Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Para Praktisi

Kedua orang yang berhadapan dengan Nuri berbicara dalam bahasa yang sama dengannya, dan bukan hanya kata-katanya—di antara mereka juga mengalir pusaran kewaspadaan dan ketegangan yang sama.

Di mana aku berada? Apa yang hendak kulakukan di sini? Aku juga ingin tahu jawabannya... Nuri menenangkan dirinya, lalu mengulang dalam hati pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dua orang itu.

Yang paling membekas bukanlah kalimat-kalimat yang terucap, melainkan kebingungan, kewaspadaan, kepanikan, dan rasa takjub yang terpancar dari sepasang orang itu.

Dua orang pendatang telah terlempar ke dalam dunia kabut ini secara misterius. Sebagai perintisnya, Nuri sendiri merasa luar biasa bingung dan terkejut, apalagi pasangan yang terseret masuk sepenuhnya pasif ini.

Bagi mereka, peristiwa semacam ini mungkin sudah melampaui segala jangkauan akal sehat, bukan?

Barangkali, di dunia mereka, 'keajaiban' hanya hidup di dalam dongeng dan ocehan orang mabuk di kedai. Hingga hari ini, tidak seorang pun dari mereka pernah membayangkan dirinya benar-benar tenggelam di dalamnya.

Untuk sesaat, dua pilihan melintas di benak Nuri: Pertama, berpura-pura menjadi korban untuk menyembunyikan identitasnya yang sesungguhnya, demi memperoleh kepercayaan yang tidak sedikit; dengan begitu ia bisa bersikap menunggu dan melihat sambil mengambil keuntungan dari keadaan bila diperlukan. Kedua, mempertahankan citra misteriusnya di mata pasangan itu; dengan begitu ia bisa memengaruhi jalannya peristiwa sambil mengumpulkan informasi berharga dari mereka.

Tanpa sempat menimbang-nimbang dalam waktu lama, ia menangkap gagasan yang berkelebat itu dan segera memutuskan untuk mencoba pilihan kedua.

Manfaatkan keadaan kejiwaan orang lain untuk memperoleh keuntungan terbesar bagi dirimu!

Setelah beberapa saat hening di tengah kabut, Nuri tertawa kecil. Dengan nada yang rendah namun tidak berat, ia berbicara dengan tenang seolah sedang membalas salam perkenalan yang sopan. "Sebuah percobaan."

"Percobaan ... percobaan?" Putri Hana menatap sosok misterius yang terselubung kabut kelabu itu, dan satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah perasaan bahwa segala hal tampak absurd, lucu, menakutkan, sekaligus aneh.

Baru sesaat yang lalu ia berada di depan meja rias di dalam kamar tidurnya. Namun begitu ia menoleh, ia telah 'masuk' ke tempat yang dipenuhi kabut kelabu ini!

Sungguh mustahil!

Hana menarik napas, lalu memperlihatkan senyum yang sopan dan sempurna. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya, "Tuan, apakah percobaan itu sudah selesai? Bolehkah Tuan mengizinkan kami kembali?"

Laksamana Narin sebenarnya juga berniat menguji Nuri dengan cara yang serupa, tetapi pengalamannya yang kaya membuatnya lebih berwibawa. Ia menahan dorongan hatinya dan hanya mengambil peran sebagai pengamat yang diam.

Nuri memerhatikan si penanya. Menembus kabut yang berkepul-kepul, ia samar-samar dapat melihat siluet seorang gadis tinggi berambut pirang yang halus, meskipun wajahnya tidak terlihat jelas.

Ia tidak buru-buru menjawab pertanyaan gadis itu, melainkan menoleh ke arah lelaki di sebelahnya. Lelaki itu berambut biru tua yang berantakan, dengan perawakan tegap yang kokoh.

Nuri tiba-tiba menyadari sesuatu: bila kelak ia menjadi lebih kuat atau lebih memahami dunia berkabut ini, mungkin ia bisa menembus kabut itu dan membedakan wajah gadis serta lelaki tersebut.

Dalam keadaan seperti ini, merekalah para tamu, dan aku pemilik rumahnya!

Perubahan kecil itu membuat cara pandang Nuri terhadap seluruh peristiwa berubah total. Ia bukan lagi seorang pejalan yang tersesat di negeri asing, melainkan tuan rumah yang sedang menyambut dua orang asing di halamannya sendiri.

Setelah mengubah cara pandangnya, Nuri tertarik oleh detail yang semula terlewat.

Besar kemungkinan, bila kekuatanku bertambah, aku bisa menembus kabut dan melihat wajah si gadis dan si lelaki... Nuri memusatkan pikirannya.

