Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas baru setiap rabu
Minggu-minggu berikutnya, kelas privat padel Baska setiap hari Rabu sore berubah menjadi rutinitas yang dia nantikan dengan begitu antusias, sebuah perubahan besar dibandingkan hidupnya yang dulu hanya berputar antara kantor dan rumah. Coach Yudha sendiri mengakui bahwa perkembangan teknik Baska cukup pesat untuk ukuran pemula, meski dia tidak sepenuhnya menyadari bahwa motivasi sebenarnya di balik semangat belajar tersebut bukan sekadar keinginan menguasai olahraga baru.
"Bagus, Mas Baska, pukulan forehand-nya udah mulai stabil," puji Coach Yudha suatu sore, mengamati Baska yang berhasil mengembalikan bola dengan teknik yang cukup rapi dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.
"Makasih, Coach. Saya emang latihan sendiri juga di rumah pake tembok," jawab Baska dengan bangga, sebuah pengakuan yang mengejutkan mengingat betapa jauh perubahan kebiasaannya dibandingkan beberapa minggu lalu ketika raket bahkan menjadi barang asing baginya.
Setelah sesi latihan tersebut selesai, seperti biasa, Baska menyempatkan diri mampir ke meja resepsionis untuk sekadar menyapa Zia, sebuah kebiasaan kecil yang telah berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas Rabu sorenya tersebut. "Mbak Zia, tadi Coach bilang forehand saya udah mulai bagus lho."
"Wah, selamat ya, Mas! Cepet banget progressnya, biasanya orang butuh waktu lebih lama buat stabil kayak gitu," jawab Zia dengan penuh antusiasme, memberikan pujian yang tulus atas kemajuan yang ditunjukkan pemuda tersebut.
Percakapan ringan semacam itu, yang awalnya hanya berlangsung beberapa menit, perlahan mulai berkembang menjadi obrolan yang lebih panjang setiap minggunya, membahas berbagai topik ringan mulai dari film yang sedang trending, makanan favorit masing-masing, hingga cerita-cerita lucu seputar pekerjaan mereka.
"Mas Baska tuh kerja di kantor apa sih? Kayaknya sibuk banget ya sampai jarang olahraga dulu," tanya Zia suatu sore, penasaran mengenai latar belakang pekerjaan pemuda yang belakangan semakin sering dia temui tersebut.
"Kerja di bagian keuangan perusahaan distribusi, Mbak. Emang dari dulu saya orangnya males gerak, lebih suka di rumah aja nonton atau main game," jawab Baska dengan jujur, tidak menyembunyikan reputasi malasnya yang memang sudah dikenal luas di kalangan teman-teman kantornya.
"Terus kenapa sekarang jadi rajin banget olahraga?" tanya Zia lagi, sebuah pertanyaan sederhana yang membuat Baska sedikit gelagapan mencari jawaban yang tepat tanpa harus mengungkapkan alasan sesungguhnya secara terang-terangan.
"Ya, mungkin abis kena smash kemarin jadi kepikiran, mending belajar bener biar nggak kena cedera lagi," jawab Baska dengan alasan yang sudah dia siapkan sebelumnya, meski dari nada suaranya sendiri terdengar sedikit kurang meyakinkan.
Zia hanya tersenyum mendengar jawaban tersebut, tidak terlalu mempermasalahkan meski dalam hatinya dia mulai curiga bahwa ada alasan lain yang belum sepenuhnya diungkapkan Baska tersebut. Namun dia memilih untuk tidak terlalu memaksa, menikmati saja perkembangan pertemanan yang mulai terjalin secara alami di antara mereka berdua.
Reta, yang beberapa kali menyaksikan interaksi tersebut dari kejauhan, semakin yakin dengan teorinya sendiri mengenai ketertarikan yang mulai tumbuh, baik dari pihak Baska maupun, meski Zia sendiri belum sepenuhnya menyadarinya, dari pihak sahabatnya tersebut. "Zi, lo sadar nggak sih, tiap hari Rabu lo tuh beda banget. Lebih semangat, dandan juga lebih rapi," ujar Reta suatu hari, mengomentari perubahan kecil yang mulai dia perhatikan pada penampilan Zia setiap kali hari kelas privat Baska tersebut tiba.
"Ih, apaan sih, Ret. Aku emang selalu rapi kok tiap hari," bantah Zia, meski dalam hatinya dia mulai mempertanyakan kebenaran bantahan tersebut, menyadari bahwa mungkin ada sedikit kebenaran dalam pengamatan sahabatnya itu.
Percakapan tersebut, meski diselingi canda seperti biasa, memberikan sedikit kesadaran baru bagi Zia mengenai perasaan yang mungkin mulai berkembang dalam dirinya sendiri, sebuah perasaan yang belum sepenuhnya dia pahami, namun terasa begitu berbeda dari sekadar keramahan profesional yang biasa dia tunjukkan kepada seluruh pelanggan Sport Padel tanpa terkecuali.
Sepulang kerja hari itu, Zia duduk sejenak di teras rumahnya, memikirkan kembali perkataan Reta tersebut sambil menatap langit sore yang mulai berubah warna jingga. Dia mencoba mengingat-ingat kembali kebiasaannya belakangan ini, dan menyadari bahwa memang benar, setiap hari Rabu dia selalu menyempatkan diri memakai sedikit lipstik tipis dan menata rambutnya lebih rapi dibandingkan hari-hari kerja biasa lainnya, sebuah kebiasaan kecil yang tanpa dia sadari mulai terbentuk sejak kelas privat Baska dimulai.
"Masa sih aku beneran naksir," gumamnya pelan pada diri sendiri, sedikit tersenyum malu membayangkan kemungkinan tersebut, sebelum akhirnya menggeleng dan mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain, meski bayangan wajah Baska yang tersenyum canggung setiap kali menyapanya terus muncul di benaknya sepanjang malam tersebut.