**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023 - Seluruh Kebenaran
Aku kembali ke Vila Arkana untuk mengambil akta kelahiran dan dokumen kampus.
Setidaknya, itulah alasan yang kuberikan kepada diriku sendiri.
Gerbang terbuka setelah penjaga menelepon ke dalam. Tidak ada yang melarangku masuk, tetapi rumah itu terasa lebih asing daripada saat pertama kali kubawa ke sana pada usia sembilan tahun. Foto-fotoku masih tergantung di koridor. Sepatuku masih tersusun di dekat pintu. Seolah hanya aku yang sudah dikeluarkan dari kehidupan kami.
Bi Sum menyambutku dengan mata sembap.
"Tuan di mana?" tanyaku sebelum sempat menahan diri.
"Di ruang kerja. Sejak kemarin tidak mau makan. Demamnya tinggi, tapi tidak mau ke rumah sakit."
"Panggil dokter."
"Sudah. Dokter bilang harus dibawa untuk pemeriksaan, tetapi Tuan mengusir semua orang."
Aku menggenggam formulir beasiswa di dalam tas. Aku bisa mengambil dokumen lalu pergi. Sakitnya bukan urusanku lagi.
Kakiku justru membawaku ke ruang kerja.
Arkana duduk di sofa dengan kemeja kusut dan mata terpejam. Sebuah pistol terletak di meja, tidak tersentuh. Wajahnya pucat, napasnya berat. Saat telapak tanganku menyentuh dahinya, matanya terbuka.
"Kau kembali," bisiknya.
"Hanya mengambil dokumen."
"Ada di laci kedua."
"Setelah kau ke rumah sakit."
Dia mencoba berdiri, lalu tubuhnya goyah. Aku menangkap lengannya, marah karena bahkan dalam keadaan seperti itu tubuhku masih hafal cara menopangnya.
"Jangan menyentuhku kalau itu membuatmu jijik," katanya.
"Diam. Simpan kekejamanmu sampai demammu turun."
Di rumah sakit swasta terdekat, dokter menyatakan ia kelelahan, kurang cairan, dan mengalami infeksi ringan yang memburuk karena diabaikan. Tidak ada luka baru. Setelah cairan infus terpasang dan obat mulai bekerja, Arkana tertidur selama dua jam.
Aku duduk di kursi dekat jendela, memegang dokumen yang akhirnya dibawakan Bi Sum. Seharusnya aku pergi sebelum dia bangun.
Ketika aku berdiri, Arkana berkata, "Ayah kandungmu tidak hanya menjual informasi tentang Om Guntur."
Tanganku membeku di pegangan tas.
Dia sudah bangun. Matanya masih lemah, tetapi jernih.
"Jangan gunakan keluargaku untuk menahanku."
"Kau meminta kebenaran. Waktu itu aku hanya memberimu bagian yang paling mudah membuatmu pergi."
Aku berbalik. "Masih ada kebenaran lain?"
"Seluruh hidupku dibangun di atasnya."
Aku kembali duduk, tetapi menjaga jarak.
Arkana menatap selang infus di tangannya. "Ibuku menikah lagi ketika aku remaja. Suaminya seorang polisi bernama Suryo. Dia keras, jujur, dan terlalu percaya bahwa aku masih bisa menjadi orang baik."
"Pak Suryo."
"Kau sudah bertemu dengannya."
Aku mengingat lelaki tua yang datang menasihatiku, sorot matanya yang penuh sesal ketika menyebut pilihan Arkana.
"Aku ingin mengikuti jejaknya," lanjut Arkana. "Masuk akademi kepolisian. Meninggalkan lingkungan tempat aku tumbuh. Lalu pistol dinasnya dicuri. Jika tidak ditemukan, kariernya selesai."
"Kau mencarinya."
"Pistol itu masuk ke jaringan geng. Aku menyusup untuk mengambilnya kembali. Kupikir hanya perlu beberapa minggu."
"Bagaimana kau bisa menyusup?"
"Aku mengenal anak-anak jalanan yang menjadi kurir mereka. Aku berpura-pura ingin bergabung, mengantar paket, menjaga pintu, dan mencatat siapa yang membawa senjata. Aku tidak pernah menggunakan pistol Suryo, tetapi keberadaanku di sana sudah cukup untuk menghancurkan masa depanku."
Dia berhenti untuk menarik napas.
"Om Guntur menemukan siapa diriku sebelum orang lain. Dia bisa menyerahkanku kepada geng sebagai penyusup. Sebaliknya, dia membayar pengacara dan memastikan Suryo mendapatkan pistolnya kembali tanpa namanya terseret."
