Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Pengkhianat di Lembaga Keuangan
Kepanikan di lokasi konstruksi Proyek Wibowo Park perlahan surut seiring berjalannya waktu. Pasukan keamanan khusus dari Nusantara Group bergerak sangat rapi di balik layar, membersihkan seluruh sisa kotoran dari insiden tentara bayaran di udara tanpa meninggalkan jejak yang memicu rumor di media massa. Di mata publik dan pekerja lapangan, suara ledakan serta kehadiran helikopter tadi hanyalah latihan militer darurat yang salah jalur perizinan.
Maya duduk di sofa empuk dalam ruang kerja kantor pengawas proyek. Cangkir teh herbal hangat di tangannya memancarkan aroma manis yang menenangkan. Meski tubuhnya masih sedikit gemetar akibat lonjakan adrenalin beberapa saat lalu, kehadiran Arka yang duduk setia di sampingnya memberi rasa aman yang luar biasa.
Arka menyentuh pelan jemari Maya, memberikan kehangatan yang mengalir perlahan menuju hati istrinya.
"Kamu sudah merasa lebih baik, Maya?" tanya Arka dengan nada suara yang sangat lembut.
Maya mendongak, menatap iris mata suaminya yang jernih. Senyum tipis mengulas di bibir cantiknya. "Aku jauh lebih baik sekarang, Arka. Selama kamu ada di dekatku, rasa takut itu mendadak hilang begitu saja."
Arka membalas senyuman itu seraya mengusap lembut punggung tangan Maya. "Aku janji kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang lagi."
Tiba tiba, suara ketukan pintu memecah suasana hangat di dalam ruangan tersebut. Sekretaris pribadi Maya melangkah masuk dengan wajah tegang dan cemas. Tangannya menggenggam erat sebuah map merah berstempel kerahasiaan tinggi.
"Nona Maya," panggil sekretaris tersebut seraya membungkuk hormat. "Ada kabar darurat yang baru saja dikirimkan oleh pihak Bank Sentral Perdagangan."
Maya mengernyitkan alisnya kencang, menatap sekretarisnya seraya melepaskan genggaman tangan Arka secara perlahan. "Kabar darurat? Bukankah seluruh urusan pendanaan proyek kita sudah dijamin sepenuhnya oleh konsorsium Nusantara Group?"
Sekretaris itu melangkah mendekat, menyerahkan map merah tersebut ke atas meja kayu di hadapan Maya.
"Pihak bank secara sepihak memblokir rekening operasional utama Wibowo Group untuk Proyek Wibowo Park," terang sekretaris itu dengan suara pelan yang bergetar. "Mereka beralasan bahwa ada investigasi pencucian uang dan ketidaksesuaian data jaminan yang dilaporkan oleh pihak komite pengawas keuangan independen dari ibu kota."
Maya tersentak kaget. Ia berburu buru membuka map merah tersebut, membaca baris demi baris dokumen keputusan pemblokiran dengan mata membelalak lebar.
"Ini tidak masuk akal!" seru Maya dengan nada suara murka yang tertahan. "Seluruh dokumen jaminan Wibowo Group sudah diverifikasi langsung oleh Pak Wijaya dan Kementerian Hukum! Bagaimana bisa lembaga keuangan swasta seperti Bank Sentral Perdagangan bertindak gegabah seperti ini?!"
Arka yang duduk di samping Maya meraih dokumen tersebut seraya menyipitkan matanya rapat rapat. Iris matanya berubah menjadi sangat dingin tatkala membaca nama pejabat komite pengawas yang membubuhkan tanda tangan di lembar terakhir dokumen pemblokiran.
Bambang Suroso—Kepala Komite Pengawasan Lembaga Keuangan Cabang Utama, sekaligus salah satu orang kepercayaan yang dibesarkan oleh trah Keluarga Wijaya di ibu kota.
‘Rupanya Surya Wijaya bukan bergerak sendirian,’ batin Arka seraya menganalisis situasi dengan cepat. ‘Jaringan pengkhianat Keluarga Wijaya di lembaga keuangan pusat mencoba membekukan arus kas Maya agar proyek ini terhenti di tengah jalan.’
Arka meletakkan dokumen itu kembali ke meja dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menatap Maya yang tampak mulai gelisah memikirkan gaji ratusan pekerja dan pasokan material yang bisa terhambat jika rekening utama mereka dibekukan.
"Maya," panggil Arka dengan nada suara yang mantap dan berwibawa. "Pemblokiran ini bukan keputusan resmi dari bank sentral pusat, melainkan tindakan sepihak dari oknum pejabat komite yang bersekongkol dengan sisa sisa jaringan Surya Wijaya."
