Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.
Sore hari yang cerah, Nyonya Kirana tampak sibuk menyiram tanaman hias yang berjajar rapi di halaman rumah mewahnya. Sesekali wanita paruh baya itu tersenyum sendiri melihat bunga-bunga yang mulai bermekaran.
Tak lama kemudian, suara kendaraan terdengar berhenti di depan rumah. Nyonya Kirana menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati putranya baru saja turun dari kendaraan.
Ada yang berbeda. Rafa—yang selama ini lebih dikenal keluarga sebagai Sultan—berjalan cepat ke arahnya dengan wajah ceria. Senyum mengembang menghiasi wajahnya hingga membuat Nyonya Kirana mengernyit heran.
Begitu mendekat, Sultan langsung merentangkan kedua tangan. "Mama!"
Nyonya Kirana spontan mundur setengah langkah sambil menatap putranya penuh curiga. "Kamu kenapa, Sultan? Kamu baik-baik saja, kan? Nggak kesurupan?"
Sultan yang hendak memeluk ibunya langsung mengerucutkan bibir. "Astaghfirullah... Mama ini apa-apaan, sih?" protesnya. "Anaknya lagi bahagia malah dibilang kesurupan."
"Ya aneh saja. Habis pergi tiba-tiba pulang langsung tertawa gitu. Mama jadi takut," balas Nyonya Kirana sambil meletakkan selang air di sampingnya.
Sultan terkekeh. Wajahnya kembali dihiasi senyum yang sulit disembunyikan.
"Memangnya ada apa, sih?" Nyonya Kirana semakin penasaran. "Sini, cerita sama Mama. Ada kabar gembira apa sampai sebegitunya?""
Senyum Sultan semakin lebar. Wajahnya bahkan mulai memerah hingga ke telinga. Tanpa banyak bicara, dia langsung memeluk ibunya erat.
"Aku mau nikah, Ma," ucapnya mantap. "Anak Mama ini sebentar lagi akan melepas masa lajang."
"Apa? Menikah...?"
Nyonya Kirana langsung diam seribu bahasa, tubuhnya menegang kaku di dalam pelukan putranya. Matanya membelalak tak percaya, antara ingin mempercayai telinganya sendiri atau tidak. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, menatap wajah Rafa lekat-lekat.
"Kamu serius, Sultan?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar saking terkejutnya.
"Bagaimana mungkin...? Bukankah kalian baru saja jadian?"
Belum sempat Rafa menjawab, terdengar suara langkah kaki berat mendekat dari arah pintu utama. "Ada apa ini? Mama kenapa bengong begitu? Siapa yang mau menikah, Ma?" tanya Tuan Bahtiar dengan tatapan heran, beralih menatap istrinya lalu ke arah sang putra.
Rafa melepaskan pelukannya dari ibunya, lalu dengan cepat melompat ke arah sang papa dan memeluknya tanpa ragu. "Anak kebanggaan Papa ini mau menikah, Pa," ucapnya mantap dan lantang, tak ada keraguan sedikit pun dari nada suaranya.
Tuan Bahtiar tersentak sesaat, kemudian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Ia mengusap pucuk kepala putra tunggalnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, tetapi terselip kelembutan di sana.
"Benarkah? Siapa gadis luar biasa itu yang mau menerima laki-laki biasa, sederhana, dan penampilannya terlihat culun begini?" tanya Tuan Bahtiar sambil tersenyum menyelidik.
"Padahal papa yakin, di luaran sana pasti banyak pria tampan yang lebih menarik penampilan luarnya."
Rafa melepaskan pelukannya, menegakkan tubuhnya dengan bangga, dadanya terasa penuh dengan rasa syukur dan bahagia. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian, matanya berbinar terang mengingat kejadian di acara tadi siang.
"Lebih baik kita duduk di gazebo, biar lebih nyaman bercerita." Nyonya Kirana menginterupsi.
Ketiganya lantas berjalan menuju gazebo yang ada di halaman samping bangunan utama.
"Sekarang ceritakan pada papa dan mama, dimana kamu bertemu dengannya?" pinta sang ayah setelah mereka duduk di posisi masing-masing.
