Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Bos Bermata Lapar

Telepon dari PT Lingua Prima datang dua hari setelah tes.

“Selamat, Mbak Laras. Anda bisa mulai Senin.”

Laras sampai meminta staf HR mengulangi kalimat itu. Setelah panggilan berakhir, ia berdiri di tengah kamar sambil tersenyum kepada bunga krisan yang mulai mekar penuh.

Pesan pertama ia kirim kepada Bu Ratna. Pesan kedua kepada orang tuanya. Baru setelah itu ia menghubungi Bram.

`Aku diterima.`

Balasannya muncul kurang dari semenit.

`Aku jemput untuk makan malam. Rayakan hasilnya, bukan keberaniannya lagi.`

Senin pagi, Laras datang tiga puluh menit lebih awal. Kantor PT Lingua Prima menempati dua lantai gedung di kawasan bisnis Jakarta. Di ruang utama, suara bahasa Inggris bercampur dengan Mandarin, Jepang, dan Korea. Seorang penerjemah mengenakan headset sambil memeriksa presentasi, sementara dua orang lain berdebat soal padanan istilah kontrak.

Laras merasa seperti menemukan ruangan yang selama ini tidak ia tahu sedang ia cari.

Staf HR menjelaskan sistem kerja. Penerjemah tetap menerima gaji bulanan, sedangkan tugas interpretasi luar kantor memiliki komisi berdasarkan tingkat kesulitan, durasi, hasil tes, dan penilaian klien.

“Untuk proyek besar, bagian penerjemah bisa mulai dua puluh juta rupiah,” katanya. “Tapi jangan lihat angkanya saja. Kalau hasilnya buruk, klien bisa minta penggantian orang di tengah proyek.”

“Ada masa pendampingan?”

“Ada. Proyek pertama biasanya bersama penerjemah senior atau supervisor.”

Penjelasan itu membuat Laras tenang. Ia ingin mendapatkan komisi besar, tetapi tidak ingin dilempar sendirian hanya karena bisa berbahasa Inggris.

HR juga menunjukkan formulir penilaian proyek. Akurasi, ketepatan istilah, sikap profesional, dan kerahasiaan memiliki bobot masing-masing. Jika penerjemah mendapat keluhan serius, komisi bisa ditahan sambil perusahaan memeriksa rekaman rapat. Sebaliknya, penilaian baik membuatnya naik ke daftar proyek prioritas.

Laras membaca setiap baris sebelum menandatangani kontrak kerja. Lima tahun lalu ia mungkin akan langsung membubuhkan tanda tangan karena takut dianggap merepotkan. Sekarang ia meminta penjelasan tentang asuransi perjalanan dan biaya perubahan jadwal. Staf HR menjawab tanpa keberatan.

“Bagus kalau teliti,” katanya. “Kerjaan kita memang hidup dari detail.”

Menjelang siang, pemilik perusahaan datang.

Pak Herman hampir berusia lima puluh tahun, tetapi rambutnya hitam rapi dan kemejanya mengikuti bentuk tubuh. Wajahnya terawat, sepatunya mengilap, dan aroma parfumnya tiba sebelum ia berdiri di dekat meja Laras.

“Ini yang nilainya paling tinggi kemarin?” tanyanya kepada staf HR.

“Iya, Pak. Larasati.”

Pak Herman mengulurkan tangan. “Panggil Laras saja?”

“Iya, Pak.”

Jabatannya berlangsung sedikit lebih lama daripada yang diperlukan. Matanya turun dari wajah Laras ke blusnya, lalu kembali ke mata dengan senyum ramah.

“Penampilan juga penting untuk interpreter,” katanya. “Klien suka orang yang enak dilihat.”

Laras menarik tangannya. “Saya akan memastikan penampilan saya profesional.”

Rekan di meja sebelah, Mira, menatap layar komputernya tanpa ekspresi. Setelah Pak Herman pergi, ia mendekatkan kursi.

“Kalau beliau ngajak makan berdua, bilang ada jadwal,” bisiknya.

“Kenapa?”

Mira mengangkat bahu. “Cuma saran.”

Peringatan itu menempel di kepala Laras sepanjang siang. Namun pekerjaan segera menyita perhatiannya. Ia menerjemahkan profil perusahaan, memeriksa surel klien, dan ikut simulasi percakapan bisnis. Setiap istilah baru ia catat di buku khusus.

Dalam simulasi, seorang senior sengaja berbicara cepat tentang keterlambatan pengiriman. Laras tidak menerjemahkan kata demi kata. Ia merangkum tuntutan utama, memastikan angka, lalu meminta pembicara mengulang satu tanggal yang kurang jelas.

“Kenapa kamu potong pembicaraan?” tanya senior itu setelah selesai.

