Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Sosok di Balik Pintu

Celah pintu yang terbuka selebar telapak tangan hanya memperlihatkan kegelapan lorong gang sempit yang diterangi cahaya kuning temaram dari lampu jalan berkedip. Udara malam yang dingin menyusup masuk, membawa aroma basah aspal dan debu kota.

Meiying menahan napasnya, mencoba meredam degup jantung yang bergemuruh hebat di dadanya. Di balik pintu kayu lapis yang rapuh itu, ia bersiap menghadapi bentakan para penagih utang atau ancaman pengusiran paksa. Namun, sosok yang berdiri tepat di depan pintu justru membuatnya tertegun kaku.

Seorang pria tinggi berbalut setelan jas hitam elegan berdiri di sana. Di bawah keremangan lampu gang yang kumuh, sosok itu tampak begitu kontras, bagaikan seorang bangsawan tersesat. Wajahnya tampan, tegas, dengan garis rahang yang keras dan sorot mata yang memancarkan kekuasaan. Namun, yang membuat napas Meiying seketika tertahan bukanlah kemewahan pria itu, melainkan sesuatu yang menghujam langsung ke lubuk hatinya.

Postur tubuhnya, cara berdiri dengan sedikit condong ke kiri saat lelah, hingga bayangan siluet wajahnya membuat kesadaran Meiying seolah ditarik mundur ke masa lalu.

"K-Kau... siapa?" suara Meiying tercekat di tenggorokan, bergetar hebat antara rasa takut dan kebingungan.

Pria itu—Lu Jingyan, yang jiwanya adalah Chen Guowei—tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepala, menatap wajah Meiying yang terlihat tirus dan sembab. Ada lingkaran hitam di bawah mata istrinya, tanda dari malam-malam panjang penuh air mata. Melihat wanita yang paling dicintainya hidup dalam penderitaan membuat dada Jingyan terasa diremas.

“Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu kepada siapapun... Jiwamu akan lenyap selamanya jika melanggar.”

Peringatan dingin Shen Wuming bergemuruh di kepalanya, menahan lidahnya untuk tidak memanggil nama Meiying dan memeluk wanita itu. Jingyan mengepalkan kedua tangannya begitu kuat di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih, mencengkeram kain pelapis saku demi menahan diri agar tidak runtuh di hadapan keluarganya.

"Maaf... saya mengganggu waktu istirahat Anda," suara Jingyan terdengar berat dan kaku, berupaya menyamarkan getaran emosinya. Ia mengalihkan pandangan ke selembar surat tunggakan merah di tangan Meiying. "Aku... kebetulan melintas di kawasan ini. Pihak administrasi properti melaporkan ada sengketa administratif perpanjangan sewa di blok ini."

Meiying langsung menyipitkan mata, insting pertahannya mendadak bangkit di tengah rasa kaget. "Tunggu! Sengketa lahan? Dari mana Anda tahu saya menunggak sewa dan tahu persis alamat rumah ini, Tuan Besar? Ini sudah tengah malam, tidak mungkin pejabat korporat datang sendiri hanya untuk urusan sewa kontrakan kecil!"

Jingyan sedikit tersentak mendengar nada curiga itu. Nyaris saja ia salah menjawab dan membocorkan informasi yang seharusnya belum ia ketahui. Ia segera mengetatkan rahangnya, memasang kembali topeng dingin seorang pewaris konglomerat yang arogan.

"Sebagai pemilik baru wilayah ini, memindai data seluruh penyewa bermasalah adalah hal mudah," jawab Jingyan datar, setengah berbalik badan menghindari sorot mata menyelidik Meiying. Tanpa menyerahkan amplop tunai yang berisiko membuatnya tampak sedang pamer kekayaan, ia meletakkan sebuah dokumen resmi berlogo cap perusahaan di atas kotak pos kayu kecil di samping pintu. "Mulai hari ini, seluruh tunggakan di blok ini dialihkan langsung ke audit pusat Lu Group. Rumah ini tidak akan digusur."

"Tunggu dulu—!"

Belum sempat Meiying melontarkan protes atau kecurigaan lebih jauh, Jingyan sudah berbalik dan melangkah cepat meninggalkan teras sempit itu.

Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, suara batuk kering yang sangat ia kenal dari dalam rumah terdengar menyayat hati, disusul rintihan kecil ibunya. Langkah Jingyan seketika terhenti kaku di tempat. Tanpa sadar, bibirnya sedikit terbuka, hampir meloloskan panggilan akrab yang biasa ia ucapkan semasa hidup—sebuah kebiasaan lama yang hampir meruntuhkan penyamarannya. Dengan susah payah ia menelan kembali kata-kata itu, mengepalkan tangan di saku hingga kuku jarinya menusuk telapak tangan, lalu kembali mempercepat langkahnya menuju mobil Rolls-Royce yang menunggu di ujung jalan.

Di ambang pintu, Meiying menatap punggung pria berjas itu dengan dada bergemuruh. Aroma parfum mahoni yang menguar di udara sekitar pintu seketika membuatnya terpaku—aroma kayu manis dan maskulin yang persis sama dengan minyak wangi murah beraroma kayu yang selalu dipakai mendiang suaminya dulu.

Dengan tangan gemetar, Meiying merobek amplop dokumen resmi yang ditinggalkan pria asing itu di kotak pos. Ia membentangkan kertas di dalamnya di bawah temaram lampu gang. Seketika itu juga, darah di wajahnya seolah surut, membuat kulitnya pucat pasi.

Di bagian bawah surat disposisi tersebut, terdapat catatan kecil tertulis tangan yang dibubuhkan oleh si pemberi kuasa. Bentuk huruf 'm' yang melengkung tajam, cara tarikan garis huruf 'g' di ujung kata... bentuk tulisan tangan itu... persis seratus persen menyerupai goresan tangan suaminya yang telah tiada.

Di dalam mobil mewah yang melaju membelah malam, Jingyan menyandarkan kepalanya di kursi belakang, membiarkan air mata menetes dalam diam.

Tinggal 364 hari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!