Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Setelah Bertemu di Kafe Biru
Hari itu, Pratiwi pergi ke kampus hanya sampai menjelang zuhur. Ia memang tidak memiliki jadwal mengajar. Kedatangannya ke kampus hanya untuk membimbing beberapa mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi.
Setelah satu per satu sesi bimbingan selesai, Pratiwi merapikan berkas-berkas di atas mejanya. Sebelum meninggalkan kampus, ia menyempatkan diri melaksanakan salat zuhur. Setelah itu, ia pun segera beranjak pulang.
Namun, baru beberapa menit mobilnya melaju meninggalkan kampus, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.
Bagaimana kalau hari ini ia memberikan kejutan kecil untuk suaminya?
Sudah cukup lama ia tidak datang ke kantor Handoko sekadar untuk menemuinya. Biasanya mereka hanya bertemu di rumah setelah sama-sama menyelesaikan kesibukan masing-masing. Entah mengapa siang itu Pratiwi ingin melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi mungkin bisa membuat suaminya tersenyum.
Ia pun memutuskan untuk membawakan makan siang untuk Handoko.
Pratiwi kemudian membelokkan mobilnya menuju sebuah tempat makan yang cukup sering mereka datangi. Ia membeli beberapa makanan yang ia tahu disukai suaminya. Setelah semuanya selesai dibungkus, ia kembali ke mobil dan segera melanjutkan perjalanan menuju kantor Handoko.
Sepanjang perjalanan, perasaannya justru terasa ringan. Sesekali ia tersenyum sendiri membayangkan wajah Handoko ketika melihat dirinya tiba-tiba datang membawa makan siang.
Setibanya di kantor, Pratiwi langsung menuju ruangan suaminya. Ia sudah cukup mengenal tempat itu, sehingga tanpa banyak kesulitan ia berjalan menuju meja sekretaris Handoko.
"Pak Handoko ada, Mbak?" tanyanya dengan senyum kecil.
Sekretaris Handoko tampak sedikit terkejut melihat kedatangan Pratiwi. Ia kemudian menggeleng.
"Maaf, Bu. Pak Handoko sudah keluar sekitar satu setengah jam yang lalu."
Senyum di wajah Pratiwi perlahan memudar.
"Keluar? Ke mana?"
Sekretaris itu kembali menggeleng. "Saya kurang tahu, Bu. Tadi Pak Handoko hanya bilang mau keluar sebentar. Beliau tidak mengatakan mau ke mana."
Pratiwi terdiam sejenak. Ia menatap kantong makanan yang masih berada di tangannya.
"Oh..." jawabnya pelan.
Sebenarnya ia bisa saja pulang. Namun, entah mengapa kakinya justru membawanya menuju pintu ruangan Handoko.
"Saya tunggu di dalam saja, ya?№⅞⁷⅞"
"Tentu, Bu."
Pratiwi membuka pintu ruangan suaminya dan masuk. Suasana di dalam begitu tenang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya meja kerja Handoko yang masih dipenuhi beberapa berkas, laptop yang tertutup, serta beberapa benda yang tertata seperti biasanya.
Ia meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja kecil di sudut ruangan, lalu duduk di sofa.
Mungkin Handoko memang tidak pergi terlalu jauh, pikirnya. Barangkali sebentar lagi juga kembali.
Untuk mengusir rasa bosan, Pratiwi mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya. Nada panggilan terdengar beberapa saat. Namun tidak ada jawaban. Pratiwi mencoba sekali lagi.
Tetap tidak tersambung.
Ia menatap layar ponselnya dengan dahi sedikit berkerut. Ada perasaan aneh yang mulai muncul, biasanya Handoko selalu bilang kalau mau bertemu seseorang. "Mungkin urusannya mendadak." gumamnya pelan.
Ponselnya ia letakkan di samping tubuh. Pratiwi kemudian bersandar di sofa. Dia berharap Handoko segera kembali, karena dia sudah keluar sejak satu setengah jam yang lalu.
Ia hanya perlu menunggu. Namun semakin lama ia duduk di sana, semakin sulit pula mengabaikan pertanyaan yang perlahan muncul di dalam benaknya. "Kenapa Handoko gak bilang?"
Ke mana sebenarnya Handoko pergi?
Karena cukup lelah setelah seharian beraktivitas di kampus, ditambah menunggu Handoko yang tak kunjung kembali, tanpa sadar Pratiwi menyandarkan kepalanya di sofa. Niat awalnya hanya ingin beristirahat sebentar sambil menunggu suaminya, tetapi rasa kantuk ternyata jauh lebih kuat.
Tak lama kemudian, Pratiwi pun tertidur. Sekitar setengah jam berlalu, suara pintu ruangan yang terbuka membuat Handoko masuk. Begitu melihat istrinya tertidur di sofa, langkahnya terhenti. Ia sempat tersenyum kecil sebelum menghampiri Pratiwi.
"Mi..." panggilnya pelan sambil menyentuh bahu istrinya. "Mi, kok ada di sini?"
Pratiwi perlahan membuka mata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Begitu melihat Handoko sudah berdiri di hadapannya, rasa kesal yang sejak tadi tertahan kembali muncul.
