Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Bara

Bab 8

 

“Pakaian dan barang saya segini banyak? Bapak yakin, mau pindahkan ini semua?” Ruby menunjuk deretan lemari di kamar berbeda. Ruang kerja yang isinya adalah wardrobe dan kebutuhan sebagai model. Isinya bukan hanya pakaian saja, sepatu dan aksesoris.

Bara bersedekap, tampak sedang berpikir lalu menghela pelan.

“Nanti aku siapkan tempat, hari ini bawa seperlunya saja.”

Ruby menarik salah satu koper dan memasukan pakaian dengan asal. Bara masih memperhatikannya.

“Kamu yakin bawa pakaian itu. Itu gaun dan dress pesta. Keseharian kamu pakai itu juga?” Bara bertanya sambil melirik Ruby yang masih menggunakan pakaian kurang bahan. Saat bergerak dan mengangkat tangannya, mengekspos bagian pinggang dan perut nan ramping.

“Hah!” Ruby mengosongkan lagi kopernya lalu berpindah ke kamar tidur. Mengisinya dengan pakaian dan perlengkapan seperlunya. “Barang gue segini banyak, mau dipindah. Berapa kamar dia harus siapin,” gumamnya. “Ck, Meldi kalau tau gue udah nikah dan punya warisan dua bocah bisa kena stroke kali. Gimana nasib kontrak kerja gue.”

Satu koper besar juga tas berisi peralatan make up dan barang penting lainnya sudah siap dibawa. Ruby sudah berganti dress floral dengan rambut digerai dan jepit disi kanan. Flat shoes dengan warna senada juga handbag melengkapi penampilannya.

Bara sempat terpaku saat Ruby keluar dari kamar. Lebih cantik dengan pakaian normal meski yang tadi pun enak dipandang. Ia mengambil alih bawaan Ruby dan menyeret keluar dari unit apartemen.

Dalam perjalanan, Ruby menatap keluar jendela sedangkan Bara fokus dengan kemudi. Namun, mobil berbelok memasuki cafe.

“Loh, kok café?”

“Kita mampir, temui orang tua saya.”

“Orangtua pak Bara, ketemu sekarang?” tanya Ruby, menatap Bara memastikan yang baru saja dia dengar.

“Nggak, tahun depan aja. Tunggu kamu di DO dari kampus.” Bara mematikan mesin mobil setelah parkir.

“Nggak lucu pak. Ini … aduh, saya harus gimana dong. Kalau tiba-tiba rambut saja dijambak karena nggak suka kita menikah, gimana? Terus ada yang videokan, viral dan … Ah, pak Bara. Jangan sekarang ya,” rengek Ruby.

Bara menatap wajah Ruby, apalagi tangannya dicengkram gadis itu. Mulutnya memang berisik dan kadang menyebalkan, tapi tampangnya sekarang sungguh menggemaskan.

“Asal kamu tahu, mereka mendorong saya untuk menikah lagi sudah lama. Bukannya tidak suka, mereka sangat menantikan pernikahan saya. Ayo turun!”

Ruby melangkah di belakang Bara, pelayan menunjukan ruangan dimana orangtua Bara sudah menunggu.

“Ini ruangannya, silahkan!”

“Tunggu pak,” ujar Ruby menahan Bara yang akan membuka pintu. “Kalau mereka nggak cocok sama saya, gimana?”

“Yang menikah kita, kenapa mereka yang tidak cocok. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Ayo!”

Pintu akhirnya dibuka, Pasangan paruh baya yang sedang berbincang menatap ke arah Bara dan Ruby.

“Maaf kami terlambat.”

“Oh, nggak pa-pa. Ayah sama Ibu juga belum lama datang kok, ini lagi lihat-lihat menu.”

Bara dan Ruby masih berdiri. “Kenalkan ini Ruby. Ruby, ini ayah dan ibu saya.”

Ruby mengangguk dan tersenyum canggung. Husnah dan Rendra berdiri, menyambut uluran tangan Ruby mencium tangan mereka.  

“Ayo, duduk!” ajak Husnah.

Makanan sudah dipesan, Ruby hanya diam. Sesekali dia bersuara menjawab pertanyaan pasangan mertuanya. Canggung sudah pasti dan dia masih takut kalau orangtua Bara menyalahkan dan mempersoalkan alasan mereka menikah lalu dia kena marah. Sungguh dia tidak siap berada di posisi ini. Menghadapi Bara, juga orangtuanya dan nanti duo krucil turunan dosennya.

“Kami sudah dengar alasan kalian harus menikah dan Bara siap bertanggung jawab menjadi suami yang baik untuk nak Ruby. Jadi, jalankan pernikahan dengan baik. Kalian sama-sama orang terpelajar, hadapi masalah dengan akal dan logika bukan dengan emosi,” tutur Rendra.

Bara mengiyakan nasihat ayahnya. Kaki ruby menyenggol kaki Bara di bawah meja karena jawaban Bara hanya iya iya saja.

“Bara bilang kamu sudah bekerja?” tanya Husnah.

“I-ya bu.” Ruby menoleh[pada Bara seolah menunggu perintah apa dia harus menjawab dengan sebenarnya atau tidak.

“Kerja apa?”

“Saya … model.”

Husnah dan Rendra saling tatap kemudian kembali menatap Ruby dan Bara.

“Masih aktif?”

