menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur Dalam Satu Tendangan
Aroma nasi goreng yang harum mengiringi langkah Silvanna menuruni anak tangga pagi itu.
Gadis itu sudah rapi dengan seragam putih abu-abu barunya. Di tangan kirinya, ia menenteng sebuah topi sekolah.
Usai menghabiskan sarapannya dengan cepat, Silva menatap sang ayah yang sedang menyeruput kopi. "Ayo, Yah... anterin Silva berangkat sekolah," pamit Silva penuh semangat.
"Berangkat sama Baffin," jawab Baskara tenang.
"Hah?" Silva melongo.
"Sudah berapa kali Ayah bilang, Silva? Mulai sekarang kamu butuh apa-apa, kemana-mana, harus sama dia," ujar Baskara telak, memberikan keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Silva mengembuskan napas pasrah. "Ya udah."
Gadis itu mengangguk patuh. Ia segera beranjak menuju area rak ganti sepatu.
Sambil memegang sepasang sepatu ketsnya, tangan Silva refleks meletakkan topi sekolahnya begitu saja di atas lantai marmer.
Begitu selesai mengikat tali sepatu dengan gerakan buru-buru, Silva langsung berdiri dan melosor pergi keluar—sepenuhnya lupa memungut kembali topinya yang teronggok mengenaskan di dekat rak.
Silva berjalan cepat ke rumah sebelah dan langsung nyelonong masuk ke area dapur. Di sana, ia berpapasan dengan Gilda yang sedang mencuci piring hangat. "Pagi, Tante Gilda... Silva mau berangkat bareng Apin!" seru Silva ceria.
Gilda menoleh lalu tersenyum ramah. "Eh, Silva. Duduk dulu, Sayang. Baffin-nya masih mandi di atas."
"Ah, iya, Tante. Silva tunggu di depan aja ya," balas Silva sembari memutar tubuhnya kembali ke halaman luar.
Awalnya, Silva hanya berdiri diam di dekat motor matic besar milik Baffin. Namun, fokusnya yang lemah seketika buyar saat sepasang matanya menangkap seekor kucing anggora berbulu putih lebat yang sedang melintas.
"Wah... lucu banget!" gumam Silva dengan mata berbinar-binar.
Silva melangkah mendekati makhluk berbulu itu. Namun, si kucing yang merasa diikuti justru berjalan anggun melewati batas pagar, lalu masuk ke area garasi rumah tetangga Silva yang lain dan duduk santai tepat di depan sebuah mobil yang terparkir di sana.
Tanpa memedulikan waktu yang terus berputar, Silva ikut berjongkok di sana, asyik mengelus dan mengajak kucing itu mengobrol dengan dunia imajinasinya sendiri.
Lama sekali Silva larut dalam dunianya, sampai akhirnya sengatan terik matahari menyadarkan logikanya.
"Astaga! Sekolah!" pekik Silva panik.
Ia langsung berdiri hingga lututnya gemetar, lalu berlari kencang kembali ke dalam rumah Baffin. Namun, sesampainya di ruang tamu, keadaan sudah sepi. Silva berpapasan lagi dengan Gilda yang baru keluar dari arah dapur belakang. "Tante, Apin-nya mana?"
Gilda tersentak kaget, matanya membelalak sempurna. "Loh? Silva masih di sini? Tante kirain kamu sudah berangkat bareng Baffin!"
"Belum, Tante!" cicit Silva panik."Duh, dari tadi Tante bolak-balik beresin rumah dari dapur ke halaman belakang, gak merhatiin," tutur Gilda tak kalah panik.
"Tadi Tante sempat nyamperin ke atas karena Baffin lama banget gak turun, tapi pas dicek kamarnya sudah kosong. Pas Tante liat ke ruang tamu dan halaman luar kamu juga gak ada, makanya Tante kira kalian sudah jalan!"
Tanpa membuang waktu untuk membalas, Silva langsung berbalik arah dan lari tunggang langgang kembali ke rumahnya sendiri. "AYAHHH! Anterin Silva, Yah! Ditinggal sama Apin!" teriak Silva.
Baskara menyahut dari balik pintu toilet lantai bawah dengan suara yang sedikit tertahan. "Aduh, Silva! Ayah lagi ada panggilan alam ini! Tunggu bentar ya!"
"IHHH, AYAH!" Silva menghentakkan kakinya frustrasi.
Bentar? Ayahnya itu kalau memenuhi panggilan alam bisa sampai satu jam!
Mengingat waktu yang tersisa kurang dari lima belas menit, Silva langsung menyambar sepeda listrik merah miliknya di garasi, menarik gas sedalam-dalamnya membelah jalan kompleks menuju rumah Kenya.