Sultan a.k.a Rafa menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. "Namanya Kahiyang, Pa. Aku bertemu dengannya pada saat Papa menugaskan aku ke kantor cabang...." Dia lantas menceritakan pertemuan pertamanya dengan Kahiyang. Saat itu lah dia merasa penasaran pada gadis itu dan ingin mengenalnya lebih dekat."
"Jadi itu alasannya sampai kamu nekat menyamar menjadi pria culun seperti ini?" tanya Tuan Bahtiar cepat.
Sultan mengangguk mantap. Senyum terus tersungging di bibirnya. "Gadis langka seperti dia harus diperjuangkan, Pa."
Kemudian dia kembali menceritakan tentang permintaan Kahiyang agar mau jadi kekasih pura-pura sebagai kado istimewa buat ulangtahun eyangnya, tetapi dia justru menolak dan minta menjadi kekasih beneran."
Rafa tersenyum mengingat kejadian saat Bu Retno dan Cantika menghinanya. Matanya berkaca-kaca mengingat momen paling indah hari itu.
"Dan hal yang membuat aku makin yakin dan bersyukur luar biasa...ketika aku dihina karena penampilanku, ayah Kahiyang berdiri pasang badan membelaku. Bahkan di hadapan seluruh keluarga besar, dan orang-orang yang sempat meremehkan aku... Eyangnya sendiri yang mengambil keputusan meminta aku untuk menikahi Kahiyang." Suaranya bergetar penuh haru.
"Beliau berkata, lelaki sederhana tapi berakhlak dan bertanggung jawab serta bisa menjaga hati wanita jauh lebih berharga daripada lelaki yang cuma unggul rupa, harta, atau gaya. Beliau memilih aku untuk cucu kesayangannya itu, Pa. Beliau yang menyatukan kami."
Nyonya Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya. "Jadi eyangnya sendiri yang merestui kalian? Sungguh, Nak?"
"Iya, Ma. Papa dan mamanya Kahiyang pun setuju dan mempercayai keputusan Eyang. Semua keluarga besar akhirnya mendukung kami," jawab Rafa tegas, lalu menatap ayahnya dalam-dalam, melanjutkan ucapannya dengan nada serius dan penuh hormat.
"Makanya sekarang, aku meminta izin dan restu sama Papa dan Mama. Sebagai bentuk sopan santun aku ingin mengajak Papa dan Mama datang ke rumah mereka. dengan membawa niat baik serta rasa hormat untuk melamar Kahiyang secara resmi pada keluarga mereka."
Tuan Bahtiar terdiam sejenak, matanya menelisik wajah putranya yang tampak begitu dewasa dan bertanggung jawab. Senyum bangga menghiasi wajahnya kemudian menepuk bahu Rafa kuat-kuat.
"Papa sangat bangga sekali mendengarnya," ujarnya pelan tetapi syarat makna.
"Kamu bukan hanya menemukan wanita baik yang menerima kamu apa adanya, tapi kamu juga sudah membuktikan bahwa dirimu memang seorang lelaki sejati. Lelaki yang dinilai bukan dari kemewahan, tapi dari akhlak dan tanggung jawabnya. Dan kalau Eyangnya sendiri yang memilih dan merestui... itu tandanya pilihanmu sudah paling benar dan paling tepat."
Pria itu lantas mengangguk mantap. "Papa dan Mama tentu saja akan mendukung apa yang sudah menjadi pilihanmu. Kami akan persiapkan semuanya dengan baik. Kami akan datang bersamamu untuk melamar gadis itu dengan cara yang baik dan terhormat, sebagai keluarga yang ingin meminang calon menantu kami.”
Nyonya Kirana tak kuasa menahan haru lagi, ia kembali memeluk Sultan, kali ini diiringi isak tangis bahagia.
"Syukurlah... Mama senang sekali. Akhirnya Mama bisa tenang, kamu sudah menemukan wanita yang tepat, yang bisa melihat kelebihanmu di balik segala kesederhanaanmu itu. Kahiyang gadis yang sangat beruntung, dan kamu pun sama beruntungnya. Mama dan Papa sangat merestui kalian. Kami akan doakan semoga semua niat baik ini segera terlaksana dan berjalan lancar sampai kalian menikah nanti."
"Aamiin... Makasih, Pa... Ma." Sultan memeluk kedua orangtuanya dengan penuh haru dan rasa bahagia yang membuncah.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