“Karena tanggal pengiriman berdampak pada denda. Lebih aman minta konfirmasi daripada menebak.”

Senior tersebut memberi tanda centang. “Benar. Interpreter bukan mesin. Kalau ada informasi kritis yang kabur, klarifikasi.”

Pujian kecil itu membuat Laras semakin bersemangat. Saat istirahat, ia memenuhi dua halaman buku dengan istilah logistik dan perdagangan.

Saat makan siang, dua rekan melihat notifikasi WhatsApp di mejanya.

“Wah, siapa yang profilnya hati merah?” tanya Mira.

Laras buru-buru membalik ponsel. Terlambat. Rekan lain sudah membaca potongan info Bram yang muncul di layar.

“Pilih satu kota untuk menua,” katanya dengan nada dramatis. “Ya ampun, romantis banget.”

“Teman,” jawab Laras.

“Teman mau ubanan bareng?”

Tawa mereka membuat wajah Laras panas. Anehnya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan nama Bram. Ia hanya berkata laki-laki itu sedang mendekatinya, dan mereka belum menentukan hubungan.

Sore hari Pak Herman memanggilnya ke ruang kaca.

“Besok malam kita ke Surabaya,” katanya. “Ada klien Amerika. Dia mau membahas kerja sama distribusi selama seminggu.”

Laras terkejut. “Saya, Pak?”

“Nilai tes lisan kamu bagus. Bahasa Inggris kamu natural.”

“Bukannya proyek pertama didampingi penerjemah senior?”

“Saya sendiri yang dampingi.” Senyumnya melebar. “Atau kamu nggak yakin sama kemampuanmu?”

Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan. Laras melihat berkas klien di meja, lalu bertanya soal bidang usaha, agenda rapat, komisi, dan bahan yang bisa dipelajari sebelum berangkat.

Pak Herman menjawab semua dengan lancar. Secara profesional, kesempatan itu terlalu baik untuk ditolak.

“Saya bersedia,” kata Laras. “Tapi saya minta seluruh agenda dan materi dikirim malam ini.”

“Tentu.”

Pak Herman berdiri dan berjalan mengitari meja untuk menyerahkan berkas. Ia bisa saja memberikannya dari seberang, tetapi memilih berhenti terlalu dekat. Laras mencium parfumnya dan otomatis mundur setengah langkah.

“Kita bakal sering bareng selama di sana,” katanya. “Nggak usah terlalu kaku sama saya.”

“Dalam jam kerja saya tetap akan memanggil Bapak,” jawab Laras.

Senyum Pak Herman tidak hilang, tetapi matanya menjadi lebih sempit. “Profesional sekali.”

Ketika Laras berdiri, tatapan Pak Herman kembali mengikuti tubuhnya. Rasa tidak nyaman merayap di tengkuk, tipis tetapi jelas.

Di luar ruangan, Mira bertanya apa yang terjadi. Laras menjelaskan perjalanan Surabaya.

“Hati-hati,” kata Mira. “Kunci kamar, jangan minum apa pun yang nggak kamu lihat dibuka.”

Laras mengangguk. Ia menyimpan nomor resepsionis hotel dan mengirim rincian perjalanan kepada Bu Ratna serta orang tuanya. Kemudian ia menelepon Bram.

Mira juga menyarankan mereka berbagi lokasi selama perjalanan. Laras menerima tanpa merasa berlebihan. Kewaspadaan bukan berarti ia lemah atau tidak pantas mendapat proyek. Justru karena ingin bekerja serius, ia harus memastikan dirinya aman.

Sebelum pulang, Laras meminta HR mengirim surat tugas resmi dan memastikan kamar mereka terpisah. Balasan tertulis menyebut dua kamar atas nama masing-masing. Ia menyimpan surel itu di folder khusus.

Mereka bertemu di kedai makan dekat kantor. Bram mendengarkan penjelasan tentang komisi, klien Amerika, dan jadwal seminggu. Wajahnya tetap tenang sampai Laras menyebut Pak Herman akan menjadi satu-satunya pendamping.

“Kenapa?” tanya Bram.

“Aku nggak tahu. Mungkin karena dia bosnya.”

“Kamu nyaman?”

Laras jujur. “Tatapannya bikin aku nggak nyaman. Tapi belum ada tindakan apa-apa. Aku nggak mau kehilangan kesempatan hanya karena firasat.”

Bram tidak menyuruhnya berhenti. Ia meminta nama hotel, nomor penerbangan, dan agenda pertemuan, lalu menyimpan semuanya.

“Aku akan kabari terus,” kata Laras.

Bram mengangguk, tetapi alisnya tetap berkerut sejak mendengar nama Pak Herman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!