Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 8: Rahasia di Balik Kecelakaan
...MENGULANG LUKA...
Bab 8: Rahasia di Balik Kecelakaan
Deru mesin mobil mewah yang berhenti di lobi mansion utama memecah keheningan sore yang mulai temaram. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Julian Edgar yang keluar dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Setelan jasnya tampak sedikit kusut setelah menempuh perjalanan belasan jam menggunakan jet pribadi dari Paris. Pancaran matanya tajam dan berbahaya. Amarah yang dipicu oleh foto-foto dari mata-matanya kemarin belum juga padam sepanjang perjalanan.
Namun, begitu melangkah masuk ke dalam aula mansion yang megah, Julian disambut oleh keheningan total. Tidak ada sosok Valencia yang biasanya selalu berdiri dengan patuh menanti kepulangannya. Rumah itu terasa begitu sepi dan kosong.
"Dimana istriku? Kenapa aku tidak melihatnya?!" tanya Julian dengan suara bariton yang menggelegar, menatap tajam ke arah kepala pelayan yang langsung menunduk ketakutan setengah mati.
"Nyonya setelah makan siang di rumah mengatakan akan pergi ke studio lukisnya untuk mengerjakan pesanan lukisan, Tuan. Dan sampai sore ini... beliau belum pulang," jawab kepala pelayan dengan suara bergetar.
Julian mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Pikiran tentang Valencia yang mulai sibuk dengan dunianya sendiri—bahkan tidak berada di rumah saat menjelang malam—membuat ego Julian semakin terusik. Rasa penasaran yang belum pernah ada sebelumnya kini mulai merayapi benak pria itu. Dia yang dulu selalu acuh tak acuh dan menganggap Valencia tak lebih dari sekadar pajangan, kini merasa kehilangan kendali atas istrinya sendiri.
"Apa saja yang terjadi dengan nyonyamu selama aku tidak ada? Kenapa aku merasa sikapnya berubah?" selidik Julian dengan tatapan mengintimidasi. Dia benar-benar ingin tahu apa yang mendasari perubahan drastis Valencia dari wanita penurut menjadi bongkahan es yang berani melawannya.
Kepala pelayan itu menelan ludah dengan susah payah, tampak ragu dan ketakutan sebelum akhirnya berbisik, "Dua minggu lalu... Nyonya sempat mengalami kecelakaan mobil, Tuan."
Mendengar kata 'kecelakaan', sepasang mata elang Julian langsung melotot sempurna. Jantungnya mendadak berdegup kencang, sebuah reaksi refleks yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang?! Kenapa tidak memberitahuku?!" bentak Julian berang, mencengkeram kerah kemejanya sendiri yang terasa mendadak mencekik.
"Ampun, Tuan..." kepala pelayan itu gemetar hebat, hampir berlutut di atas lantai marmer. "Nyonya bilang beliau baik-baik saja, hanya mengalami gegar otak ringan dan sudah mengabari Anda secara langsung. Nyonya melarang kami menghubungi Anda lagi karena Nyonya tahu Anda sangat sibuk di luar negeri dan tidak bisa pulang."
Deg.
Bagai dihantam godam besar, tubuh tegap Julian mendadak kaku. Kalimat kepala pelayan itu memicu sebuah kilas balik di kepalanya. Julian perlahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadi, dan membuka riwayat pesan singkat dari dua minggu lalu.
Di sana, di antara puluhan pesan bisnis yang dia prioritaskan, ada satu pesan singkat dari Valencia yang sengaja dia abaikan dan biarkan tanpa balasan. Saat itu, Julian hanya membaca sekilas kabar tentang kecelakaan tersebut. Dia berpikir Valencia hanya bersikap manja, melebih-lebihkan situasi, dan mencari-cari alasan yang dibuat-buat agar dirinya cepat pulang dari Paris.
Julian menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong di tengah temaramnya ruang tamu sore itu. Rasa bersalah yang asing dan pekat tiba-tiba menghimpit dadanya. Dia tidak pernah tahu bahwa kecelakaan itu nyata, dan dia tidak pernah menyangka bahwa karena pengabaiannya itulah, Valencia yang dia kenal telah 'mati' dan berubah menjadi wanita lain yang tak tersentuh.