"Karena itu kau berutang kepadanya."
"Lebih dari utang. Saat semua orang melihat calon polisi yang gagal, Guntur melihat anak yang masih bisa berguna. Dia mengajariku aturan dunia yang tidak kuinginkan. Jangan menyentuh keluarga. Jangan menjual orang yang mempercayaimu. Jangan membiarkan ketakutan menentukan siapa yang dikorbankan."
Aku tertawa pahit. "Lalu kau melanggar aturan pertama ketika datang ke rumahku."
Arkana menerima serangan itu tanpa berkedip. "Ya. Pada malam itu aku menjadi lebih buruk daripada musuh yang kuburu."
Senyumnya tidak mengandung humor. "Pistol itu kembali kepada Suryo, tetapi polisi sudah menemukanku di gudang bersama orang-orang bersenjata. Namaku masuk berkas. Ada catatan kriminal. Akademi tidak lagi mungkin."
"Lalu Om Guntur menahanmu di dunia itu."
"Dia menyelamatkanku dari tahanan dan memberiku tempat. Sebagai gantinya, aku menjadi tangannya."
Aku memandang lelaki di ranjang rumah sakit. Selama ini aku membayangkan Arkana memilih kegelapan karena menyukainya. Ternyata pintu pertamanya dibuka untuk menyelamatkan ayah sambungnya.
"Apa hubungannya dengan ayah kandungku?"
Arkana memejamkan mata sebentar. "Bertahun-tahun kemudian, orang-orang Om Bahar ingin menghancurkan Guntur. Mereka tahu ada polisi dalam keluargaku, tetapi tidak tahu hubungan dan jadwal kami. Ayahmu bekerja di bawahku. Dia ketakutan ketika mereka mengancam keluarganya."
"Dia hanya menjawab satu pertanyaan. Aku mendengarnya malam itu."
"Satu jawaban cukup. Dia membenarkan Suryo adalah ayah sambungku dan memberi tahu kapan aku biasa menemuinya. Om Bahar menggunakan informasi itu untuk membuat Guntur percaya aku bekerja untuk polisi."
"Guntur mengusirmu."
"Dia memanggilku pengkhianat. Pada malam dia diserang, polisi menahanku karena laporan palsu. Aku diborgol di ruang pemeriksaan saat dia menelepon meminta bantuan. Ketika aku dibebaskan, dia sudah mati."
Suara Arkana tetap datar, tetapi monitor di samping ranjang menunjukkan denyutnya meningkat.
"Kau membalas dendam."
"Dua tahun. Aku menghancurkan jaringan Om Bahar, lalu mencari setiap orang yang membantunya. Ayahmu bersembunyi bersama keluarga. Ketika akhirnya kutemukan, aku tidak datang untuk mendengar alasan."
Rumah kecil. Lemari patah. Langkah di tangga lipat.
Aku mencengkeram ujung kursi.
"Kau membunuh mereka."
"Ya."
"Kakakku juga. Dia tidak tahu apa-apa. Ibuku tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu."
"Mengetahui tidak menghidupkan mereka."
"Tidak."
Tidak ada pembelaan dalam jawabannya. Itu membuatku semakin marah.
"Mengapa aku dibiarkan hidup?"
Arkana menatapku. "Aku mendengar seorang anak menangis setelah Jagal pergi. Ketika kutemukan kau, kau tidak bisa bicara. Kau memegang serpihan bingkai foto dan menatapku seolah sudah tahu siapa aku."
"Aku memang tahu."
"Aku mengangkat pistol."
Napas berhenti di dadaku.
"Lalu?"
"Aku melihat diriku sendiri. Seorang anak yang kehilangan jalan hidup karena dosa orang dewasa. Aku tidak sanggup menambah satu makam lagi."
"Jadi kau mengambilku karena rasa bersalah."
"Awalnya."
"Lalu memberiku nama perempuan yang mati karena rasa bersalah lain."
"Ya."
"Apakah ada satu bagian pun dari hidup kita yang bukan rasa bersalahmu?"
Arkana menatapku sangat lama. "Cintaku kepadamu."
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi bergeser.
"Jangan. Setelah semua yang kaukatakan pada ulang tahunku, jangan gunakan itu lagi."
"Kata-kataku hari itu bohong."
"Terlambat."