Sialnya, begitu ia sampai di depan gerbang mewah rumah sahabatnya, mobil sedan Kenya baru saja bergerak menjauh di ujung jalan.
"Kenyaaa!" panggil Silva lemas.
Tepat saat itu, Galdar—papa Kenya—yang kebetulan ada di depan rumah, menatap Silva dengan pandangan kasihan.
"Eh,Silva? Nyari Kenya? Waduh, baru aja anaknya berangkat dua menit lalu."
"Yah... Silva telat dong, Om," keluh Silva dengan mata berkaca-kaca karena panik.
Papa Kenya yang baik hati itu langsung terkekeh geli melihat wajah memelas Silva. Ia segera memanggil salah satu pekerja rumah tangganya. "Pak, tolong keluarin mobil satu lagi. Anterin Silva ke Highscape High School sekarang ya, biar gak telat hari pertama."
"Wah, makasih banyak, Om!" seru Silva kembali bersemangat.
•••
Berkat bantuan sopir pribadi ayah Kenya, Silva akhirnya berhasil menginjakkan kakinya di Highscape High School tepat tiga menit sebelum bel masuk berbunyi.
Gadis itu berjalan menyusuri koridor lantai satu yang tampak sangat megah dan luas.
Di sepanjang koridor, suara riuh obrolan khas siswi perempuan yang baru kembali dari libur panjang terdengar memenuhi udara.
"Seger amat lu! Gue malah lesu. Liburan kerasa cepet banget." cerocos seorang siswi berambut wavy kepada temannya.
"Ck, gimana gak seger? Akhirnya dengan masuk sekolah gue bisa ketemu my husband lagi. Kangen banget liat Baffin main bola." sahut temannya heboh sambil memeluk binder.
Silva yang berjalan melewati mereka hanya bisa celingak-celinguk bingung mencari Kenya atau Baffin- agar tidak canggung.
Tiba-tiba, ponsel di saku seragamnya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari ayahnya.
Silva langsung menggeser tombol hijau. "Halo, Ayah? Silva sudah sampai sekolah kok, gak telat."
"Silva! Kamu itu cerobohnya kebangetan ya!" omel Baskara dari seberang telepon, napasnya terdengar terengah-engah. "Ini Ayah lagi di depan gerbang sekolah kamu, nganterin topi kamu yang ketinggalan di lantai rak sepatu!"
"Hah? Topi?" Silva mengerutkan dahi.
Gadis yang biasanya menenteng topi ke mana-mana itu refleks melirik tangan kirinya. Kosong. Ia meraba kepalanya sendiri. Kosong juga.
Tepat saat Silva hendak berbalik badan untuk berlari menuju gerbang depan, sebuah pergerakan dari arah belakang koridor menghentikan fokusnya.
Dari jarak yang agak jauh, segerombolan cowok bertubuh tegap sedang berjalan santai membelah kerumunan murid.
Itu Baffin beserta seluruh anggota inti Baffin Tampan FC.
Baffin berjalan di paling depan, sesekali menggiring pelan sebuah bola futsal menggunakan kaki kanannya dengan gerakan yang sangat lihai dan tenang.
Begitu mata tajam Baffin menangkap siluet Silva yang sangat ia kenali, langkah kaki Baffin langsung berhenti.
Bola futsal yang tadinya berada di bawah kendalinya otomatis terus menggelinding pelan ke depan karena kehilangan sentuhan.
Silva yang sedang didera kepanikan tingkat dewa akibat panggilan ayahnya, langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk berlari.
Namun baru satu langkah kakinya hendak memacu kecepatan…Gedebuk!
"AKHHH!"
Suara benturan keras itu menggema di koridor. Kaki kanan Silva menyenggol bola futsal milik Baffin yang menggelinding liar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur dengan posisi telungkup di atas lantai marmer.
Tidak hanya tubuh Silva, ponsel di genggamannya pun ikut terlempar sejauh dua meter. Ponsel itu meluncur mulus dengan posisi ikut tengkurap menghadap lantai.
Uniknya, casing ponsel milik Silva memiliki desain yang sangat random—terdapat dua buah mata timbul di bagian atas, sepasang lengan karet di bagian pinggir, dan dua kaki kecil di bagian bawah. Alhasil, penampakan ponsel itu benar-benar terlihat persis seperti Silva yang sedang ikut tiarap menahan malu.
"Hape... hape..." gumam Silva masih dalam posisi tengkurap, matanya menatap nanar ke arah benda setianya yang tampak mengenaskan.
Tiba-tiba pandangan gadis itu mendadak terhalang oleh sepasang sepatu kets hitam yang sangat familier berhenti tepat di depan wajahnya.
Koridor yang tadinya bising seketika berubah hening. Ratusan pasang mata murid perempuan langsung melotot syok menyaksikan kapten futsal mereka mendekati cewek asing yang baru saja jatuh.
