"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Nyala Cemburu di Balik Kaca Gelap
Pintu sedan hitam itu tertutup rapat, seolah menjadi batas antara dunia luar dan ketegangan yang perlahan memenuhi kabin. Suara riuh pelataran Kampus Jagatara menghilang begitu saja, teredam oleh kaca-kaca gelap dan deru mesin yang baru saja dinyalakan.
Namun, keheningan di dalam mobil justru terasa jauh lebih bising.
Pendingin udara mengembuskan hawa dingin yang menusuk kulit, kalah dingin dibanding aura yang dipancarkan oleh pria yang berada di samping Liora, tetapi entah mengapa, suhu di dalam kabin terasa semakin panas. Bukan karena udara, melainkan karena aura pria di balik kemudi yang sejak tadi memancarkan kemarahan tertahan.
Ravian memindahkan tuas transmisi dengan gerakan tegas. Sedan itu meluncur meninggalkan kawasan kampus, membelah jalanan sore yang mulai dipenuhi kendaraan. Lampu-lampu jalan satu per satu menyala ketika matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang memantul samar pada kaca mobil.
Sepanjang sepuluh menit pertama, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Ravian. Pria itu hanya menatap lurus ke depan.
Jemari panjangnya mencengkeram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, sementara otot di pelipisnya sesekali menegang. Ia tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mati-matian mengendalikan sesuatu yang jauh lebih liar daripada sekadar amarah.
Di kursi penumpang, Liora duduk kaku.
Ia memeluk tas ranselnya erat-erat di atas pangkuan, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Sesekali ia melirik ke arah Ravian dari sudut mata, tetapi buru-buru mengalihkan pandangan setiap kali mendapati pria itu masih memasang wajah dingin.
Desakan cemas dan rasa bersalah bercampur menjadi satu di dadanya. Ia tahu Ravian marah. Namun, yang membuat jantungnya berdebar bukanlah kemarahan itu. Melainkan alasan di baliknya.
"Sejak kapan?" Suara Ravian akhirnya memecah keheningan.
Rendah.
Berat.
Dan entah mengapa, terdengar jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan.
Liora tersentak kecil. Ia menoleh ragu, mendapati garis rahang Ravian mengeras tajam. "M-maksud Bapak... apa?"
"Sejak kapan mahasiswa itu memiliki keberanian untuk menyentuh tanganmu di muka umum seperti tadi, Liora?"
Ravian melirik sekilas. Tatapannya tajam dan berkilat, tetapi bukan tatapan dingin seorang CEO yang terbiasa membuat bawahannya bungkam hanya dengan satu pandangan. Bukan pula tatapan seorang dosen yang siap memberikan hukuman kepada mahasiswa yang melanggar aturan.
Itu adalah tatapan seorang pria.
Seorang pria yang harga dirinya terusik oleh nyala cemburu yang membakar.
Nyala emosi itu begitu jelas terlihat di balik iris matanya hingga Liora tanpa sadar menelan ludah.
"Kaivan cuma teman seangkatan saya, Pak," jawab Liora hati-hati. "Saya sendiri tidak tahu kalau dia akan... mengungkapkan perasaannya sore ini."
"Dan kamu membiarkannya menggenggam tanganmu?" sergah Ravian cepat, memotong ucapan Liora tanpa ragu.
Pertanyaan itu terlontar begitu saja hingga terdengar seperti tuduhan.
Liora membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab, Ravian sudah membanting setir ke arah bahu jalan.
Sedan hitam itu berhenti mendadak di sebuah ruas jalan yang lebih sepi, dinaungi pepohonan rindang. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar dari kejauhan.
Mesin dimatikan.
Sekejap kemudian, dunia seolah ikut berhenti.
Ravian melepaskan kedua tangannya dari kemudi, lalu memutar tubuh menghadap Liora.
Gerakannya perlahan. Terlalu perlahan.
Dalam keremangan kabin yang mulai diselimuti bayang-bayang senja, wajah pria itu terlihat semakin tegas. Cahaya keemasan dari luar menyentuh sebagian garis wajahnya, sementara sisi lainnya tenggelam dalam bayangan.
Liora menahan napas.
Keberadaan Ravian terasa begitu dekat. Begitu mengintimidasi.
Namun pada saat yang sama, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat hati Liora bergetar. Seolah di balik kemarahan yang membara, terdapat kegelisahan yang jauh lebih dalam.
"Jika saya tidak datang tepat waktu..." Ravian berhenti sejenak, seakan memilih kata-kata yang paling tepat. "Apa yang akan kamu katakan padanya?" tanyanya dengan nada suara yang melunak namun sarat akan tuntutan kejujuran.
Liora terdiam.
Ravian sedikit mencondongkan tubuhnya. "Kamu akan menerima cintanya?"
Pertanyaan sederhana itu menghantam Liora lebih keras daripada yang ia duga. Dada gadis itu bergemuruh.
