**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Adik Kelas yang Genit
Dua bulan berlalu dalam ritme yang terlalu nyaman untuk dipertanyakan.
Awal September membawa mahasiswa baru ke BINUS Kampus Anggrek. Lorong penuh jaket almamater, stan organisasi, dan suara panitia yang mengarahkan orang. Keira sedang mengikuti kelas di Gedung Anggrek 3 ketika Reynard, yang baru menyelesaikan urusan registrasi, memilih mampir ke lapangan basket.
Ia baru melempar tiga bola ketika sekelompok mahasiswa mengajaknya bergabung.
"Kurang satu orang," kata salah satu dari mereka. "Bisa main?"
Reynard menerima bola. "Lumayan."
Di sisi lain lapangan, Vincent Halim mendengus. "Anak baru biasanya kalau bilang lumayan artinya cuma bisa gaya."
Reynard menatap kaus hitam bertuliskan VINCE, lalu berdiri di posisi lawan. "Coba saja."
Permainan dimulai cepat. Vincent mencetak angka pertama dengan tembakan jarak menengah. Reynard membalas dengan merebut bola dan memberi umpan tanpa melihat kepada rekan setim. Sorakan kecil terdengar dari pinggir lapangan.
"Hoki," kata Vincent.
"Kalau tiga kali masih hoki?"
"Genit juga mulut anak baru."
Mereka bertemu di bawah ring saat mengejar bola pantul. Bahu beradu keras. Vincent mendarat lebih dulu, sedangkan Reynard merebut bola dan memasukkannya ke keranjang.
Peluit berbunyi.
"Foul!" protes Vincent.
"Bahu ketemu bahu."
"Kamu dorong."
"Kamu yang telat lompat."
Vincent maju. Reynard tidak mundur. Teman-teman mereka buru-buru masuk di antara keduanya sebelum permainan berubah menjadi pertengkaran.
"Santai, Vince. Cuma basket," kata seorang teman.
"Dia duluan yang sok jago."
Reynard memantulkan bola sekali. "Main lagi. Kalau aku kalah, aku traktir minum."
"Kalau aku menang, kamu panggil aku Ko Vince."
"Kalau aku menang?"
"Nggak mungkin."
Reynard tersenyum. "Berarti nggak perlu syarat."
Permainan dilanjutkan. Kali ini keduanya sama-sama serius. Vincent kuat dan agresif, Reynard lebih tenang membaca ruang. Ia tidak selalu mengambil tembakan. Dua kali ia menarik pertahanan Vincent lalu memberikan bola kepada rekan yang bebas.
Skor akhir berbeda satu angka.
Reynard menang.
Teman-teman di pinggir lapangan bersorak. Salah satu dari mereka memutar ulang rekaman tembakan terakhir di ponsel. Dalam video itu terlihat Vincent sengaja menutup jalur Reynard, tetapi Reynard mengubah arah pada detik terakhir dan mengoper bola ke sudut. Poin kemenangan justru dicetak rekan yang sejak tadi jarang mendapat kesempatan.
"Kukira kamu bakal ambil tembakan sendiri," ujar pemain itu sambil menepuk bahu Reynard.
"Kalau aku ambil, dia sudah siap blok." Reynard menunjuk Vincent. "Yang kosong kamu."
Vincent mendengar pujian tersembunyi di balik penjelasan tersebut. Kekesalannya turun satu tingkat. Ia memang benci kalah, tetapi lebih benci lawan yang menang hanya karena pamer. Anak baru ini membaca permainan, bukan sekadar mengejar sorotan.
"Mainmu lumayan," katanya enggan.
"Katanya aku cuma bisa gaya."
"Ternyata gaya dan bisa main. Lebih menyebalkan."
Mereka saling menatap, lalu sama-sama tertawa.
Vincent jatuh duduk di lantai sambil mengatur napas. "Gila. Kamu mahasiswa baru beneran?"
"Baru registrasi."
"Jurusan apa?"
"Computer Science."
Vincent menatapnya lagi. "Serius? Aku juga. Semester lima."
"Berarti tetap nggak perlu kupanggil Ko."
"Aku lebih tua."
"Tapi kalah."
Vincent melempar handuk kecil ke wajah Reynard. Ketegangan beberapa menit lalu pecah menjadi tawa dari orang-orang di sekitar mereka.
***
Mereka membeli minuman di kantin dekat lapangan. Meski kalah, Vincent tetap memaksa membayar karena menganggapnya sambutan untuk mahasiswa baru.
"Kamu sudah ambil mata kuliah algoritma dasar?" tanyanya.
"Sudah lihat silabus."
