Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Sang Pemilik Takdir
Setelah cukup lama tenggelam dalam tangis kesendirian, Aura perlahan mengangkat wajahnya yang sembap. Manik matanya yang membengkak menatap sekeliling ruangan luas itu dengan pandangan yang hampa.
Kamar pengantin yang dirancang begitu indah, kasur berukuran king size yang bertabur kelopak mawar merah, serta aroma wewangian terapi yang menenangkan, semuanya terasa bagaikan ejekan yang menampar wajahnya.
Ia lalu menunduk dan menatap gaun pengantin putih yang masih melekat di tubuhnya. Kain mewahnya kini tampak kusut dan bernoda akibat derai air mata.
Tangan Aura yang gemetar bergerak meraih dan meremas pinggiran sprei putih bersulam sutra itu. Tangisnya yang sempat reda kini kembali pecah, dan membuncah lebih deras dari sebelumnya.
"Hu hu hu... 😭😭😭😭"
Seharusnya malam pengantin seperti ini adalah momen yang paling ia nanti-nantikan bersama Farhan, pria yang telah berjanji untuk menua bersamanya.
Bayangan impian masa depan yang hancur berkeping-keping memicu gelombang amarah dan frustrasi yang tak tertahankan. Aura lantas berdiri dengan jemarinya yang terus memegangi sprei tersebut hingga tertarik kasar dan berantakan.
"Aaargghhh!!! Huhuhu... Kenapa! Kenapa jadi begini?!"
Dengan sisa kekuatan yang ada, Aura memukul-mukul kasur empuk di hadapannya berkali-kali.
Bam! Bam ! Bam!
Setiap pukulannya seolah meluapkan rasa sakit atas pengorbanan yang tak pernah ia inginkan. Ketika tenaganya benar-benar terkuras, ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan posisi telungkup.
"Hiks hiks hiks..." Tangisannya perlahan meliup menjadi isakan yang tipis, hingga akhirnya kelelahan hebat mengambil alih kesadarannya.
Tak lama, Aura pun tertidur lelap dalam posisi telungkup, tanpa sempat melepas gaun pengantin maupun membersihkan riasannya.
Hingga...
Beberapa jam kemudian, sayup-sayup alunan adzan subuh bergema dari kejauhan. Kebiasaan Aura yang selalu terbangun di awal waktu untuk melaksanakan kewajiban salat Subuh langsung membangunkan kesadarannya, meskipun seluruh sendi tubuhnya terasa amat berat dan hatinya remuk redam.
Masih dalam posisi telungkup dengan posisi tubuh yang sedikit berubah, Aura membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut berat akibat terlalu lama menangis.
Dengan gerakan lambat, ia menyangga tubuhnya lalu terduduk di tepi ranjang.
Aura tidak langsung beranjak. Ia hanya mematung di tempat, dan berdiam diri selama beberapa saat sambil menyapu pandang ke gorden jendela kamar yang terbuka.
Kenyataan pahit itu menghantamnya kembali dengan telak. Kejadian mengerikan hari kemarin bukanlah sebuah mimpi buruk yang menguap saat fajar tiba, melainkan kenyataan baru yang harus ia jalani.
"Ternyata kamu masih bisa tidur nyenyak."
Tiba-tiba, sebuah suara berbariton berat dan dingin memecah hening dari arah belakang hingga membuat Aura tersentak. Jantungnya pun berdegup kencang saat menyadari keberadaan seseorang di ruangan itu.
Dialah Fadil. Pria itu tengah duduk menyandar di sofa kulit dekat jendela sudut ruangan itu, masih mengenakan kemeja putih kemarin yang lebih kusut dengan dua kancing teratas masih terbuka.
Tatapan matanya yang tajam dan tak bersahabat mengunci punggung Aura secara intim. Rupanya, Fadil tidak benar-benar pergi meninggalkan hotel malam tadi. Ia hanya menghabiskan sepanjang malam di bar hotel tersebut dan tenggelam dalam amarah juga kekecewaannya sendiri.
Menyadari keberadaan suaminya, Aura perlahan menoleh. Wajahnya tampak berantakan, maskara dan eyeliner luntur membentuk bercak kehitaman di pipi akibat air mata semalam, sementara rambutnya acak-acakan.
Aura menatap Fadil tanpa ekspresi sejenak, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Apa... Kak Keisya sudah ketemu, Mas?" tanya Aura lirih dengan suara yang parau. Ada secercah harapan kecil di hatinya agar Keisya segera kembali, menjelaskan segalanya, dan membebaskannya dari belenggu ini.
Namun, respons Fadil sama sekali tidak seramah yang diharapkan. Pria itu menyilangkan kakinya, lalu mengukir sebuah senyuman sinis yang teramat pedih di bibirnya.
