Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah!
Bab 20
“Wanita itu yang mas Bara yakin bisa menggantikan posisi Mbak Naomi,” ujar Nilam saat Bara akan masuk ke rumah menyusul anak-anak juga istrinya.
“Menggantikan posisi Naomi? Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu kandung Adly dan Jelita, termasuk Ruby. Kamu tahu kenapa anak-anak memanggilnya Bunda?”
Nilam diam saja.
“Ruby bilang sebutan Mami hanya untuk Naomi. Dia menghargai mendiang kakakmu, ibu dari anak-anakku.”
“Tapi, mas ….”
“Nilam, aku lelah. Kamu boleh tinggal kalau masih rindu anak-anak, tapi tolong jangan bikin ribut. Ruby sedang pendekatan dengan Adly dan Jelita, seharusnya kamu tidak memaksa membawa Jelita pulang. Biarkan mereka ruang dan waktu untuk lebih dekat."
“Aku hanya khawatir, mas.”
“Untuk?”
“Mental anak-anak.”
“Tidak ada masalah dengan mental anak-anak, sebelum atau sesudah Ruby datang.” Bara meninggalkan Nilam.
Justru mentalku yang bermasalah, batin Bara menyusul Ruby ke kamar.
Saat membuka pintu, ia harus menarik nafas dan gegas menutup serta mengunci pintu. Khawatir ada yang melihat interaksi dan obrolan mereka yang kadang di luar nalar orang waras.
Ruby berbaring tengkurap di atas ranjang. Dengan atasan tank top dan hotpants yang melekat santai di tubuhnya, ia sesekali mengayunkan kedua kakinya ke udara sambil fokus dengan ponsel.
“Ruby!”
“Hm.”
“Pakaianmu!” Bara mengusap wajahnya.
“Kenapa pakaian aku, harus dilepas semua? Please deh mas, aku gerah banget sumpah.” Ruby berbalik, berbaring sambil memejamkan mata merentangkan tangan meresapi hawa sejuk dari pendingin ruangan.
Sepertinya suhu tubuh Ruby perlahan dingin, tapi isi kepala Bara yang mendadak panas mendapati penampakan bagian depan ternyata lebih menantang.
“Si Nila masih ada?”
“Nilam.”
“Oh, iya, talam. Kayaknya dia suka sama kamu loh.”
Bara menempati sofa mengabaikan pemandangan yang sebenarnya enak dilihat. “Bawa kemari laptop kamu, kita selesaikan skripsi mu lalu daftar sidang. Besok saya harus keluar kota.”
“Hah, serius?” Ruby sudah beranjak duduk. Tidak ingin Bara berubah pikiran, gegas mengambil tas laptop yang ia sudah ia bereskan. Membawa ke hadapan Bara lengkap dengan dokumennya.
“Demi apa, mas Bara makin ganteng kalau modenya baik begini. Ada lirik lagunya loh, gini nih … Embege, mas Bara ganteng. Buah apa yang paling sepet, Buahra.” Ruby tergelak, sedangkan Bara diam saja menatap dingin tingkah istrinya.
“Ish, mas bojo nggak seru.”
“Ganti dulu bajumu!” Bara menggaruk kepalanya, Ruby sudah duduk di karpet di samping kakinya. Dari atas sini terlihat belahan dan sesuatu yang menyembul.
“Nanti dulu, ini lebih penting.”
“Kewarasan saya lebih penting, kita bisa berakhir di ranjang kalau kamu tidak ganti baju.”
“Ya ampun, Mas Bara lagi bir4hi ya?”
“Ruby!”
“iya, iya. Gini nih, interaksi sama duda kelamaan. Dicolek dikit, tegang. Nempel dikit, gerah.”
***
“Hah, akhirnya!” Ruby bersorak setelah menyimpan file dan Bara menandatangani berkas bimbingan. Besok akan dicetak lalu serahkan ke kampus. Hampir dua jam berkutat dengan dokumen dan materi yang dijadikan judul tugas akhirnya. Alih-alih berganti pakaian, Ruby hanya melapisi tubuhnya dengan kimono tidur.