Gadis dengan suara yang merdu itu dan lelaki yang dewasa serta tertutup itu sama-sama tampak tidak berwujud, ternoda oleh cahaya merah tua yang samar, bagaikan bayangan yang diproyeksikan oleh dua buah 'bintang' merah tua di seberang kabut kelabu.

Proyeksi ini ditautkan oleh hubungan antara cahaya merah tua dan dirinya, hubungan yang tak terlihat dan hanya bisa ia pegang sendiri.

Proyeksi itu akan lenyap bila hubungannya diputus, dan kedua orang itu akan kembali... Nuri mengangguk pelan, lalu menatap gadis berambut pirang itu sambil tertawa kecil. "Tentu. Bila kalian mengajukan permohonan secara resmi, kalian dapat kembali saat ini juga."

Setelah tidak mendapati niat buruk dari nadanya, Hana menghela napas lega. Ia percaya bahwa seorang pria terhormat yang mampu melakukan hal-hal seajaib ini pasti akan menepati janjinya.

Pikirannya sedikit tenang, dan anehnya ia tidak lagi terburu-buru meminta diri. Matanya yang hijau berkilau-kilau menoleh ke kiri dan ke kanan, menyala oleh keingintahuan.

Dengan nada yang penuh semangat dan sedikit gugup, ia berkata, "Ini pengalaman yang sungguh menakjubkan... Ya, aku selalu berharap sesuatu seperti ini terjadi. Maksudku, aku menyukai misteri dan keajaiban. Maksudku lagi, yang ingin kutanyakan adalah, Tuan, apa yang harus kulakukan agar aku bisa menjadi seorang Praktisi?"

Ia semakin gembira ketika berbicara, sampai-sampai ucapannya kian kacau. Mimpi yang tumbuh di dalam dirinya setelah mendengar kisah-kisah menegangkan dari para sesepuhnya barangkali telah melihat kemungkinan untuk menjadi nyata.

Dan dengan beberapa patah kata saja, ia telah melupakan segala ketakutan dan kengerian yang barusan ia rasakan.

Bagi seorang gadis yang tumbuh di balik tembok istana, 'Praktisi' selalu terdengar seperti sosok lawas yang hanya ada di dalam kisah para pengasuhnya. Namun kini, sosok lawas itu mungkin saja dapat menjadi kenyataan.

Pertanyaan yang bagus! Aku juga ingin tahu jawabannya! Nuri mengeluh dalam hati.

Ia mulai memikirkan jawaban yang tepat untuk mempertahankan citranya yang sulit ditebak.

Pada saat yang sama, ia merasa tidak pantas berbicara sambil berdiri. Bukankah seharusnya ia berada di dalam sebuah istana, duduk di ujung meja panjang, di atas kursi tinggi bersandaran misterius yang diukir dengan pola-pola kuno, sambil mengamati para tamunya dalam keheningan?

Begitu pikiran itu muncul, kabut kelabu di sekeliling mereka tiba-tiba berputar dan bergolak, mengejutkan Hana dan Narin.

Dalam sekejap, mereka melihat jajaran pilar batu yang menjulang tinggi di sekeliling mereka. Di atas kepala mereka terbentang kubah luas yang melingkupi semuanya.

Seluruh bangunan itu tampak megah, agung, dan menjulang, bagaikan istana para raksasa dalam legenda.

Tepat di bawah kubah tempat kabut kelabu berkumpul, muncul sebuah meja perunggu panjang yang diapit deretan kursi bersandaran tinggi di kedua sisinya, tersusun simetris. Punggung setiap kursi berkilau samar dalam cahaya merah tua, menggambar garis-garis rasi bintang yang aneh dan berbeda dari rasi yang lazim di dunia nyata.

Hana dan Narin duduk saling berhadapan, di sebelah kursi kehormatan.

Meja perunggu itu membentang di antara mereka seluas sebuah ruangan tempat berkumpulnya keluarga. Di ujung yang jauh, di balik kabut yang mengambang pelan, duduk sosok yang samar seperti bayangan senja.

Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dan tak kuasa menahan diri untuk bergumam, "Betapa menakjubkan..."

Memang menakjubkan... Nuri mengulurkan tangan kanannya dan mengelus tepi meja perunggu itu dengan tenang, sambil mempertahankan ekspresi yang tidak berubah.

Narin memeriksa sekelilingnya. Setelah beberapa saat hening, ia tiba-tiba membuka mulut dan menjawab pertanyaan Hana menggantikan posisi Nuri.

"Apakah kau warga Kerajaan Hwaryeong? Bila kau ingin menjadi seorang Praktisi, bergabunglah dengan Rumah Doa Batin, Rumah Mentari, atau Dewan Mata Air."