Pintu kamar terbuka. Pak Suryo masuk membawa termos, lalu berhenti ketika melihatku. Rambutnya semakin putih dibanding pertemuan terakhir.
"Larasati," katanya pelan.
"Apakah ceritanya benar?"
Dia meletakkan termos. "Tentang pistol saya? Benar."
"Dia menghancurkan hidupnya untuk menyelamatkan pekerjaan Anda."
Wajah Pak Suryo menegang. "Saya tidak pernah memintanya. Tapi saya juga terlalu lambat menyadari apa yang dia korbankan. Ketika saya mencoba menariknya keluar, dia sudah punya orang-orang yang akan mati jika ditinggalkan."
Arkana memandang jendela, tidak bersedia menerima pembelaan.
"Dia bukan orang baik," lanjut Pak Suryo. "Saya tidak akan berbohong untuknya. Tetapi dia juga bukan lahir sebagai monster. Banyak dari kami membantu membentuk apa yang sekarang kauhadapi."
Arkana menggeser pandangan kepadanya. "Jangan mengambil bagian kesalahanku."
"Saya tidak mengambilnya. Saya mengambil bagian saya sendiri." Pak Suryo berdiri lebih tegak. "Saya lebih mencintai seragam daripada mendengarkan anak yang pulang dengan memar. Ketika pistol itu ditemukan, saya menerima kembali pekerjaan saya, sementara dia menerima catatan yang menutup cita-citanya. Saya membiarkan rasa malu membuat kami saling menjauh."
"Aku yang memilih tetap bersama Guntur."
"Karena Guntur berada di sampingmu saat saya sibuk membuktikan bahwa keluarga polisi tidak boleh memiliki anak bermasalah."
Keheningan di antara keduanya terasa tua. Bukan pertengkaran hari itu, melainkan luka yang dibiarkan mengeras selama bertahun-tahun.
Pak Suryo menatapku. "Saya pernah memintamu menjauh darinya karena saya tahu betapa berbahayanya hidupnya. Tapi saya juga melihat hal yang tidak berani dia akui. Sejak membawamu pulang, setiap keputusan buruknya selalu berakhir pada satu pertanyaan: apakah Larasati akan selamat?"
"Termasuk ayah kandungku."
"Termasuk ketakutannya. Takut dapat menjelaskan kesalahan, tetapi tidak menghapus korbannya."
Aku ingin membenci jawaban itu. Sebaliknya, aku merasa fondasi kemarahanku retak. Ayahku tetap ayahku. Arkana tetap pembunuh keluargaku. Namun garis yang selama ini kupisahkan menjadi hitam dan putih ternyata terbuat dari darah orang-orang yang sama-sama takut kehilangan.
Pak Suryo menuangkan sup ke mangkuk. "Saya akan mencari perawat. Kalian masih punya terlalu banyak kata yang belum selesai."
Setelah ia keluar, ruangan kembali sunyi.
"Kenapa menceritakan ini sekarang?" tanyaku.
"Karena kau berhak pergi dengan membawa kebenaran, bukan kebohonganku."
"Dan Puspita?"
"Dia alasan aku mengenali bakatmu, bukan alasan aku tinggal. Aku mencintainya sebagai bagian dari masa lalu yang gagal kuselamatkan. Aku mencintaimu sebagai perempuan yang terus memilih hidup meski aku memberinya terlalu banyak alasan untuk menyerah."
Air mataku jatuh lagi. "Aku tidak tahu harus membencimu atau memaafkanmu."
"Jangan lakukan keduanya hari ini."
Di meja ada apel dan pisau buah kecil. Aku mengambilnya agar tanganku memiliki pekerjaan. Kulit apel terkelupas tipis, berputar seperti pita. Arkana mengawasiku tanpa bicara.
"Jika ayahku tidak pernah menjawab pertanyaan itu," kataku, "keluargaku mungkin hidup."
"Mungkin."
"Jika kau tidak membalas dendam, mereka pasti hidup."
"Ya."
"Jika kau membunuhku malam itu, semua ini tidak terjadi."
Arkana menahan napas. "Jangan katakan itu."
Pisau tergelincir. Ujungnya menggores telapak tanganku. Darah muncul sebagai garis merah kecil.
Arkana langsung bangkit meski selang infus tertarik. Dia menangkap pergelangan tanganku dan menekan tisu pada luka.
"Lepaskan," kataku.
"Tidak."
Aku memandang tangannya yang gemetar saat merawat luka sekecil itu, lalu mengingat darah seluruh keluargaku di tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu tangan mana yang harus kupercaya.