“Mas Bara keluar kota ngapain?”
“Riset.”
Ruby menoleh horor. “Awas, jangan terulang kejadian sama aku kemarin.”
“Ck, kejadian itu ‘kan karena kamu bukan karena saya.” Bara merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak kecil merah beludru, ada cincin di dalamnya. Tanpa aba-aba menarik tangan Ruby dan menyematkan cincin di salah satu jari.
“Ini cincin pernikahan, simbol status pernikahan kita.”
“Nggak ada romantisnya banget sih.” Ruby mengangkat jarinya yang lentik sudah tersemat cincin pernikahan. “Cincinnya sweet, tapi kamu gak sweet.”
Bara kembali merogoh celananya kali ini membuka dompet dan mengeluarkan sebuah kartu lalu disodorkan pada Ruby.
“Apa ini?”
“Kewajiban saya dan hak kamu. Saya sudah transfer nafkah untuk kamu. Pengeluaran rumah, termasuk gaji para pekerja masih saya yang handle.”
“Aku dinafkahi? Ya ampun, sudah sejauh ini hubungan kita.” Ruby menerima kartu itu lalu duduk di samping Bara sambil memeluk lengan sang suami. “Penasaran deh, gaji dosen dan wakil rektor itu besar banget ya mas. Biaya hidup dan operasional keluarga ini pasti besar. Biaya sekolah anak-anak juga mahal dan ….”
“Saya ada bisnis lain, bisnis keluarga.”
“Oh.” Ruby mengangguk.
Merasakan tubuh Ruby menempel di lengannya, membuat jantung Bara berdebar kencang.
“Karena mas Bara sudah baik, aku kasih hadiah.” Ruby mengerlingkan matanya.
“Kalau barang, saya masih sanggup beli sendiri.”
“Bukan, ini spesial. Nggak bisa dibeli di manapun. Siap ya.” Ruby mengikis jarak lalu mencium pipi Bara dengan cepat. “First kiss dari aku.”
Tidak terkejut, malah Bara mengernyitkan dahi lalu terkekeh. Tawa pertama dan langka yang Ruby saksikan dari seorang Barata Airlangga.
“First kiss?”
“Hm.”
“Saya bantu selesaikan skripsi kamu, hanya dapat di pipi.”
Senyum Ruby pudar lalu melepas pelukan di lengan Bara, menunjuk bahu pria itu dengan telunjuknya. “Jangan mesum ya. udah bagus hubungan kita ada peningkatan. Enak aja, mau yang lebih. Itu namanya dikasih hati minta jantung.”
“Kalau ada peningkatan, harusnya saya bisa dapatkan pagutan sambil peluk kamu.”
“Enak aja.”
“Berikan hadiahku!” Bara mendekat, Ruby menggeser posisi duduknya.
“Mas Bara jangan gitu, ngeri ah.”
“Saya Cuma tagih hadiah saya.”
“Tapi …eh, Mas Bara!”
Bara membaringkan tubuh Ruby ke atas sofa dalam satu gerakan cepat. Panik, gadis itu memberontak dan berteriak sambil menahan dada Bara.
“Mas!”
“Kenapa? Saya mau ambil sendiri hadiah saya karena sudah bantu kamu.”
“Ck. Pamrih amat. Aku laporkan ke kampus ya, dosen pembimbing aku menerima gratifikasi.”
Bara kembali tergelak. “dalam bentuk apa gratifikasinya, ciuman? Kita sudah menikah, remember!”
“Iya, tapi gak begini juga.”
“Diam!” Bara mengikis jarak, wajah mereka sudah begitu dekat. bahkan hembusan nafas pria itu terasa di kulit wajah Ruby.
“Mas ….”
“Bunda!” terdengar teriakan dari luar kamar.
“Penyelamatku,” sahut Ruby. “Iya, aku datang,” teriak Ruby. “Minggir!”
“Sebentar saja. Dia masih bisa menunggu!”
“Barata!”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