"Ketemu?" balas Fadil dengan nada yang mengejek. "Untuk apa kamu masih menanyakan dia? Bukankah situasi ini yang kamu harapkan?"
Aura langsung mendongak dengan mata yang membelalak tak percaya. "Apa maksud Mas Fadil?"
"Jangan berakting polos di depanku, Aura," ucap Fadil seraya berdiri dari sofa dan melangkah perlahan mendekati ranjang.
Intimidasi dari perawakannya yang tinggi membuat udara di kamar terasa makin menyempit. "Kakakmu pergi meninggalkan penolakan tanpa jejak, dan kamu dengan begitu sigap langsung mengenakan gaunnya dan duduk di pelaminan bersamaku. Murni pengorbanan? Atau memang kamu yang memanfaatkan kesempatan ini untuk naik kelas?"
Kata-kata itu bagaikan sembilu yang menyayat dada Aura tanpa ampun. "Mas Fadil! Tega sekali Mas bicara seperti itu! Aku melakukan ini semua demi menyelamatkan nama baik keluarga kita! Demi Mama, Papa, dan..."
"Cukup!" potong Fadil, yang kemudian menundukkan tubuhnya tepat di hadapan Aura hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. "Keisya tidak akan pernah kembali hanya karena kamu berpura-pura menjadi korban. Dan ingat satu hal... kamu boleh saja mendapatkan status sebagai istriku, tapi kamu tidak akan pernah mendapatkan tempat Keisya di hatiku. Kehadiranmu di sini cuma pengingat akan pengkhianatan kakakmu."
Fadil kembali mendirikan tubuhnya dengan tegap, lalu berbalik dan melangkah menuju balkon tanpa memandang Aura lagi. Pintu balkon ditutup dengan hempasan keras, dan meninggalkan Aura yang terpaku dalam kehampaan.
Di tengah luka yang makin mendalam, Aura memeluk dirinya sendiri. Dengan air mata yang kembali menetes, ia memaksakan kakinya melangkah menuju kamar mandi dan mengambil wudhu untuk bersujud pada Sang Pencipta, mencari satu-satunya kekuatan yang tersisa untuk menghadapi takdir kelam di hadapannya.
Usai menyalamkan wajah ke kiri dan kanan, Aura mematung di atas sajadahnya. Hatinya yang porak-poranda kini terhampar sepenuhnya di hadapan Sang Pemilik Takdir.
Dengan tangan yang bergetar dan derai air mata yang tak lagi ditahannya, Aura mengangkat kedua telapak tangannya, dan menengadah memanjatkan doa Istikharah dan kepasrahan atas jalan hidupnya.
"Ya Allah, Ya Rabbal 'Alamin...
Engkau Yang Maha Mengetahui setiap helai daun yang gugur, dan Engkau pulalah Yang Maha Tau betapa hancurnya hatiku saat ini. Di hadapan-Mu, aku tidak bisa berpura-pura kuat. Engkau tau rahasia yang kusembunyikan, Engkau tau pedihnya cinta yang harus kutinggalkan, dan Engkau tau betapa beratnya beban pernikahan pengganti yang kini kupikul di pundakku.
Ya Allah, jika jalan hidup yang kujalani bersama Mas Fadil ini, meski diawali oleh luka, prasangka, dan pengorbanan, adalah takdir terbaik yang Engkau pilihkan untuk kebaikanku, kebaikan keluargaku, serta agamaku... maka tanamkanlah kesabaran yang tak bertepi di dalam hatiku.
Lapangkanlah hatiku untuk menerima setiap dinginnya tatapan dan tajamnya kata-katanya. Berikan aku kekuatan untuk tetap berdiri tegak di tengah badai ini.
Namun Ya Allah, jika ikatan pernikahan ini hanya akan membawaku pada kemaksiatan hati, keputusasaan, dan ketidakmampuan untuk menjadi istri yang ridho... maka berikanlah petunjuk-Mu yang nyata.
Tunjukkanlah jalan keluar yang paling baik menurut-Mu, lapangkanlah jalan bagi kebenaran untuk terungkap, dan selesaikanlah kekacauan ini tanpa menghancurkan siapa pun.
Ya Allah, aku menyerahkan Farhan, masa depanku, dan seluruh rasa sakitku ke dalam genggaman-Mu. Padamkanlah rasa sesak di hatiku, gantikanlah kepedihan ini dengan ketenangan jiwa, dan bimbinglah setiap langkah kakiku di jalan yang Engkau ridoi.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak tau, Engkau Maha Kuasa sedangkan aku hamba-Mu yang lemah. Cukuplah Engkau sebagai penolongku.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