"Papi ke mana aja, sih?" tanyanya dengan nada sedikit merajuk. "Mami ke sini mau ngajak Papi makan siang, tahu? Nih, Mami udah bawakan makanan kesukaan Papi."
Tangannya menunjuk ke arah bungkusan makanan yang tadi ia letakkan di meja. Handoko menatap makanan itu, lalu kembali memandang istrinya.
"Kenapa nggak nanya dulu?" katanya santai. "Papi tadi keluar untuk makan siang sama teman lama Papi."
Pratiwi menghela napas. Ia memang sedikit kecewa karena kejutan kecil yang sudah dipersiapkannya tidak berjalan sesuai rencana.
Handoko langsung tersenyum. "Ya sudah..." katanya akhirnya. "Papi makan lagi aja deh. Nemenin Mami."
"Beneran?"
"Ya beneran lah. Kalau Papi nggak nemenin, nanti Maminya marah."
Pratiwi yang semula memasang wajah cemberut akhirnya tak kuasa menahan tawa. Ia menggeleng sambil menatap suaminya.
"Dasar!"
Handoko ikut tertawa. Suasana yang sempat sedikit canggung pun kembali mencair.
Akhirnya, mereka membuka makanan yang dibawa Pratiwi dan menikmati makan siang bersama di ruangan Handoko. Tidak ada lagi soal kejutan yang gagal ataupun keberadaan Handoko yang sempat membuat Pratiwi menunggu cukup lama. Mereka justru sibuk mengobrol seperti dua orang yang sudah terbiasa berbagi cerita tentang hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
"O ya, Pi," ujar Pratiwi setelah beberapa saat. "Kata Raka, keluarga Kania memilih bulan Desember untuk pernikahan mereka."
"Oh, gitu." Handoko mengangguk. "Syukur deh, sesuai dengan keinginan kita, ya, Mi."
"Betul, Pi. Jadi kita bisa lebih tenang mempersiapkan semuanya."
Pratiwi kembali menyantap makanannya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali teringat sesuatu. "Oh ya, Pi, minggu depan aku mau ngajak bundanya Kania hunting seragam. Nggak apa-apa, kan?"
"Terserah Mami deh. Tapi mau nggak dianya?"
"Pasti mau lah."
"Ya sudah, kalau mau."
"Papi nggak ada rencana ke mana-mana, kan?"
"Sepertinya begitu."
"Jadi nanti Papi yang antar Mami dan Jeng Mellisa."
Tangan Handoko yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. "Mellisa?"
"Iya. Bundanya Kania kan Mellisa." Pratiwi mengangguk santai.
Handoko tidak langsung menjawab. Entah mengapa, mendengar nama itu keluar begitu saja dari mulut Pratiwi membuat dadanya terasa sedikit sesak. Padahal baru beberapa saat lalu ia sudah duduk berhadapan dengan Mellisa. Mereka berbicara tentang masa lalu yang selama ini terkubur begitu dalam.
Dan sekarang, minggu depan ia harus kembali bertemu dengannya. Bahkan berada dalam satu mobil.
Handoko tahu dirinya harus menjaga sikap. Ia tidak ingin membiarkan perasaan lama yang sempat muncul kembali siang tadi memengaruhi dirinya. Ia juga tidak ingin membuat Pratiwi melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
"Lho kok Papi diam?" Pratiwi bertanya.
Handoko segera tersadar. Ia tersenyum kecil. "Enggak. Cuma mikir."
"Mikir apa?"
"Mikir, kenapa kalau ada Papi harus Papi yang jadi sopirnya?"
Pratiwi terkekeh. "Kalau Papi ada, sekali-sekali lah manjain Mami."
Handoko menggeleng pelan. "Hadoooh, ada-ada aja Mami."
"Tapi Papi mau, kan?"
Handoko tersenyum, meskipun ada sedikit kegelisahan yang ia sembunyikan di balik wajah santainya.
"Mau lah. Daripada nanti diomelin sepanjang hari."
"Ihhh, Papiii."
Pratiwi tertawa sambil memukul pelan lengan suaminya. Handoko ikut tertawa. Ia berusaha menganggap rencana itu sebagai sesuatu yang biasa.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu perjalanan minggu depan tidak akan sesederhana yang dibayangkan Pratiwi.
Bukan karena ia tidak ingin mengantar istrinya.
Bukan pula karena keberadaan Mellisa membuatnya merasa tidak nyaman. Justru itulah masalahnya.
Ia takut terlalu nyaman.
Takut percakapan kecil di dalam mobil akan kembali membawa mereka pada masa kuliah. Takut satu tatapan, satu senyuman, atau sekadar mendengar suara Mellisa dari kursi belakang mampu membangunkan kembali kenangan yang selama bertahun-tahun berhasil ia simpan.
Dan yang paling ia takutkan adalah dirinya sendiri.
Ia tidak ingin melukai Pratiwi. Tidak ingin mengkhianati rumah tangga yang selama ini mereka jalani dengan baik.
Karena itu, sejak sekarang Handoko sudah berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk menjaga batas.
Apa pun yang terjadi nanti, Mellisa adalah bagian dari masa lalu. Sedangkan Pratiwi adalah istrinya.
Dan ia tidak ingin satu pertemuan dengan masa lalu membuatnya lupa pada kehidupan yang sudah ia pilih.