Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beban Kerja yang Aneh

Bas menghitung ulang daftar tugasnya untuk ketiga kalinya pagi itu, dan angkanya tetap sama—tujuh belas item, naik dari biasanya yang cuma delapan.

"Ini kenapa jadi banyak banget," gumamnya, menatap layar dengan alis berkerut.

Dia salah satu anggota tim Proyek Sintesis, ditugaskan untuk membantu Gwen menyusun kerangka integrasi data dari sisi operasional. Awalnya tugasnya cukup jelas—bantu kompilasi data historis, verifikasi akurasi angka sebelum masuk ke dashboard. Tapi dalam dua minggu terakhir, tugas tambahan mulai muncul satu demi satu, semuanya datang langsung dari Madoc lewat email formal, tanpa penjelasan yang cukup jelas kenapa itu harus jadi tanggung jawabnya.

"Verifikasi ulang data supplier tiga tahun terakhir." Satu item.

"Audit internal proses pengadaan lokasi kedua Meridian." Item lain.

"Review kepatuhan regulasi zonasi untuk lokasi baru." Satu lagi.

Tidak ada satu pun dari itu yang secara langsung berhubungan dengan Proyek Sintesis yang seharusnya jadi fokus utamanya minggu ini.

---

Gwen, yang duduk di meja sebelahnya, sibuk dengan urusannya sendiri—menyusun kerangka dashboard yang harus dia presentasikan ke tim finance besok pagi—tidak sepenuhnya sadar dengan pola aneh yang mulai terbentuk di sekitar rekan kerjanya.

"Bas," katanya, sesekali menoleh, "lo bisa bantu cek angka lokasi tiga besok?"

"Bisa," jawab Bas, meski suaranya terdengar sedikit lelah, "tapi mungkin agak lambat, gue lagi ngerjain audit pengadaan yang dikasih Pak Kane langsung."

Gwen mengangkat alis. "Pak Kane kasih tugas langsung ke lo?"

"Iya, minggu lalu. Terus kemarin ditambah lagi soal regulasi zonasi. Gue sendiri bingung kenapa mendadak banyak."

"Mungkin lagi butuh cepat buat rapat board," kata Gwen, tidak menganggapnya lebih dari itu. "Kerja keras banget lo akhir-akhir ini."

"Iya nih," kata Bas, menghela napas, "gue sampe lembur tiap hari minggu ini."

Gwen tersenyum simpati, kembali fokus ke dashboard-nya sendiri, sepenuhnya tidak menghubungkan lonjakan tugas Bas dengan sesuatu yang lebih personal. Baginya, itu cuma dinamika kerja normal—kadang ada periode di mana beban kerja seseorang naik drastis karena prioritas perusahaan berubah, dan itu bukan sesuatu yang perlu dianalisis lebih jauh.

---

Yang tidak diketahui Gwen adalah bahwa lonjakan tugas itu bukan kebetulan, melainkan hasil langsung dari sesuatu yang Madoc lihat sendiri tiga minggu lalu—sebuah pemandangan sederhana yang, entah bagaimana, cukup untuk membuat rasa tidak nyaman yang sudah lama dia tekan akhirnya meluap dalam bentuk yang paling tidak sadar dia lakukan.

Waktu itu, Madoc sedang berjalan menuju lantai dua puluh tiga untuk cek progress Proyek Sintesis, dan dari kejauhan, dia melihat Bas dan Gwen duduk berdampingan di meja kerja, tertawa bersama soal sesuatu yang terjadi di layar laptop Bas—entah meme kerjaan atau lelucon internal yang hanya mereka berdua yang paham.

Itu bukan hal besar. Bas memang salah satu rekan terdekat Gwen sejak hari pertama dia masuk kantor, dan pertemanan seperti itu wajar terjadi antar rekan satu tim. Tapi Madoc, yang berdiri di ujung lorong menyaksikan itu dari jarak yang cukup jauh, merasakan sesuatu yang tidak bisa dia definisikan dengan tepat—sesuatu yang jauh lebih tajam dari sekadar rasa tidak nyaman biasa.

Dia tidak masuk ke ruangan hari itu. Dia berbalik, kembali ke lantai eksekutif, dan tanpa berpikir terlalu panjang, membuka laptopnya dan mulai menyusun daftar tugas tambahan untuk Bas—alasan resminya adalah kebutuhan mendesak untuk audit dan verifikasi data, alasan sebenarnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih memalukan untuk diakui: dia ingin Bas sesibuk mungkin, sesibuk yang diperlukan, sampai tidak ada lagi waktu untuk sekadar tertawa santai bersama Gwen di jam kerja.

---

Dia tidak sepenuhnya menyadari apa yang barusan dia lakukan sampai Elias, yang membaca daftar tugas baru untuk Bas minggu itu, mengangkat alis di depannya.

"Pak," katanya, "ini kenapa Bas dapet tugas sebanyak ini? Dia kan udah sibuk sama Proyek Sintesis."

