Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
***
Suara derum halus mesin Rolls-Royce Phantom mendarat mulus di pelataran berkerikil putih mansion pribadi milik Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo. Bangunan megah berarsitektur neoklasik yang berdiri kokoh di kawasan elite Jakarta Selatan itu dipayungi sinar lampu lanskap yang memancarkan pendar keemasan. Ekor gaun ballgown bermiliar rupiah milik Lilianne terasa semakin berat, menumpuk rasa lelah yang menghimpit tubuhnya setelah melewati rangkaian pesta berjam-jam.
Sopir berjas hitam bergegas membukakan pintu. Begitu Lilianne melangkahkan kaki keluar dengan high heels-nya yang berdentang lembut di atas marmer teras, pemandangan di hadapannya mendadak menghentikan pergerakannya.
Belasan pelayan berbusana seragam hitam-putih yang sangat rapi berdiri berbaris simetris di sepanjang lorong pintu masuk utama. Mereka menyambut kedatangan sang pemilik mansion dan pengantin barunya dengan sikap sempurna. Di barisan paling depan, berdiri seorang wanita berusia awal tiga puluhan yang tampil paling mencolok—berparas jelita, bertubuh tegap, serta memancarkan aura tegas khas seorang head housekeeper profesional.
Saat Arya dan Lilianne mendekat, wanita itu beserta belasan pelayan di belakangnya membungkuk dalam-dalam dengan sudut kemiringan yang begitu presisi.
"Selamat datang di rumah, Pak Arya Sena. Dan selamat datang, Ibu," sapa wanita itu dengan suara jernih, tenang, namun bernada hormat mutlak.
Lilianne membeku di tempatnya. Netra hijaunya melebar tipis, menatap sosok wanita di hadapannya dengan keterkejutan yang tak mampu ia tutupi.
Ibu?
Dada Lilianne berdesir aneh. Sepanjang dua puluh satu tahun jalan hidupnya, ia selalu dipanggil dengan sebutan yang memanjakan telinga—Nduk, Li, Lili, Dedek, Non Lilianne, Princess, hingga My Lady saat ia berada di London. Panggilan 'Ibu' terasa begitu asing, berat, dan mendadak menegaskan status barunya yang kini telah terikat sah sebagai istri dari seorang kepala dinasti old money. Ia mengerutu habis-habisan di dalam hati. Sejak kapan aku jadi setua itu sampai dipanggil Ibu?!
Arya yang melangkah di sampingnya menyadari perubahan raut wajah sang istri. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Lilianne hingga aroma tobacco dan woody dari parfumnya menyapu indra penciuman Lilianne.
"Apakah kau terbiasa melakukan tindakan semumu seperti ini kepada para pelayanmu di castle London, Lilianne?" bisik Arya dengan nada terkekeh rendah yang sangat tipis, berniat mengejek reaksi canggung Lilianne.
Lilianne menoleh cepat dengan dahi berkerut bingung. Namun saat melihat ke bawah, ia baru sadar belasan pelayan itu masih dalam posisi membungkuk dalam, menunggu respons dari sang nyonya rumah.
"Ehh... I-iya, terima kasih banyak. Bangunlah," sahut Lilianne cepat, suaranya terdengar agak canggung dan gagap—sebuah momen langka bagi seorang putri Djojodiningrat yang biasanya selalu tampil percaya diri dan dominan.
Para pelayan kembali menegakkan tubuh mereka dengan serentak. Arya hanya menyunggingkan senyum miringnya yang licik, menatap Lilianne yang masih berusaha menguasai rasa canggungnya. Tanpa menunggu sang istri, Arya melangkah masuk lebih dulu dengan langkah tegasnya yang lebar, membuat Lilianne yang terhambat oleh ekor gaun mewahnya terpaksa setengah berlari kecil agar tak tertinggal jauh.
"Mas Arya! Tunggu!" desis Lilianne setengah berbisik jengkel saat mereka tiba di foyer utama yang ditopang pilar-pilar marmer raksasa.
Arya menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu kristal gantung, lalu berbalik badan. Pria itu merapikan kerah tuxedo-nya seraya menatap Lilianne dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang dingin dan sukar ditebak.
"Apa kau benar-benar ingin melakukan 'malam pertama' kita malam ini, Nyonya Soerjoatmodjo?" ucapan Arya meluncur begitu tenang, namun berhasil membuat ritme napas Lilianne tertahan di tenggorokan.