Maya menoleh menatap Arka dengan pandangan bingung sekaligus berharap. "Tapi Arka... Bank Sentral Perdagangan adalah salah satu bank swasta terbesar di negeri ini. Tanpa tanda tangan pembukaan dari ketua komite mereka, kita tidak bisa menarik dana operasional satu sen pun!"
Arka menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh rasa percaya diri. Ia berdiri dari sofa, merapikan kerah kemeja putihnya.
"Kalau begitu," kata Arka tenang, "kita pergi mendatangi gedung kantor pusat Bank Sentral Perdagangan sekarang juga. Kita minta penjelasan langsung dari Bambang Suroso."
Maya terpana sejenak melihat ketenangan suaminya. Rasa cemas di dadanya perlahan terkikis oleh keberanian Arka yang seolah tidak pernah gentar menghadapi tembok raksasa mana pun.
"Baik," sahut Maya seraya berdiri dan merapikan setelan kerjanya. "Kita pergi ke sana sekarang."
Satu jam kemudian.
Gedung pencakar langit Bank Sentral Perdagangan berdiri megah di pusat kawasan bisnis utama kota. Dinding kacanya memantulkan Sinar matahari siang yang terik.
Mobil sedan putih milik Arka berhenti tepat di area parkir khusus VIP. Arka membukakan pintu untuk Maya, lalu keduanya melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis yang dijaga ketat oleh belasan petugas keamanan berseragam.
Di dalam area lobi utama yang sangat luas dan mewah, puluhan nasabah kelas atas serta pengusaha sibuk berlalu lalang.
Maya melangkah menuju meja resepsionis utama dengan anggun, didampingi Arka yang berjalan setia di sampingnya.
"Selamat siang," sapa Maya tegas kepada petugas resepsionis. "Saya Maya Wibowo, Direktur Utama Wibowo Group. Saya ingin bertemu langsung dengan Pak Bambang Suroso terkait pemblokiran sepihak rekening proyek kami."
Petugas resepsionis wanita di balik meja memeriksa komputer di hadapannya sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum dingin yang terkesan dipaksakan dan penuh pelecehan.
"Maaf, Nona Maya," jawab petugas resepsionis tersebut dengan nada suara acuh tak acuh. "Pak Bambang Suroso sedang berada di ruangan kerjanya di lantai tiga puluh. Namun beliau memutus pesan bahwa beliau tidak menerima tamu dari perusahaan yang sedang dalam masa penyelidikan indikasi pelanggaran jaminan."
Maya mengernyitkan alisnya kencang. "Indikasi pelanggaran?! Penyelidikan itu tuduhan palsu tanpa dasar hukum! Saya berhak meminta klarifikasi langsung dari komite pengawas!"
Petugas resepsionis itu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Silakan ajukan surat keberatan resmi lewat sekretariat dalam waktu empat belas hari kerja, Nona," balas resepsionis itu tanpa rasa sopan. "Jika tidak ada janji khusus, silakan meninggalkan area gedung ini."
Wajah Maya memerah menahan amarah atas perlakuan tidak profesional tersebut.
Namun sebelum Maya sempat membalas ucapan resepsionis itu, Arka melangkah maju satu titik. Pria berkemeja putih sederhana itu meletakkan sebuah kartu hitam polos bertinta emas tanpa nama di atas meja resepsionis.
Denting halus kartu perbankan khusus itu menggema di tengah meja.
Petugas resepsionis yang tadinya bersikap angkuh seketika mengerutkan alisnya, melihat kartu hitam polos tersebut dengan bingung. Namun tatkala ia menggeser kartu tersebut ke bawah mesin pembaca khusus transaksi elit di mejanya, layar komputer resepsionis mendadak berkedip merah terang seraya menampilkan kode otoritas tertinggi.
"AKSES PEMEGANG KARTU HITAM UTAMA (BLACK CARD SUPREME) - OTORITAS KONSORSIUM PUSAT TANPA BATAS!"
Mata petugas resepsionis itu membelalak lebar hingga hampir melompat keluar dari kelopak matanya. Seluruh persendian di tangannya mendadak gemetar hebat tatkala melihat angka limit saldo yang tertera di layar—angka tak terhingga yang sanggup membeli seluruh aset Bank Sentral Perdagangan ini sepuluh kali lipat!
"Ka... Kartu Hitam Utama?!" jerit resepsionis itu dengan suara gagap dan ketakutan yang teramat sangat.
Arka menatap resepsionis itu dengan iris mata yang dingin bagaikan telaga es.
"Hubungi Bambang Suroso sekarang," kata Arka dengan suara yang sangat datar namun menekan hingga ke ulu hati. "Katakan padanya, pemilik kartu ini memberi waktu dua menit baginya untuk turun berlutut menyambut kami di lobi... atau seluruh saham bank ini akan aku beli dan aku bubarkan sebelum jam makan siang."
itu.