Ia menatap Ravian, dan untuk pertama kalinya, Liora melihat topeng ketenangan sempurna milik sang CEO runtuh total hanya karena seorang mahasiswa seperti Kaivan.
Tidak ada lagi pria dingin yang mampu menyembunyikan emosi di balik ekspresi tanpa cela. Yang ada di hadapannya hanyalah seorang pria yang sedang takut kehilangan.
Manik mata cokelat Liora bertemu dengan iris gelap Ravian yang terlihat sangat defensif dan rentan.
Tatapan mereka bertaut cukup lama.
"Saya tidak punya perasaan apa-apa pada Kaivan, Pak," jawab Liora tegas, suaranya pelan, tetapi tidak ada keraguan di dalamnya.
"Saya baru mau menolaknya secara halus waktu Bapak datang."
Ravian membeku. Seolah jawaban itu telah menghentikan seluruh pikirannya.
Tatapan pria itu intens menelusuri setiap inci ekspresi Liora, mencari celah kebohongan. Namun, semakin lama ia memandang, semakin jelas bahwa gadis di hadapannya berkata jujur.
Hembusan napas panjang akhirnya lolos dari dada Ravian. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi bahunya berangsur luruh.
"Benarkah?"
Hanya satu kata.
Namun, ada sesuatu yang rapuh di balik suara seraknya.
Liora mengangguk pelan. "Benar, Pak."
Ravian menundukkan wajahnya sejenak. Ia mengusap rahangnya sendiri, seolah berusaha mengembalikan kendali yang sempat terlepas dari genggaman.
"Kamu membuat saya hampir kehilangan kendali di kampus tadi, Miss Arwen."
Nada suaranya jauh lebih rendah sekarang.
Serak. Jujur.
Dan justru karena itulah yang membuat jantung Liora berdetak semakin tidak beraturan.
Ravian mengangkat tangannya.
Jemari hangatnya menyentuh rahang Liora dengan sangat lembut, sangat kontras dengan kemarahan yang baru saja memenuhi dirinya. Ibu jarinya bergerak perlahan mengusap pipi gadis itu, seolah memastikan bahwa Liora benar-benar berada di hadapannya.
Liora membeku.
Sentuhan sederhana itu mengirimkan desir hangat yang menjalar dari pipinya hingga ke seluruh tubuh. Bulu kuduknya meremang, sementara napasnya menjadi semakin pendek.
"Melihat pria lain menyentuhmu..." Ravian berhenti.
Tatapannya turun sesaat ke tangan Liora yang masih berada di atas tas, kemudian kembali pada wajah gadis itu.
"Rasanya seperti ada seseorang yang mencoba merenggut sesuatu yang sangat berharga dari hidup saya."
Jantung Liora mendadak kehilangan kendali, berpacu liar bagai badai yang menerjang keheningan ruang kabin. Kalimat itu mengalirkan sejuta sengatan hangat ke dalam nadinya.
"Sesuatu yang berharga?" ulangnya nyaris berbisik.
Sudut bibir Ravian bergerak tipis.
Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan tanpa kata bahwa ia sendiri tidak lagi mampu menyembunyikan perasaannya.
"Kamu tahu apa yang saya maksud."
Ravian mendekat.
Jarak di antara mereka perlahan terkikis hingga Liora dapat merasakan kehangatan napas pria itu. Aroma khas parfum Ravian memenuhi inderanya, membuat pikirannya semakin sulit bekerja dengan jernih.
Tatapan Ravian sempat jatuh pada bibir Liora.
Hanya sesaat.
Namun, cukup untuk membuat napas gadis itu tertahan.
Beberapa detik kemudian, pandangan pria itu kembali terkunci pada mata Liora.
Tidak ada kata-kata.
Hanya keheningan yang terasa jauh lebih penuh daripada percakapan panjang.
Ravian mengusap pipi Liora sekali lagi. "Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu seperti itu lagi."
Suaranya terdengar seperti bisikan, tetapi mengandung ketegasan yang tidak bisa disalahartikan.
Liora menatapnya tanpa mampu menjawab.
Ada sesuatu yang berubah di antara mereka sore itu. Sebuah batas yang sebelumnya samar, perlahan menjadi semakin jelas.
Ravian tidak mengatakan bahwa ia cemburu. Ia tidak perlu mengatakannya. Tatapan matanya sudah mengungkapkan semuanya.
Dan di balik kaca gelap sedan yang terparkir di bawah bayang-bayang pepohonan, nyala cemburu itu akhirnya menemukan bentuknya, bukan lagi sebagai kemarahan seorang pria yang terusik, melainkan sebagai pengakuan diam-diam bahwa keberadaan Liora telah menjadi sesuatu yang terlalu berharga untuk ia abaikan.
Sementara Liora, untuk pertama kalinya, mulai menyadari bahwa mungkin dirinya bukan satu-satunya orang yang selama ini berusaha menyembunyikan perasaan.