Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Luka yang Berdarah di Atas Sutra dan Air Mata Sang Penguasa

​Malam di dalam Danendra Private Estate merayap lambat, namun bagi Senja Kirana, waktu seolah berhenti di titik yang paling menyiksa.

​Kamar utama tempat ia dikurung adalah sebuah ruangan maha luas yang dihiasi oleh perabotan bergaya Barok klasik, lampu kristal berkilauan, dan dinding berlapis wallpaper sutra berwarna champagne. Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah ranjang berukuran king-size dengan seprai putih sehalus awan. Tempat tidur ini jauh lebih mewah, jauh lebih bersih, dan jauh lebih empuk daripada kasur busa tipis di rumah kontrakannya.

​Namun bagi Senja, ruangan ini tidak lebih dari sebuah sel penjara yang menyesakkan.

​Gadis itu masih meringkuk di lantai, di sudut terjauh dari ranjang megah tersebut. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, sementara wajahnya dibenamkan di antara lipatan lengannya. Isakan tangisnya sudah mereda, menyisakan napas yang tersengal-sengal dan tubuh yang sesekali bergetar hebat.

​Cling.

​Suara kunci yang diputar dari luar membuat seluruh otot di tubuh Senja mendadak menegang.

​Pintu kayu mahoni berukir emas itu perlahan terbuka.

​Arga Danendra melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu telah melepaskan jasnya; kemeja hitamnya tampak sedikit berantakan dengan beberapa kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak berisi mangkuk bubur hangat, segelas air putih, dan obat penurun demam.

​Arga mengedarkan pandangannya, dan langsung menemukan sosok Senja yang meringkuk di sudut ruangan yang gelap.

​Langkah kaki Arga terdengar sangat pelan saat ia mendekat. Begitu tiba di dekat Senja, ia berlutut dengan satu lutut di atas karpet wol yang tebal, menyamakan posisinya dengan gadis itu.

​"Senja," panggil Arga dengan suara baritonnya yang terdengar sangat lembut, begitu kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan di lobi tadi malam. "Kau belum makan sejak siang. Kau harus mengisi perutmu, atau lambungmu akan kembali bermasalah."

​Senja tidak bergerak. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu.

​"Aku membawakan bubur hangat dan air putih," lanjut Arga, mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Senja.

​"Jangan sentuh aku!" teriak Senja pelan, namun penuh dengan ketajaman yang menusuk. Ia menepis tangan Arga dengan kasar, lalu mengangkat wajahnya.

​Saat Arga melihat wajah Senja, napas sang CEO seketika tertahan. Mata bulat gadis itu bengkak dan merah, dipenuhi oleh sisa-sisa air mata yang mengering, namun sorot matanya tidak lagi memancarkan ketakutan seperti tadi malam. Yang ada di sana adalah tatapan kebencian yang dingin dan hampa—sebuah tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik apa pun.

​"Untuk apa kau datang ke sini?" desis Senja, suaranya parau. "Mau mengurungku? Mau memamerkan betapa berkuasanya dirimu? Atau mau melihat apakah burung peliharaanmu ini sudah mati kelaparan di dalam sangkar?"

​"Senja, jangan bicara seperti itu," rintih Arga, dadanya terasa sesak. "Aku tidak mengurungmu untuk menyiksamu. Aku melakukannya karena aku melindungimu dari dunia luar yang kejam."

​"Melindungiku?!" Senja tertawa sinis, sebuah tawa putus asa yang menyayat hati. "Dunia luar tidak pernah sekejam itu padaku sebelum kau datang dan mengacaukan semuanya! Ya, aku memang miskin! Aku memang sering diinjak-injak! Tapi setidaknya, saat aku menangis di lantai kedai atau di trotoar jalan, air mataku adalah milikku sendiri! Harga diriku masih utuh!"

​Senja menunjuk sekeliling kamar mewah itu dengan tangan yang gemetar.

​"Tapi apa yang kau lakukan? Kau membeliku seperti barang antik! Kau membuatku berhutang budi pada kebohonganmu! Kau menghancurkan hidup orang lain di depanku seolah nyawa manusia tidak ada artinya! Dan sekarang kau mengurungku di tempat jijik ini sambil berkata kau melindungiku?! Kau bukan pelindung, Arga! Kau adalah monster yang merampas kebebasanku!"

​Setiap kata yang diucapkan Senja meluncur bagaikan ribuan jarum beracun yang menghujam tepat ke jantung Arga. Pria itu terdiam, tidak mampu membela diri. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu gadis itu benar. Cara yang ia gunakan untuk memiliki Senja adalah cara yang salah dan penuh kekejaman.

​"Jika kau ingin aku mati di sini, bunuh saja aku sekarang," tantang Senja, menegakkan dagunya dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki. "Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi hidup berdampingan dengan seorang pembohong yang menumpuk kekayaan di atas penderitaan orang lain!"

​Mendengar kata 'bunuh saja aku' dari bibir gadis yang paling ia cintai, batas kesabaran dan pertahanan Arga akhirnya jebol.