"Dosenku dulu kasih soal rekursi menyebalkan. Sampai sekarang aku masih nggak suka."
Vincent membuka foto soal lama di ponsel, berniat menakut-nakuti. Reynard membaca sebentar, mengambil tisu, lalu menggambar alur pemanggilan fungsi dengan pena.
"Masalahnya bukan rekursinya," jelasnya. "Kondisi berhentinya ditempatkan setelah pemanggilan, jadi fungsi terus membuat cabang yang nggak perlu. Pindahkan ke sini."
Vincent membungkuk di atas tisu. "Tunggu. Kok jadi sesederhana itu?"
"Memang sederhana."
"Aku dua malam ngerjain ini."
"Mungkin karena sibuk marah-marah."
Vincent seharusnya tersinggung. Sebaliknya ia menyimpan tisu itu di balik casing ponsel.
"Main lagi minggu depan," katanya. "Sekalian ajarin aku trik tadi."
"Boleh."
Seorang teman Vincent ikut duduk dan menunjuk tisu berisi diagram. "Kalau pintar begini, masuk tim lomba kampus saja. Nexera buka pendaftaran akhir bulan."
Reynard melihat poster digital yang disodorkan. Nexera Innovation Challenge mempertemukan mahasiswa dari beberapa kampus untuk membuat solusi teknologi dan rencana bisnis. Hadiahnya besar, tetapi yang lebih menarik adalah kesempatan presentasi di depan investor.
"Aku sudah punya tim," kata Reynard. "Eric, Ko Marcus, sama Alvin."
"Baru masuk sudah punya tim lintas kampus?" Vincent bersiul. "Kamu sebenarnya mahasiswa baru atau penyusup?"
"Keduanya bisa jalan bersamaan."
Vincent mengambil foto poster itu dan berjanji datang menonton jika jadwal tidak bentrok. Kekaguman di wajahnya kini lebih besar daripada permusuhan awal.
"Tapi minggu depan tetap tanding ulang," tegasnya. "Aku nggak terima kalah satu poin."
"Siapkan minumnya."
"Kali ini yang kalah bayar."
"Boleh."
Kesepakatan sederhana itu mengubah lawan di lapangan menjadi kenalan yang kemungkinan besar akan sering bertemu lagi.
"Kamu tinggal di mana?"
"Meranti Park."
Mata Vincent membesar. "Serius? Kakakku tinggal di sana juga. Unit 8B. Keira Halim, anak Sastra Inggris. Kenal?"
Untuk pertama kali sejak pertandingan, jawaban Reynard terlambat.
"Ci Keira?"
"Kamu kenal Ci-ku?"
"Aku tinggal di unit seberang. Cici temannya kakakku."
Vincent menaruh botol minum. Potongan informasi itu disusun cepat. Nama belakang Hartono. Unit seberang. Adik sahabat Keira yang pernah disebut Mama dalam percakapan keluarga.
"Jadi kamu adiknya Vanessa?"
"Iya."
"Dunia sempit banget."
"Lumayan."
Vincent tertawa, tetapi perhatiannya tertahan pada cara Reynard menyebut `Ci Keira`. Terlalu lancar. Terlalu hangat untuk hubungan yang katanya baru terbentuk karena titipan sementara.
"Ci-ku suka lupa makan kalau banyak tugas," ujar Vincent, sengaja memancing.
"Sekarang sudah lebih teratur."
Jawaban itu keluar tanpa pikir panjang.
Vincent mengangkat alis. "Kamu tahu?"
Reynard mengambil botol minum. "Aku yang sering masak."
"Setiap hari?"
"Hampir."
"Rajin sekali buat sekadar tetangga."
Reynard menatapnya tenang. "Cici-mu juga banyak membantu aku."
"Contohnya?"
"Kenapa jadi wawancara keluarga?"
Vincent tertawa lagi dan mengangkat kedua tangan. "Santai. Aku cuma penasaran."
Namun ketika mereka kembali ke lapangan, ia diam-diam memperhatikan Reynard membuka WhatsApp. Nama `Ci Kei` terlihat di bagian atas layar, lengkap dengan tanda favorit.
Reynard mengetik singkat bahwa ia baru bertemu Vincent, lalu menyimpan ponsel sebelum ada balasan. Senyum kecil masih tertinggal di wajahnya.
Vincent memantulkan bola, tetapi kali ini pikirannya bukan pada pertandingan.
Ia mungkin baru mengenal Reynard hari ini.
Namun satu hal sudah jelas: mahasiswa baru yang menyebalkan itu tidak memandang kakaknya seperti seorang adik titipan memandang orang yang diminta menjaganya.