“Masih. Saya kelamaan menunda skripsi karena sibuk dengan pekerjaan saya.”

Husnah mengangguk lalu menoleh pada suaminya.

“Masalah nanti kamu tetap bekerja atau tidak, bicarakan saja dengan Bara. Kami tidak ikut campur, itu ranah kalian berdua. Kamu sudah tahu Bara punya anak?”

Ruby mengangguk. Namun, dia dikejutkan dengan penjelasan Rendra terkait kondisi putra Bara. Bahkan Husnah menunjukan foto Adly dan video saat bocah itu berjalan dengan sedikit tertatih.

“Kami harap kamu bisa menerima mereka, tentu saja setelah kamu menyesuaikan diri dengan pernikahan mendadak ini.”

“Pasti Bu,” ucap Bara karena Ruby masih diam. “Pelan-pelan kami akan saling melengkapi.

Ruby diam bukan karena meratapi hidupnya yang si4l itu. Masih tercengang dengan kenyataan putra Bara penyandang disabilitas. Pada dasarnya ia suka anak-anak. Yang tidak habis pikir, bocah itu tumbuh tanpa kasih sayang ibu dengan kondisi fisiknya yang tidak normal. Bagaimana mereka melewati hari-hari selama ini? Bagaimana di sekolah, bagaimana teman-temannya?

Sungguh Ruby tidak berselera saat makanan terhidang di hadapannya. Selama ini ia merasa tidak beruntung, hidup di tengah keluarga di mana orang tuanya bercerai meski kasih sayang keduanya tidak kurang. 

Namun, hidup anak-anak Bara lebih tragis. Anak kedua Bara, mungkin tidak ingat wajah ibunya selain dari foto. Ditinggal saat masih balita, di umur 4 tahun. Anak pertama, mungkin saat masih TK.

“Nak Ruby, titip cucu-cucu saya. Kalau mereka berulah dan menyusahkan, sampaikan pada Bara. Biar Bara cari lagi pengasuh untuk mereka,” tutur Husnah sambil menggenggam tangan menantunya. Ruby tidak bisa berkata-kata, bukan karena tidak suka, tapi lidahnya seolah kelu. Hanya sanggup merespon dengan anggukan pelan.

***

Sampai di kediaman Barata, ternyata kediaman pria cukup besar. Ruby berjalan mengekor langkah pria itu memasuki rumah. Asisten rumah tangga mengambil alih koper dan tas besar yang dibawa Bara. Pria itu mengumpulkan beberapa orang pekerja dan dikenalkan pada Ruby.

“Ini bik Sari dan Bik Ida, bertugas urusan rumah. Mang Ujang urusan taman dan kebersihan di luar. Ibu Siti yang mengurus kebutuhan anak-anak. Pak Budi, supir, antar jemput anak-anak.”

Para pekerja itu tersenyum menyapa, Ruby membalas dengan anggukan dan senyum.

“Selamat datang bu, kalau butuh apa-apa, panggil kami,” ujar Bik Sari.

“Iya, bik.”

Ruby menatap sekeliling rumah itu. Sudah melewati ruang tamu dan kini berada di ruang keluarga di mana tidak jauh ada meja makan tanpa sekat juga arah menuju dapur. Gegas mengekor langkah pemilik rumah.

“Kamar saya di mana? Kalau bisa di bawa aja, ada pintu langsung ke luar gitu.”

Bara mengernyitkan dahi mendengar permintaan Ruby. “Kamar kamu, ya kamar kita.”

“Kita satu kamar, pak?”

“Menurut kamu?”

“Yaelah pak, katanya mau pelan-pelan. Langsung satu kamar bukan pelan-pelan, itu sih namanya grasak grusuk,” keluh Ruby.

Bara mendekat dan menatap sekeliling. “Jangan ribut, yang tahu kita nikah karena melanggar adat hanya ibu dan bapak. Yang lain taunya kita nikah pakai jalur reguler. Saya tunjukan kamar kita.”

Namun, langkah Bara terhenti saat terdengar langkah kaki dan suara Jelita.

“Papi, aku pulang.”

Bocah perempuan sepuluh tahun dengan rambut dikepang dan wajah ceria itu mendadak menghentikan langkah dan terpaku menatap Bara dan Ruby. Tidak lama menyusul Adly dengan langkah tertatih.

Sempat berdecak melihat adiknya terpaku, Adly pun ikut diam dengan pandangan ke depan.

“Sudah pulang, bagaimana di sekolah?” tanya Bara, mendekati kedua anaknya. Tidak lupa ia meraih tangan Ruby agar ikut serta.

“Ba-ik, pih,” jawab Adly.

“Adly, Jelita, ini Ruby. Istri papi, ibu kalian juga. Ruby, ini anak-anak saya.”

Kedua bocah itu tidak menduga kalau papinya menikah dengan wanita yang begitu muda. Jelita bahkan berpikir kalau ibu tirinya wanita seumuran sang papi. Ruby melangkah mendekat lalu agak membungkuk menatap Jelita dan menoleh pada Adly.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Jelita dan Adly saling tatap mendengar itu. Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi skripsi Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

Bara menghampiri Ruby, menarik bahu gadis itu agar mendekat dan saling tatap.

“Mas, panggil saya mas Bara.”

“Eh!”

1
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
Iccha Risa
ngebangun rumahtangga bersama mas Bara apalagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!