Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dayang memarkirkan motor sport-nya dengan cekatan tepat di depan sebuah warung makan berdinding papan kayu yang sederhana namun ramai pengunjung.
Uap gurih bumbu kacang dan aroma gorengan panas melayang menyambut indra penciuman mereka.
Setelah melepaskan helm dan merapikan kuncir rambutnya, Dayang menoleh ke arah Rimba yang baru saja turun dari jok belakang dengan gerakan sedikit canggung.
"Mas mau makan apa?" tanya Dayang santai.
Rimba menatap jajaran toples dan wadah lauk di balik kaca warung dengan canggung.
Sebagai pengusaha kaya yang terbiasa makan di restoran bintang lima dengan menu ala Barat, ia bahkan tak tahu nama-nama lauk di depan mata.
"Terserah Mbak saja," sahut Rimba pelan, berusaha menjaga peran pria desa lugu yang serba tak enak hati.
Dayang mengangguk mengerti. Ia melangkah menuju penjual warung dan memesankan porsi yang menurutnya paling mantap untuk orang yang mengaku belum makan seharian.
"Bu, nasi pecelnya dua ya. Lauknya sate usus sama bakwan jagung masing-masing dua. Minumnya teh hangat manis dua gelas," seru Dayang lancar.
Setelah memesan, Dayang menuntun Rimba menuju meja kayu panjang di sudut warung. Keduanya duduk berhadapan.
Rimba menatap bangku kayu tanpa sandaran di bawahnya dengan sedikit ragu sebelum melabuhkan tubuh, sementara Dayang sudah duduk santai dengan melipat kedua tangannya di atas meja.
Suasana di meja itu sempat hening selama beberapa saat, diiringi keriuhan pengunjung warung yang lalu lalang dan deru kendaraan di jalan raya.
Rimba mencuri pandang ke arah Dayang—memperhatikan bagaimana gadis itu menyapu peluh di dahinya dengan punggung tangan, tampak begitu tangguh dan tak berselubung kepura-puraan.
"Mas Bima asli mana toh sebenarnya?" tanya Dayang memecah keheningan, menatap lurus ke bola mata Rimba.
"Saya asli Malang, Mbak. Niatnya merantau ke sini cari nasib baik, malah kena apes," ujar Rimba beralasan pelan, memasang wajah selugu mungkin demi menutupi identitas aslinya.
Dayang tersenyum kecil, mengangguk-angguk memahami nasib apes pria di hadapannya.
"Mas lulusan apa?" tanya Dayang lagi, sekadar mencairkan suasana.
"S-saya cuma tamatan SMA, Mbak," bohong Rimba gagap.
Di dalam hatinya, Rimba merutuki dirinya sendiri. Sebagai pria berotak encer yang menyandang gelar S2 bisnis dari universitas ternama luar negeri dengan predikat cumlaude, mengucapkan kebohongan itu rasanya meruntuhkan harga dirinya.
Tapi demi peran sang pengelana malang, ia harus menelan bulat-bulat gengsinya.
Sebelum Dayang sempat bertanya lebih jauh, si ibu pemilik warung datang membawa dua piring nasi pecel yang masih mengepul hangat, lengkap dengan siraman bumbu kacang pekat, sate usus bersaus kecap, dan dua buah bakwan jagung renyah di atasnya.
Dua gelas teh hangat manis pun mengepul di samping piring.
"Nasi pecelnya, Mbak Dayang. Silakan," sapa ibu warung ramah sebelum berlalu.
"Matur nuwun, Bu," sahut Dayang.
Ia memandang Rimba dan mengisyaratkan jemarinya.
"Ayo dimakan dulu, Mas. Mumpung masih hangat. Jangan malu-malu, anggap saja makan di rumah sendiri."
Rimba menatap piring di hadapannya dengan kening sedikit berkerut.
Matanya memicing memperhatikan tampilan nasi yang disiram saus cokelat kental beraroma kencur dan daun jeruk tersebut.
