenanga terus menangis, awalnya gue tahan karena ada angin dingin terus berputar dari arah sungai, tapi pas gue lihat energi di kampung Mahoni sudah lebih sejuk dan tidak panas, gue berani bawa mereka ke sini" jawab Lintang yang bahkan di belakangnya di kawal pasukan tak bertuan yang langsung menghilang setelah Lintang di pastikan aman.
"Ayo masuk, di luar dingin" panggil Karna
Liam langsung merangkul Lintang yang menuntun Laily, Hamka di papah Karna dan Kalana kembali masuk ke tubuh Karna. Panca dan Prama sudah berada di ruang tamu bersama Karman.
"Aaa" Kenanga langsung turun dan menghampiri Karman
"Kamu ke sini nak? Maaf bapak masih lemah" ucap Karman mengusap rambut Kenanga
"Iii.. an" jawabnya
"Kenanga ingin menjenguk bapak dan menjemput Liam katanya" ucap Liam
"Bapak sudah baik baik saja, berterima kasih pada mereka yang sudah menolong bapak, mereka orang orang baik" jawab Karman
Kenanga beranjak untuk memeluk semua orang karena itu yang dia tahu sebagai ucapan terima kasih, tapi langsung ditarik Liam, dan di dekap Liam supaya tidak kemana mana.
"Cukup ucapkan terima kasih, tidak perlu memeluk mereka" ucap Liam dan Kenanga mengangguk.
"Kecuali padaku, kamu boleh memelukku kapanpun dan di manapun" bisik Liam
Kenanga yang senang langsung kembali memeluk Liam di depan semua orang yang menatap mereka dengan tatapan hangat.
"Dasar pasangan lem tikus" ledek Hamka
#######
"Makan yang banyak nak, ini pertama kali kamu mengunjungi rumah kami setelah menikah dengan Kenanga" ucap Warti yang sekarang jadi satu satunya istri utama Karman setelah Sumarni dan dua istri lainnya di habisi Karman karena berkhianat, hanya ibu Kenanga yang meninggal saat melahirkan saja yang tidak di habisi Karman. Untuk Midah dan Ikah, mereka tetap di sana tapi hanya sebagai istri ke dua dan ketiga Karman yang tidak di nikahi.
"Iya Bu, terima kasih, maaf jadi merepotkan karena semalam menginap di sini" jawab Liam
"Tidak apa apa, kami senang kalau kamu sering berkunjung kemari" jawab Karman yang saat ini masih butuh banyak istirahat.
Pagi itu para warga langsung berbondong bondong mendatangi rumah Karman karena mendengar kalau Karman sedang sakit karena ulah pocong hitam. Para warga Bahkan datang dengan membawa banyak umbi umbian hasil panen dan juga beras yang ada di rumah mereka agar bisa membantu Karman.
"Bapak jangan kemana mana dulu selama satu minggu ini, raga bapak ini masih belum pulih dan masih rentan di masuki banyak makhluk jahat" ucap Liam
"Bagaimana kalian bisa punya ilmu sekuat itu? Bapak saja harus berguru selama puluhan tahun dan memberikan tumbal pada Dahlia, meski tidak setiap tahun" tanya Karman
"Kami tidak punya ilmu apapun pak, apa yang kami miliki sekarang ini adalah murni pemberian dari yang Maha Kuasa" jawab Liam
"Kak Karna melihat banyak pasukan di belakang Lintang semalam, apa mereka adalah penunggu hutan pak Sagara?" tanya Karna
"Iya kak, katanya mereka itu pasukan tak bertuan yang dulu sempat tinggal di hutan bukit Mahoni" jawab Liam
"Pasukan itu katanya tidak pernah tunduk pada siapapun dan banyak di incar para manusia penganut ilmu hitam, tapi malah kalian yang mereka pilih" ungkap Karman
"Kenanga kamu sudah mulai belajar bicara nak?" tanya Karman
"I...aa" jawab Kenanga susah payah
"Bapak sempat bertanya pada NYI Kalia, katanya Kenanga bisa sembuh asal tetap tinggal di sana dan terus bersama kamu" ucap Karman
"Akhir akhir ini memang ada ucapan Kenanga yang bisa kami mengerti pak, kalau kami bingung biasanya kami akan bawa Kenanga ke depan pohon keramat, barulah dia bisa bicara dengan lancar" jawab Liam
"Jaga Kenanga, dia wadah yang banyak di incar para iblis, dia punya energi bersih dan murni, itu sebabnya Kenanga seperti bayi yang baru lahir, dia tidak pernah keluar dari dalam kamarnya kecuali ke sungai" ucap Karman
"Apa Kenanga juga tidak pernah tahu keluarga dari ibunya Mbah?" tanya Hamka
"Kenanga tahu, tapi mereka yang akan berkunjung ke sini, dengan alasan silaturahmi, di sana juga orang yang punya kekurangan secara fisik akan di anggap sebagai manusia tidak berguna, jadi kami sepakat menyembunyikan Kenanga di sini" jawab Karman