Lilianne membelalakkan matanya, mukanya memerah padam antara jengkel dan terkejut. "M-maksudmu apa?! Siapa juga yang mau melakukan hal konyol itu bersamamu?!" serunya menahan volume suara. "Aku cuma mau tahu di mana kamar mandi! Lalu di mana aku bisa bersih-bersih dan beristirahat! Tubuhku rasanya mau patah!"
Arya tidak menanggapi amukan itu dengan emosi. Pria itu justru melirik wanita berpenampilan tegas yang sejak tadi mengekor di belakang mereka dengan jarak aman.
"Widya akan mengantarmu ke kamarmu," pangkas Arya singkat dan dingin. Tanpa menambah sepatah kata pun atau menawarkan bantuan untuk membawa gaun berat istrinya, pria itu berbalik dan melangkah menghilang menembus lorong sayap kanan mansion.
Lilianne menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan wajah memerah murka. "Dasar pria tidak punya sopan santun! Pria batu sok keren!" umpatnya dalam hati dengan napas memburu.
"Permisi, Ibu," suara halus namun tegas memecah kekesalan Lilianne. Wanita bernama Widya itu melangkah maju seraya mengulas senyum profesional. "Saya Widya, Kepala Pelayan di kediaman ini. Mari saya antarkan ke kamar Ibu untuk beristirahat."
Lilianne menarik napas panjang, berusaha menetralkan raut wajahnya di depan bawahan Arya. "Ah... iya, terima kasih, Widya."
Lilianne melangkah mengikutinya dari belakang, menyusuri lorong panjang mansion yang megah. Dinding lorong dihiasi deretan lukisan klasik bernilai tinggi dan lampu dinding bergaya gothic keemasan. Setelah menaiki tangga melingkar di tengah bangunan, Widya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati ganda berukir rumit.
Widya memutar gagang pintu berlapis kuningan dan mendorongnya perlahan.
"Ini kamar yang akan Ibu tempati. Semua barang pribadi dan koper yang dikirim dari kediaman Djojodiningrat sudah tertata rapi di dalam walk-in closet. Jika masih ada hal lain yang Ibu perlukan, Ibu bisa langsung menekan tombol pemanggil di samping tempat tidur untuk menghubungi saya," terang Widya sopan.
"Baik, terima kasih banyak, Widya," balas Lilianne.
Widya membungkuk hormat sekali lagi sebelum mengundurkan diri dan menutup pintu ganda itu dari luar, menyisakan keheningan total di dalam ruangan.
Lilianne menghela napas lega yang teramat panjang. Ia menghempaskan jas tuxedo Arya yang sempat dipakaikannya ke atas sofa tunggal. Matanya mulai mengabsen setiap sudut ruangan yang sangat luas itu. Luas kamar ini bahkan sanggup menandingi luas kamar utamanya di penthouse London maupun kediaman Menteng. Tempat tidur berukuran super king-size dengan kanopi kain beludru berdiri megah di tengah ruangan, berpadu dengan karpet Persia tebal yang melapisi lantai.
Lilianne melangkah perlahan, menyentuh meja jati berukir, lampu meja berbahan perunggu tebal, hingga gorden sutra berat berwarna cokelat keemasan yang menutupi jendela kaca raksasa.
Bersih, super luas, dan tak diragukan lagi sangat mahal. Namun, sudut bibir Lilianne justru terangkat membentuk senyuman miring yang penuh nada cemooh. Sebagai wanita yang dibesarkan dengan selera seni Eropa modern berpadu estetika halus Jawa klasik ala ibunya, dekorasi kamar ini terasa sangat kaku, dominan, dan terlalu berat.
"Luar biasa," gumam Lilianne sinis sambil mengusap permukaan ukiran kayu di kepala tempat tidur. "Ukuran luasnya boleh saja mengagumkan, tapi seleranya... astaga. Selera khas pria kaku pemuja angka dan sejarah kuno. Terlalu norak dan berat untuk sekelas bangsawan yang katanya paham estetika modern!"
Lilianne berjalan menuju kaca rias raksasa di sudut kamar, menatap pantulan dirinya yang masih terbalut gaun emas dan mahkota berlian. Ia melepaskan tiara itu dari kepalanya dengan kasar, meletakkannya di atas meja perhiasan tanpa minat.
"Kita lihat saja besok, Mas Arya Sena," desis Lilianne pada pantulan dirinya di cermin, mata hijaunya menyala penuh rencana perlawanan. "Kalau kau pikir kau bisa menurungku di dalam kamar bergaya museum tua ini, kau salah besar. Aku akan merombak seluruh tempat ini sampai kau sadar siapa pemilik kekuasaan sesungguhnya di rumah ini."
Bersambung
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