Silva mendongak pelan, dan matanya langsung bertemu dengan tatapan datar sedingin es milik Baffin.
"APIN!" pekik Silva refleks, langsung bangkit berdiri dengan bantuan tarikan tangan tegap Baffin yang bergerak refleks menahan lengannya agar tidak limbung lagi.
Begitu berhasil berdiri tegak, Silva langsung berkacak pinggang dengan wajah memerah padam menahan kesal. "Itu bola kamu, ya?! Kamu yang bikin aku jatuh!" semprot Silva beruntun, menunjuk-nunjuk bola futsal di dekat mereka.
Baffin sama sekali tidak membalas omelan itu. Dengan wajah setenang air di dalam sumur, cowok itu justru berlutut satu kaki di depan Silva.
Tangan besarnya bergerak teliti, membersihkan debu-debu yang menempel di bagian lutut Silva yang memerah, lalu merapikan lipatan rok abu-abu dan meneliti sekujur tubuh Silva untuk memastikan tidak ada bagian yang terluka.
Di belakang Baffin, teman-temannya langsung melongo berjamaah dengan mulut terbuka lebar.
"APIN?" gumam Cyriel, Novel, dan Kaisan kompak dengan nada bingung yang amat sangat. Sementara Archard hanya berdiri tenang di paling belakang, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.
"Upin Ipin kali ya?" celetuk Novel.
"Wah, iya... berarti sekarang mereka resmi kembar tiga," sahut Cyriel ikut memanaskan suasana.
"APIN, UPIN, DAN IPIN!" ucap Novel, Cyriel, dan Kaisan bersamaan dengan nada kompak layaknya paduan suara.
Namun sedetik kemudian, Novel menggeleng-gelengkan kepalanya, memasang wajah sok pintar seolah baru saja memecahkan misteri konspirasi dunia. "Bukan, b*go. Apin itu sebenarnya sebuah singkatan," cetus Novel serius.
"Singkatan dari apa, Vel?" kejar Kaisan penasaran.
"Singkatan dari ayahnya Upin Ipin! Selama ini kan di kartun ayahnya gak pernah kelihatan tuh. Nah, ternyata ini dia, berdiri tegak di depan kita sekarang!" bual Novel asal.
Cyriel melotot tak percaya. "Tumben halu lo masuk akal, Vel?"
"Gak cuman itu, lo semua dengerin teori konspirasi gue," lanjut Novel semakin bersemangat, mengabaikan tatapan mematikan dari Baffin yang mulai meliriknya dari bawah. "Upin Ipin itu nama aslinya kan Ariffin dan Aruffin. Sedangkan Apin itu nama aslinya Baffin. Jadi, kata Baffin sendiri adalah singkatan dari bapaknya Aruffin dan Ariffin!"
"Wah... akhirnya setelah belasan tahun, kita berhasil menemukan tokoh yang hilang di dunia animasi!" seru Kaisan ikut-ikutan menepuk tangan heboh.
Archard yang sejak tadi menyimak kelakuan bodoh teman-temannya, akhirnya melepaskan satu helaan napas pendek sambil menjitak pelan bagian belakang kepala Novel. "Bapaknya Upin Ipin sudah mati, b*go. Gak usah bikin teori sekte baru," celetuk Archard sedatar papan tulis.
Sementara ketiga cowok itu sibuk berdebat, barisan siswi perempuan di sepanjang koridor sudah dilanda badai shock tingkat tinggi.
Mereka menatap tidak percaya pada sosok Baffin—sang pangeran berhati es yang terkenal paling anti disentuh perempuan—kini justru sedang sibuk membersihkan rok dan tas selempang seorang gadis baru dengan sangat telaten tanpa memedulikan makian yang terus keluar dari mulut Silva.
"Kamu yang ceroboh, Cilpa," ucap Baffin tenang, akhirnya bersuara seraya berdiri tegak kembali setelah memastikan kondisi fisik Silva aman.
"Ih! Kamu yang salah! Kalau kamu gak main bola di koridor sekolah, mana mungkin aku bisa sampai jatuh gini?!" sentak Silva cemberut, emosinya sudah naik ke ubun-ubun akibat rasa malu dan sakit yang bercampur jadi satu.
Menatap bola futsal nakal yang kini berhenti tepat di dekat kaki kanannya, jiwa grasah-grusuh Silva langsung aktif dalam mode maksimal.
Tanpa berpikir panjang soal dampak dari tenaganya yang meluap-luap, Silva mengambil ancang-ancang lalu menendang bola futsal tersebut sekuat tenaga.
Wushhh!
Bola merah itu melesat cepat membelah udara
dan…PRANGGG!