Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin jahit yang tak pernah berhenti
Kontrakan petak tempat Gilang dan ibunya tinggal terletak di gang sempit, jauh dari komplek elite yang tadi pagi dia datengin. Rumahnya cuma terdiri dari dua ruangan—satu kamar tidur yang dipake berdua sama ibunya, dan satu ruang depan yang merangkap ruang tamu, ruang makan, sekaligus tempat kerja ibunya yang penuh sama tumpukan kain dan mesin jahit tua.
Waktu Gilang pulang menjelang sore, suara mesin jahit yang khas—decitan pedal yang diinjak berulang-ulang—udah kedengeran dari luar pintu. Dia masuk, ngeliat ibunya, Bu Suryani, lagi duduk membungkuk di depan mesin jahit tersebut, ngerjain pesenan baju seragam sekolah yang numpuk buat dikirim besok.
"Bu, udah makan belum?" tanya Gilang, ngelepas sepatunya di depan pintu.
"Belum sempet, Nak. Ini pesenannya harus kelar malem ini," jawab Bu Suryani tanpa nengok, tangannya tetep sibuk ngatur kain di bawah jarum jahit.
Gilang menghela napas pelan, ngeliat ibunya yang udah kerja dari pagi tanpa istirahat yang cukup. Sejak ayahnya meninggal delapan tahun lalu akibat kecelakaan kerja di pabrik, Bu Suryani jadi satu-satunya tulang punggung keluarga, sampe akhirnya Gilang cukup umur buat ikut bantu cari nafkah.
"Bu, istirahat dulu, saya masakin sesuatu," ujar Gilang, langsung ke dapur kecil yang cuma muat satu orang berdiri, mulai masak nasi dan telur dadar sederhana buat makan malam mereka berdua.
Bu Suryani akhirnya berhenti sejenak, ngelepas kacamata bacanya yang udah agak buram, ngurut pelan matanya yang capek. "Gimana kerjaan hari ini, Nak? Lancar?"
"Lancar, Bu. Tadi ada alamat baru di komplek elite, rumahnya gede banget," jawab Gilang sambil masak, inget lagi sosok perempuan dingin yang jadi pelanggan barunya tersebut.
"Wah, komplek yang mana tuh?" tanya Bu Suryani penasaran.
"Yang deket jalan protokol itu, Bu. Rumahnya paling gede di situ kayaknya," jawab Gilang, nyerahin sepiring nasi dan telur dadar ke ibunya.
Mereka makan malam sederhana tersebut sambil ngobrol ringan, sebuah rutinitas yang selalu jadi momen paling berharga buat Gilang di tengah hari-hari yang begitu padat dan melelahkan. Meski hidup mereka jauh dari berkecukupan, kehangatan yang mereka bagi berdua selalu berhasil bikin Gilang ngerasa cukup, bahkan bahagia.
"Kuliahnya gimana, Nak? Kamu nggak kecapean kan, kerja pagi terus malemnya kuliah?" tanya Bu Suryani dengan nada khawatir, sebuah pertanyaan yang hampir tiap malam dia tanyain.
"Nggak apa-apa, Bu. Ini juga demi masa depan kita berdua," jawab Gilang sambil senyum, berusaha nggak nunjukin kelelahan yang sebenernya udah numpuk sejak beberapa bulan terakhir.
Bu Suryani natap anaknya dengan mata yang berkaca-kaca, ngerasain campuran rasa bangga dan sedih yang selalu muncul tiap kali ngeliat betapa kerasnya Gilang berjuang di usia yang masih begitu muda. "Ibu bangga banget sama kamu, Nak. Maaf ya, Ibu nggak bisa kasih kamu hidup yang lebih layak."
"Ibu jangan ngomong gitu. Ibu udah kasih semua yang Ibu bisa. Sekarang giliran saya yang jagain Ibu," jawab Gilang dengan tegas, genggam tangan ibunya yang udah mulai keriput akibat kerja keras bertahun-tahun.
Bu Suryani sempet tersedu pelan, buru-buru ngelap matanya pake ujung kerudung yang dia pake, nggak mau keliatan lemah di depan anaknya. "Ibu inget banget waktu kamu masih kecil, kamu selalu bilang mau jadi orang kaya biar bisa beliin Ibu rumah gede. Sekarang kamu udah gede, tapi malah sibuk kerja keras kayak gini demi Ibu."
"Itu masih jadi mimpi saya kok, Bu. Cuma butuh waktu lebih lama aja," jawab Gilang sambil senyum, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa haru tersebut.
Setelah makan malam tersebut, Gilang bantu ibunya nyelesain pesenan jahitan sampe cukup larut, sebelum akhirnya dia siap-siap berangkat kuliah malam. Motor bebek tua yang jadi satu-satunya kendaraan mereka, dia nyalain dengan susah payah, mesinnya udah agak batuk-batuk tapi masih cukup buat nganter dia ke kampus.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiran Gilang sesekali melayang ke sosok perempuan di rumah mewah tadi pagi—bukan karena tertarik secara romantis, melainkan karena penasaran, gimana rasanya hidup serba berkecukupan tapi mukanya keliatan begitu hampa dan kesepian. Sebuah kontras yang bikin dia mikir, mungkin kebahagiaan emang nggak selalu berbanding lurus sama seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang.
Dia nggak tau, minggu depan, pertemuan singkat tersebut bakal berlanjut jadi sesuatu yang jauh lebih berarti dari sekadar transaksi jual beli galon air minum biasa, sebuah awal yang bakal mengubah jalan hidupnya secara perlahan namun pasti.
Sesampainya di kampus, Gilang parkir motornya di area yang agak jauh dari gedung kelas, deket sama motor-motor lain milik mahasiswa kelas malam yang kebanyakan juga kerja di siang hari, sama kayak dia. Dia buru-buru masuk kelas, hampir telat beberapa menit, duduk di bangku belakang sambil masih ngatur napas abis lari dari parkiran.
Dosen yang lagi ngejelasin materi manajemen keuangan tersebut, sempet ngelirik ke arah Gilang yang baru masuk, tapi nggak nunjukin ekspresi keberatan—dosen tersebut emang udah biasa sama mahasiswa-mahasiswa kelas malam yang sering dateng agak telat karena harus kejar waktu dari pekerjaan mereka masing-masing.
Malam itu, sambil dengerin materi kuliah, pikiran Gilang sesekali melayang ke berbagai rencana masa depan yang dia susun diam-diam—buka usaha air minum sendiri suatu hari nanti, ngasih ibunya rumah yang lebih layak, dan yang paling penting, ngebuktiin kalau orang kayak dia juga bisa berhasil, meski harus mulai dari titik yang begitu jauh di belakang.