Bagi seorang CEO yang lidahnya terbiasa disuapi wagyu steak, caviar, atau hidangan fine dining mewah berharga jutaan rupiah, sajian di atas piring seng ini terasa amat asing dan meragukan kebersihannya.
Namun, demi menjaga penyamaran dan mengusir rasa lapar yang mulai membakar perutnya sejak subuh, Rimba memberanikan diri meraih sendok.
Ia menyendok sedikit nasi bersama siraman bumbu pecel dan sepotong bakwan jagung, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Mata Rimba seketika membelalak pelan. Kunyahannya terhenti sejenak.
Rasa gurih manis dari bumbu kacang, sensasi renyah bakwan jagung, berpadu dengan aroma rempah yang kaya meledak memanjakan lidahnya.
Rasanya benar-benar berbeda dari makanan mewah olahan koki bintang lima yang selama ini terasa dingin dan penuh formalitas.
Ini adalah cita rasa masakan rakyat yang jujur, hangat, dan begitu memikat.
Tanpa sadar, Rimba menyendokkan nasi pecel itu lebih cepat ke dalam mulutnya.
Dayang yang memperhatikan tingkah pria di hadapannya hanya bisa tersenyum tipis.
"Bagaimana mana, Mas? Enak, kan? Jangan gencar sama tampilannya, pecel sini memang jempolan."
Rimba mengangguk cepat seraya mengunyah, tak bisa menutupi rasa puas yang terbit jujur di matanya.
"E-enak sekali, Mbak..."
Melihat Rimba yang menyantap nasi pecel itu begitu lahap—bahkan sampai tak tersisa sebutir nasi pun di piringnya—rasa iba di hati Dayang makin membuncah.
Di mata Dayang, reaksi itu adalah bukti nyata betapa tersiksanya 'Bima' menahan lapar selama berhari-hari di jalanan.
Tanpa perlu diminta dua kali, Dayang melambaikan tangannya ke arah pemilik warung.
"Bu! Tambah nasi pecelnya satu porsi lagi ya, lauknya sama persis kayak tadi!" seru Dayang nyaring.
Rimba yang baru saja meneguk teh hangatnya sampai tandas mendadak tersedak pelan.
Ia menyapu bibirnya dengan punggung tangan, menatap Dayang dengan raut terkejut.
"Eh, Mbak, tidak usah, saya sudah—"
"Sudah, Mas Bima, ndak apa-apa. Makan saja," potong Dayang lembut sembari tersenyum penuh empati.
"Mas Bima ini pasti kelaparan banget kan? Orang kalau kelaparan itu ndak boleh ditahan-tahan. Ini saya tambah satu porsi lagi, dihabiskan ya."
Tak lama kemudian, piring kedua berisi nasi pecel hangat berlaukkan sate usus dan bakwan jagung renyah kembali mendarat di atas meja. Bau harum bumbu kacangnya kembali menyeruak.
Rimba menatap piring kedua itu dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi, perutnya yang terbiasa dengan porsi porsi kecil ala hidangan formal sebenarnya sudah mulai terisi.
Tapi melihat binar mata Dayang yang begitu tulus mengasihinya—tanpa tahu bahwa pria di hadapannya adalah CEO raksasa yang kemarin ia tolak dengan uang yang disiram air amis—Rimba tak sanggup menolak.
Gengsi sang bos besar runtuh sepenuhnya di hadapan perhatian tulus seorang perempuan pasar.
"Terima kasih banyak ya, Mbak Dayang," bisik Rimba dengan suara pelan yang kali ini terdengar sangat jujur.
"Sama-sama, Mas Bima. Ayo dihabiskan, habis ini kita langsung berangkat ke rumah."
Dayang menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan sang 'musuh' yang dengan berani menelan porsi keduanya demi menjaga penyamaran.
Setelah selesai menghabiskan porsi keduanya hingga bersih, Dayang membayarkan semua pesanan mereka ke kasir.