​Kemarahan, rasa frustrasi, dan ketakutan yang menumpuk selama sebulan ini meledak bersamaan. Arga bangkit berdiri dari posisinya berlutut, menjulang tinggi di atas Senja dengan aura predator yang kembali menguasai dirinya.

​"Kau pikir aku ingin menyiksamu?!" raung Arga, suaranya menggelegar mengguncang dinding kamar raksasa itu.

​Senja sempat tersentak kaget dan sedikit menciut, namun ia memaksa dirinya untuk tetap menatap mata elang pria itu dengan pandangan menantang.

​"Setiap detik selama sebulan ini, saat aku harus duduk di kursi direksiku memikirkan perusahaan, separuh jiwaku tertinggal di gubuk kumuhmu!" Arga mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi, napasnya memburu. "Aku menderita setiap kali aku membayangkanmu kelaparan! Aku tersiksa karena tidak bisa memelukmu saat kau menangis mencariku!"

​"Lalu kenapa kau memulainya?!" balas Senja tak kalah lantang, air matanya kembali tumpah. "Kenapa dari awal kau harus berpura-pura menjadi pria amnesia yang miskin?! Kenapa kau harus masuk ke dalam hidupku dan merusak segalanya?!"

​"Karena aku takut!" bentak Arga, suaranya berubah parau, penuh dengan keputusasaan seorang pria yang telah kehilangan seluruh benteng pertahanannya.

​Senja tertegun sejenak.

​Arga melangkah maju, menjatuhkan kembali lututnya ke lantai tepat di depan Senja, menatap gadis itu dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca—pemandangan yang tidak akan pernah dipercaya oleh siapa pun di dunia bisnis bahwa seorang Arga Danendra bisa menangis.

​"Aku takut kehilanganmu, Senja," bisik Arga, suaranya bergetar hebat. "Tujuh tahun lalu, wanita yang kucintai meninggalkanku karena aku miskin. Aku mengira di dunia ini, tidak ada satu pun wanita yang bisa mencintaiku apa adanya tanpa melihat gelimang harta di belakang namaku. Saat aku menumpang di rumahmu dan melihatmu menerimaku dengan segala kerendahan hatiku... aku merasa aku telah menemukan surga."

​Arga mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Senja, namun gadis itu langsung menarik tangannya ke belakang. Arga menelan ludah pahit, membiarkan tangannya menggantung di udara.

​"Aku tahu kebohonganku salah. Aku tahu aku brengsek karena menipumu," lanjut Arga dengan suara yang hancur. "Setiap hari aku merasa tersiksa oleh rasa bersalahku sendiri. Tapi aku lebih memilih menjadi penjahat di matamu, asalkan aku bisa terus melihat senyummu, asalkan aku bisa terus mencium aroma vanilamu setiap pagi. Kehilangan hartaku tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan setengah matiku saat membayangkan harus hidup tanpamu."

​Ruangan itu mendadak hening. Hanya terdengar suara napas mereka yang memburu dan isakan tertahan Senja.

​Pengakuan jujur yang dibalut dengan luka masa lalu itu sangat berat. Senja bisa mendengar kepedihan yang nyata di setiap suku kata yang diucapkan Arga. Pria di hadapannya ini bukanlah monster tanpa hati; ia adalah pria yang sangat terluka, pria yang dibentuk oleh pengkhianatan masa lalu hingga ia tidak tahu cara mencintai selain dengan cara yang salah dan posesif.

​Untuk sepersekian detik, hati Senja melemah. Ada rasa iba yang menyusup ke dalam dadanya.

​Namun, seiring dengan rasa iba itu, logika Senja berteriak lebih kencang. Ia tidak boleh goyah.

​"Traumamu masa lalu bukan alasan untuk mempermainkan hidupku, Arga," ucap Senja dengan suara yang kembali mendingin, meski air matanya terus mengalir membasahi pipinya. "Ketakutanmu tidak membenarkan tindakanmu yang membohongiku, merendahkanku, dan sekarang... mengurungku di tempat ini."

​Senja menatap lurus ke dalam mata Arga, memberikan pukulan telak yang meremukkan sisa-sisa harapan sang CEO.

​"Kau bilang kau takut aku meninggalkanku karena harta? Maka ketahuilah... ketakutanmu itu baru saja menjadi kenyataan. Bukan karena kau kaya, tapi karena kau seorang pembohong yang kejam. Aku tidak bisa mencintai seseorang yang tidak bisa kujujuri."

​Jleb!

​Kata-kata itu melesat bagaikan belati es yang menancap tepat di jantung Arga.

​Pria itu mematung. Seluruh aliran darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir. Kalimat 'aku tidak bisa mencintai seseorang yang tidak bisa kujujuri' berputar-putar di dalam kepalanya, menghancurkan setiap benteng pertahanan terakhir yang ia miliki.

​Arga menundukkan kepalanya. Bahu lebarnya merosot jatuh. Seluruh aura dominasi dan arogansi dari Sang Tiran Danendra Group lenyap seketika, menyisakan seorang pria biasa yang hancur berkeping-keping di lantai kamar mandinya.

​"Jadi..." Senja menarik napas panjang, mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Arga dengan tatapan yang sudah mati rasa. "...apakah kau akan tetap mengurungku di sini sebagai tawananmu?"