Ia melanjutkan, "Sebagian besar dari kita tidak akan pernah bertemu dengan seorang Praktisi sepanjang hidup. Hal ini membuat banyak rumah doa, bahkan sebagian pendeta di dalam rumah doa yang terbesar, mulai meragukan keberadaan mereka. Tetapi aku dapat memberitahumu dengan pasti: para Praktisi masih ada di istana, di pengadilan, dan di lembaga-lembaga penyidik perkara gaib. Mereka masih bertarung melawan bahaya-bahaya yang tumbuh dalam kegelapan, hanya saja jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan zaman-zaman terdahulu."

Para anggota kesatuan-kesatuan itu menjaga perbatasan dari makhluk-makhluk Zaman Kegelapan yang mengintai di bawah tanah, mencabut kutukan yang menempel pada barang-barang warisan, dan menyingkirkan benda-benda gaib yang mulai 'terbangun' di tengah masyarakat. Mereka mengerjakan semuanya dalam rahasia, dan rahasia itu jugalah yang membuat mereka tidak dikenal orang banyak.

Nuri mendengarkan dengan saksama, tetapi berusaha semampunya untuk tampak seperti anak kecil yang mendengarkan dongeng, seolah tidak terlalu mempedulikan kata-kata Narin.

Hana diam-diam mendengarkan Narin hingga selesai, lalu menghela napas. "Tuan, aku tahu semua yang Tuan katakan barusan. Bahkan aku tahu lebih dari itu, termasuk Garda Malam, kesatuan Panglima Pendisiplin, dan para pengawas mesin serta pelita. Tetapi aku tidak ingin kehilangan kebebasanku."

Narin tertawa kecil dengan suara yang rendah, lalu berkata dengan samar, "Kau tidak bisa menjadi seorang Praktisi tanpa pengorbanan. Bila kau tidak mau bergabung dengan rumah-rumah doa dan menerima tugas-tugas yang mereka berikan, kau hanya bisa mencari keluarga-keluarga kerajaan dan segelintir bangsawan yang sejarah keluarganya amat panjang sejak dahulu kala. Bila kau tidak mau menempuh jalan itu, kau bisa mengandalkan keberuntunganmu untuk mencari organisasi-organisasi gelap yang tersembunyi."

Hana mengembungkan pipinya tanpa sadar dan menoleh ke sana kemari dengan gugup. Setelah memastikan bahwa baik "Tuan misterius" maupun Narin tidak memperhatikan gelagatnya, ia mendesak, "Apakah tidak ada jalan keluar yang lain?"

Narin tenggelam dalam keheningan. Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arah "Tuan misterius" yang diam-diam mengamati mereka berdua.

Menyadari bahwa Nuri tidak berniat berkomentar, ia berpaling kembali kepada Hana dan berkata dengan saksama, "Aku memiliki dua set rumus Ramuan Tingkat 1."

"Ramuan Tingkat 1?" Nuri menggumam di dalam hati, mencatat istilah asing itu.

"Benarkah? Dua yang mana?" Hana jelas mengetahui apa arti rumus Ramuan Tingkat 1 itu.

Hana duduk tegak. Dua ramuan sekaligus terpampang di hadapannya adalah kesempatan yang sulit ia temukan di sela-sela lingkaran keluarga kerajaan yang sesak dengan rahasia.

Narin bersandar sedikit ke belakang dan menjawab dengan santai, "Sebagaimana kau ketahui, manusia hanya bisa bergantung pada ramuan untuk menjadi Praktisi yang sesungguhnya, sedangkan nama-nama ramuan itu berasal dari Lempeng Zaman Silam. Setelah berulang kali diterjemahkan ke dalam bahasa Raksasa Kuno, Bahasa Langit Tua, bahasa upacara kuno dan modern, serta bahasa-bahasa lama Kekaisaran Selatan, semuanya telah berubah demi menyesuaikan zaman. Yang terpenting bukanlah nama-nama itu, melainkan apakah nama itu menggambarkan 'ciri inti' dari ramuan tersebut.

"Aku memiliki sebuah Rumus Tingkat 1 yang bernama 'Nakhoda Kapal Terbang.' Rumus ini memberimu kemampuan keseimbangan yang luar biasa. Bahkan bila kau berdiri di geladak kapal terbang di tengah hujan badai sekalipun, kau dapat berjalan dengan bebas seolah-olah sedang berada di daratan. Kau juga akan memperoleh kekuatan yang besar dan bayang-bayang layar ilusi di punggungmu, yang membuatmu dapat meluncur bersama angin dan sulit ditangkap. Di udara, kau bergerak lincah bagaikan burung pemangsa. Bahkan tanpa peralatan apa pun, kau dapat dengan mudah melayang dan bertahan di angkasa untuk waktu yang lama."