Mereka kembali naik ke atas motor sport hitam tersebut.
Rimba kembali melingkarkan tangannya di pinggang Dayang, mencoba menikmati tiap detik embusan angin pagi yang menerpa wajahnya.
Namun, alih-alih langsung menuju perkampungan tempat rumah kayu Dayang berdiri, motor gagah itu berbelok menyusuri pelataran sebuah rumah berdinding tembok rapi dengan papan nama kayu bertuliskan pengurus lingkungan lokal. Dayang mematikan mesin motor tepat di depan teras.
Jantung Rimba seketika berdesir hebat. Rasa panik mendadak menyengat dadanya saat menyadari ke mana gadis itu membawanya. Rumah Ketua RT.
Sebagai CEO yang terbiasa berhadapan dengan hukum dan birokrasi, pikiran Rimba langsung liar—apakah identitasnya terbongkar?
Apakah Dayang sebenarnya sadar bahwa ia adalah sang musuh dari Suryo Group dan berniat menyerahkannya ke pihak berwajib atas insiden preman kemarin?
Urat di rahang Rimba menegang, namun ia memaksakan fisiknya tetap tenang dan menunduk lugu demi menjaga penyamarannya.
Dayang melepas helmnya, merapikan rambut, lalu melangkah menuju pintu depan yang terbuka lebar.
"Assalamualaikum, Pak RT!" seru Dayang ramah.
Dari dalam rumah, seorang pria paruh baya berkacamata dengan sarung melingkar di leher melangkah keluar sembari tersenyum hangat.
"Waalaikumsalam, Nduk Dayang! Ayo masuk, masuk. Ada apa pagi-pagi begini, Nduk? Tumben banget," sapa Pak RT penuh kekeluargaan.
Dayang menuntun Rimba untuk ikut melangkah ke teras.
Rimba berjalan perlahan di belakang punggung Dayang, berusaha sebisa mungkin memasang raut muka lesu dan serba tak enak hati.
"Begini, Pak RT. Saya mau lapor," ujar Dayang tanpa berbelit-belit. Ia menunjuk Rimba dengan ibu jarinya.
"Ini Mas Bima. Dia perantau dari Malang yang kena musibah. Uang dan barang-barangnya dicuri orang, dan tadi subuh dia sempat pingsan kelaparan di depan lapak saya di pasar."
Pak RT membetulkan letak kacamatanya, mengamati penampilan Rimba dari atas ke bawah—pria bertubuh tegap berotot yang mengenakan kaos biru lusuh punya Jamal dan sandal jepit tipis.
Dayang melanjutkan penjelasannya dengan nada tegas namun tenang.
"Karena kasihan dan tidak ada tempat tinggal, saya berniat menampungnya sementara di rumah saya sampai dia dapat pekerjaan yang layak. Nanti malam adek saya Bintang juga ada di rumah. Jadi saya datang ke sini mau lapor tertib administrasi warga biar ndak jadi fitnah atau gunjingan tetangga."
Mendengar penjelasan tulus itu, Rimba yang tadinya tegang setengah mati akhirnya bisa bernapas lega.
Seluruh prasangka buruknya luruh seketika. Gadis di sampingnya ini benar-benar polos dan bertindak penuh tanggung jawab—bahkan sampai memikirkan norma sosial perkampungan demi menolong orang asing yang dikiranya tak punya siapa-siapa.
Pak RT mengangguk-angguk paham, tersenyum mengagumi kebaikan hati preman pasar kesayangan warganya itu.
"Oalah, begitu toh cerita resminya. Bagus itu, Nduk Dayang. Kamu memang selalu tanggap. Ya sudah, Mas Bima, dicatat dulu identitas sementara di buku tamu ya. Selama tinggal di rumah Nduk Dayang, jaga kelakuan dan bantu-bantu di sana."
Rimba menunduk hormat, menyahut dengan suara pelan yang dibuat selugu mungkin.
"Baik, Pak RT. Terima kasih banyak." ucap Rimba.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