Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 14, LANGIT BERUBAH

Berita tentang pernyataan perang Raja Vereon menyebar ke seluruh benua Est dalam waktu yang sangat singkat. Burung-burung pembawa pesan terbang dari kerajaan ke kerajaan, membawa peringatan yang keras dan ancaman yang jelas. Setiap penguasa di tujuh kerajaan harus memutuskan—apakah mereka akan memihak Veyra, atau berani berdiri bersama Zhoo dan menentang kekuatan terbesar di benua itu.

Di pemukiman Oakhaven, suasana berubah menjadi gelisah. Setiap hari ada kabar baru yang datang—pasukan Veyra bergerak ke selatan, kerajaan Solis telah menyatakan kesetiaan pada Vereon, Kerajaan Lirael masih bimbang. Para tetua Oakhaven berkumpul dalam pertemuan darurat, dan kali ini ketegangan terasa di udara.

"Kita akan hancur!" seru salah satu tetua yang paling tua. "Veyra memiliki pasukan yang jauh lebih banyak dari kita. Jika mereka datang, hutan ini tidak akan bisa melindungi kita selamanya! Kita harus menyerahkan Zhoo kepada Vereon dan memohon ampun!"

"Kau gila!" bentak tetua lain. "Zhoo menyelamatkan anak-anak kita, menyelamatkan desa kita! Jika kita menyerahkannya, kita bukan hanya menyerahkan satu orang—kita menyerahkan harga diri kita sendiri!"

"Tanpa nyawa, harga diri tidak ada artinya!"

Pertengkaran itu semakin memanas, hingga Zhoo berdiri di tengah ruangan dan mengangkat tangannya. Suasana perlahan menjadi hening.

"Aku mendengar kata-kata kalian," ucap Zhoo dengan suara tenang namun terdengar oleh semua orang. "Dan aku mengerti ketakutan kalian. Vereon memang kuat, dan aku tidak berjanji bahwa perjuangan ini akan mudah atau singkat. Tapi aku berjanji satu hal—aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian mati sia-sia karena aku."

"Kau berencana pergi?" tanya Elara dengan cemas.

"Aku harus pergi," jawab Zhoo menatapnya. "Selama aku di sini, Oakhaven menjadi sasaran utama. Jika aku pergi dan mencari sekutu di kerajaan lain, Vereon harus membagi kekuatannya. Dan itu akan memberi kalian waktu untuk bersiap."

"Kalau begitu aku ikut!" kata Elara tegas.

"Dan aku juga," kata Arvin. "Ke mana pun kau pergi, aku ikut."

"Dan aku!" seru Kael. "Kita berjanji untuk tetap bersama, ingat?"

Zhoo menatap wajah-wajah orang-orang yang berdiri di sisinya, dan hatinya terasa hangat sekaligus berat. "Kalian tidak perlu melakukan ini... Bahaya yang menanti kita di depan sangat besar."

"Kita tahu risikonya," kata Arvin pelan. "Tapi seperti yang pernah kau katakan—kita tidak berjalan sendirian."

Mereka memutuskan untuk berangkat ke Kerajaan Thalyn, kerajaan pegunungan yang terkenal dengan bentengnya yang tak tertembus dan rakyatnya yang keras kepala namun sangat menghargai kejujuran. Jika mereka bisa mendapatkan dukungan Thalyn, fondasi persekutuan mereka akan menjadi jauh lebih kuat.

Sebelum berangkat, ayah Elara menyerahkan sebuah pedang tua namun indah kepada Zhoo. Pedangnya terbuat dari logam yang berkilauan seperti perak, dan di gagangnya terukir simbol pohon kehidupan—simbol Oakhaven.

"Ini adalah pedang yang diwariskan dari generasi ke generasi pemimpin suku kami," ucapnya dengan suara berat. "Ia tidak pernah diwariskan kepada orang luar. Tapi hari ini... aku menyerahkannya kepadamu. Bukan karena kau milik kami, tapi karena kami merasa bahwa nasib kami terikat padamu. Gunakanlah untuk melindungi, bukan untuk menaklukkan."

"Aku akan menjaganya dengan nyawaku," janji Zhoo.

Mereka berangkat saat fajar menyingsing. Kali ini mereka tidak sendirian—lima belas prajurit terbaik Oakhaven ikut bersama mereka, atas perintah ayah Elara. "Kirimkan pesan jika kalian membutuhkan bantuan," pesannya. "Selama hutan ini masih berdiri, Oakhaven selalu mendukungmu."

Perjalanan menuju Thalyn memakan waktu berminggu-minggu, melewati dataran tinggi yang berangin kencang dan lembah-lembah yang sepi. Di sepanjang jalan, mereka melihat tanda-tanda ketidakadilan yang sama—desa-desa yang miskin karena pajak yang berat, orang-orang yang takut berbicara dengan bebas, pilar-pilar batu dengan pengumuman dari Raja Vereon yang menjanjikan hukuman berat bagi siapa pun yang memberontak.

"Lihatlah ini," kata Zhoo suatu hari saat mereka beristirahat di tepi sungai. "Semakin jauh kita pergi, semakin aku menyadari bahwa Vereon bukan hanya musuh kita. Dia adalah musuh semua orang yang menginginkan kebebasan."

"Dan itulah sebabnya pada akhirnya semua orang akan berpihak padamu," kata Elara yakin. "Karena setiap orang yang merasakan penindasan akan mulai bertanya—mengapa harus begini? Dan kapan seseorang akan mengubahnya?"

Namun perjalanan itu tidak hanya dipenuhi harapan. Suatu malam, saat mereka berkemah di dekat perbatasan Thalyn, mereka disergap oleh sekelompok pemburu bayaran yang dikirim oleh Vereon untuk membunuh Zhoo. Pertempuran itu berlangsung sengit di bawah cahaya bulan yang samar. Pedang beradu dengan pedang, panah melesat di udara, dan teriakan perang memecah keheningan malam.

Arvin bertarung dengan keterampilan yang luar biasa, melindungi Kael dan Elara saat mereka merawat yang terluka. Zhoo bertarung dengan kekuatan yang baru saja ia temukan—ia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga insting yang tajam, seolah ia bisa merasakan gerakan musuh sebelum mereka bergerak. Namun dalam pertempuran itu, salah satu prajurit Oakhaven terluka parah. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia tersenyum pada Zhoo dan berkata:

"Berjuanglah, Tuan... agar pengorbananku dan pengorbanan orang lain tidak sia-sia. Biarkan anak-anakku hidup di dunia yang lebih baik..."

Kematian itu mengubah sesuatu di dalam diri Zhoo. Ia tidak lagi hanya berjuang untuk keadilan yang abstrak—ia kini berjuang untuk orang-orang yang telah memberikan nyawa mereka demi tujuan itu.

"Kita tidak akan membiarkan kematiannya sia-sia," ucap Zhoo dengan suara yang penuh keteguhan, matanya berkilauan di bawah cahaya api unggun. "Kita akan sampai ke Thalyn. Kita akan menyatukan orang-orang yang tertindas. Dan kita akan mengakhiri kekuasaan Vereon, apa pun yang terjadi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!