"Perlu buat kelengkapan data," kata Madoc, singkat, tidak menoleh dari laptopnya.

"Audit pengadaan tiga tahun ke belakang gak ada hubungannya sama Proyek Sintesis, Pak."

"Ada," kata Madoc, terlalu cepat. "Buat konteks historis."

Elias menatap daftar itu lebih lama, mencoba mencari benang merah antara tugas-tugas yang diberikan dengan alasan yang disebutkan, dan tidak menemukannya. Tapi kemudian dia teringat sesuatu—bagaimana minggu lalu dia sempat melihat Madoc berdiri diam di lorong lantai dua puluh tiga, menatap ke arah meja Gwen dan Bas dengan ekspresi yang sekarang bisa dia identifikasi dengan lebih jelas.

Dia hampir tertawa, tapi berhasil menahannya.

"Pak," katanya, memilih kata-katanya hati-hati, "ini soal Bas deket sama Gwen, ya?"

Madoc berhenti mengetik, menoleh, wajahnya berubah defensif dalam sepersekian detik. "Bukan."

"Bapak yakin?"

"Bas itu rekan kerja Gwen. Wajar deket."

"Iya, wajar," kata Elias, mengangguk, tidak berniat mendebat lebih jauh, "tapi kenapa Bapak jadi kasih dia tugas sebanyak ini persis pas mereka mulai keliatan deket?"

Madoc tidak menjawab, kembali fokus ke laptopnya dengan gerakan yang terlalu kaku untuk terlihat santai, dan Elias, yang sudah cukup lama kerja untuk mengenali kapan harus berhenti mendorong, memilih untuk keluar ruangan tanpa komentar lebih lanjut—meski senyum geli yang dia tahan sejak tadi akhirnya lepas begitu pintu tertutup di belakangnya.

---

Malam itu, Bas menghubungi Nadya lewat pesan—mereka kenal cukup dekat sejak beberapa kali nongkrong bareng Gwen, cukup nyaman untuk saling curhat soal hal-hal random di luar konteks kerja formal.

BAS: nad, lo tau gak kenapa akhir-akhir ini kerjaan gue numpuk banget

NADYA: kenapa emangnya?

BAS: gatau, tiba-tiba Pak Kane kasih gue tugas macem-macem yang gak nyambung sama proyek gue sekarang. audit lah, review lah

NADYA: sejak kapan?

BAS: sejak tiga minggu lalu. pas gue mulai sering nongkrong bareng Gwen di meja kerja

Ada jeda cukup lama sebelum balasan Nadya datang, dan begitu muncul, isinya cuma satu emoji tertawa terbahak-bahak diikuti pesan panjang.

NADYA: BAS. LO GAK NGERTI KENAPA?

BAS: kenapa emangnya??

NADYA: coba pikir lagi deh. lo deket sama Gwen, terus bos lo tiba2 kasih lo kerjaan numpuk. gak ada yang aneh?

Bas membaca pesan itu, berpikir sebentar, lalu mengetik balasan dengan nada masih bingung.

BAS: maksud lo Pak Kane sengaja bikin gue sibuk biar gak deket2 sama Gwen??

NADYA: BINGO

BAS: WOI KENAPA. gue kan cuma temen kerja doang sama dia

NADYA: iya tau, tapi kayaknya bos lo gak liat gitu

BAS: gila, jadi gue dihukum gara2 hal yang gak pernah gue lakuin?

NADYA: selamat datang di dunia cinta yang gak masuk akal, Bas

Bas menatap layar ponselnya lama, mencoba mencerna kemungkinan itu, dan setelah beberapa detik, mulai tertawa sendiri di kamarnya—campuran antara geli dan sedikit kesal karena harus menanggung beban kerja ekstra hanya karena kesalahpahaman yang bahkan tidak dia sadari sebelumnya.

BAS: gile. jadi ini yang bikin gue kerja sampe malem?

NADYA: kemungkinan besar iya wkwk

BAS: Gwen tau gak sih soal ini?

NADYA: enggak. dia masih pikir lo emang lagi banyak kerjaan aja

BAS: dia beneran gak sadar apa-apa ya soal Pak Kane

NADYA: nol besar. dari dulu emang gitu

Bas menutup ponselnya, menyandarkan kepala ke bantal, memikirkan minggu-minggu ke depan yang kemungkinan besar akan tetap penuh dengan tugas tambahan aneh, hanya karena persepsi yang salah dari seseorang yang bahkan tidak pernah dia coba dekati secara personal sama sekali.

Dia menghela napas panjang, lalu kembali membuka laptopnya untuk melanjutkan audit pengadaan yang harus selesai besok pagi—satu dari sekian banyak tugas yang, tanpa dia sadari, jadi bukti nyata dari perasaan yang bahkan belum berani diakui secara terbuka oleh orang yang paling bertanggung jawab atas semua kekacauan jadwalnya minggu ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!