"Kedengarannya hebat..." gumam Hana dengan mata berbinar.

"Rumus Ramuan Tingkat 1 yang kedua bernama 'Pendengar,' meskipun aku tidak yakin bagaimana sebutannya di masa lalu. Rumus ini memberimu pikiran yang luar biasa tajam dan kemampuan mengamati yang amat peka. Kau pasti dapat memahami makna seorang 'pengamat' dari menonton opera dan pertunjukan sandiwara. Sebagaimana penonton menilai 'para pelaku' di dunia sekuler, seorang Pendengar menangkap isi pikiran mereka yang sesungguhnya melalui emosi, tingkah laku, dan kata-kata."

Pada titik ini Narin memberi penekanan, "Kau harus ingat. Entah kau sedang berada di pesta yang mewah atau di jalan yang ramai, penonton tetaplah penonton selamanya."

Mata Hana berkilau mendengarnya. Setelah hening sejenak, ia berkata, "Kenapa? Baiklah, itu hanya pertanyaan lanjutan. A-aku rasa aku mulai jatuh cinta dengan perasaan menjadi seorang 'penonton' yang hening seperti itu. Bagaimana aku bisa mendapatkan rumus ramuan Pendengar ini? Apa yang bisa kugunakan untuk bertukar dengannya?"

Narin tampak sudah bersiap. Dengan suara yang dalam, ia berkata, "Darah Hiuhantu, paling tidak segelas penuh."

Hana menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, tetapi kemudian bertanya dengan cemas, "Bila aku bisa mendapatkannya, dan ini kubilang 'bila,' bagaimana caranya aku menyerahkannya kepadamu? Bagaimana kau bisa menjamin bahwa kau akan memberiku rumus ramuan itu sebagai imbalan atas darah Hiuhantu, dan bahwa rumus itu benar-benar asli?"

---

Narin menjawab dengan tenang, "Aku akan memberimu sebuah alamat. Begitu aku menerima darah Hiuhantu, aku akan mengirimkan rumus itu kepadamu lewat surat, atau menyampaikannya langsung di sini. Adapun soal janji, aku rasa baik kau maupun aku dapat merasa aman di bawah saksinya Tuan misterius."

Sambil berkata begitu, ia mengerling ke arah Nuri yang duduk tegak di kursi kehormatan.

"Tuan, kenyataan bahwa Tuan telah membawa kami ke sini menunjukkan bahwa Tuan memiliki kekuatan yang tak terbayangkan oleh kami. Tak seorang pun dari kami berani mengingkari janji dengan Tuan sebagai saksi."

"Benar!" Mata Hana berbinar dan menyetujuinya dengan penuh semangat.

Dari sudut pandangnya, seorang pria misterius dengan kemampuan yang tak terbayangkan tentulah merupakan "saksi" yang berwibawa. Mana mungkin ia atau lelaki di seberangnya berani menipu di hadapan Tuan itu!

Lagi pula, bila Tuan misterius itu benar-benar hendak menipu mereka, cara yang jauh lebih sederhana pasti sudah ia pilih daripada menyeret dua orang asing masuk ke dalam dunia kabut ini.

Hana memutar separuh tubuhnya dan menatap Nuri dengan sungguh-sungguh.

"Tuan, mohon jadilah saksi perdagangan kami."

Pada saat itulah ia baru menyadari bahwa ia telah bersikap sangat tidak sopan, sebab selama ini ia lupa menanyakan satu hal yang penting. Ia buru-buru bertanya, "Tuan, bagaimana sebaiknya kami memanggil Tuan?"

Narin mengangguk pelan, lalu mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada yang serius. "Tuan, bagaimana sebaiknya kami memanggil Tuan?"

Nuri terkejut sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya dengan lembut di permukaan meja perunggu.

Isi ramalan yang tadi ia alami di dalam tenda pasar tiba-tiba melintas kembali di benaknya: tanda angka nol dengan sosok pengembara yang membawa tongkat dan gendongan di pundaknya.

Tanda pertemuan antara ramalan dan kenyataan itu membuatnya tersenyum tipis. Pilihan nama yang tadi masih menggantung kini menemukan jalannya sendiri.

Ia bersandar, menarik tangan kanannya, lalu menyilangkan sepuluh jarinya di bawah dagu. Senyum tipis terbit di bibirnya.

"Kalian boleh memanggilku..."

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan ramah dan tenang, "Bintang Penggembala."

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!