​Arga mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang merah menatap Senja dengan pandangan yang kosong.

​"Jika aku membiarkanmu pergi..." suara Arga sangat lirih, nyaris tak terdengar, "...apakah kau berjanji tidak akan lari dari pandanganku? Apakah kau akan membiarkanku tetap menjagamu dari jauh?"

​"Tidak," jawab Senja tanpa ragu sedikit pun. "Jika aku keluar dari pintu ini, aku akan pergi sejauh mungkin ke tempat di mana kau tidak akan pernah bisa menemukanku lagi. Aku akan melupakanmu, Arga. Aku akan menghapusmu dari hidupku."

​Jawaban itu adalah vonis mati bagi Arga.

​Pria itu tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan absolut. Ia berdiri perlahan, melangkah mundur menjauhi Senja. Kakinya terasa sangat berat, seolah terseret rantai takвидимый.

​"Baiklah," ucap Arga pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang mendesak di tenggorokannya. "Jika itu maumu... kau bebas."

​Senja terkejut, mengerjap tak percaya. "A-Apa?"

​Arga berjalan menuju pintu keluar kamar. Ia memutar kunci di lubangnya, hingga terdengar bunyi klik yang menandakan sangkar emas itu telah terbuka.

​Ia membalikkan badan, menatap Senja untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh cinta yang teramat besar, namun diiringi oleh rasa sakit yang tak tertahankan.

​"Pintu ini terbuka, Senja. Kau bisa pergi sekarang. Keluar dari mansion ini, tinggalkan aku, dan hiduplah di duniamu yang tenang," Arga berucap dengan suara yang nyaris pecah. "Tapi ingatlah satu hal... meskipun kau membenciku, meskipun kau membuangku ke ujung dunia... jiwaku akan selalu mengikutimu. Aku membiarkanmu pergi, bukan karena aku berhenti mencintaimu... melainkan karena aku tahu, menahanmu di sini hanya akan membuatmu mati perlahan di sisiku."

​Setelah merampungkan kalimat itu, Arga berbalik. Ia berjalan keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, meninggalkan Senja sendirian di dalam ruangan yang sangat luas dan sunyi tersebut.

​[Pesan Author:]

(Ada sebuah ujian tertinggi dalam mencintai seseorang: Melepaskan.

​Kita sering kali mengira bahwa cinta sejati dibuktikan dengan seberapa kuat kita menggenggam, seberapa rapat kita mengunci, dan seberapa besar usaha kita untuk memaksa seseorang tetap tinggal di sisi kita, meskipun kehadirannya di dekat kita adalah sebuah siksaan bagi jiwanya.

​Arga akhirnya belajar pelajaran paling mahal dalam hidupnya malam ini. Kekuatan Danendra Group bisa menaklukkan pasar saham, bisa memenjarakan musuh, dan bisa membeli separuh isi kota. Namun kekuasaan itu tidak akan pernah bisa membeli ketulusan atau memaksa cinta untuk tumbuh di atas ladang kebohongan. Melepaskan Senja adalah hal paling menyakitkan yang pernah dilakukan Arga, namun justru melalui tindakan melepaskan itulah, ia membuktikan bahwa cintanya pada Senja telah berubah dari sebuah 'obsesi yang egois' menjadi sebuah 'pengorbanan yang tulus'. Di titik inilah, transformasi sang Iblis Korporat menjadi manusia seutuhnya benar-benar dimulai.)

​Di dalam kamar mewah itu, Senja Kirana duduk terpaku di sudut ruangan.

​Pintu terbuka lebar. Kebebasan yang sedari tadi ia ratapi, kini terbentang tepat di hadapannya. Tidak ada lagi pengawal yang menghalangi. Tidak ada lagi rantai tak kasat mata yang mengurungnya.

​Gadis itu seharusnya merasa bahagia. Ia seharusnya segera bangkit, berlari menuruni tangga, dan keluar dari gerbang mansion ini untuk kembali ke kehidupannya yang bebas di distrik kumuh.

​Namun, alih-alih merasa senang, dada Senja justru terasa sangat nyeri.

​Ia menatap pintu yang terbuka itu dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Bayangan Arga yang berjalan pergi dengan bahu merosot dan mata yang menyimpan keputusasaan mutlak terus berputar di kepalanya. Pria yang biasanya berdiri angkuh sebagai penguasa dunia, malam ini tampak begitu rapuh, hancur oleh kalimat penolakannya sendiri.

​Senja mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

​Kenapa dadaku sesak sekali? batin Senja, menangis dalam diam. Bukankah ini yang kuinginkan? Bukankah aku ingin bebas dari dunianya? Kenapa... kenapa rasanya justru seperti aku baru saja membuang satu-satunya hal yang paling berharga di dalam hidupku?

​Malam itu, di atas karpet sutra yang mewah, Senja Kirana dihadapkan pada pilihan terberat dalam hidupnya: melangkah keluar menuju kebebasan yang hampa, atau melangkah maju untuk memeluk monster yang telah menghancurkan sekaligus menyembuhkan hatinya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!